METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Butuh Kamu


__ADS_3

Setelah drama penuh air mata bahagia berakhir, akhirnya Daniel tertidur dengan tenangnya. Wajahnya begitu teduh, tanpa beban pikiran yang akhir-akhir ini menggelayuti hati dengan begitu beratnya.


"Sssttt, kalian jangan berisik. Lihat tuh, Daniel tertidur," Davina yang sedari tadi memperingatkan anak-anaknya untuk tidak berisik pun kembali berucap pelan.


Seketika semua memasang mode diam, sambil melihat Daniel yang tertidur pulas tanpa beban.


"Loh, baru saja ikut bercanda, sekarang sudah tidur saja dia," celoteh Ryan sambil geleng-geleng kepala.


"Hmmm, pules banget lagi tidurnya," Arya menimpali.


"Beberapa hari terakhir memang dia tidak bisa tidur. Dia terus saja bertanya, seandainya operasinya gagal, apakah aku masih akan mencintainya atau tidak. Aku sudah berkali-kali yakinkan dia, bahwa apapun yang terjadi tidak akan pernah ada yang berubah, tapi ya gitu, pikiran itu terus saja masih mengganggu," sahut Naja sambil memandang suaminya penuh cinta.


"Sekarang dia bisa tidur dengan tenang. Apa yang dia dan kita semua do'akan akhirnya benar-benar Allah kabulkan," ucap Aghata masih dalam mode mengharu biru.


"Makanya, jangan ganggu dia. Biarkan dia istirahat. Toh besok pagi juga dia sudah boleh pulang. Kalian bisa bercanda lagi sepuas-puasnya besok, sekalian kita bikin pesta penyambutan kecil-kecilan. Gimana?" tawar Davina yang diangguki semua orang.


"Kalau begitu kita semua pulang sekarang?" cicit Ryan menimpali.


Semua pun bergegas keluar, kecuali Rudi dan juga Johan.


"Sayang, apa kamu tak apa-apa pulang bersama mereka? Atau kuantar kamu pulang dulu?" Johan merasa serba salah mendapat tatapan aneh dari Nina.


"Aku tak apa," lirih Nina, sambil berlalu dari hadapan Johan dan Naja.


"Kalian semua beristirahatlah di rumah, Daniel akan mengerti bahwa kalian semua capek. Tinggalkan beberapa penjaga saja di luar," titah Naja, yang ingin berdua saja dengan suaminya.


"Tapi ...," ucap Johan ragu.


"Apa kau tak ingin membiarkan majikanmu itu berduaan denganku? Dia begitu rindu ingin menatap wajahku. Karena itu, jangan jadi pengganggu," cicit Naja sambil memasang wajah kesal.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Johan sambil berlalu. Johan benar-benar tahu, bahwa Naja hanya sedang berbaik hati kepadanya, agar dia dan Nina tak selalu terhalang oleh ikatan kerja.


"Have fun," Naja mengerlingkan matanya.


Begitu mereka semua keluar, Naja menghampiri suaminya yang masih tertidur dengan begitu pulasnya. Dia mendudukkan diri di kursi sebelah ranjang, kemudian ikut tertidur dengan posisi menunduk bertumpu pada ranjang yang kini menyangga kepalanya.


Dua jam kemudian, Daniel membuka matanya dengan pelan. Dia menyipitkan kedua matanya, belum terbiasa dengan silau cahaya lampu yang menyala terang di langit-langit kamar. Dia mengedipkan matanya berkali-kali, mulai membiasakan diri lagi dengan cahaya yang masuk ke dalam netranya, yang selama beberapa bulan terakhir telah benar-benar hilang dari api kehidupannya.


Daniel mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang, mencari semua orang yang sedari tadi menemaninya pada detik-detik yang begitu menegangkan, tapi kini suasana ruang sudah kembali lengang.


"Astaga, berapa lama aku tertidur?" gumam Daniel lirih.


Daniel beralih menatap ke samping tempat tidurnya, seketika seulas senyum tersungging di bibirnya. Naja tertidur dengan lelapnya, dalam posisi duduk sambil melingkarkan tangannya di perut suaminya.


"Sayang ...," panggil Daniel, sambil mengelus kepala Naja dengan sayang.


Mata Naja masih saja terpejam. Bahkan mendengar panggilan suaminya yang samar-samar, Naja justru mengeratkan pelukannya dan kembali merapatkan matanya.


Naja menggeliat. Seperti berada di alam mimpi, dia mendengar Daniel memanggilnya dan membelai lembut kepalanya. Penasaran, Naja pun mengucek matanya yang masih didera kantuk, kemudian mendongakkan wajahnya, memeriksa apakah suaminya benar sudah terbangun dan sedang memanggilnya, ataukah yang didengarnya tadi hanya sebuah mimpi belaka.


"Sayang, kau sudah bangun?" Naja segera membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat suami yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


"Apa kau butuh sesuatu? Mau makan atau minum barangkali? Katakanlah, biar kuminta penjaga itu untuk membelikannya untukmu," cecar Naja dengan ekspresi sangat serius yang ditunjukkannya.


"Kau benar-benar ingin tahu aku butuh apa saat ini?" tanya Daniel tak kalah serius.


"Iya, kau butuh apa, Sayang? Katakan saja," sahut Naja kemudian.


"Mendekatlah," Daniel melambaikan tangannya. Naja pun segera mendekat ke arah suaminya, bahkan telinganya sengaja dia tempelkan ke arah bibir Daniel, seolah-olah suaminya sedang ingin membisikinya sesuatu.

__ADS_1


"Aku butuh kamu di sisiku," bisik Daniel tepat di telinga Naja, diikuti gerakan lincah tangannya yang menarik tubuh Naja hingga berhasil naik ke atas ranjang dan berada dalam pelukannya.


"Sayang, kau ini ya," Naja berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan nakal suaminya, tapi sia-sia. Kerinduan Daniel kepada Naja membuat kekuatannya untuk tetap membuat istri cantiknya berada dalam kungkungannya berlipat ganda.


"Biarkan tetap seperti ini! Apa kau lupa, aku tak bisa melihatmu berbulan-bulan lamanya?" pinta Daniel dengan nada memelasnya.


"Kau memang tak melihatku dengan matamu, Sayang. Tapi apakah kau tak merasakan kehadiranku setiap waktu bersamamu?" Naja mendongakkan wajahnya, demi bisa melihat wajah tampan suaminya.


"Aku rindu senyummu, rindu tawamu, rindu memandang wajah cantikmu, dan rindu memandang semua punyamu," mendapati Naja yang sedang menatapnya, Daniel pun mengerling nakal dengan sengaja.


Sedetik kemudian, Daniel benar-benar tak mampu menahan hasratnya yang sudah tak dia rasakan sekian bulan. Hingga tak berapa lama, bibir dan lidahnya pun sudah mendarat manis dan berselancar penuh cinta menikmati setiap inchi rongga mulut istrinya.


"Terima kasih untuk kesetiaanmu," ucap Daniel begitu pagutan mereka terlepas, sambil memandang istrinya dengan perasaan yang tak bisa diucapkan hanya dengan kata-kata.


"Itu pilihanku," Naja memasang senyum termanisnya.


"Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu," lirih Daniel lagi, sambil mencium wajah Naja bertubi-tubi.


"Aku juga mencintaimu," balas Naja dengan hati yang sangat bahagia.


Mereka pun kembali mengabsen satu per satu bagian mulut mereka dengan lidah masing-masing, hingga sebuah desahan secara tak sadar keluar begitu saja dari mulut Naja.


"Hanya sampai di sini saja ya, Sayang. Kita tak mungkin melakukannya di tempat sesempit ini. Kau tak lupa kan, bagaimana kau selalu membuat tempat tidur kita yang besar itu selalu berakhir berantakan? Apa kau bisa menahannya hingga besok malam, Sayang?" sebuah bisikan lembut membuat Naja tersadar dari sesuatu yang sudah sangat memabukkan.


"Cih. Apaan sih?" Naja menyembunyikan wajah merahnya dalam dada bidang suaminya.


Daniel pun terkekeh begitu saja, mendapati sikap Naja yang masih saja selalu tersipu malu saat Daniel menggodanya.


Malam itu, Daniel pun terus memandangi wajah istrinya, seolah-olah takut jika wajah itu tak mampu dilihatnya lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2