
Di Rumah Sakit
Aghata terus berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD tempat Daniel sedang di tangani oleh tim dokter.
Semua itu Aghata lakukan bukan hanya karena Daniel sedang berada di dalam sana, tapi juga karna Naja sama sekali tak mengangkat panggilannya. Aghata mencoba untuk mengirim pesan pun hasilnya tak jauh beda. Jangankan dibaca, dibuka pun tidak. Sehingga pesannya bisa dipastikan belum sampai kepada Naja.
"Dimana dia hingga tega meninggalkan suaminya sendirian? Apa dia lupa kalau suaminya itu buta?" gerutu Aghata sambil terus menempelkan sebuah ponsel pada telinganya.
"Ryan, apa Daniel dan Naja sedang bertengkar atau semacamnya?" tanya Aghata lagi tanpa menurunkan posisi ponsel dan tangannya.
"Setahu Ryan mereka baik-baik saja, Mom. Meskipun ...," Ryan menghentikan kalimatnya, begitu mengingat pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh istrinya.
"Meskipun apa, Nak?" kejar Aghata.
"Naja sempat menanyakan keberadaan ibunya kepada Rani, Mom. Atau jangan-jangan ...," Ryan tiba-tiba menebak sesuatu dan langsung berselancar dengan ponsel miliknya.
***
Di Kediaman Daniel Cullen.
"Dimana ibuku?" teriak Naja.
Semua pelayan itu hanya diam membisu. Mereka terus tertunduk, tanpa berani menatap wajah Naja yang sudah sangat murka.
"Baiklah jika kalian tak mau menjawab pertanyaanku. Aku bisa mencarinya sendiri," ucap Naja penuh amarah, kemudian langsung berlari ke lantai atas, tepatnya ke arah kamar dimana dia melihat ibunya melalui rekaman CCTV yang dia temukan.
Dengan hati bergetar, Naja memutar gagang pintu yang ada di depannya. Sedetik kemudian, dia membulatkan mata dan mulutnya, mendapati ibunya yang kini benar-benar ada di hadapannya.
"Ibu!" pekik Naja dan langsung menghambur ke arah ibunya.
Tak ada satu kata pun yang waktu itu ke luar dari mulut mereka. Hanya suara isakan yang terdengar, dari mulut ibu dan anak yang telah lama tak mampu melepas rindu itu.
__ADS_1
"Maafkan Daysie, bu," ucap Daysie, setelah tiga puluh menit mereka larut dalam suasana penuh haru.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Ibu hanya ingin melihatmu hidup bahagia, itu saja sudah lebih dari cukup," jawab Ranti sambil mengusap kepala Naja yang kini berada di pangkuannya.
"Dimana Indra? Apakah majikan kejamku itu tidak menyekapnya bersama ibu juga?" tanya Naja sambil mengedarkan pandangannya.
"Apa kau bilang, Nak? Majikan kejam?" Ranti mengerutkan dahinya.
"Iya, bu. Dialah yang menyekap ibu dan berpura-pura mencintaiku hanya demi membalaskan dendamnya kepadaku," sahut Naja dengan tatapan nanar.
"Jika yang kau maksud majikan kejam itu adalah suamimu dan menantuku, maka dengarlah, Nak. Kau sungguh sedang berbuat dosa. Dia adalah seorang suami dan menantu terbaik yang ibu kenal," Ranti membalas tatapan putrinya dengan tajam, sementara Naja hanya mendengarkan ucapan ibunya dengan ekspresi kebingungan.
"Dari mana ibu tahu kalau dia suamiku? Apa dia mengatakannya kepada ibu?" Naja semakin tidak mengerti.
"Dia sendiri yang meminta restu kepada ibu dan ibu merestuinya. Dia mencintaimu dengan tulus, Nak. Jadi berhentilah berprasangka buruk kepada suamimu itu!" tegas Ranti.
"Mana ada, Bu? Bagaimana mungkin dia mencintaiku dengan tulus jika dia saja menyekap ibu di tempat ini?" sergah Naja.
"Jadi, dia merahasiakan keberadaan Ibu, karena Ibu yang memintanya? Tapi kenapa, Bu?" kini bulir-bulir bening menetes begitu saja dari ujung matanya. Sungguh, semua yang ibunya katakan kepadanya benar-benar seperti mimpi untuknya.
"Sungguh, rindu itu bukan hanya milikmu saja, Nak. Ibu juga sangat merindukanmu dan ingin sekali berada di dekatmu. Tapi Ibu ingin melihat kau bahagia tanpa memikirkan kami, Nak. Karena itulah Ibu merahasiakan keberadaan Ibu darimu," Ranti meraih wajah putrinya dan mengelusnya lembut.
"Tapi kenapa harus begitu? Tahukah Ibu bahwa kebahagiaanku tak akan pernah sempurna tanpa kehadiran Ibu? Setidaknya biarkan aku mengetahui keberadaan Ibu," tangis Naja tumpah.
"Ibu hanya meminta waktu sampai Indra menyelesaikan pendidikannya di sekolah mata-mata mengikuti jejakmu, setelah itu Ibu berencana akan menemuimu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Kau datang secara tiba-tiba tanpa Daniel memberitahukan kepada Ibu terlebih dahulu," tutur Ranti dengan tatapan teduhnya.
Mendengar ibunya menyebut nama Daniel pada kalimat terakhirnya, tiba-tiba Naja membulatkan mata.
"Masya Allah, aku meninggalkannya di kamar sendirian, Bu. Bagaimana jika dia ke luar kamar dan terjadi sesuatu?" kata Naja sambil menutup mulutnya.
"Pulanglah, Nak. Dan temui dia," pinta Ranti penuh harap.
__ADS_1
"Tapi Ibu?" Naja terlihat ragu.
"Tinggal di sini adalah pilihan ibu," tegas Ranti.
***
Di Kediaman Ryan Dewangga
Naja segera turun dari mobilnya begitu sampai ke rumah keluarga Dewangga. Saat itu tujuannya hanya satu, dia harus pergi ke kamarnya dan meminta maaf atas semua kesalahannya kepada Daniel, suami yang telah dia tuduh dengan sangat hina dan penuh curiga.
Naja terus berlari tanpa menghiraukan Bik Tum dan para penjaga yang telah dilaluinya. Dinaikinya anak tangga demi anak tangga satu per satu, hingga dalam sekejap pun dia berhasil meraih gagang pintu kamar yang hendak dia tuju.
Namun alangkah kecewanya dia, begitu tak mendapati laki-laki pujaannya berada di sana. Naja pun membalikkan tubuhnya dan mencari sosok suaminya di seluruh penjuru ruang lantai dua. Merasa belum menemukan Daniel, dia segera berlari lagi menuruni anak tangga, sambil mencari siapa saja yang kemungkinan besar mengetahui keberadaan suaminya.
"Bik! Bik Tum," panggil Naja sambil berlari ke dapur.
"Ya, Non," Bik Tum segera menghampiri Naja dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana dengan kondisi Den Daniel, Non? Bik Tum benar-benar khawatir dengan kondisinya jika mengingat lagi darah yang keluar dari tubuh Den Daniel tadi setelah jatuh dari tangga," cicit Bik Tum dengan polosnya. Bik Tum sama sekali tidak tahu jika Naja belum mendapat kabar tentang kecelakaan itu.
"Bik Tum bilang apa? Suamiku jatuh dari tangga, Bik?" Naja memastikan kembali. Air matanya kembali tumpah, dengan segala penyesalan yang kini telah sukses menyesakkan dadanya.
"Lho, apa Nyonya Besar dan Den Ryan tidak menghubungi Non Naja?" tanya Bik Tum heran.
Mendengar ucapan Bik Tum, Naja langsung meraba kantong celana dan bajunya.
"Astaga. HP-ku tertinggal, Bik," kata Naja sambil berlari menaiki tangga lagi dan mencari benda pipih canggih miliknya.
Begitu Naja mendapatkan benda itu, dia pun segera membuka layar pengunci, dan segera saja dia bisa melihat puluhan panggilan masuk dari mertuanya, juga beberapa pesan yang sengaja Aghata kirimkan kepadanya untuk memberitahukan kondisi dan keberadaan Daniel saat ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1