
Ryan melangkahkan kakinya dengan perasaan tak menentu. Tangannya mendorong Rani menggunakan kursi roda yang kini terus mendekat pada sebuah pintu yang akan membawa mereka pada sepotong kisah masa lalu, yang entah akan terus dikenang atau akan begitu mudahnya dilupakan dalam episode kehidupan mereka yang akan datang.
Semakin mendekat, jantung Ryan semakin berdegub kencang. Ada perasaan tidak rela yang tiba-tiba menari-nari dan mengusik pertahanan hatinya.
"Apakah keputusanku membawanya pada masa lalunya sudah benar? Ah, aku tidak boleh egois," gumam Ryan dalam hati.
"Mas Ryan yakin?" tiba-tiba Rani bertanya sambil menggenggam tangan suaminya, yang berada pada pedal besi kursi roda di belakang bahunya.
"Tentu saja. Kamu harus segera menuntaskan urusan masa lalumu itu, agar setelah ini kita bisa lebih fokus pada masa depan kita," jawab Ryan, sengaja dibuat setenang mungkin untuk menutupi kegelisahannya.
Sampai di depan pintu, mereka berhenti. Baik Ryan maupun Rani saling menata hati.
***
Tede terbaring di sebuah kamar rumah sakit dengan pasrah. Badannya sangat kurus, seluruh rambutnya rontok dan tubuhnya terkulai lemas. Wajah tampan seorang primadona kampus pada masanya pun sudah sekian lama hilang.
Melihat kedatangan Mama Davina bersama mamanya, membuat Tede teringat kisah tiga tahun silam. Tak pernah terlintas dalam pikirannya, kalau dia divonis menderita kanker kolorektal (kanker usus) stadium empat sehari sebelum acara lamaran itu mereka langsungkan.
Waktu itu, dokter mengatakan bahwa dirinya hanya mampu bertahan hidup selama 18 bulan, sehingga bayangan masa depannya pun seketika hilang. Yang ada di benaknya hanya satu, melepaskan cintanya agar dia bisa hidup bahagia.
Sebenarnya beberapa bulan setelah menjalani kemoterapi, Tede sempat dinyatakan sembuh dan berniat ingin merencanakan hidupnya kembali. Namun sayangnya, dua tahun lalu dokter menemukan kembali dua benjolan kecil di perut sehingga Tede kembali dikemoterapi hingga dua tahun berjalan kembali, meski seolah dokter tak mampu berbuat banyak lagi.
"Sayang, lihat siapa yang datang," ucap mamanya ketika Mama Davina datang.
Tede hanya mengangguk pelan, menyapa perempuan yang sempat akan menjadi mertuanya itu.
"Please jangan biarkan Rani tahu, Tante. Aku tahu dia sudah bahagia dengan orang yang dicintainya. Itu sudah membuatku bahagia, Tante," ucap Tede lirih, tak begitu jelas karena mulut dan hidungnya tertutup alat bantu pernafasan.
Belum sempat ada jawaban, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Tak berapa lama, Rani muncul bersama Ryan dari balik pintu. Karena selang infusnya sudah dilepas, Rani memutuskan untuk masuk tanpa menggunakan kursi roda agar kesan bahwa dirinya sedang lemah tak dilihat oleh orang yang pernah mengisi sekaligus menyakiti hatinya itu.
__ADS_1
Rani terus berjalan menghampiri Tede, dengan tangan tergenggam erat pada tangan suaminya.
Sementara itu, dari sudut ruang yang lain mata Tede membelalak, tidak siap melihat orang yang telah berusaha dia lepaskan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Sesaat, dia memandang gadis yang masih tersimpan erat di galaksi hatinya itu dengan kerinduan yang teramat sangat.
"Kini kau benar-benar sudah berubah, Sayang," gumam Tede dalam hati.
Rani, seorang gadis yang dulu tampil dengan rambut terikat, celana jeans ketat yang sengaja disobek di bagian lututnya, juga T-shirt yang hampir selalu dikenakannya, kini berubah menjadi gadis anggun yang tertutup hijab dengan rapinya.
"Ahh, namamu masih saja terpahat dalam hatiku, Sayang. Cinta ini masih terpampang erat dalam semesta jiwaku. Bahkan jika kau bisa membaca lubuk hati ini, rasa itu justru semakin besar dari sebelumnya. Meski kau kini telah berdua dengan orang yang kau cinta, tapi hati dan perasaanku akan tetap sama, bahkan tak akan pernah terhapus sampai aku menutup usia," Tede larut dalam pikirannya sendiri melihat wanita yang dicintainya itu datang mendekatinya.
Kedua mama itu pun menyambut kedatangan Rani dan membiarkannya mendekati Tede.
Dengan ragu, Rani mendekati tubuh lemah di hadapannya itu. Entah perasaan apa yang kini mendominasi hatinya, yang jelas hanya untuk besitatap dengan Tede bukan perkara yang mudah untuk Rani saat itu.
"Mas tunggu di luar," bisik Ryan lirih, sambil melonggarkan genggaman tangannya.
Ryan tersenyum melihat reaksi istrinya itu, meski apa yang ada dalam hatinya Ryan tak tahu.
Kini Rani tepat berada di samping Tede. Mata mereka saling bertemu. Tak terasa, kristal bening tak bisa tertahan lagi menetes dari kedua pasang mata itu.
"Maaf," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Tede.
"Aku sudah memaafkanmu. Maafkan aku juga karena telah begitu membencimu. Dan terima kasih karena telah mengutamakan kebahagiaanku," ucap Rani lirih, kini isakan tangis tak bisa lagi mampu ditahannya.
Entah kenapa hati Ryan justru sakit melihat sepotong adegan itu. Dia melonggarkan kembali genggaman tangan istrinya, agar tak melihat sepenggal kisah itu dan membiarkan mereka menyelesaikan urusan mereka di masa lalu tanpa kehadirannya. Namun lagi-lagi, Rani meraih tangan itu kembali dan menggenggam erat, seolah tak mau ditinggal pergi.
"Terima kasih karena telah membuatku menemukan kebahagiaanku," akhirnya kata itu keluar dari mulut Rani.
__ADS_1
Tede mengangguk dan tersenyum simpul ke arah Ryan.
"Aku bahagia melepasmu, Ran. Aku bisa tenang sekarang. Aku benar-benar sudah siap jika pun Allah menginginkanku," ucap Tede dengan terbata. Nafasnya naik turun seolah oksigen tak lagi mudah dihirupnya.
"Istirahatlah, tidak perlu berpikir macam-macam. Kami selalu berdo'a untukmu," ucap Rani hangat.
Tak lama, Rani pamit untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
***
"Kenapa tadi kamu tidak membiarkan Mas pergi?" tanya Ryan begitu mereka sampai di kamar tempat Rani di rawat.
"Karena waktu itu kita sudah saling berjanji. Rani akan menjaga diri dari laki-laki lain dan Mas Ryan akan menjaga diri dari perempuan lain," jawab Rani dengan senyum tipis di bibirnya.
"Apa kamu menyesal dengan semua yang telah terjadi? Menangislah di bahu Mas jika itu bisa menghilangkan beban berat di hatimu!" ucap Ryan sambil mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
Rani hanya tersenyum kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat. Tak ada isakan tangis saat itu. Bagi Rani, sepenggal kisah masa lalu pasti membawa jalan masing-masing. Sedih? Tentu saja. Namun Rani yakin bahwa skenario yang Allah berikan untuknya pasti jauh lebih indah.
"Biarkan sepotong episode yang menyakitiku waktu itu, mengantarkan episode baru yang indah bersamamu, Imamku," ucap Rani di telinga suaminya.
Dan entah kenapa, Ryan bahagia mendengar kata-kata itu. Meskipun Ryan tak tahu, apakah kehadirannya yang baru dalam hitungan bulan telah berhasil menggeser nama Tede yang sudah masuk dalam kehidupan Rani sekian lama?
Lantas apa yang terjadi pada Tede selanjutnya?
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalin jejak ya...
__ADS_1
Ditunggu like, comment dan vote-nya. Kasih rate 5 juga. Ok?