
Arsen menggeliat dari lelapnya. Meski kokok ayam tak sekalipun terdengar dari kediaman keluarga Dewangga, tapi pancaran sang surya dari ufuk timur cukup menyilaukan mata bagi siapapun yang baru beradaptasi setelah terkatup sekian lama.
"Uhh," Arsen menggeliat, hanya sekedar ingin meluruskan otot-ototnya.
Sesaat, Arsen menyipitkan matanya, menyesuaikan dengan bias cahaya yang masuk. Begitu dia tersadar bahwa pagi telah datang, dia segera beranjak, membuka tirai dan duduk-duduk di tepi balkon melihat cahaya kemerahan yang muncul di garis batas cakrawala. Di sana, seolah terlihat kilatan bayangan yang bergelayut manja, menjamu kata demi kata yang tereja dalam balutan rasa sesal dan cinta yang menyeruak di dalam dada.
"Apakah ini keputusan yang tepat?" sekelumit rasa benar-benar berputar di kepalanya.
Hingga keraguan itu berangsur-angsur hilang, persis seperti pekat malam yang menghilang seiring dengan pagi yang akhirnya datang.
"Ahhh," Arsen menarik nafas panjang, di sela hembusan angin pagi yang terhempas, menyingkirkan segala kegalauan.
Tak lama, Arsen segera membersihkan diri dan keluar dari kamarnya. Pagi itu suasana ruang utama masih cukup sepi, hanya beberapa pelayan saja yang sedang bersih-bersih dan melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya sehari-hari.
Sebelum menuruni tangga, Arsen berhenti sejenak. Dia berpikir, kendaraan apa yang bisa dia pakai agar dia bisa segera sampai ke tujuan.
Sebenarnya di rumah itu banyak orang yang bisa mengantar. Ada Pak Mamat, supir pribadi keluarga Dewangga. Ada juga Rudi dan Johan yang selalu menawarkan diri untuk membantunya. Tapi karena Arsen ingin apa yang dilakukannya hari ini menjadi rahasia, akhirnya dia memutuskan untuk pergi menggunakan taksi saja.
Setelah Arsen mantap dengan keputusannya, dia berjalan menuruni tangga hendak segera pergi meninggalkan rumah itu. Namun, begitu Arsen sampai ke tangga terakhir, salah seorang penjaga menghampirinya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa penjaga itu sambil membungkukkan badannya.
"Selamat pagi," sahut Arsen ramah. Setelah berbasa-basi sebentar, dia keluar melalui pintu utama menuju ke gerbang depan.
Namun, lagi-lagi sebelum Arsen keluar gerbang, dua orang penjaga menghampirinya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa dua penjaga itu, juga sambil membungkukkan badannya, sama persis dengan yang dilakukan oleh penjaga di dalam.
"Selamat pagi," jawab Arsen dengan senyum yang mengembang.
"Maaf, Tuan. Apakah Anda ingin keluar?" tanya salah seorang di antara mereka dengan sopan.
"Ahh, iya. Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar," Arsen masih memasang wajah santainya.
"Kalau begitu mari saya antarkan," penjaga itu membungkuk sambil mengarahkan tangannya seolah memberi jalan.
"Tidak perlu. Saya hanya pergi sebentar saja," Arsen mulai tahu kemana arah pembicaraan para penjaga.
__ADS_1
"Mohon maaf, Tuan. Tapi ini perintah. Tuan Ryan dan Tuan Daniel berpesan, Anda tidak diperkenankan pergi sendiri tanpa pengawalan sebelum musuh Anda tertangkap dan semua kembali aman," kekeh penjaga itu.
Arsen hanya bisa menghela nafas panjang, menyadari bahwa dia tidak mungkin bisa keluar tanpa penjagaan.
Hingga tiba-tiba, sebuah ide terlintas begitu saja.
"Panggilkan Johan! Biar dia yang mengantarkanku keluar," titah Arsen, yang langsung disambut baik oleh para penjaga.
Sedetik kemudian, salah satu diantara mereka terlihat berbicara dengan Handy Talky yang ada dalam genggaman.
Hingga tak berapa lama, Johan tiba-tiba keluar. Ya, salah satu keistimewaan Johan adalah dia selalu sigap dan cepat dalam merespon setiap perintah yang tuannya inginkan. Jadi tak heran, jika waktu itu Johan bisa langsung siap dengan waktu yang boleh dibilang cukup singkat.
"Mari, Tuan," ajak Johan dengan sangat sopan. Kendati Arsen adalah paman kandung Nina yang tak lain adalah istrinya, tapi Johan benar-benar menghormati Arsen sebagai tuan besarnya. Karena biar bagaimana pun, Arsen tetaplah ayah kandung dari Daniel, majikan sekaligus malaikat penolongnya sejak kecil.
Arsen hanya mengangguk, kemudian mengikuti kemana Arah kaki Johan melangkah. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Johan pun langsung menginjak pedal gas dengan kaki kanannya dan melajukan mobil itu keluar gerbang utama.
"Kita mau kemana, Tuan?" dengan hati-hati, Johan mengajukan pertanyaan.
"Rumah sakit," jawab Arsen lantang.
Johan mengernyitkan dahinya.
"Tenang saja, aku tidak akan menemuinya," ucap Arsen seolah bisa membaca pikiran Johan.
"Baik, Tuan," Johan tidak berani melanjutkan pertanyaannya, walaupun dalam benaknya sudah berkecamuk puluhan pertanyaan untuk Tuan Besarnya itu.
"Jo," panggil Arsen, nada bicaranya mulai sendu.
"Ya, Tuan," sahut Johan, begitu penasaran dengan apa yang akan majikannya katakan.
"Apakah kau mencintai putraku?" Arsen terlihat berpikir keras sampai akhirnya keluar kata-kata itu.
"Tentu saja, Tuan. Saya mencintai Tuan Daniel lebih dari dunia dan seisinya," jawab Johan mantap.
"Kalau begitu bantu aku," Arsen merasa telah mendapat celah untuk bekerja sama dengan Johan, tanpa sepengetahuan putranya.
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" Johan mulai penasaran.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk merahasiakannya dari siapapun, sampai misiku selesai," pinta Arsen penuh harap.
Johan terlihat berpikir keras, tapi bukan Johan namanya kalau dia tidak menyetujui semua syarat yang Arsen ajukan. Bagi Johan, apapun akan dia lakukan asalkan semua yang keluarga Daniel lakukan masuk dalam pantauan.
"Baiklah, Tuan," Johan menyetujui dengan mantap.
"Jangan pernah bilang ke Daniel, kalau aku berniat untuk mendonorkan mataku untuknya," akhirnya apa yang menjadi pemikirannya semalaman, Arsen sampaikan.
Mendengar ucapan Arsen, Johan menginjak pedal rem mobilnya terlalu dalam, hingga mobil yang mereka tumpangi mendecit dan mendadak berhenti. Johan benar-benar kaget dan tidak menyangka kalau Arsen sudah mengambil keputusan besar.
"Maaf, Tuan. Saya terkejut mendengar apa yang Anda katakan. Apakah Anda baik-baik saja?" Johan terlihat memeriksa tubuh Arsen untuk memastikan.
"Aku tidak apa-apa. Lain kali berhati-hatilah jika mengemudi," ucap Arsen sambil merapikan pakaiannya yang sempat berantakan akibat tubuhnya terdorong ke depan.
"Baik, Tuan. Maafkan saya," Johan kembali mengemudikan mobilnya
"Hmmm," sahut Arsen singkat.
"Terkait donor mata itu, apakah sudah Anda pikirkan baik-baik, Tuan?" Johan kembali membuka pembicaraan.
"Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan putraku, yang sekali pun belum pernah aku berikan," Arsen terlihat gelisah. Bukannya ragu dengan apa yang sudah dia putuskan, tapi sedih mengingat masa lalu mereka yang begitu menyakitkan.
"Tapi Anda masih muda, Tuan. Banyak hal yang masih bisa Anda lakukan," pancing Johan, ingin melihat sebesar apa kesungguhan sang tuan besar.
"Untuk apa semua itu jika aku tak bisa melihat putraku bahagia, Jo? Cukup sudah penderitaan di masa lalunya. Aku tak ingin melihat takdir merenggut kebahagiaannya sekali lagi," kini Arsen menatap arah luar jendela, dia membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Tapi Bank Mata Indonesia tidak menerima donor mata dari orang yang masih hidup, Tuan," jelas Johan.
"Untuk itulah aku butuh bantuanmu. Paksa mereka untuk menerima donor mataku. Jika dengan begitu tak bisa juga, kalau perlu kau bunuh aku biar korneaku bisa ditransplantasikan pada putraku," titah Arsen penuh emosi.
"Tapi, Tuan?" Johan begitu kaget mendengar apa yang Arsen perintahkan.
"Keluarkan semua keahlianmu, Jo. Aku tahu ini adalah hal yang sangat mudah buatmu," desak Arsen.
"Bukan begitu, Tuan. Tapi ...,"
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Lanjut? Like, vote dan rate 5 dulu dong🤗