METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Meeting


__ADS_3

Dengan berat hati, Hengky terpaksa meninggalkan Fisha di rumah sakit itu bersama Nyonya Atmaja. Pasalnya, beberapa saat yang lalu Arya menghubunginya dan mengabarkan bahwa nama pengkhianat itu sudah ada di tangan mereka.


"Sayang, aku pergi dulu sebentar. Ada hal penting yang harus kami rapatkan," tutur Hengky lembut. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Hengky mencium kening istrinya, kemudian mengusap perut Fisha yang masih rata.


"Ayah pergi dulu ya, Sayang. Jangan nakal, kasihan Bunda kesakitan," bisik Hengky lembut, tepat di atas perut Fisha.


Nyonya Atmaja yang melihat kelembutan Hengky kepada istrinya pun hanya bisa memandang anak dan menantunya itu dengan segala keharuan dalam hatinya. Bagaimana tidak? Masih terekam jelas di benaknya, betapa Hengky sangat sulit untuk move on dari Rani, wanita yang sungguh sangat dia cintai. Bahkan Hengky seolah tidak bisa jatuh cinta kepada wanita lain lagi, saat mengetahui bahwa Rani telah pergi dan menemukan tambatan hati. Tapi kini, dengan mata dan kepalanya sendiri, Nyonya Atmaja bisa melihat betapa Hengky sudah mendapatkan cinta itu kembali, bahkan melebihi dari cinta Hengky saat itu untuk Rani.


"Jangan lama-lama," sahut Fisha dengan nada sedih yang ditunjukkannya.


"Iya, Sayang. Janji. Begitu semuanya selesai, aku langsung akan ke sini lagi," Hengky mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Mas Hengky meeting dimana?" tanya Fisha memastikan.


"Di kediaman Dewangga. Ryan masih belum sembuh dari sakitnya, sehingga kami semua yang harus datang ke sana," jawab Hengky dengan santainya.


Mendengar kata kediaman Dewangga disebut, tiba-tiba ekspresi muka Fisha berubah. Fisha langsung mengalihkan pandangannya, tak mau melihat ke arah suaminya.


"Heh, apa ini? Kamu cemburu?" Hengky meraih dagu Fisha, membuat wajah gadis itu kembali memandang ke arahnya.


Fisha yang ditanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan suaminya. Rasa khawatir jika suaminya akan berpaling jika bertemu lagi dengan Rani, membuat akal sehatnya tak bisa diajak kompromi.


"Dia itu istri orang. Suaminya jauh lebih tampan dari suamimu ini. Lebih kaya, lebih baik, dan sangat mencintai istrinya lebih dari apapun di dunia. Dan aku ini adalah suami orang. Aku sudah punya istri yang sangat cantik, baik, juga sedang mengandung Hengky yunior yang sudah sangat aku nanti-nanti. Menurutmu, adakah alasan buatku untuk berpaling dari istri sesempurna kamu?" Hengky menempelkan keningnya ke kening istrinya.


"Bukankah kita sudah berjanji untuk saling percaya, Sayang?"

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, Fisha hanya bisa mengangguk pelan. Walau hatinya belum juga bisa sejalan dengan bibirnya, namun senyum indah itu tetap dia persembahkan.


"Sekarang, bolehkah aku berangkat, Sayang? Mereka semua sudah menungguku datang," lirih Hengky, sambil mencium mata Fisha yang sudah menggenang.


"Jangan lama-lama. Begitu meeting selesai, harus langsung pulang," pinta Fisha penuh harap.


"Janji," Hengky menyodorkan jari kelingkingnya.


Fisha pun menyambut kelingking Hengky dengan kelingkingnya, sebagai tanda bahwa Fisha menyetujui ucapan suaminya. Sekali lagi, Nyonya Atmaja melihat pemandangan di depannya dengan rasa bahagia yang tidak terkira.


"Sudah, sudah. Hengky tidak kemana-mana, Fisha. Begitu selesai, pasti dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu juga janinnya. Sekarang biarkan suamimu menyelesaikan pekerjaannya, kamu Mama temani sampai Hengky selesai dengan semua urusannya," ujar Nyonya Atmaja yang diikuti anggukan kecil dari Fisha.


Setelah kembali mengecup kening istrinya dan mencium punggung tangan ibunya, Hengky pun segera berjalan ke tempat parkir dan melajukan mobilnya ke rumah keluarga Dewangga.


Begitu sampai, Hengky langsung masuk ke ruang kerja Ryan karena semua orang sudah menunggunya di sana.


"Maafkan aku, baru bisa datang. Bahkan aku belum sempat menjengukmu begitu kamu di bawa pulang," cicit Hengky, sambil menempati satu-satunya kursi yang masih kosong dan jelas diperuntukkan untuknya.


"Sungguh tidak masalah buat kami. Kami tahu betul bagaimana kondisimu saat ini. Bagaimana dengan keadaan Fisha?" tanya Ryan sangat bersahabat.


"Dia harus istirahat total karena kondisi kehamilannya yang sama sekali belum aman. Apalagi selain hamil, terdeteksi ada kemunculan kista di indung telurnya, sehingga Fisha merasakan nyeri di bagian perut dan panggulnya," jawab Hengky dengan ekspresi sendu yang ditunjukkannya.


"Kami ikut prihatin dengan kondisi Fisha. Semoga tidak terjadi apa-apa hingga anak kalian bisa lahir dengan sehat ketika saatnya telah tiba," Daniel ikut menimpali.


"Terima kasih. Dan untuk foto-foto yang Felix kirimkan itu ...," Hengky tak melanjutkan kalimatnya. Dia sungguh bingung harus menjelaskan semuanya dari mana.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan. Lupakan dan hempaskan. Kami tak akan menggadaikan kepercayaan kami kepadamu, hanya karena rencana jahat pria itu," cicit Ryan sambil melingkarkan perutnya ke pinggang istrinya. Sama seperti Fisha, sesungguhnya Ryan belum sepenuhnya percaya jika Hengky sudah tidak mencintai istrinya lagi.


"Betul, kita tidak perlu membahas hal tak penting itu lagi. Zara sudah menceritakan semua yang kalian bicarakan ketika kau bertemu dengannya," kata Daniel, sambil memandang ke arah Zara.


"Zara?" Hengky mengerutkan dahinya. Dia mencoba mengingat-ingat, siapa nama yang baru saja tertangkap gendang telinganya.


"Saya, Tuan," Zara bersuara.


"Kau ...?"


"Betul. Zara adalah gadis yang telah menusukku waktu itu," jelas Ryan, langsung diiyakan semua orang yang kini berada di ruang itu.


Hengky yang mulai bisa menangkap semua hal yang sudah dilakukan Ryan Dewangga dengan memaafkan dan memasang Zara untuk mengambil sumpah setia kepadanya pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan segala kekaguman dalam dirinya, akan sosok pria yang telah merebut hati wanita yang pernah merajai hatinya itu.


"Baiklah, bisa kita mulai meeting kita?" Ryan tak mau lagi membuang waktunya sia-sia.


"Tentu saja," Hengky setuju, dan membenarkan posisi duduknya, siap mendengarkan apa yang akan mereka semua bicarakan kepadanya.


"Bagaimana hasil pencarian kalian hari ini?" Ryan memandang wajah Johan, Arya, Rudi, Indra dan Zara satu per satu secara bergantian.


"Indra dan Zara yang akan menjelaskannya, Tuan," ujar Johan dengan sopan.


"Baiklah Indra, bagaimana hasil pencarian kalian. Apakah nama pengkhianat itu sudah kau pegang?" Ryan beralih menatap Indra dan Zara dengan lekat.


"Sudah, Tuan. Tapi hanya ada satu nama yang kami temukan. Zara sudah mencocokkan semua wajah karyawan perusahaan, tapi hanya perempuan itu yang Zara temukan. Prediksi kami, pria yang bersama Felix semalam adalah orang luar yang membantu perempuan itu untuk melancarkan aksi yang sudah dia rencanakan," jelas Indra kepada tuannya.

__ADS_1


"Jadi pengkhianat itu adalah seorang perempuan? Katakan, Indra. Siapa dia?"


BERSAMBUNG


__ADS_2