METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Ryan membiarkan kalimatnya terjeda, sebelum akhirnya dia mengambil nafas panjang dan membuangnya kembali perlahan.


"Kemarilah!" pinta Ryan sambil membuka kedua tangannya, hingga Rani mendekat dan bisa direngkuhnya.


"Mas Ryan kenapa? Apa ada masalah?" tanya Rani sambil menatap wajah suaminya, kemudian menelusupkan kepalanya kembali ke dada bidang suaminya.


"Apa kau mau menjadi ibu dari anak-anak Mas?" tanya Ryan tiba-tiba, sambil mengeratkan pelukannya.


Pertanyaan yang sangat wajar ditanyakan seorang suami kepada istrinya, memang. Namun entah kenapa Rani benar-benar tidak siap mendengar pertanyaan itu.


"Menjadi seorang ibu? Aku belum berpikir sejauh itu. Bahkan aku sempat bersyukur ketika rencana pernikahanku bersama Tede waktu itu gagal hingga aku bisa menemukan jiwa bebasku kembali. Dan saat ini, masa transisi setelah aku menikah dengan Mas Ryan saja belum berhasil aku lewati. Jadi bagaimana aku bisa berpikir untuk menjadi seorang ibu?" batin Rani dalam hati.


"Apa kamu keberatan, Sayang?" tanya Ryan seolah menemukan jawaban dari respon istrinya yang hanya diam sambil larut dalam pikirannya sendiri.


Rani hanya menggelengkan kepalanya pelan, dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"Kamu sudah janji akan menjawab dengan jujur pertanyaan Mas kan?" tanya Ryan penuh selidik. Entah kenapa waktu itu Ryan ingin sekali mendapatkan jawaban dari istrinya itu.


"Tentu saja Rani mau menjadi ibu dari anak-anak Mas Ryan. Tapi...," ucap Rani ragu. Kalimatnya dibiarkan menggantung begitu saja.


"Tapi apa?" Ryan terus mengejar jawaban pasti dari istrinya.


"Tapi Rani belum siap untuk saat ini. Rani masih muda, banyak hal belum tercapai yang masih ingin Rani lakukan," akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Rani.


"Apa kamu memakai alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan Mas?"


Rani kaget dengan pertanyaan itu, kemudian menggelengkan kepalanya dengan kasar.


"Kenapa itu tidak terpikirkan? Aku bisa hamil dan menjadi ibu kapan saja jika aku tidak memakainya. Gimana ini?" batin Rani dalam hati.

__ADS_1


Ryan tersenyum geli melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat bingung.


"Bagaimana bisa kamu bilang belum siap menjadi seorang ibu, sementara kita melakukannya setiap hari bahkan beberapa kali dalam sehari tanpa pengaman apapun?" Ryan yang tadinya bertanya serius, jadi berniat menggoda istrinya yang kini sedang terkejut dengan ucapannya itu.


Kini bayangan terkungkung di dalam rumah seperti yang selalu ditakutkan Rani segera menari-nari dalam benaknya.


Sebenarnya Ryan tidak mau meminta apapun dari istrinya itu, kecuali memang Rani benar-benar siap memberikannya sendiri kepadanya. Namun ketika mengingat beberapa hal membahayakan terjadi kepada Rani akhir-akhir ini, membuat Ryan harus meminta hal besar kepada istrinya.


"Maafkan Mas, Sayang. Bukannya Mas tidak mengerti segala keinginan dan obsesimu. Tapi karena Mas tidak ingin bahaya lebih besar terjadi kepadamu, maka Mas harus meminta ini," gumam Ryan dalam hati.


Ryan terus menatap wajah istrinya dengan lekat. Dia tak tau harus mulai dari mana dan bagaimana caranya menata bahasa agar istrinya bisa mengerti dengan keinginannya.


"Sayang, sebenarnya bukan hanya itu yang ingin Mas minta darimu," ucap Ryan, sambil membenarkan posisi duduknya hingga kini mereka duduk saling berhadapan.


Rani menatap lekat suaminya, menunggu hal apa lagi yang akan diminta Ryan dari dirinya.


"Jadilah istri sholihahnya Mas Ryan. Lepaskan semua duniamu di luar sana dan kembalilah kepada fitrah-mu sebagai seorang istri dan ibu sepenuhnya di rumah kita," dengan ragu Ryan melepaskan kata-katanya.


"Apakah menurut Mas Ryan, Rani bukanlah istri sholehah dengan posisi Rani yang sekarang? Apakah istri sholehah itu hanya pantas disematkan pada istri yang hanya berdiam diri di rumah sambil menunggu suaminya pulang?" jawab Rani dengan nada meninggi.


"Bukan begitu, Sayang. Dengarkan Mas dulu," ucap Ryan sambil berusaha memeluk istrinya kembali tapi langsung ditepis Rani begitu saja.


"Rani bisa saja meninggalkan semuanya meskipun pada akhirnya Rani harus gila. Tapi apa Mas Ryan bisa menjamin, bagaimana nasib ribuan orang di luar sana setelah Rani tinggalkan? Mereka semua menaruh harapan besar kepada Rani. Dan Rani tidak bisa membantu mereka semua tanpa Rani masuk dalam jajaran Anggota Dewan," lanjut Rani semakin emosi.


Hal yang Rani takutkan akan dunia pernikahan benar-benar terjadi. Suaminya benar-benar ingin meminta semuanya darinya, bahkan dunia yang selama ini sudah berada dalam genggamannya.


Ribuan orang miskin, perempuan penyandang HIV AIDS, ratusan anak-anak pengidap thalassemia, dan banyak hal lain yang masih membutuhkan sentuhan Rani kini muncul bagai slide yang menari-nari di dalam kepalanya.


"Haruskah semua kulepaskan?" batin Rani dalam hati.

__ADS_1


Rani tergugu. Sekedar memikirkan permintaan suaminya itu saja sudah benar-benar membuat Rani sakit. Apalagi jika harus meninggalkan pekerjaan sekaligus dunia yang dia cintai, mungkin dia benar-benar bisa jadi gila karenanya.


"Kenapa Mas Ryan lupa, kalau Mas pernah berjanji akan mendukung dan menguatkan Rani dalam hal apapun? Bahkan tugas yang diberikan Papa Prabu untuk mengantarkan Mas Ryan menjadi orang nomor satu di kota ini saja belum Rani tuntaskan. Kenapa Mas Ryan melupakannya begitu saja?" Rani berkata lagi dengan lirih, sambil beranjak dari sofa tempat mereka duduk dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Ryan yang masih bingung memilih kata dan bahasa apa lagi agar Rani mengerti akan keinginannya.


Ryan pun bangkit dari duduknya, berusaha mengikuti Rani ke arah kamar mandi. Ternyata pintu dikunci. Tiga puluh menit Ryan terus menunggu, namun istrinya tak kunjung nampak dari balik pintu.


"Huhhh!" seru Ryan dengan geram sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Tak lama kemudian, Ryan memutuskan untuk keluar dari kamar dan menelphon seseorang.


***


Setelah puas menangis, Rani mengambil air wudhu dan bergegas keluar dari kamar mandi. Dia sudah mulai tenang dan memutuskan akan mendiskusikan baik-baik dengan suaminya terkait permintaannya itu.


Namun ketika pintu kamar mandi dibuka, Rani tak lagi mendapatkan sosok Ryan di dalam kamarnya.


Rani mencari Ryan di lantai bawah dan hampir di semua ruang, hasilnya nol besar. Hingga akhirnya Rani memutuskan untuk melihat ke arah garasi tempat mobil Ryan biasa diparkirkan, ternyata kosong. Rupanya suaminya itu pergi tanpa berpamitan dengannya.


Rani mengedarkan matanya pada jam dinding yang terpasang tinggi di ruang tamu, jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Kemana kamu, Mas? Kenapa kamu pergi? Maaf telah membuatmu marah," gumam Rani dalam hati.


Kini tak hanya terisak, Rani bahkan sudah menangis sesenggukan sambil berlari ke arah kamar dan menghamburkan diri begitu saja pada tempat tidurnya.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹


Happy Reading.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote dan rate 5 ya...


__ADS_2