
Pagi itu langit semakin membiru, menggantikan baris jingga yang mulai menghilang dari cakrawala. Semua anak manusia mulai menggeliat dari lelapnya, mengawali sebuah langkah yang akan mengukir lembaran demi lembaran kisah dalam kehidupan nyata yang harus dilaluinya.
Namun hari itu ada yang berbeda. Tak seperti biasanya, Rani belum juga beranjak dari peraduannya. Tangannya terus menggenggam erat tangan suaminya, berusaha mempertahankan agar tangan itu tetap melingkar di pinggangnya.
“Tumben habis shalat shubuh bobok lagi?” bisik Ryan di telinga istrinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun belum ada tanda-tanda Rani akan merelakan suaminya beranjak pergi. Entah kenapa, drama aneh semalam masih saja berlanjut. Rani masih saja merajuk minta ditemani.
Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu diiringi panggilan Mama Davina mengakhiri drama manja sepasang kekasih itu.
“Rani! Ryan! Sudah siang, Nak. Sarapan dulu! Apa kalian tidak bekerja hari ini?” seru Mama Davina berkali-kali.
“Iya, Ma. Sebentar lagi kami turun,” jawab Ryan sambil mengecup kening istrinya yang justru mengeratkan pelukannya.
“Kenapa jadi males gini sih, istri sholehahnya Mas Ryan? Kamu sakit?” telisik Ryan sambil meraih dagu Rani.
Rani hanya menggeleng pelan, melepas pelukannya dan justru berganti memeluk guling di sebelahnya untuk menggantikan suaminya.
“Loh, malah merem lagi?” Ryan geleng-geleng sambil mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke kamar mandi.
Setelah mereka selesai dan bersiap, mereka pun turun dan bergabung di meja makan bersama Mama Davina.
“Ayo makan, Sayang. Mama sudah masakin makanan kesukaan kamu,” ucap Mama Davina sambil menyodorkan piring kepada anak dan menantunya.
Rani pun menerima piring itu, meletakkan di meja dan menyendok nasi beserta lauk juga sayur untuk suaminya.
“Terima kasih,” tutur Ryan dengan semangat. Tak sabar dia langsung menyantap sarapannya mengingat sudah sejak pagi-pagi perutnya keroncongan.
__ADS_1
“Kamu nggak sarapan, Sayang?” tanya Mama Davina melihat Rani tidak juga mengambil makanannya.
“Rani belum lapar, Ma,” jawab Rani sambil terus memandang Ryan yang sedang makan dengan begitu lahapnya.
Menyadari tak ada tanda-tanda istrinya akan memulai sarapannya, tanpa diminta Ryan langsung mengambil inisiatif untuk mengarahkan sendoknya ke mulut istrinya.
"Hak!" Ryan membuka mulutnya sendiri, namun mengarahkan sendoknya ke arah mulut Rani. Rani pun menerima suapan dari suaminya dengan suka cita. Perut yang tadinya dirasa tidak berselera makan, tiba-tiba lapar seketika melihat suapan demi suapan yang di arahkan suaminya ke mulutnya.
"Ternyata setelah menikah malah jadi manja begini ya?" ledek Mama Davina sambil geleng-geleng kepala.
***
Ryan terpaksa meminta Arya untuk menunda cutinya, karena perubahan Rani selama satu pekan terakhir membuatnya lebih sering melakukan aktivitas kerjanya dari rumah. Mau tidak mau, Aryalah yang harus menghandel perusahaan secara langsung.
Meskipun Ryan sangat menikmati kemanjaan istrinya yang tiba-tiba itu, namun rasa cemas mulai menghinggapinya. Bagaimana tidak? Bahkan kali ini Rani rela melewatkan agenda kunjungan kerjanya ke luar negeri dan hanya memilih untuk beristirahat di rumah. Nafsu makannya pun menurun drastis. Rani hampir tidak pernah makan, jika tidak disuapi oleh suaminya, dan hanya makan makanan yang ada di piring suaminya sehingga Ryan harus rela untuk selalu makan sepiring berdua.
"Rani bukannya sakit, Mas. Cuma lagi bad mood aja," sanggah Rani, setiap suaminya mengajak dia untuk berobat.
"Baiklah. Tapi besok, Mas harus ke luar kota karena ada meeting penting dengan beberapa perusahaan untuk membicarakan proyek Green Canyon selama dua hari. Kau mau ikut atau tetap tinggal di rumah?" Ryan memberi pilihan.
"Rani nggak ikut. Sudah satu pekan Rani tidak masuk kerja, bahkan Rani absen tidak berangkat kunjungan kerja ke luar negeri. Nggak enak kalau besok nggak ke kantor juga," putus Rani.
"Kamu yakin?" nada khawatir keluar dari mulut Ryan.
Rani hanya mengangguk pelan, memastikan bahwa keputusannya sudah bulat.
Sebenarnya Ryan enggan meninggalkan istrinya di rumah, mengingat selama satu minggu terakhir banyak drama yang dilakukan istrinya. Selain hanya mau makan jika disuapi suaminya, kemauannya akhir-akhir ini memang terkesan aneh dan berubah-ubah. Bahkan Ryan sampai tega meminta Arya menunda cuti nya agar bisa bekerja dari rumah demi menuruti Rani yang selalu ingin bermanja kepadanya.
__ADS_1
Namun mengingat Green Canyon adalah proyek yang melibatkan beberapa perusahaan besar, mau tidak mau Ryan secara pribadi harus hadir karena tidak mau kehilangan kesempatannya.
***
Empat jam setelah melepas suaminya pergi, Rani terlihat mulai uring-uringan. Pasalnya, pagi itu Ryan yang berangkat menuju kota Y tanpa didampingi Arya, belum juga mengirim pesan maupun menelphonnya. Apalagi ketika Hengky mengabarkan bahwa dirinya dan Meysie sudah berada di kota Y untuk menghadiri acara yang sama, membuat Rani teringat kejadian di Bali yang sukses bikin Rani tak yakin akan perasaan Ryan terhadap dirinya.
"Pasti sebentar lagi mereka akan bertemu," gumam Rani lirih. Gurat khawatir begitu terlihat dari wajahnya.
Rani terus mondar-mandir dalam ruang kerjanya. Dia terlihat berpikir keras dan seolah harus memutuskan sesuatu hal yang penting dalam hidupnya.
"Aku harus mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali," entah apa yang mendorongnya, waktu itu Rani bertekad bulat untuk mengutarakan perasaannya kepada suaminya. Pun ketika ternyata saat itu suaminya memang betul sedang bersama dengan Meysie, Rani akan memaksa Ryan untuk membuat pilihan waktu itu juga.
Tanpa berpikir lagi, Rani segera menghubungi Arya untuk memastikan nama hotel tempat suaminya dan Meysie berada.
Setelah informasi didapatnya, Rani langsung menyambar kunci mobilnya dan menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan sedang demi menyusul suaminya ke kota Y dengan perasaan yang sangat sulit digambarkan dengan kata-kata.
Perjalanan normal yang seharusnya bisa ditempuh selama 4 jam itu pun harus rela Rani selesaikan dengan waktu 8 jam. Bukan karena jalanan yang macet, tapi karena mood Rani yang sedang buruk di tambah tubuhnya yang mulai lemas karena belum terisi makanan sedikit pun sejak terakhir Ryan menyuapinya, membuat Rani memelankan laju mobilnya bahkan sempat berhenti beberapa kali untuk beristirahat dan mengumpulkan energinya kembali demi bisa melanjutkan perjalanannya.
Dan perjuangan itu tak sia-sia, tepat jam 9 malam Rani terlihat sudah memarkirkan kendaraannya di sebuah hotel mewah kota Y tempat suaminya berada.
Dengan sedikit gontai, Rani segera melangkahkan kakinya ke dalam hotel menuju resepsionis untuk menanyakan nomor kamar suaminya. Namun ketika Rani melewati Cofee Shop hotel yang terletak tak jauh dari lobby tempat Rani berdiri, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tangan yang sedang menggenggam erat tangan suaminya di sebuah meja yang hanya ada mereka berdua di sana.
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹
Author sangat berterima kasih apabila pembaca dengan senang hati memberikan like, vote, comment positif dan mengklik tombol favorit untuk menambah semangat author agar tetap menulis dan melanjutkan cerita. Jangan lupa bintang 5 nya juga, ya. Terima kasih.
__ADS_1