METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Frustasi


__ADS_3

"Kau tak boleh jatuh cinta kepadaku sebelum kau berhasil menyelesaikan misimu," ucapan Indra beberapa saat yang lalu terus berputar-putar di benak Zara.


"Selain Tuan Misterius, kelihatannya aku harus juluki dia dengan sebutan Tuan Narsis," gumam Zara, di sepanjang perjalanannya menuju kota X.


"Siapa yang mau jatuh cinta padanya coba?" Zara kembali bermonolog, sambil tetap fokus melajukan mobilnya.


Ya, saat ini Zara sedang dalam perjalanan menuju Kota X seorang diri. Tawaran jemputan supir perusahaan Adinata berikut dengan fasilitas tempat tinggal yang ditawarkan Felix pun memang sengaja dia tolak, dengan alasan lebih nyaman jika menggunakan fasilitas pribadi. Tentu saja Zara tidak mungkin jujur kalau Indra sudah menyiapkan sebuah apartemen untuk dia tinggali. Dan untungnya, Felix bisa bercaya begitu saja tanpa ada rasa curiga.


Setelah empat jam perjalanan dan Zara tiba, landlord apartemen itu menyambutnya dan menyampaikan bahwa flat apartemen untuk Zara sudah siap. Bahkan dengan begitu ramah, Zara diantarkan ke apartemennya dan disodori copy contract penggunaan apartemen. Dari situlah Zara tahu bahwa kepemilikan apartemen itu sudah di atas namakan Zara Delisha, dimana pembayarannya sudah termasuk fully furnished, cleaning, internet, maintenance, listrik, dan air gratis.


Apartemen itu terletak di pinggir jalan menghadap persawahan ke arah timur. Sebuah view yang sangat bagus, karena setiap pagi Zara bisa menikmati indahnya saat-saat matahari terbit. Begitu juga jika Zara ingin sekedar jogging di waktu senggang atau di saat weekend, dengan gampang dia bisa mendapatkan jogging track di taman yang letaknya hanya beberapa meter dari apartemen tempat dia tinggal.


Apartemen Zara terletak di lantai 11, flat nomor 22. Ketika Zara bertanya tentang flat nomor 21 dan 23 yang terletak di sebelah kanan dan kirinya, landlord apartemen itu hanya mengatakan bahwa keduanya sudah bertuan, tanpa mau menyebutkan namanya. Dari situlah Zara yakin, bahwa Indra benar-benar sudah mengatur semuanya, sehingga keamanannya menempati apartemen itu benar-benar sudah terjamin dan tak ada satu hal pun yang perlu dikhawatirkannya.


"Berarti selain flat nomor 22 yang aku tempati ini, dia mengambil flat 21 dan 23 di lantai yang sama, juga flat 22 tepat di lantai 10," gumam Zara dalam hati.


Setelah landlord apartemen itu pamit pergi, Zara berkeliling dan melihat-lihat kondisi flat yang dia tempati.


"Jauh lebih bagus dari apartemenku sebelumnya," oceh Zara lirih.


Nuansa dindingnya bermotif, dengan aksen wall paper manis berwarna coklat kekuningan, selaras dengan lampu penerangan sepanjang hall menuju ruang tengah. Di dinding terpampang beberapa lukisan repro menambah enak suasana di dalam flat. Kamar tidur terletak di sisi kiri, dengan ukuran sangat besar menurut Zara, yaitu tujuh kali enam meter, dengan bed king size dua kali dua meter. Kamar itu juga dilengkapi dengan meja rias dan lemari pakaian lima pintu yang diletakkan di pojok kamar, sebuah meja kerja lengkap dengan sebuah laptop dan PC, juga sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Lampu tidur diletakkan di samping kanan dan kiri tempat tidur, juga kamar mandi super mewah dengan bathtub dan shower ada di dalam kamar.


Selain warna coklat kekuningan, suasana merah maroon bercampur coklat sangat kental terlihat di apartemen itu. 


"Jangan bilang kalau Tuan Narsis itu juga tahu dengan warna kesukaanku," Zara kembali bermonolog.


Zara jadi senyum-senyum sendiri, sembari berkeliling ke setiap sudut apartemen yang akan dia tempati. Hingga tiba-tiba, Zara membulatkan matanya ketika berhenti di sebuah jendela lebar bertirai gorden coklat yang terletak di samping dinding kamar. Di samping jendela itu ada sebuah pintu kaca yang akan membawanya ke sebuah balkon yang langsung menghadap ke arah hamparan persawahan yang luas, juga pemandangan deretan gunung yang menawan, sehingga matanya dengan bebas bisa menikmati pemandangan di alam lepas yang sudah pasti akan menghilangkan penat setelah Zara seharian bekerja.


Di sana juga terdapat ruang tamu berukuran lima kali lima, dan ruang makan yang langsung terhubung ke area dapur. Di sana dilengkapi dengan TV LED full HD dengan ukuran super besar, yaitu 65 inch, tersedia juga sambungan internet ADSL gratis dan modem untuk koneksi WiFi yang diletakkan di ruang tamu.


"Yes, aku bisa sepuasnya berselancar di dunia maya," lagi-lagi Zara tersenyum girang dalam monolognya.


Setelah puas berkeliling apartemen, Zara berhenti di ruang dapur berukuran kurang lebih tiga kali empat. Lemari es, mesin cuci, mesin pengering, kompor listrik, toaster, microwave, coffee maker, juicer, gelas, piring, dan peralatan dapur lainnya sudah disiapkan dengan lengkap. Bahkan ketika Zara mencoba membuka kulkas, aneka minuman kaleng, buah dan beberapa makanan kaleng sudah penuh berjejal di sana. Di lemari yang terletak di atas kompor juga sudah penuh dengan mie instan, saus, kecap juga aneka merk kopi kesukaan Zara, sehingga bisa dibilang selama minimal satu pekan ke depan Zara tak perlu berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya.


"Rupanya kebiasaanku makan makanan instan seperti ini dilacaknya juga?" Zara menggeleng-gelengkan kepalanya.


Masih dengan senyum-senyum sendiri, Zara berjalan dan membuka sebuah kamar mandi luar berukuran dua kali dua meter yang terletak di samping dapur, dengan bathtub dan shower. Kamar mandi luar ini didesain untuk tamu. Di depan kamar mandi luar ini ada kamar tidur lagi yang ukurannya lebih kecil yaitu empat kali lima meter dengan ukuran bed king size juga. Di samping tempat tidur ada jendela bergorden. View dari jendela ini bisa melihat lokasi kota dan kompleks pemukiman di sekeliling apartemen.


Dan akhirnya sampailah Zara ke tujuan akhir dari tur mengelilingi apartemennya. Kamar tidur utama berada di bagian paling belakang. Ukurannya sangat besar, yaitu delapan kali delapan meter, dilengkapi dengan lemari pakaian 7 pintu yang lumayan besar, dan meja rias yang sekaligus berfungsi sebagai lemari kecil karena ada rak-rak yang bisa dipakai untuk menyimpan barang-barang plus tentu saja kaca rias, dan bed king size berukuran dua kali dua meter. Seperti dua kamar tidur sebelumnya, kamar tidur utama ini dilengkapi dengan lampu tidur di kanan dan kiri bed, meja kerja, juga dua sofa yang diletakkan berhadapan di samping tempat tidur utama. Kamar utama itu didesain bernuansa kuning kecoklatan dengan gorden berwarna merah maroon, kamar mandi dengan bathtub dan shower juga ada di dalamnya. Tak lupa, sebuah balkon dengan pemandangan luar yang sangat eksotis bisa Zara nikmati dari kamar utama.

__ADS_1


"Perfect," seru Zara girang.


Apalagi fasilitas yang disediakan oleh pihak apartemen antara lain kolam renang, gym, ruang sauna, dan ada juga meja bilyard di lobby, membuat Zara merasa sangat dimanjakan. Yang lebih penting lagi, di teras apartemen ada Starbucks, sehingga untuk urusan makanan Zara yang benar-benar tidak bisa memasak itu tidak perlu khawatir berlebihan. Ya, untuk urusan mencari makanan memang Indra (dengan uang Ryan tentunya), sengaja menyiapkan apartemen yang lokasinya dekat kemana-mana, yaitu dekat ke restoran karena memang sekelilingnya banyak restoran, dekat dengan minimarket, dekat dengan baber shop, dekat dengan mall, dan yang paling penting, dekat dengan lokasi perusahaan Adinata.


"Ahhh," Zara menghempaskan tubuhnya begitu saja di tempat tidur, sekedar untuk melepaskan lelah setelah empat jam perjalanan dari Kota Y ke Kota X.


Namun ketika matanya hampir terpejam, tiba-tiba sebuah melodi terdengar di telinganya.


"Dari mana sih bunyi itu? Kayak suara HP," Zara beranjak dari tidurnya dan mencoba mencari sumber suara.


Hingga langkahnya pun terhenti di depan meja rias yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.


"Seperti dari laci ini," oceh Zara sambil menarik gagang laci di bawah meja rias yang kini ada di hadapannya.


Dan tidak salah lagi, ternyata benar. Sebuah ponsel ada di dalamnya, dan sedang berdering karena ada panggilan video yang masuk dan bisa dipastikan akan terus berbunyi jika Zara tidak segera mengangkatnya.


Dengan terpaksa, Zara menekan icon warna hijau, walaupun dia sangat tahu siapa yang sedang memanggilnya dari ujung telepon itu.


"Hmmm," Zara menyapa pria yang akhir-akhir ini sering mengganggunya itu dengan begitu malasnya.


Awalnya Zara mengira, bahwa selama Indra masih di Kota Y bersama Ryan dan anak buahnya, Zara akan terbebas dari Indra untuk sementara. Tapi ternyata dia salah. Indra sudah mempersiapkan semuanya, termasuk alat komunikasi khusus untuk mereka berdua, sehingga tidak ada yang bisa melacak alat yang dipakai keduanya.


"Anda menghubungi saya di saat saya ingin mengistirahatkan tubuh saya, Tuan," sahut Zara kesal.


"Baiklah, aku masih ingin berbaik hati kepadamu. Beristirahatlah, aku tak akan mengganggu istirahatmu hari ini. Tapi ingat, jangan gunakan handphone ini untuk berkomunikasi selain denganku juga tuanku. Dan selalu ingat dua hal," ucap Indra lagi.


"Saya sudah hafal di luar kepala, Tuan. Saya tidak akan menghubungi Anda terlebih dahulu dan tidak akan jatuh cinta kepada Anda sebelum misi saya berhasil," beo Zara, mengulang perkataan Indra sesaat sebelum dia meninggalkan kotanya.


"Gadis pintar," oceh Indra sambil terkekeh.


Zara hanya mengangkat bahunya, menanggapi ocehan Indra yang menurutnya sama sekali tak penting itu.


"Setelah misi kita berhasil, akan aku pertimbangkan jika kau memang jatuh cinta kepadaku," kali ini Indra mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda kepada Zara.


"Huh, dasar Tuan Narsis. Siapa juga yang mau jatuh cinta kepada Anda," oceh Zara sambil mengakhiri panggilan Indra, dengan menekan icon merah di layar ponselnya.


Sedetik kemudian, handphone itu kembali berdering. Rupanya Indra mencoba menghubungi Zara lagi karena tak terima panggilannya diputus sepihak oleh Zara.


"Ada apalagi sih, Tuan?" geram Zara setelah menekan icon hijau kembali, dan wajah Indra lagi-lagi muncul dengan ekspresi narsis yang selalu dia tunjukkan.

__ADS_1


"Apa kau tak diajari sopan santun sehingga mematikan panggilan orang lain sebelum dia selesai bicara?" ujar Indra dengan tatapan tajamnya.


"Saya kira Anda sudah selesai bicara, Tuan," jawab Zara sekenanya.


"Mulai sekarang, aku akan menambah satu peraturan lagi," ucap Indra serius.


"Saya akan menghafalkannya," sahut Zara, merasa tidak punya pilihan lain.


"Selain kau tak boleh menghubungiku terlebih dahulu, kau juga tidak boleh memutuskan panggilanku terlebih dahulu. Aturannya, aku yang menghubungimu, dan aku juga yang menentukan kapan kau boleh menutup teleponku," titah Indra tak bisa di tawar lagi.


"Baik, Tuan," jawab Zara pasrah.


"Sekarang, ulangi peraturan yang sudah kau hafal itu, Zara!"


"Apa? Tidak perlu, Tuan. Saya sudah menghafalnya di luar kepala,"


"Bagaimana aku tahu jika kau tak menyebutkan ketiga peraturan itu?" Indra mengangkat dua alisnya.


"Huh, ini orang selain narsis ribet banget sih," batin Zara.


"Zara!" panggil Indra.


"Pertama, saya tidak boleh menghubungi Anda terlebih dahulu. Kedua, saya tidak boleh jatuh cinta kepada Anda sebelum misi kita berhasil. Ketiga, saya tidak boleh mengakhiri panggilan Anda sebelum Anda meminta saya atau mengakhiri panggilan Anda sendiri. Sudah benar begitu, Tuan Indra?" Zara memaksakan senyumnya.


"Kelihatannya kau memang benar-benar sudah menghafalnya di luar kepala. Tapi ada satu yang kau lupa, Zara," Indra tersenyum tipis.


"Apa itu, Tuan? Bukankah hanya tiga hal tadi peraturan yang Anda tetapkan?" Zara mengerutkan dahinya, merasa tidak ada satu hal pun yang dia lupakan.


"Kau tak ingat kalau kau boleh jatuh cinta kepadaku setelah semua misi kita selesai?" cicit Indra sambil menyeringai nakal.


"Anda jangan khawatir, Tuan. Saya tidak akan pernah jatuh cinta kepada Anda, baik sebelum atau sesudah misi kita selesai," celoteh Zara mulai geram dengan tingkah pria narsis yang terlihat di layar ponselnya.


"Apa kau bilang?" Indra sengaja mengeraskan suaranya.


"Tidak, Tuan. Saya tidak bilang apa-apa," sahut Zara dengan cepat.


"Apa?"


"Tidak, Tuan. Maksud saya, iya. Saya boleh jatuh cinta kepada Anda setelah saya berhasil menyelesaikan misi kita," Zara mulai frustasi menghadapi pria yang sedang berbicara kepadanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2