
Tak seperti biasanya, malam itu Ryan berdiri mematung di balkon kamar, menggumuli pekatnya hati yang semakin menjadi ketika gerimis mulai meluruh jatuh membasahi bumi. Tak ada bintang, tak ada cahaya rembulan yang menghiasi cakrawala yang menghitam. Yang ada hanyalah kesunyian di tengah gemericik air yang turun membawa irama kesenduan.
"Apakah Papa akan kecewa jika aku tak bisa mempertahankan posisiku di perusahaan?" Ryan bertanya dalam hati.
Dia benar-benar tahu, papanya membangun usaha itu mulai dari nol. Bahkan sejak Ryan lahir di dunia, papanya sudah sukses menjadi Presiden Direktur Dewangga group hingga menjadi salah satu dari lima perusahaan terbesar di Indonesia. Relakah sang papa jika hasil kerja kerasnya selama ini akan hancur hanya dalam waktu beberapa bulan saja saat berada di tangan putranya?
"Saya sudah mengantongi satu nama yang membeli saham Dewangga Group secara diam-diam," ucap Arya melalui panggilan telphon beberapa saat yang lalu, lebih dari cukup membuat gejolak hatinya semakin menggebu.
"Siapa dia?" tanya Ryan dengan tak sabar.
"Seperti dugaan kita, dia adalah Daniel Cullen. Mengenai motifnya akan kita dalami lebih jauh. Murni persaingan bisnis, atau ada hubungannya dengan dendamnya pada Rani atau bahkan mungkin karena ada alasan yang lain. Yang jelas angkanya sudah di atas tiga puluh persen. Tidak akan berpengaruh apapun kecuali dia bisa melebihi empat puluh sembilan persen saham milikmu dengan membeli seluruh saham dari pemilik yang masih bertahan," jelas Arya ketika itu.
"Amankan sisanya. Kalau perlu buat agar mereka mau menyerahkan saham mereka kepadaku," perintah Ryan dengan geram.
Ya, empat puluh sembilan persen saham yang Ryan miliki memang bukanlah angka yang kecil untuk sekelas perusahaan raksasa seperti Dewangga Group. Empat puluh sembilan persen itu pula yang mengantarkan Prabu Dewangga puluhan tahun menjadi Presiden Direktur, yang kini diteruskan oleh putranya, Ryan Dewangga. Namun satu persen saja Daniel mampu mengungguli saham kepemilikannya, maka posisi itu bisa jadi akan hilang dengan begitu mudahnya.
"Ahhh," entah kenapa pikiran Ryan terus melayang, seolah ingin mencari celah antara langit dan awan. Seperti isi kepalanya yang terus berputar, mencari selongsong asa yang bisa membuat hatinya terang dari segala kegundahan.
Kini matanya menatap nanar ke arah gumpalan awan yang terus menghitam, sehitam kabut yang menyelimuti hati dan jiwanya dari segala beban dan permasalahan.
"Mas disini? Rani cari Mas kemana-mana," tiba-tiba Rani memeluk Ryan dari belakang. Dia merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di balik punggung suaminya.
__ADS_1
Ryan sempat terperanjat, namun untungnya dia tersadar dengan cepat dan segera bangun dari lamunan. Hingga akhirnya, dia mengelus tangan yang melingkar di pinggangnya itu dengan senyum bahagia. Seperti biasa, kehadiran istri kecilnya selalu bisa memunculkan energi yang luar biasa, seperti apapun perasaan yang sedang menghinggapinya.
"Bagilah rasa gelisahmu itu denganku, Mas!" pinta Rani, tulus. Rani masih bertahan dengan pelukannya yang erat, menyatukan degup jantungnya dengan degup jantung suaminya hingga sebuah irama indah tercipta pada kedalaman cinta mereka.
Namun Ryan justru membalikkan tubuhnya begitu saja hingga mereka saling berhadapan. Rani yang melonggarkan tangannya karena aksi suaminya, akhirnya merengkuh suaminya kembali dengan menenggelamkan diri pada dada bidang Ryan. Lama, mereka saling berpelukan dalam diam. Hanya denyar nadi mereka saja yang mewakili segala rasa yang ingin mereka berikan kepada kekasihnya.
"Biarkan tetap seperti ini sebentar. Mas Mohon," bisik Ryan, saat Rani berusaha melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu ceritakanlah!" Rani mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya dengan tatapan penuh harap.
"Ceritakan apa?" jawab Ryan berusaha menutupi kegelisahannya. Ryan justru malah asik memainkan rambut Rani yang indah terurai dengan dagu yang menempel di kepala wanitanya. Tinggi Rani yang hanya sedagu Ryan, membuat posisi itu benar-benar nyaman.
"Ceritakan apa yang membuat Mas Ryan bersikap tak seperti biasanya. Mas lagi ada masalah bukan?" cecar Rani.
"Ya sedikit itu masalah apa?" Rani tak mau menyerah. Dia benar-benar tahu bahwa jika suaminya segelisah itu, pasti ada masalah serius yang sedang dihadapinya.
"Ada sedikit masalah di perusahaan," Ryan memejamkan matanya, menikmati momen kebersamaannya dengan istrinya tercinta.
"Ya sedikit masalah di perusahaan itu masalah apa?" Rani terus mencecar Ryan dengan berbagai pertanyaan.
"Bukan masalah yang serius. Mas bisa menyelesaikannya," sangkal Ryan.
__ADS_1
"Ya bukan masalah yang serius itu masalah a...," Rani menggantungkan kalimatnya. Sudah menjadi kebiasaan Ryan, jika istri bawelnya itu sudah mencecarnya dengan pertanyaan yang tak mampu di jawabnya, jurus pamungkas selalu menjadi satu-satunya pilihan. Ryan pasti akan membungkam mulut itu dengan bibirnya, hingga tak mampu lagi berkata-kata.
Menerima kebiasaan Ryan yang sesuka hati membungkam mulutnya itu, Rani membulatkan mata seketika. Bahkan tangan yang tadinya melingkar di pinggang Ryan, kini dia kalungkan di leher suaminya.
"Jangan berkata apapun lagi atau Mas akan menambah hukumanmu," ucap Ryan seraya mengambil nafas, kemudian memulai aktifitasnya kembali.
"Tapi...," Rani terbungkam lagi, namun tak ada niatan sedikitpun untuk memberontak dengan hukuman yang dia dapatkan.
"Sudah Mas bilang, jika kau buka mulut lagi Mas akan menambah hukumanmu," Ryan kembali menghukum Rani dengan hukuman versi Ryan yang semakin liar.
Dan malam itupun Rani menerima hukuman demi hukuman yang diberikan suaminya dengan rasa ikhlas dan bahagia. Rani tahu, masalah yang sedang dihadapi suaminya bukanlah masalah yang kecil. Rani pun cukup tahu diri, bahwa dirinya tak akan mampu berbuat apapun untuk bisa membantunya. Hanya satu yang mampu Rani lakukan, membuat hati suaminya menjadi tenang.
"Terima kasih, Sayang," bisik Ryan setelah selesai memberi hukuman kepada istrinya.
Rani hanya mengangguk dan tersenyum tulus menatap suaminya penuh cinta. Kini kedua tangannya dia telungkupkan mengapit dua pipi pria yang ada di hadapannya, seraya berkata, "Rani tak akan banyak bertanya jika memang Mas Ryan tidak mau cerita. Namun satu hal yang harus Mas tahu. Bahwa diri ini akan selalu setia mendampingimu di kala susah, berdiri tegar disampingmu ketika sulit, menjadi pelipur laramu ketika sedih, dan menjadi penyemangat jiwa, penyejuk hati dan penguat tekadmu ketika gundah. Karena itu Rani mohon, jangan ragukan Rani dalam hal apapun." ujar Rani lirih, kali ini dia mengucapkan kata-kata itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Malam itu, akhirnya Ryan memutuskan untuk jujur tentang segala gundah yang sedang dirasakannya. Tentang siapa Daniel Cullen juga kaitannya dengan kasus Nina, tentang banyaknya pemegang saham Dewangga Group yang telah berkhianat dengan menjual sahamnya, juga tentang kekhawatirannya akan reaksi Papa Prabu jika Daniel benar-benar mengambil alih posisinya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.