
Rani memandang Zara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Bukan tatapan kebencian, memang. Tapi tatapan yang seperti itu justru mampu membuat Zara yang sebenarnya sudah bersiap mendapatkan cacian, tamparan atau hukuman apapunlah itu, menjadi merasa kecil dan kehilangan nyali sama sekali.
"Kamu ...," Rani tak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya tak mengalihkan pandangannya dari sosok gadis yang telah berhasil melukai suaminya, sekaligus menerobos keamanan berlapis yang diterapkan oleh seluruh anak buahnya yang sudah sangat terlatih itu.
"Hukumlah saya, Nona! Saya bersalah kepada Anda," Zara bersimpuh begitu saja, menyadari bahwa sosok Ryan dan Rani yang kini ada di hadapannya adalah orang yang nyaris sempurna kebaikannya.
"Saya bersedia menebus semua yang telah saya lakukan kepada Anda berdua, Nona," lanjutnya sambil menunduk.
"Menurutmu, apa hukuman yang paling pantas untuk menebus semua kesalahanmu?" tanya Rani datar.
"Kematian tentu hukuman yang setimpal, Nona. Tapi itu terlalu ringan buat saya. Karena itu, terimalah janji setia saya, akan saya persembahkan jiwa dan raga saya sepenuhnya untuk melayani Anda seumur hidup saya," Zara memberanikan diri untuk menatap Rani dengan kedalaman matanya.
Sesaat, Rani terlihat ragu. Dia pun berusaha mencari jawaban dari isyarat mata yang diberikan suaminya, dan begitu jawaban itu dia dapatkan, dengan mantap dia berbalik menatap Zara.
Zara yang di tatap dengan lekat, kini menundukkan kepala sambil berucap, "terimalah sumpah setia saya, Nona. Saya, Zara Delisha, berjanji akan setia kepada Anda dan anak keturunan Anda seumur hidup saya."
"Buktikan bahwa kau tak main-main dengan ucapanmu, Zara!" tegas Rani masih dengan tatapan tajamnya.
"Saya siap menerima perintah dari Anda, Nona," sahut Zara mantap.
"Kau harus bisa selesaikan masalah Green Canyon, dan menemukan orang dalam yang berkhianat kepadaku," ucap Rani, seolah bisa mengerti arah keinginan Ryan, juga Indra yang telah membawa gadis itu ke hadapannya.
"Akan saya lakukan sesuai perintah Anda," Zara mengembangkan senyumnya.
"Indra, ini adalah misi pertamamu dan Zara. Aku tak menerima kegagalan," Ryan ikut menyahut.
"Siap, Tuan. Kami permisi," Indra keluar ruangan, diikuti Zara sesaat setelah dia berdiri dan berpamitan.
__ADS_1
"Niel, beristirahatlah! Ajak Naja bersamamu," Ryan menoleh ke arah Daniel.
"Aku tak akan meninggalkanmu, begitu juga dengan Naja," sahut Daniel di luar dugaan.
"Kamu kira aku akan kehilangan nyawaku hanya karena luka kecil seperti ini?" Ryan memicingkan matanya.
"Seperti kau yang selalu menjagaku, aku juga akan menjagamu. Aku tak mau Papa Prabu dan Mama Tita marah kepadaku, karena aku lalai, hingga kau terluka seperti ini," kekeh Daniel.
"Kau bisa minta Johan dan seluruh anak buahmu untuk menjagaku di luar ruang ini. Kau istirahatlah, jangan ganggu aku. Aku ingin berdua saja dengan istriku," Ryan berbohong agar Daniel mau mengistirahatkan tubuhnya.
"Cih, memangnya apa yang bisa kalian lakukan dengan lukamu yang sedalam itu? Ayolah, aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi begitu saja," sahut Daniel tak bisa ditawar lagi.
"Dasar suami istri keras kepala. Kau tak mau produksi bayi agar perut istrimu itu cepat berisi?" celoteh Ryan, yang sukses membuat Daniel berpikir ulang.
"Kau benar. Baiklah. Biar Johan dan Rudi yang menjagamu di sini," Daniel langsung keluar dan menghampiri Naja untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
***
"Aow," Zara menabrak punggung Indra dari arah belakang.
"Bisa tidak, kau gunakan matamu itu untuk melihat jalan?" Indra membalikkan tubuhnya dan menatap Zara dengan tatapan dinginnya.
"Kenapa Anda berhenti mendadak, Tuan? Apa Anda sengaja?" sahut Zara sambil mengelus keningnya yang terasa sakit karena tulang punggung Indra yang berasa sangat keras saat mengenai kepalanya.
"Bilang saja kau ingin menyentuhku. Kau pura-pura menabrakku bukan?" Indra mengangkat kedua alisnya.
"Terserah. Saya tidak akan membuang waktu saya untuk meladeni lelucon Anda," Zara tak menghiraukan Indra lagi. Bahkan kini, dia berjalan mendahului Indra, dan setengah berlari menuju ke bagian depan rumah sakit untuk mencari sebuah taxy.
__ADS_1
"Hey, mau kemana kau?" teriak Indra.
"Bukan urusan Anda," kini giliran Indra yang mengikuti langkah Zara.
"Tunggu, Zara! Kita harus bicara," seru Indra, mulai bingung bagaimana harus menghadapi gadis itu dengan segala ulahnya.
"Temukan aku jika kau bisa," Zara langsung masuk ke dalam sebuah taxy.
"Hey, tunggu!" teriak Indra, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Zara.
"Bukannya kita harus bekerja sama? Atau jangan-jangan ...," Indra mulai menerka-nerka.
"Lihat saja jika kau berani bermain-main, Nona. Aku tak akan pernah melepaskanmu," gumam Indra lirih.
Sementara Zara, terus berpikir keras di sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya. Dia mulai memutar otak, bagaimana caranya menjalankan misi yang diberikan oleh Rani kepadanya, tanpa membuat Felix Adinata curiga.
Sebenarnya bisa saja dia menunjukkan pengkhianatannya kepada Felix secara terbuka. Sayangnya, tak ada satu pun hal yang menguntungkan baginya jika hal itu dilakukannya. Bukankah akan lebih mudah baginya, jika dia menjalankan misinya tanpa Felix sadar bahwa Zara telah mengkhianatinya dan mengambil sumpah setia pada orang yang selama ini dimusuhinya? Ya, tentu saja begitu. Zara bisa tetap berpura-pura masih bekerja untuknya, sehingga segala akses untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya akan begitu mudah dilakukannya.
"Kita sudah sampai, Nona," suara Supir taxy itu benar-benar mengagetkan dan menyadarkannya dari lamunannya.
Zara pun segera turun setelah membayarkan sejumlah uang kepada supir taxy itu, dan mulai berjalan masuk ke dalam apartemennya. Setelah sebuah lift berhenti di lantai 21, Zara keluar dan langsung menuju apartemen yang ditinggalinya.
Dengan cekatan, Zara memasukkan beberapa digit angka sebagai sandi pintunya, dan begitu angka-angka yang dimasukkan terkonfirmasi, pintu pun terbuka.
Sesaat, Zara tak bisa menangkap satu bayangan pun dengan netranya, karena tak ada satu lampu sama sekali yang menyala, saat Zara masuk ke dalam apartemennya. Zara pun segera meraba salah satu bagian dinding yang terletak di sebelah pintu untuk menyalakan lampu, dan begitu saklar bisa diraih dan ditekannya, akhirnya ruang itu pun menjadi terang juga.
Tapi alangkah kagetnya Zara, ketika ada seseorang yang telah berhasil masuk ke dalam apartemennya, dan sudah menunggu kedatangan Zara sembari duduk di sofa dengan santainya.
__ADS_1
"Anda? Bagaimana Anda bisa tahu sandi pintu apartemen saya?"
BERSAMBUNG