
Hengky dan Fisha tidak pernah menyangka kalau semua akan terjadi secepat ini. Dalam sekejab, masa lajang mereka tiba-tiba hilang. Walaupun secara dokumen status mereka belum berubah karena mereka baru menikah secara agama, tapi tetap saja mereka sudah menikah. Selain terhadap diri mereka sendiri, kini mereka punya hak dan kewajiban yang mengikat diantara mereka.
Namum, bagaimana rasanya menikah dengan orang yang belum pernah dikenal sama sekali?
"Huh, akhirnya dia keluar juga," batin Fisha dalam hati.
Setelah obrolan ringan mereka tadi, Hengky memang berpamitan untuk ke rumah sakit, menjaga Meysie seperti malam-malam sebelumnya. Jadi malam itu Fisha bisa bebas, tanpa pria asing yang mendadak menikahinya.
Setelah memastikan bahwa Hengky benar-benar telah keluar, Fisha meraih beberapa pakaian yang tadi sempat pelayan berikan kepadanya. Semua pakaian yang dia butuhkan sudah disiapkan oleh ibu mertuanya, dengan laundry kilat ala hotel, lengkap dengan beberapa gaun tidur dan make up lengkap standar kebutuhan wanita.
Fisha memilih beberapa gaun tidur yang sudah tertata manis di lemari pakaian Hengky, namun karena semuanya model terbuka, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah celana legging panjang dan kaos pendek warna gelap, yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Setelah mandi dan berganti baju itu, Fisha pun dengan santai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memainkan ponsel yang beberapa hari terakhir hampir tidak pernah disentuhnya karena fokus pada perawatan ibunya.
Hingga tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Fisha kaget melihat Hengky yang tiba-tiba kembali, begitu juga dengan Hengky yang melihat Fisha tampil menawan tanpa hijab, gamis dan kaos kaki yang selalu melekat pada tubuhnya. Setidaknya selama di rumah sakit dan sampai saat Hengky keluar tadi, Fisha masih terlihat rapat menutup auratnya.
"Masya Allah, dia sungguh sempurna. Cantik sekali," guman Hengky dalam hati.
Fisha sangat terkejut saat menyadari mata pria di ujung pintu itu sedang menatapnya dengan begitu lekat, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan cepat, Fisha segera mengedarkan matanya ke seluruh sudut ruang, mencari-cari hijab yang bisa kembali dia gunakan.
"Aduh, alangkah bodohnya aku. Semua hijabku ada di dalam lemari itu. Kenapa aku tidak memperhitungkan kalau kemungkinan dia akan kembali," batin Fisha, salah tingkah.
Karena merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Fisha melangkahkan kakinya menuju lemari dan meraih hijab yang masih tersusun rapi di sana. Namun, sebelum dia sempat mengenakan hijabnya, tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang.
"Kau cantik, Fisha," bisik Hengky lirih, tepat di telinga Fisha.
"Mmm, Tuan tidak jadi ke rumah sakit?" Fisha masih berdiri mematung di tempatnya, tanpa menanggapi sedikit pun pujian dari suaminya. Tangan Fisha bergetar, maklum saja ini adalah sentuhan pertama seorang laki-laki yang dia terima. Laki-laki yang bahkan belum dikenalnya dan kini tiba-tiba berstatus sebagai suaminya.
"Tidak. Aku tidak mau meninggalkan pengantinku," Hengky sengaja berbisik di telinga istrinya, membuat bulu kuduk Fisha berdiri seketika. Malam itu Hengky benar-benar tersihir dengan kecantikan Fisha yang bahkan sangat jauh dari bayangannya, sehingga jiwa laki-lakinya tiba-tiba muncul dengan hasrat yang menyala.
__ADS_1
"Lalu siapa yang menunggui Kak Meysie malam ini?" Fisha masih tak bergeming dari tempatnya, menikmati getaran hebat yang sulit dikendalikan saat berada di situasi seperti itu. Apalagi menyadari bahwa kini pelukan Hengky semakin dieratkan, hingga membuat pikiran Fisha sudah macam-macam.
"Ada. Mama sudah meminta seseorang untuk menjaganya malam ini," kini Hengky membalikkan tubuh Fisha hingga mereka berdiri saling berhadapan. Fisha pun membuang pandangannya ke sembarang arah, begitu mata mereka saling bertemu pandang.
"Fisha, tatap mataku!" pinta Hengky lembut.
Fisha menurut saja mendapati permintaan Hengky, dan memberanikan diri untuk menatap pria itu. Ya, ini adalah kali pertama dia mengenali wajah Hengky, pria yang kini telah halal untuk dipandangnya.
"Dia tampan sekali ternyata. Wajahnya putih mulus, matanya indah, alisnya juga tebal. Dia sangat jauh di atas standarku," batin Fisha dalam hati.
Hengky yang juga menatap Fisha yang terlihat begitu menikmati saat memandang wajahnya pun tersenyum, melihat ekspresi Fisha.
"Apa aku tampan, Bidadari Cantik? Sampai segitunya kau memandang wajahku?" suara Hengky membuat Fisha mengalihkan pandangannya seketika, dan mencoba melepaskan diri dari genggaman suaminya.
Hengky hanya tersenyum kecil melihat Fisha salah tingkah. Kini Hengky justru menarik tubuh Fisha dan memeluknya lama.
Jantung Fisha semakin berdegup kencang, merasakan dada Hengky yang juga berdegup tak beraturan. Apalagi ini adalah malam pertama setelah mereka menikah, sungguh sangat menegangkan untuk Fisha yang baru pertama kali mendapat perlakuan seperti itu. Ya, Fisha takut kalau hasrat Hengky akan membuat pria itu melihatnya, mendekatinya, bahkan menyentuh tubuhnya.
Detik berikutnya, Hengky membuat tubuh kecil Fisha sudah berada dalam gendongannya. Hengky sangat kuat membawa tubuh Fisha ala bridal style menuju ranjang mereka, sebuah tempat peraduan yang sebentar lagi akan menjadi saksi, bagaimana mereka akan membuat masing-masing saling jatuh cinta.
Kini, jantung Fisha semakin berdetak kencang, bahkan sangat kencang jika dibandingkan dengan sebelumnya. Apalagi ketika Hengky mulai menurunkannya di atas ranjang, membuat ketakutan Fisha semakin tak terbantahkan.
Fisha segera duduk, begitu tubuhnya beradu dengan kasur itu. Dilihatnya Hengky yang kini duduk di sebelahnya, menatap lekat dan meraih kedua tangan Fisha, menggenggamnya erat sebelum akhirnya mengecup punggung tangannya.
"Apa aku boleh menciummu?" Hengky mendekatkan wajahnya.
"Hah. Apa, Tuan?" wajah Fisha memerah.
"Bolehkah aku menciummu?" Hengky mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Bukankah tadi Anda sudah melakukannya tanpa permisi?" Fisha menghindari tatapan mata yang seolah ingin menerkamnya saat itu juga.
"Tadi kan hanya di kening. Sekarang aku maunya di sini," ucap Hengky sambil menyentuh bibir ranum istrinya. Sebuah permintaan dengan nada bicara yang begitu terdengar halus, meski ekspresinya sangat terlihat bahwa dia sudah sangat menginginkannya.
Karena merasa tidak ada alasan yang bisa membuat Fisha menolak permintaan suaminya, Hengky segera membuat wajahnya lebih dekat setelah melihat anggukan kecil dari kepala Fisha. Dan dengan secepat kilat, Hengky meletakkan tangannya di leher Fisha dan segera menariknya, kemudian menyentuh bibir Fisha dengan bibir miliknya dengan hasrat yang tak ada padamnya.
Fisha memejamkan mata. Jantungnya seolah meloncat dan bergerak tak bisa dikendalikan. Kini Fisha mulai takut, hingga matanya pun semakin terpejam. Menyadari ekspresi Fisha, Hengky pun menghentikan aktifitasnya. Dia menjauhkan wajahnya, juga melepas genggaman mesra tangannya.
"Aku tak akan melakukannya, sampai kau siap untuk itu. Aku tak mau memaksamu, dan akan menundanya sampai cinta itu ada di antara hatimu dan hatiku," Hengky mengucapkannya dengan tersenyum getir. Fisha sangat tahu bahwa Hengky sedang berusaha mengalahkan hasratnya.
"Tuan, Fisha ...," ada rasa bersalah di hati Fisha melihat Hengky mengatakan hal itu kepadanya.
"Sssttt. Aku sungguh mengerti kondisimu hari ini. Kau tentu masih sangat terluka pasca ibumu pergi," Hengky mengusap kepala Fisha dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih, Tuan," ucap Fisha sambil menganggukkan kepalanya. Dia sungguh merasa sangat lega, mendengar kata-kata suaminya.
"Sampai kapan kau akan memanggilku Tuan?" Hengky berusaha protes dengan panggilan Fisha kepadanya.
"Terus Fisha harus manggil Tuan Hengky bagaimana?" Fisha mengerutkan dahinya.
"Kau tidak memanggilku dengan sebutan Sayang, Abang, Mas, Hubby? Aku sungguh sangat risih kau terus saja memanggilku dengan sebutan Tuan. Kata Tuan itu lebih pantas diucapkan oleh seorang bawahan kepada atasan," Hengky memberi beberapa pilihan.
"Fisha panggil Mas Hengky saja bagaimana?" Fisha memberi jawaban dari beberapa pilihan yang Hengky sebutkan.
"Baiklah, aku menyukainya," Hengky tersenyum lebar sambil mengusap kepala Fisha dengan asal.
"Tidur dan tenanglah. Aku akan menunggu sampai kau dengan suka rela memberikan itu kepadaku," ucap Hengky sambil mengecup kening Fisha, membaringkannya dan menyelimutinya hingga sampai batas dada.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Gimana lanjutannya? Like and vote dulu dong.