
Di waktu dhuha menjelang siang itu, Rani mengendarai mobilnya dengan segala pikir yang mengembara, membentur langit biru di atas cakrawala.
Rani terus menekan pedal gasnya, berharap rasa gundahnya yang membuncah bisa redam begitu saja. Dahinya mengernyit hingga beradu membentuk garis memanjang di kening, perasaannya pun begitu kalut seperti benang kusut, karena berpikir terlalu kerasnya.
Perasaan Rani sungguh tidak karuan. Dalam otaknya kini sudah banyak pertanyaan yang bermacan-macam. Tapi lagi-lagi, apa yang berkecamuk di dalam otaknya menguap tanpa ada yang bisa menjawab segala kegalauan yang dia rasakan.
Mode kecemasannya pun menyala berkali lipat. Bahkan semua rasa kini dia biarkan menampar-nampar hatinya yang terdalam. Hingga akhirnya, Rani tersadar, berada dimana dirinya sekarang. Itupun setelah benturan keras dia rasakan pada mobilnya di bagian depan.
Ya, karena tak fokus berkendara, mobilnya kini ringsek karena menabrak bahu jalan. Untung saja Rani tidak terluka. Hanya rasa kaget yang kini mendera, membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Sesaat, Rani terdiam mematung menyadari ketledorannya. Dia mengatur hela nafasnya, mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih tanpa ada yang mengganjal.
Sedetik kemudian, dia keluar dari mobilnya dan menelisik dimana keberadaannya sekarang. Karena tempat itu tak jauh dari makam papanya, Rani pun meninggalkan mobilnya dan berjalan kaki menuju makam seseorang yang sudah sangat dia rindukan.
***
Naja terlihat mengerutkan dahinya, melihat mobil yang sedang dikejarnya telah berhenti tepat di depannya.
Melihat itu, Naja membulatkan matanya. Mobil Rani berada di antara pembatas jalan, bagian depannya ringsek karena bekas tabrakan.
Naja pun segera keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri mobil Rani, takut kalau sesuatu terjadi pada nonanya yang sedang dia cari. Tapi begitu Naja mendekat dan mendapati Rani yang tak berada di dalam mobilnya, pikiran jeleknya terbang kemana-mana.
Untung saja di saat yang bersamaan, Johan telepon setelah membaca pesan yang Naja kirimkan sebelumnya.
"Sudah ketemu?" tanya Johan di seberang sana.
"Mobilnya kutemukan di pinggir jalan, dengan posisi seperti habis tabrakan," jawab Naja dengan tegang.
"Apa? Terus bagaimana dengan Nona?" ucap Johan ikut menegang.
__ADS_1
"Aku belum menemukannya. Dia sudah tidak berada di dalam mobilnya. Tas dan ponselnya masih berada di dalam, kunci mobilnya pun masih terpasang, karena kondisi mobil belum dimatikan," jelas Naja panjang lebar.
Johan memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, begitu telah meminta Naja untuk terus mencari keberadaan nona mereka.
Setelah memasukkan benda pipih itu dalam saku celananya, Johan yang waktu itu sedang berada di perusahaan Ryan membantu segala pekerjaan yang menumpuk dan kwalahan untuk di handel Arya dan Rudi pun, masuk ke dalam ruang Presiden Direktur dengan segala keraguan yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Maaf, Tuan," sapa Johan dengan pelan.
"Hmmm," sahut Ryan singkat. Pandangannya tak beralih dari dokumen demi dokumen yang masih menumpuk tinggi di atas mejanya.
"Nona, Tuan," lanjut Johan masih menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa?" mendengar istrinya disebut, Ryan langsung menghentikan aktifitasnya.
"Nona pergi dari rumah, tanpa Naja," cicit Johan singkat, tapi mampu mengundang emosi luar biasa majikannya.
"Tapi mobil Nona ringsek dan berhenti di pinggir jalan, Tuan. Dan Nona sudah tidak ada di dalam, meski mesin mobilnya masih menyala karena tidak dimatikan. Ponsel dan tasnya pun masih berada di dalam mobilnya. Tuan. Nona tidak membawanya," oceh Johan, melihat Ryan berusaha menelpon seseorang.
"Apa? Lalu apa yang kau lakukan di sini? Cepat cari dia," Ryan langsung menutup panggilannya dan bergegas keluar ruangan. Di saat yang bersamaan, Arya dan Rudi yang hendak masuk ruangan Ryan setelah membaca pesan Naja, langsung mengikuti kemana arah kaki Ryan melangkah dengan tergesa-gesa.
Lima belas menit berselang, semua sudah berada di dekat mobil yang ditinggalkan Rani begitu saja. Beberapa anak buah mereka pun berpencar untuk mencari Rani di sekitar tempat kejadian, sementara Naja berkutat dengan laptopnya melihat hasil rekaman kamera yang dia pasang di bagian depan dan belakang mobil nonanya.
Ryan mendekati Naja.
"Bagaimana?" tanya Ryan berharap ada jawaban yang melegakan.
"Mmm, Nona berjalan ke arah sana, Tuan," ucap Naja sambil menunjuk ke arah depan.
"Berpencar, dan cari istriku sampai ketemu!" perintah Ryan pada semua anak buahnya.
__ADS_1
Kini Ryan mengacak rambutnya dengan kasar. Kakinya bahkan dia gunakan untuk menendang ban mobil istrinya untuk melepaskan segala rasa takut yang benar-benar menghinggapi hatinya.
"Sial! Sial! Sial!" amuk Ryan.
"Kamu dimana, Sayang? Jangan buat Hubby ketakutan," lirihnya, sambil berusaha menahan agar tak ada kristal bening yang keluar dari ujung matanya.
Hingga tiba-tiba, setengah berlari Johan mendekati Ryan dan memberikan sebuah informasi.
"Bagaimana?" tanya Ryan tak sabar.
"Nona sedang berada di makam ayahnya, Tuan. Letaknya sekitar satu kilometer dari sini," lapor Johan sedikit lega. Dia sudah melihat dengan kepala dan matanya sendiri bahwa nonanya benar-benar tidak terluka, meski dia hanya memperhatikannya dari kejauhan saja.
"Astaga! Kenapa aku tidak berpikir bahwa dia ke sana? Bukankah daerah ini memang dekat dengan makam papanya? Dasar bodoh," umpat Ryan sambil masuk ke dalam mobilnya. Rudi yang sudah siap siaga di balik kemudi pun segera menancapkan pedal gas mobilnya, diikuti seluruh anak buah Ryan yang sudah bersama Naja sejak awal kepergian nonanya.
Dua menit kemudian, mereka telah sampai di area makam. Dari kejauhan, Ryan bisa melihat sosok Rani yang sedang melepas kerinduan pada seseorang yang sangat dia cintai tapi telah lama pergi meninggalkan dunia ini.
"Kalian tetaplah di sini, biar aku yang menghampirinya," titah Ryan kepada seluruh anak buahnya.
"Baik, Tuan," jawab mereka serentak, seraya menundukkan kepalanya, menandakan mereka sangat patuh dan menghormati tuan mereka.
Ryan pun berjalan, melewati puluhan batu nisan penghuni makam. Dia terus melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang sungguh sangat dia cinta. Ryan pun berjalan mendekat, hingga berada tepat di belakang istrinya, yang seolah sedang berbicara dengan papanya.
Rani tidak menyadari keberadaan Ryan yang sudah berdiri di belakangnya, sehingga Rani masih saja berkeluh kesah kepada papanya, seolah mendiang sang papa bisa mendengar segala ucapannya
Ryan yang tak berniat mengganggu istrinya itupun hanya berdiri mematung, membiarkan istrinya menyelesaikan apa yang menjadi keinginannya di makam papanya.
Tapi Ryan membulatkan mata dan sedikit memundurkan kakinya, mendengar apa yang dibicarakan Rani di hadapan makam papanya. Mata Ryan seketika memerah, bahkan matanya pun kini sudah seperti telaga, yang siap membanjiri wajah dan hatinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1