METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hengky dan Fisha (Part 2)


__ADS_3

Sekali lagi, ini adalah suratan takdir. Cinta Ryan dan Rani yang akhirnya terajut walau berawal tanpa cinta, semua karena suratan takdir. Pertemuan Arya dengan kekasih di masa kecilnya yang diwarnai dengan banyak insiden sebelum pernikahannya, semua karena suratan takdir. Pernikahan Diniel dan Naja, juga Johan dan Nina serta pertemuan kembali Arsen dan Aghata, semua karena suratan takdir.


Dan kini, apakah Hengky dan Fisha akan sama-sama tahu untuk apa mereka dipertemukan? Yang jelas mereka dipertemukan untuk saling mengenal dan memahami rasa, juga saling belajar menumbuhkan cinta yang sudah Allah tasbihkan. Ini adalah kodrat, sebuah suratan takdir yang bukan sekedar kebetulan semata.


Hengky menatap gadis yang kini sedang terbaring di satu sisi ranjangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan dengan kata-kata. Ya, gadis itu adalah Nafisha Hasna, gadis sebatang kara yang beberapa jam lalu telah sah dinikahinya, sebelum pemakaman sang ibunda. Meskipun Hengky tidak setuju jika pernikahannya dilakukan sebelum jenazah ibunda Fisha dimakamkan karena tidak pernah diajarkan dalam agama, tapi karena mamanya terus meyakinkan bahwa semua itu dilakukan agar begitu ibunya dimakamkan Fisha tidak merasa sendiri, akhirnya Hengky menyetujuinya begitu saja tanpa pikir panjang.


"Ya Allah, apa yang aku lakukan? Bahkan aku langsung setuju dan menikahinya begitu saja tanpa aku berpikir terlebih dahulu," batin Hengky tanpa melepaskan pandangannya pada gadis yang kini terbaring lemah di sampingnya itu.


Ya, Fisha masih saja terlelap pasca dokter menyuntikkan obat tidur kepadanya. Pasalnya, setelah ibunya selesai dimakamkan, Fisha jatuh pingsan. Dan begitu dia tersadar, Fisha terus menangis dan tak bisa ditenangkan. Akhirnya atas persetujuan Hengky, dokter memberikan obat tidur itu agar Fisha lebih tenang.


Dan kini, Fisha masih saja memejamkan mata. Dia terlihat sangat cantik dengan penampilan yang sangat sederhana, nyaris tanpa make up sedikit pun yang memoles wajahnya.


Hengky mendekati wajah cantik itu. Mencoba mengetes apakah ada getar-getar di hatinya.


"Walau tak sehebat getaran cintaku kepadanya, tapi aku akan belajar mencintaimu, Fisha. Karena aku yakin, kau adalah bidadari yang sengaja Allah kirimkan untuk menemani dan menghabiskan sisa hidupku," gumam Hengky dalam hati.


Kini Hengky mengusap ujung kepala istrinya dengan lembut. Perasaan iba, kasihan, juga sayang kini bercampur menjadi satu. Hengky pun merasa ada dorongan untuk mengecup kening Fisha, seperti yang pertama kali dia lakukan sesaat setelah ijab kabul tadi.


Namun begitu bibir Hengky berada tepat di keningnya, Fisha terbangun dari tidurnya.


"Auggghhht," Fisha berteriak menyadari ada seorang laki-laki yang kini telah berada di atasnya, bahkan sedang mengecup keningnya.


Tanpa pikir panjang, Fisha langsung mendorong tubuh Hengky dengan sekuat tenaga. Sayangnya, tubuh kecilnya tak mampu menumbangkan tubuh kekar Hengky.

__ADS_1


Melihat tingkah Fisha yang sangat lucu menurutnya, Hengky justru secara spontan berniat mengerjai gadis kecil yang sekarang dalam kungkungannya itu. Bahkan kini Hengky sudah membanjiri seluruh wajah Fisha dengan kecupan.


"Huwa ..., lepasin. Kenapa Tuan lakukan itu? Hiks. Hiks. Hiks," Fisha meronta sejadi-jadinya.


"Ha-ha-ha. Kamu itu lucu, Fisha," Hengky tertawa terbahak-bahak sambil melepaskan tubuh istrinya yang sangat lucu itu.


Fisha masih tergugu.


"Apa kamu lupa kalau sekarang aku suamimu?" Hengky menghentikan tawanya.


"Astaghfirullah, maaf. Maafkan Fisha, Tuan. Fisha lupa," lirih Fisha sambil menundukkan kepalanya. Setelah itu, Fisha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, yang baginya sangat asing.


Ya. Kini Fisha berada di sebuah kamar mewah dengan ukuran yang bahkan luasnya seluas rumah Fisha secara keseluruhan. Bagi Fisha, kamar itu terlihat sangat mewah dan elegan, bahkan tak pernah Fisha lihat sekalipun walau hanya dalam impian. Perpaduan desain marmer dan kayu yang sangat menawan, sungguh mampu membangun suasana kamar dengan cita rasa tinggi yang dipenuhi dengan kehangatan. Kombinasinya pun sangat unik, hingga mampu mentransformasi efek positif yang membuat hati menjadi tenang.


"Ini Fisha berada dimana, Tuan?" tanya Fisha dengan polosnya. Seingat Fisha, tadi terakhir dia berada di pemakaman ibunya, tiba-tiba dia merasa gelap dan tidak terasa apa-apa, setelah itu begitu tersadar, Fisha sudah di kamar mewah itu.


Mendengar Hengky mengatakan itu, jantung Fisha tiba-tiba berdegup kencang. Takut, malu, cemas, kini bercampur menjadi satu. Bahkan, mukanya kini sudah sangat memerah menahan malu.


"Tapi itu, Tuan. Fisha ...," ucap Fisha dengan ragu.


"Apa?" Hengky mengerutkan dahinya.


"Entah kenapa Fisha merasa semua ini terlalu cepat. Kehilangan ibu, tiba-tiba menikah, dan sekarang sudah di tempat ini bersama Anda. Saya bahkan tidak tau apakah saya harus bersedih atau bahagia, Tuan," Fisha kembali tergugu. Hengky yang melihatnya sampai ikut trenyuh, seolah ikut merasakan penderitaan yang dirasakan istri kecilnya.

__ADS_1


"Bersabarlah, Fisha. Aku tau ini tidak mudah untukmu," Hengky mengusap lembut kepala gadisnya yang masih mengenakan hijab dengan rapat itu.


"Anda sendiri bagaimana, Tuan?" tanya Fisha penuh selidik.


"Aku? Kok aku? Memangnya kenapa?" Hengky balik bertanya dengan mengarahkan jari telunjuknya kepada dirinya sendiri.


"Saya minta maaf karena Anda harus berkorban banyak untuk saya, bahkan sampai harus menikah dengan gadis yang sangat jauh dengan tipe Anda, Tuan. Tapi jika memang ini sangat berat untuk Anda, izinkan saya meminta kepada Tante agar Anda bisa menceraikan saya dengan segera," Fisha mengatakan dengan hati yang sangat perih.


"Apa kamu tidak mau jadi istriku? Kenapa kemarin kamu diam saja tidak bilang ke Mama?" Hengky agak mengeraskan suaranya, tidak menyangka jika istri yang baru dinikahinya berpikir bahwa dia akan menceraikannya.


"Bukan saya, Tuan. Tapi Anda. Saya tahu Anda tidak mungkin melakukan semua ini jika tidak karena terpaksa dan mengasihani saya," sahut Fisha, tanpa sanggup menatap pria yang kini sedang menatapnya.


"Fisha, dengarkan perkataanku baik-baik. Kelahiran, kematian dan jodoh seseorang itu mutlak menjadi rahasia Tuhan. Apa kau mengira bahwa semua ini adalah kebetulan? Tidak Fisha. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Ini semua adalah bagian dari suratan takdir yang telah Allah tasbihkan. Dan pertemuan kita di rumah sakit itu adalah bagian dari jalan yang Allah tunjukkan, untuk kita bisa menapaki masa depan yang sudah Dia skenariokan. Apa kamu tidak percaya dengan yang namanya takdir, Fisha?" Hengky meraih dagu Fisha dan mengangkat wajahnya, hingga mereka saling bertemu mata.


"Saya percaya, Tuan. Tapi biar bagaimanapun saya tahu bahwa Anda tidak mencintai saya," tutur Fisha masih diselimuti keraguan.


"Buat agar aku jatuh cinta kepadamu, Fisha. Dan akan kubuat agar kau jatuh cinta kepadaku. Bagaimana?" Hengky membuat sebuah penawaran.


"Insya Allah," sahut Fisha dengan senyum manis di bibirnya.


"Alhamdulillah," Hengky merengkuh Fisha, dengan semua kecanggungan di antara keduanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Lagi? Vote n rate 5 ya.


__ADS_2