
Ketika rasa sepi dari khayalan yang terkubur jauh dalam mimpi kini kembali, ketika rasa sunyi yang bersemayam bersama rasa benci kini menghatui, ketika gelap menyelimuti kalbu hingga tatapan-tatapan nanar membuat hati diselimuti dendam, maka seseorang yang pernah hadir di masa lalu seolah tak pantas dimabuk rindu karena racikan cinta yang terlanjur dianggap palsu.
Begitu juga dengan apa yang Aghata rasakan. Dia benar-benar merasa bahwa Arsen telah sempurna menelan seluruh kebahagiaannya, hingga lembaran demi lembaran hidupnya terlanjur usang. Bagaimana tidak? Aghata yang waktu itu masih suci dan Arsen agung-agungkan, kemudian dicampakkan begitu saja ketika mahkota itu sudah dia dapatkan. Jadi, tidak pantaskah Arsen mendapatkan balasan setimpal?
"Sekali lagi, hati dan mulutmu tak sejalan, Aghata. Aku tahu kau masih mencintaiku," cicit Arsen penuh percaya diri.
"Terserah apa katamu, aku tak peduli. Aku akan kembali ke kamar putraku," jawab Aghata tak acuh. Dia melanjutkan langkahnya, dan membuka pintu kamar pasien itu begitu saja.
Namun, alangkah terkejutnya Aghata begitu pintu terbuka. Tepat di depan pintu itu, Daniel yang duduk di atas kursi roda di temani Naja, Rani, Ryan dan Johan sudah berada di sana. Apakah mereka semua mendengar apa yang Arsen dan Aghata bicarakan?
"Sayang? Sejak kapan kalian berada di sini?" tanya Aghata dengan wajah sudah merah merona. Dia benar-benar merasa malu jika sampai mereka semua mendengar percakapan mereka berdua beberapa saat yang lalu.
"Kami baru saja datang, Mom," Rani buru-buru menjawab, takut jika Ryan atau yang lainnya berbicara jujur kalau sebenarnya mereka sudah di depan pintu sejak pertama kali Arsen dan Aghata memulai percakapan.
"Baiklah, ayo masuk," ada kelegaan yang teramat sangat di hati Aghata, mendengar jawaban itu.
"Untung mereka tidak mendengar apa yang Arsen katakan kepadaku. Jika sampai mereka tahu, aku yakin mereka pasti akan melakukan sesuatu. Huh, aku sungguh tak mau jika mereka ingin kami bersatu," batin Aghata dalam hati.
__ADS_1
Dan tak butuh waktu lama, mereka akhirnya masuk. Johan yang waktu itu mendorong kursi roda Daniel pun mendekatkannya persis di sebelah Arsen, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
Daniel terlihat mengangkat tangannya, mencoba meraba apa yang dia raih untuk mencari tubuh Arsen. Menyadari bahwa putra yang teramat dirindukannya itu mencarinya, Arsen pun dengan senang hati meraih tangan Daniel dan menggenggamnya.
"Dad," lirih Daniel. Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutnya, sebuah kata yang teramat asing bagi dirinya, yang bahkan sekedar dalam mimpi pun dia tak pernah berharap akan mengucapkannya.
"Kau panggil aku apa, Nak?" Arsen tak bisa menahan kristal bening yang berderai dari ujung matanya, mendengar Daniel menyebutnya sebagai ayah untuk pertama kalinya.
"Dad, boleh kan aku panggil Daddy?" tutur Daniel. Kini air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Daddy tahu? Awalnya tak pernah terlintas sedetik pun di benakku, kalau aku akan mengucap kata demi kata ini kepadamu. Daddy tahu kenapa? Karena Daddy adalah sosok tersayang yang tidak pernah kukenal, bahkan tak pernah kuharapkan bisa kukenal sampai kapan pun juga," Daniel menghela nafas panjang. Dalam kegelapan yang dia rasakan, hatinya begitu nanar setelah mengeluarkan kata-kata yang sudah sekian lama dia pendam.
"Tapi saat aku melihat dunia dan kutemukan hampir semua anak mengenal ayahnya, keinginan untuk bisa bercanda denganmu, mengobrol bersama sambil menikmati dua cangkir kopi, saling merengkuh, saling melindungi, saling menyayangi, itu muncul beribu kali dalam hati ini, Dad," lanjut Daniel sambil meremas tangan Arsen yang kini sedang menggenggam erat tangannya.
"Bahkan dalam hati kecilku, aku selalu membayangkan bisa mendengar suaramu membangunkan ku di setiap pagiku, yang bukan hanya merdu tapi juga menenangkan jiwaku, dan memberikan semangat kepadaku untuk merajut asa, meraih mimpi, menyongsong hidup hingga ke puncak kejayaan," Daniel masih tak membiarkan Arsen berbicara apapun.
"Daddy tahu? Aku ingin sekali mendengar ucapan selamat tidur dari mulutmu hampir di setiap malamku. Aku ingin kau mengecup keningku sebelum alam mimpi selalu menemaniku. Walau akhirnya aku tersadar, bahwa itu adalah khayalan ciptaanku, Dad. Ya, khayalan yang kuciptakan untuk membohongi diriku sendiri," semua yang mendengar ucapan Daniel ikut terisak.
__ADS_1
"Tapi aku bersyukur karena kau menjadi orang yang membuatku belajar apa arti perpisahan. Aku pun terus memuji karena kau menjadi orang yang membuatku bisa kuatkan diri sendiri saat aku jatuh berkali-kali. Bahkan aku tak memerlukan tumpuan tangan dan kakimu hanya untuk bisa berjalan dengan cara dan iramaku sendiri, Dad. Hingga karena kepayahanku, aku begitu membencimu. Kau tahu betapa aku sudah kehilangan masa kecilku kan, Dad? Karena itulah aku sangat membencimu," tubuh Daniel terlihat berguncang setelah mengucapkan kalimat itu.
"Tapi hari ini, aku merasa bahwa aku benar-benar punya seorang ayah. Ternyata betul kata mereka. Bahwa seorang ayah akan melakukan apapun demi melihat anaknya bahagia, meski dia harus mempertaruhkan nyawa sekalipun. Dan itu benar-benar kurasakan saat ini, Dad," lanjut Daniel terus tergugu.
"Nak," Arsen seperti sedang bermimpi mendengar ucapan Daniel yang begitu tulus, apalagi ketika Daniel menyebutnya sebagai Daddy.
"Tolong maafkan aku, Dad," Daniel menggenggam tangan Arsen erat.
"Tidak, Nak. Daddy yang minta maaf. Daddy tidak bisa menjadi ayah yang sempurna buat kamu. Hanya satu kesempatan ini Daddy bisa membuktikan kesungguhan cinta Daddy kepadamu pun, ternyata Daddy juga gagal. Daddy sungguh tidak berguna," oceh Arsen penuh sesal.
"Jangan bilang begitu, Dad. Kalau terjadi sesuatu pada Daddy, aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Karena sebenarnya, sejak pertama kali kita bertemu itu aku sudah bersumpah, bahwa aku akan menjaga Daddy dari musuh-musuh Daddy, bahkan dari segala hal yang akan membahayakan nyawa Daddy," timpal Daniel tak kalah sendu.
Dan begitulah seterusnya, mereka mencurahkan segala rasa yang sudah sekian lama mereka pendam dalam dada mereka. Ryan, Rani, Naja dan juga Johan, hanya mendengarkan percakapan seorang anak dan ayah itu dengan perasaan yang mengharu biru. Sementara Aghata, hanya mampu mengusap bulir-bulir bening yang terus menetes di pipinya.
Kini, perasaan lega, bahagia, dan segala rasa yang menentramkan jiwa bercampur menjadi satu, melahirkan sebait do'a agar Sang Maha Pencipta memberikan barokahNya pada kehidupan mereka semua.
BERSAMBUNG
__ADS_1