METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hanya Suka Bikinnya


__ADS_3

Gumpalan kapas putih yang berarak, kini asyik bercengkrama di atas batas cakrawala. Warna putih bersih yang berpadu dengan warna langit yang membiru pun, membuat siapapun yang melihatnya akan mengucap beribu tasbih untuk mengungkapkan rasa takjub dan syukur yang ada di hatinya.


Namun tidak berlaku untuk kedua anak manusia yang kini sedang berada di dalam mobil itu. Alih-alih ikut asyik bercengkrama seperti awan dan langit yang berada di atas mereka, Lena dan Arya justru saling diam membisu hingga suasana hening pun terasa begitu sendu.


Ya, Hening. Begitulah suasana yang tercipta di mobil mereka saat ini, seperti suasana hati Lena yang sedang tak ingin diganggu oleh suaminya yang menurutnya sedang sangat menyebalkan itu. Bagaimana tidak? Jelas-jelas Arya mengatakan bahwa acara ngidam itu sangat menyebalkan. Dengan kata lain, selama ini Arya memenuhi seluruh keinginan Lena saat hamil, dengan terpaksa. Begitulah kira-kira apa yang berkecamuk di benak Lena, hingga dia mendiamkan suaminya begitu saja.


"Sayang, kamu jangan marah dong. Kan tadi aku sudah jelaskan. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu," rayu Arya, sambil meraih tangan Lena dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya fokus mengendalikan setir mobil.


"Kamu hanya suka bikinnya saja, Kak. Tapi nggak mau repotnya. Gimana kalau dia sudah lahir coba?" gerutu Lena, tanpa mau menatap suaminya. Pandangannya justru fokus ke arah kaca jendela yang ada di sampingnya, memandangi apapun yang seolah bergerak menjauhi laju mobil yang sedang mereka naiki itu.


"Ihh, siapa bilang? Bikinnya emang suka. Suka banget malah. Habis enak sih. Tapi nurutin kemauan calon bayiku dan mamanya, aku juga sangat suka melakukannya," elak Arya, berharap ibu hamil di sampingnya itu bisa luluh.


"Huh, jangan coba-coba merayuku ya, Kak. Semanis apapun Kak Tama merayuku, malam ini Kakak tetap tidur di luar," ancam Lena sambil melepaskan tangannya, yang kini masih digenggam erat suaminya.


"Nggak merayu, Sayang. Aku bicara yang sebenarnya," cicit Arya.


"Jangan dikira aku akan percaya begitu saja ya, Kak. Aku tau kau benar-benar sedang merayuku," Lena masih menunjukkan tampang juteknya.


"Sayang, please," pinta Arya sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dadanya, melepaskan setiran mobil di depannya itu begitu saja.


"Kak Tama apaan sih? Kakak lagi nyetir tau. Kalau terjadi apa-apa sama aku dan bayi kita gimana?" Lena meraih kedua tangan suaminya dan membenarkan kedua tangan itu pada setir mobil yang dikendalikannya.


"Makanya kamu jangan marah-marah terus," ucap Arya lembut. Kini tangan kirinya saja yang dia gunakan untuk mengelus ujung kepala istrinya, sementara tangan kanannya fokus memegang setiran mobil.

__ADS_1


"Biarin. Habis Kak Tama nyebelin," Lena mengerucutkan bibirnya.


"Ibu hamil tidak baik marah-marah loh," sahut Arya.


"Makanya jangan bikin aku marah-marah terus dong," Lena tidak mau kalah.


"Iya janji. Serius loh, wanita hamil itu tidak baik sering marah-marah. Karena akan berpengaruh terhadap janin ketika lahir dan dewasa kelak," Arya mencoba melunakkan hati istrinya, sementara Lena hanya mendengarkan perkataan suaminya, dengan tatapan ke kaca jendela yang terletak tepat disampingnya.


"Kau tau, Sayang? Buah cinta kita yang sedang kau kandung dalam rahimmu itu adalah anugerah terindah dari Sang Pemegang Cinta dan Kehidupan, yang pernah aku miliki. Jadi, sudah menjadi kewajibanku untuk memperhatikan tumbuh kembang anak kita, bukan hanya setelah dia nanti lahir ke dunia saja. Karena saat calon bayiku masih berada di usia 0 minggu di rahimmu itu, sebagai orang tua kita juga sudah bertanggung jawab akan perkembangan memori anak kita," jelas Arya, yang cukup ditanggapi antusias oleh istri yang kini masih duduk di kursi samping kemudi.


"Makanya ibu hamil itu di larang marah-marah, karena akan berpengaruh terhadap emosi anak yang dilahirkannya kelak. Karena, hormon ibu saat hamil bisa terserap ke dalam saluran pencernaan bayi, yang kemudian mengikat diri pada reseptor stress sang anak. Jadi bisa dikatakan, kortisol atau hormon stress ibu saat hamil yang terserap dalam tubuh bayi, berperan untuk membentuk sumbu stress saat ia dewasa nanti. Itulah alasan mengapa dikatakan emosi ibu hamil mempengaruhi janin," lanjut Arya, menghafalkan isi artikel yang sempat dibacanya di salah satu media online. Maklum, semenjak hamil, Lena benar-benar berubah sehingga Arya dengan semangat empat lima, mencari referensi dari berbagai buku dan media online agar bisa bersikap bijak menghadapi ibu hamil yang emosinya terkadang meledak-ledak itu.


"Benarkah?" Lena terlihat berpikir, mencoba mencerna kata-kata suaminya. Wajahnya pun langsung berubah menjadi lebih bersahabat mendengar ucapan suaminya itu.


"Tapi jangan bikin aku marah-marah juga," rajuk Lena mulai manja.


"Iya, Sayang. Janji," Arya mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya secara bersamaan.


"Nggak boleh bilang sebel lagi kalau aku minta sesuatu. Ingat, jangan cuma suka bikinnya, tapi tidak suka konsekwensinya," Lena kembali mengerucutkan bibirnya.


"Iya, Sayang. Jadi?" Arya mengulum senyumnya.


"Jadi apa?" tanya Lena tidak paham. Dia mengernyitkan dahinya, mencoba menebak apa maksud dari suaminya itu.

__ADS_1


"Nanti malam aku tidak jadi tidur di luar kan?" Arya mengerlingkan matanya.


"Aku pikir-pikir dulu deh," goda Lena.


"Kok gitu?" rajuk Arya dengan nada manjanya yang dibuat-buat.


"Mmmmm," Lena pura-pura berpikir.


"Apa, Yang?" Arya menatap istrinya penuh harap.


"Jujur, aku juga tidak tahu kenapa reaksiku saat menerima setiap perlakuanmu muncul silih berganti. Bahagia, sensitif, mudah sedih, kecewa, tersinggung, cemas, semua berputar-putar tanpa bisa dikendalikan. Jadi maafkan aku jika merepotkanmu," bulir-bulir bening tak terasa membasahi wajah cantik itu.


"Hey, apa ini? Kenapa kau menangis? Bahkan aku rela jika harus melakukan hal lebih dari yang selama ini kau minta. Itu tanggung jawabku. Seperti yang kau bilang tadi. Aku tidak hanya suka bikinnya saja, tapi aku juga menikmati setiap proses pertumbuhannya di dalam rahimmu, sebelum dia lahir ke dunia ini," tutur Arya lembut.


"Terima kasih sudah mau direpotkan," ucap Lena penuh haru.


"Terima kasih telah mau mengandung anakku. Aku tau semua ini sungguh berat buatmu," Arya tersenyum sambil menggenggam dan meremas tangan istrinya dengan penuh kehangatan.


Ya. Hamil bukanlah sesuatu yang mudah dilewati, karena perempuan harus menghabiskan waktu sembilan bulan lebih untuk menumbuhkan bayi di dalam perutnya dengan penuh perjuangan. Maka kontribusi suami jelas sangat dibutuhkan, sebab dukungan yang diberikan oleh seorang suami, tentu akan membuat istri merasa lebih dicintai, sehingga tidak akan merasa sendirian dan terbebas dari rasa stress di masa kehamilan.


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


Pembaca bijak selalu meninggalkan jejak. Jangan lupa like, vote dan rate 5. Jangan lupa tinggalkan comment positifnya, ya. Terima kasih.


__ADS_2