
Suasana Cafe di malam itu hening seketika. Gelapnya malam akibat sinar mentari yang kian memudar pun kini terus mencekik jiwa-jiwa manusia yang masih terjaga dengan tarikan nafas yang begitu beratnya. Tatapan-tatapan tajam, kepalan-kepalan tangan yang tertahan, juga berbagai umpatan kata yang terpendam menyelimuti dua anak manusia yang sedang memperebutkan kesemuan dunia.
"Felix Adinata, putra tunggal dari Ferdian Adinata sekaligus satu-satunya pewaris tahta Kencana Group," dengan tatapan tajam, Ryan mendikte nama pria di hadapannya, setelah Arya membisiki informasi lengkap tentang siapa pria yang malam itu telah berani mengusik ketenangannya.
"Ternyata anak buah Anda bisa secepat itu mendapatkan informasi tentang saya, Tuan Ryan Dewangga, pewaris tunggal Dewangga Group, putra dari Tuan Prabu Dewangga yang begitu terkenal," mendengar perkataan Ryan yang penuh penekanan, Felix justru menjawab dengan sikap yang cukup menantang. Bahkan kini dia duduk persis di hadapan Ryan, dengan tatapan yang tak kalah tajam. Dalam benaknya, pria di hadapannya itu hanyalah seorang putra mahkota yang tak akan pernah bisa menjadi sehebat orang tuanya. Sehingga kesan meremehkan, justru dominan memenuhi benaknya.
"Mari kita lihat apa yang baru saja Anda lakukan terhadap istri saya, Tuan Felix. Setelah itu Anda bisa melihat apa yang akan saya lakukan terhadap Anda," ucap Ryan dengan datarnya, sambil memutar rekaman CCTV dari handphone pemilik Cafe yang sempat Arya ambil sesaat setelah dia tiba di tempat itu.
Felix yang mendengar perkataan Ryan hanya mengangkat bahu dengan santainya. Tubuhnya bersandar di kursi, dengan tangan bersedekap di dadanya dan kaki kanan diangkat di atas kaki kirinya. Sambil menunggu reaksi Ryan, bahkan Felix menggerak-gerakkan kakinya seolah ada alunan musik yang sedang mengiringinya.
Ryan memandangi benda pipih itu dengan geram. Mukanya memerah menahan amarah ketika melihat dalam rekaman, ada seorang pria muncul dari arah belakang istrinya dan memegang mesra bahu wanitanya begitu saja dengan kedua tangannya. Ekspresi sangat mengerikan bahkan kini muncul di wajah itu, ketika terlihat Rani yang terkena pukulan keras sang pria di tengah-tengah perhelatan panjangnya dengan Naja.
Tak tahan, Ryan menggebrak meja dan berdiri. Tubuhnya dengan reflek mendekati Felix, dengan posisi tangan kirinya mencengkram kerah baju pria itu dan tangan kanannya mengepal sebelum akhirnya satu pukulan melayang dan mendarat manis di pipi Felix. Setelah satu pukulan berhasil mendarat, pukulan demi pukulan kembali Ryan layangkan dengan membabi buta, tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Ryan sempat menghentikan pukulannya. Dia ingin melihat ekspresi wajah Felix setelah pukulan demi pukulan diterimanya. Namun melihat Felix yang sempat menyeringai tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, membuat Ryan semakin geram dan melanjutkan aksinya kembali.
"Ini untuk kelancanganmu yang telah berani menyentuh bahu istriku," ucap Ryan sambil mendaratkan pukulan ke pipi Felix dengan kencangnya.
"Ini untuk darah yang mengalir di wajah istriku," pukulan manis kembali melayang dengan indah.
__ADS_1
"Ini untuk segala hal buruk yang kau lakukan kepada istriku di masa lalu," Ryan tak mampu menahan emosinya dengan terus melayangkan pukulan demi pukulan ke bagian tubuh Felix yang lain.
"Cukup, Ryan! Cukup! Jangan kotori tanganmu hanya karena pria tak berguna ini", seru Arya sambil menarik tubuh Ryan dari tubuh Felix yang kini tak berdaya.
Ryan pun tidak memberontak dengan apa yang dilakukan Arya. Dilepaskannya begitu saja tubuh Felix hingga terhempas ke lantai. Darah yang mengalir dari wajahnya membuat bentuk mukanya hampir tidak bisa dikenali lagi.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Arya? Buat agar dia menyesali perbuatannya malam ini juga," setelah memberi perintah, Ryan langsung keluar menuju mobilnya, diiikuti Rudi yang sedikit berlari demi bisa mengejar tuannya yang telah berjalan mendahuluinya.
Setelah mobil Ryan berlalu, Arya dan seluruh anak buahnya ikut meninggalkan Cafe itu.
Felix yang saat itu ditinggalkan seorang diri, menjadi bingung dengan apa yang akan dilakukan Ryan dan anak buahnya.
"Bukankah tadi dia menyuruh anak buahnya untuk memberi pelajaran kepadaku? Kenapa malah mereka semua pergi?" guman Felix dalam hati.
***
Felix berusaha membuka mata, walau bagian kepalanya masih terasa begitu berat.
"Ternyata aku masih di tempat ini. Berapa lama aku pingsan?" gumamnya, saat menyadari bahwa dirinya masih berada di lokasi yang sama, seperti saat terakhir kali dia meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Diliriknya jam tangan yang masih terpasang manis di tangan kirinya, ternyata hampir 4 jam dirinya jatuh pingsan.
__ADS_1
"Sial!" umpat Felix, sambil memukulkan tangannya berkali-kali pada kemudi mobil.
Tak berapa lama, handphone pun berbunyi. Dengan susah payah Felix meraih benda pipih canggihnya yang dia simpan di saku celananya itu, kemudian segera saja benda itu menempel di telinganya.
"Hallo," sapa Felix dengan Nada yang tidak bersemangat.
"Siapa orang hebat yang sudah kau buat marah, heh? Apakah kau tahu bahwa karena kelakuanmu itu telah membuat ayahmu ini bangkrut hanya dalam waktu kurang dari semalam?" suara Ferdian Adinata, ayah Felix menggelegar bagai petir yang menyambar tubuhnya.
Benar dugaan Felix, Ryan tetaplah kuat meskipun dia bukanlah Prabu Dewangga. Anak dan ayah sama-sama kuat dan pandai menggunakan koneksi yang dimilikinya.
"Ternyata dia benar-benar membuatku menyesal, dengan memutus semua koneksi perusahaanku dan membuat hampir seluruh pengusaha menarik saham mereka," batin Felix dalam hati.
Kini bukan hanya penampakan muka Felix yang hancur, tapi hati dan kehidupannya juga telah luluh lantak bersama dengan kesombongan yang sempat dia banggakan. Masih dengan gontai, dia keluar dari mobilnya dan berteriak sekencang-kencangnya, sambil menendang badan mobil dan apa saja yang ada di hadapannya.
Memang, penyesalan itu selalu datang terlambat, hingga terkadang ada banyak hal yang sudah terlanjur terkorbankan dan enggan kembali dalam kehidupan. Begitu juga untuk Felix, hanya untuk mengejar kesenangan semu dan kepuasan hatinya akan hasrat cinta yang sekian lama terpendam, kini dia harus mengorbankan peluh orang tuanya yang telah susah payah membangun perusahaan hingga dapat menjadi besar. Dan sekarang, semua sudah hancur tanpa sisa hanya karena mebodohannya. Bisakah semuanya kembali?
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Hallo Readers...
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Ditunggu vote, like, comment dan favorit-nya. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.