
Johan adalah pria yang mempunyai self control yang tak ada duanya. Kemampuan itulah yang membuat dia selalu terlihat tenang dan mampu mengendalikan dirinya, seperti apapun kondisi yang sedang berada di hadapannya. Tak heran jika dia menjadi orang kepercayaan Daniel yang paling setia, karena Johan selalu bisa mengabaikan kepentingan pribadi demi tugas yang sudah melekat kepadanya.
Di malam kedua setelah pernikahannya pun tak ada yang berubah. Dengan penuh kerelaan hati, tanpa ragu dia tinggalkan pengantinnya demi sebuah tugas, meski dalam hati kecilnya masih sangat ingin bermesra dan bermanja.
Ya, setelah memastikan Nina sudah tidur pulas, Johan mencium istri yang baru dinikahinya itu dengan mesra, kemudian beranjak dan menuju lemari untuk mengganti pakaian tidur dengan pakaian formalnya. Tak lama setelah itu dia melangkah dengan pelan, agar Nina tidak terbangun dari tidurnya.
Diraihnya gagang pintu dengan hati-hati, dan tiba-tiba dia merasakan seseorang telah memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau bangun?" Johan membalikkan tubuhnya dan memandang Nina dengan lekat. Bahkan kini kedua tangannya sudah memegang pipi istrinya itu dengan lembut, sebelum akhirnya merengkuh dan memeluknya.
"Kenapa kau mau pergi tengah malam seperti ini?" rajuk Nina.
"Ada hal yang harus aku kerjakan," Johan mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Nina, kemudian memberikan sebuah kecupan di ujung kepalanya.
"Kenapa malam-malam begini masih harus bekerja juga sih?" Nina mengerucutkan bibirnya.
"Hmmm, bilang saja kalau kau tidak mau ditinggal," Johan tersenyum senang, sementara Nina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
"Kamu mau lagi?" goda Johan lagi.
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi kan ...," Nina tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlalu malu untuk mengatakan bahwa dia ingin selalu berada di dekat suaminya itu.
"Tunggu sampai aku pulang, kau akan kembali kumanjakan. Satu lagi. Kau harus mulai terbiasa jika aku harus pergi tanpa mengenal waktu. Karena seluruh hidupku sudah menjadi hak dari tuanku. Apa kau mengerti?" Johan mengendorkan pelukannya dan membimbing Nina kembali ke tempat tidur, membaringkannya dan menaikkan selimutnya. Setelah satu kecupan di dahi mendarat, Johan beranjak dan pergi meninggalkan istrinya yang terus melihat punggung Johan hingga sampai di depan pintu kamarnya.
"Tidurlah! Aku akan segera kembali," ucap Johan, sesaat sebelum akhirnya menutup pintu dari luar.
***
Di kediaman Arya, nampak dua orang pria tampan sedang duduk bersantai di ruang tamu dengan dua cangkir kopi di tangan mereka. Obrolan mereka pun sangat ringan, mulai dari urusan bisnis, kuliner, sampai urusan remeh temeh seperti hobby masing-masing juga obrolan-obrolan tak berfaedah lainnya.
Di sekeling mereka, terlihat beberapa pengawal yang berdiri di titik-titik dekat pintu dan jendela, seolah siap berperang jika ada serangan dari luar. Melihat hal tak biasa dilakukan oleh Ryan dan Daniel di kediaman Arya, salah seorang pengawal yang sedang berjaga hanya mengerutkan dahinya. Maklum saja jika dalam benaknya timbul banyak pertanyaan tentang pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana tidak? Hingga tengah malam tiba, Ryan dan Daniel belum ada tanda-tanda akan mengakhiri perbincangannya, sementara tak ada seorang pun tuan rumah yang ada di sana. Ya, tentu saja. Hal ini karena Davina dan Arya masih di rumah sakit menunggui Lena.
Berbeda dengan pemandangan yang ada di dalam ruangan, di luar ada dua orang yang sedang sibuk dengan tugas besarnya.
Lain dengan yang dilakukan oleh Naja, hal ekstrim justru dilakukan oleh Johan. Dia sengaja mengendari motor Ninja ZX10-R miliknya, agar lebih mudah untuk bersembunyi dan mengecoh musuh yang sangat mungkin sedang memantau pergerakannya. Setelah mengatur jarak aman, bahkan dia memilih memarkirkan motor sport full fairing yang harganya 460 juta itu di semak-semak, kemudian dengan pakaian serba hitam dia berjalan kaki dan masuk ke rumah Arya dengan mengendap-endap. Bahkan seutas tali sudah dia persiapkan untuk memanjat pagar pembatas rumah yang cukup tinggi itu dengan begitu mudahnya.
"Stop di situ!" suara Naja terdengar di telinga Johan melalui earpiece yang terpasang di telinganya.
"Kau belum selesai juga meretas CCTV di rumah ini? Sejak kapan kerjamu jadi lamban begini, Nona? Apa sejak kau berkhianat kepada tuanku?" Johan mengejek Naja. Sebenarnya dia sudah bersiap masuk ke dalam rumah Arya melalui atap rumah belakang. Tapi karena instruksi Naja, akhirnya dia memilih bersembunyi di balik pohon taman belakang, untuk menutupi keberadaannya.
__ADS_1
"Tutup mulutmu, Jo! Sekarang dia suamiku. Kau benar-benar lupa ya? Apa kau ingin dia menghukummu karena kau telah lancang mengejekku?" cibir Naja sambil terus menggerakkan jarinya pada keyboard laptopnya. Ya, saat itu Naja sedang meretas semua CCTV di rumah Arya, agar Johan bisa memasang CCTV baru di tempat tersembunyi yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Setelah CCTV baru terpasang, CCTV lama akan mereka hancurkan karena ada orang dalam yang dipastikan melakukan pengkhianatan.
"Cih, dia akan membenarkan perkataanku. Kau bilang kau adalah peretas yang paling handal. Tapi sudah berapa lama ini? Kau belum selesai juga?" sergah Johan dengan senyum tipisnya. Sebenarnya Johan sangat tahu, bahwa Ryan dan Daniel juga mengenakan earpiece seperti dirinya dan Naja, hingga pasti Daniel juga mendengar perdebatan mereka. Tapi begitulah di saat mereka menjalankan misinya. Mereka akan berbicara apa saja untuk menghilangkan jenuh atau tegang saat mereka melancarkan aksinya. Jadi sama sekali tidak ada kekhawatiran di hati Johan, jika apa yang dia katakan akan membuat marah Daniel, walaupun itu terkait Naja.
"Kita lihat apakah suamiku akan menghukummu atau tidak," sahut Naja masih dengan lincahnya memainkan jari di atas laptopnya.
"Yang ada dia akan menghukummu," sergah Johan sambil melihat ke sekelilingnya.
"Ha-ha-ha-ha. Dengan senang hati akan aku terima hukuman darinya," wajah Naja tiba-tiba merona, sementara Daniel yang juga mendengar perkataan istrinya melalui earpiece di telinganya itu tersenyum dengan sangat bahagia.
Dan di saat Ryan dan Daniel yang masih betah mengecoh musuh di ruang tamu itu mendengarkan perdebatan Naja dan Johan dengan ekspresi muka yang dibuat sedatar mungkin, tiba-tiba seorang pengawal menghampiri Ryan.
"Maaf, Tuan. Saya permisi untuk berkeliling sebentar. Biasanya di jam-jam seperti ini kami checking lapangan," ucap pengawal itu sambil membungkukkan badannya.
Ryan dan Daniel saling berpandangan.
"Bagaimana ini?" gumam mereka dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Like, Vote dan rate 5 nya dulu dong. Baru author lanjut. oke?😊