METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Malam Pertama (Part 2)


__ADS_3

Hengky terus mengusap kepala istrinya, seperti seorang ibu yang sedang meninabobokan putri kecilnya dengan sayang. Fisha yang mendapat perlakuan istimewa dari Hengky pun hanya mencuri-curi pandang, menikmati sebuah moment kebersamaan yang belum pernah sama sekali dia impikan.


"Apakah menikah itu memang seindah ini? Awalnya aku akan mengira bahwa menikah dengan seorang tuan muda kaya raya harus rela menerima perlakuan kasar, sombong, angkuh dan kejam suaminya terlebih dahulu sebelum mendapatkan cintanya. Ternyata aku salah. Dia sungguh sangat baik bahkan terlalu baik memperlakukanku, seperti apapun perasaannya kepadaku saat ini," batin Fisha dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan?" Hengky yang menangkap basah saat Fisha menatapnya, bertanya penuh selidik. Bahkan kini Hengky telah menatap lekat gadis itu dengan segala pertanyaan yang bergejolak di dalam benaknya.


"Tidak ada," Fisha mengalihkan pandangannya.


"Jangan bohong kau ya. Aku tahu kau sedang memikirkanku," Hengky membuat Fisha menatapnya kembali.


"Ihh, mana ada," kini muka Fisha sudah memerah menahan malu.


Hingga tiba-tiba, ponsel Hengky berdering. Ada sebuah nama yang sempat Fisha tangkap, kini tertera di sana.


"Aku angkat dulu, ya," Hengky menunjukkan ponsel itu kepada istrinya.


"Terimanya di sini saja," Fisha menahan tangan Hengky yang ingin beranjak dari tempat tidurnya. Seluruh keberanian dia kumpulkan demi mendengar percakapan suaminya dengan wanita yang bahkan telah mengambil seluruh ruang kosong dalam hatinya.


Hengky menganggukkan kepalanya, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, sebelum akhirnya menarik tubuh Fisha dalam pelukannya. Ya, Hengky sengaja membuat Fisha dalam pelukannya saat menerima telepon itu, agar dia tidak merasa curiga apalagi cemburu. Dan Fisha sangat menyukai hal yang dilakukan suaminya itu.


"Assalamu'alaikum, Ran," sapa Hengky terdengar sangat manis.


"Huh, manis sekali dia memanggilnya," cibir Fisha dalam hati.


"Wa'alaikumsalam, Mas," sahut Rani tak kalah manis di telinga Fisha. Waktu itu Hengky memang sengaja mengaktifkan loudspeaker pada panggilannya, agar Fisha bisa mendengar percakapan mereka.


"Cih, bahkan panggilannya sama dengan aku memanggil suamiku," batin Fisha lagi.


"Tumben malam-malam begini kau menghubungiku, Ran? Jangan bilang ini bagian dari ngidammu," goda Hengky. Kini mereka tertawa lepas.


"Jangan ge-er gitu ahh," sahut Rani.


"Terus? Kangen?" oceh Hengky lagi. Kali ini Hengky mengatakannya sambil mengecup kening Fisha.


"Mana ada gitu. Yang ada suamiku cemburu padamu kalau aku sampai merindukanmu," jawab Rani sambil tergelak.


"Awas kau ya, jangan berani menggodanya," terdengar suara Ryan masuk ke telinga Hengky.


"Ampun. Ampun, Brother. Mana aku berani," mereka pun tergelak bersamaan.

__ADS_1


"Baguslah kalau kau takut kepadaku," cicit Ryan.


"Aku tak takut kepadamu. Aku hanya takut pada seseorang," Hengky mengucapkannya sambil menatap Fisha dengan sebuah senyuman.


"Siapa?" kini suara Rani yang masuk. Jiwa keponya selalu meronta jika mendengar hal janggal diucapkan sahabat sekaligus orang yang selalu memperhatikannya itu.


"Ran, dengarkan aku," Hengky tiba-tiba serius.


"Ya," sahut Rani.


"Aku sudah putuskan. Aku akan fokus urus perusahaan," ucap Hengky penuh penekanan.


"Aku sudah menduganya," Rani menanggapi dengan sangat serius.


"Bagaimana bisa?" heran Hengky.


"Berita pengunduran dirimu, aku sudah mendengarnya. Karena itulah aku menghubungimu," jelas Rani kemudian.


"Satu lagi kabar untukmu," Hengky mengeratkan pelukannya kepada Fisha.


"Apa?" tanya Rani penasaran.


"Hah?" Rani tak bisa menyembunyikan kagetnya.


"Aku sudah menikah," akhirnya kata itu keluar dari mulutnya.


"Apa? Kenapa Mas Hengky tidak mengundangku?" protes Rani, terdengar manja.


"Ini mendadak, Ran. Besok aku ceritakan kepadamu. Sekalian kuperkenalkan istriku,"


"Oke, Mas Hengky. Ditunggu ya. Bye " Rani mengakhiri percakapannya dan menutup teleponnya.


Sedetik kemudian, Hengky pun meletakkan ponselnya pada nakas di samping ranjang, tanpa melepaskan pelukannya.


"Ini adalah bagian dari komitmenku, Fisha. Aku tak akan pernah menyembunyikan apapun darimu mulai dari sekarang, termasuk tentang Rani. Kau tahu kenapa? Karena aku adalah suamimu, dan kau adalah satu-satunya wanita yang berhak atas diriku. Aku harap kau juga bisa melakukan hal yang sama kepadaku," tutur Hengky lembut. Dia menatap Fisha dengan begitu lekat.


"Terima kasih, Mas. Insya Allah Fisha akan belajar menjadi istri yang baik buat Mas Hengky. Termasuk jika ...," Fisha tidak melanjutkan kalimatnya. Dia benar-benar malu mengatakan apa yang sekarang ada di benaknya.


"Termasuk jika apa?" Hengky mulai bisa menebak apa yang kini ada di benak Fisha.

__ADS_1


"Termasuk jika Mas Hengky benar-benar ingin itu dari Fisha," wajah Fisha kini sudah memerah.


"Ingin apa Fisha? Bicara yang jelas!" Hengky makin berniat menggoda Fisha.


"Masa Mas Hengky nggak paham sih? Fisha kan malu mengatakannya?" Fisha melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya hingga memunggungi suaminya.


Hengky semakin nakal. Dia memeluk istrinya dari belakang dan mendekati telinga istrinya.


"Apa, Sayang?" kata itu membuat angan Fisha melayang.


"Mas Hengky boleh membuka segel Fisha sekarang," akhirnya kata itu keluar dari mulut Fisha.


Setelah mengucapkan itu, Fisha membalikkan tubuhnya dan menenggelamkan mukanya pada dada bidang suaminya.


Hengky tak menduga, Fisha akan secepat ini memberikan lampu hijau kepadanya.


"Apakah karena Rani?" batin Hengky dalam hati.


Hengky tak mau menundanya lagi. Tak akan dia lewatkan lampu hijau yang telah Fisha nyalakan. Seperti hasratnya yang sebenarnya sudah tak bisa tertahankan. Hengky segera mengendorkan pelukannya, dan membuang selimut yang menutupi tubuh Fisha begitu saja hingga terserak di lantai.


Fisha masih berada pada posisinya. Mukanya masih saja dia sembunyikan dalam dekapan tubuh kekar suaminya. Melihat itu, Hengky pun mengendurkan pelukannya, dan meraih wajah istrinya hingga mereka bisa bertemu mata.


"Kau telah membuatku jatuh cinta, Sayang. Dan malam ini, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku," ucap Hengky sambil memagut bibir ranum Fisha.


Akhirnya, malam itu menjadi saksi bisu betapa sepasang anak manusia itu telah membiarkan diri mereka terus menyatu dengan deru yang menggebu.


Sesaat, nafas mereka terasa begitu berat, seolah aliran oksigen dari setiap tarikan yang mereka buat tak sampai pada tubuh polos itu, hingga mereka harus menambah frekuensi nafas mereka berkali-kali.


Angin malam pun segera datang menerpa, menambah buaian desir yang menghantarkan setiap irama yang tercipta diantara cahaya bulan dan lampu temaram yang menjadi saksi bisu pembuktian cinta yang belum sempat terucap dengan kata-kata.


"I love you, Fisha," akhirnya kata itu terucap dari mulut Hengky, setelah dia mendapatkan apa yang menjadi kemauannya.


Beberapa bercak darah yang terlihat pun, menjadi bukti bahwa kesucian Fisha hanya Hengky yang berhak mendapatkannya.


BERSAMBUNG


❤❤❤


***Like, vote*, dan rate 5 ya guys**.

__ADS_1


__ADS_2