
Dengan penuh rasa bersalah, Ryan mendekati Rani dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Sadarlah, Sayang. Dan maafkan Hubbymu yang sungguh sangat bodoh ini," tutur Ryan lembut. Bahkan dia sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya.
Lima belas menit kemudian, Rani mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam dua netranya. Diedarkannya pandangan ke seluruh sudut ruang, hingga akhirnya dia tersadar dimana dirinya sekarang.
Rani pun mencoba menggerakkan tangannya, tapi terasa sangat berat, akibat genggaman tangan suaminya yang begitu erat. Dia mencoba menariknya, tapi hasilnya nihil. Tangannya bahkan tak bergeser sama sekali.
"Kau sudah bangun, Sayang?" Ryan merapatkan tubuhnya dan kembali menghujani wajah istrinya dengan kecupan penuh cinta.
Rani tak menyahut. Dia justru memalingkan mukanya ke arah berlawanan dengan posisi dimana suaminya berada.
"Sayang, maafkan Hubby. Akhir-akhir ini Hubby sibuk karena persiapan peresmian Green Canyon, dan ada sedikit permasalahan di perusahaan. Jadinya Hubby dan semua karyawan Hubby harus lembur," jelas Ryan, walau istrinya seolah tak mau mendengarkan.
"Sayang," Ryan meraih tangan Rani yang sebelumnya sudah berhasil dia lepaskan.
"Pergi, By. Biarkan Rani sendiri seperti biasanya. Ucapan Hubby benar atau tidak, hanya Hubby dan Allah yang tahu, By. Yang jelas, Hubby sudah melukai hati Rani," tegas Rani tanpa mau melihat ke arah suaminya.
__ADS_1
"Jangan gitu dong, Sayang. Sepekan ini Hubby tidak cerita tentang kesibukan Hubby, karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Hubby tidak pernah berpikir kalau tindakan Hubby ini justru telah melukai hatimu," bujuk Ryan.
"Cukup, By. Bukankah Hubby sangat sibuk, saat ini? Lalu kenapa Hubby masih ada di sini? Bukankah biasanya hanya untuk sekedar berpamitan baik-baik sebelum berangkat kerja saja Hubby merasa tak bisa, hingga setiap pagi selalu meninggalkan Rani tanpa kata, tanpa salam apalagi kecupan sayang? Bukan hanya itu, bahkan hanya menerima saat Rani ingin mencium punggung tangan Hubby saja Rani tak punya kesempatan. Jadi, pergilah, By. Raihlah apa yang sedang Hubby kejar di luar sana. Tinggalkan Rani sendiri, karna Rani tahu, kehadiran Rani sudah tak lagi berarti apa-apa di hati Hubby," Rani membalikkan tubuhnya, hingga posisinya membelakangi suaminya.
"Maafin Hubby, Sayang. Akhir-akhir ini Hubby banyak beban, karena harus mengurus dua perusahaan. Kamu tahu kan, Daniel sekarang buta? Jadi waktu Hubby benar-benar tersita. Yang ada di otak Hubby hanya kerja, kerja dan kerja, hingga Hubby terlalu larut di dalamnya. Hubby baru tersadar kalau hatimu begitu terlukai. Ini salah Hubby, Sayang. Ini benar-benar salah Hubby. Hukumlah Hubby sebanyak hukuman yang kau mau, tapi tolong jangan buat Hubby khawatir lagi. Dan tolong jangan diamkan Hubby, Sayang. Hubby benar-benar tak tahan," lanjut Ryan berusaha meyakinkan.
Rani tak menyahut lagi. Dia justru membenamkan diri dalam pelukan bantal guling yang kini sudah berada di tangannya, tanpa berniat menghadap ke arah suaminya.
"Saat tau kalau tadi kamu pergi tanpa Naja, Hubby sudah seperti kehilangan dunia dan seisinya, Sayang. Apalagi ketika mendengar bahwa mobilmu rusak dan terparkir dipinggir jalan, Hubby seolah tak mampu bernafas lagi. Tahu kenapa? Karena separuh nafas Hubby adalah dirimu. Jadi jangan pernah berpikir macam-macam, apalagi seperti yang kau ucapkan di depan makam papamu seperti tadi siang. Itu tidak benar, Sayang. Bahkan apapun rela Hubby korbankan hanya demi cinta Hubby kepada istri Hubby tersayang. Demi Allah, Hubby bersumpah. Hubby mencintaimu, dan hanya mencintaimu seorang. Jika sampai Hubby berbicara tidak benar, Hubby rela Allah menghukum Hubby dengan ...," sebelum Ryan melanjutkan kalimatnya, Rani sudah menyela.
"Ssttt. Jangan pernah bersumpah kepada Allah atas nama apapun," sergah Rani, sambil membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya. Jari telunjuknya pun kini menempel pada bibir Ryan.
"By, kenapa Hubby harus menjauhi Rani di saat Rani sedang mengandung anak Hubby? Kenapa Hubby tidak mempedulikan Rani lagi, By? Apa salah Rani sama Hubby?" Rani semakin tergugu, setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia benar-benar merasakan kepedihan yang mendalam.
"Tidak, Sayang. Hubby tidak pernah bermaksud menjauhimu. Sama sekali tidak, Sayang," Ryan memeluk Rani dan membiarkan istrinya itu memukul-mukul tubuhnya berkali-kali.
"Apakah Hubby benar-benar tidak menginginkan Rani lagi, By? Apakah rasa cinta yang selalu Hubby ucapkan selama ini sudah hilang sama sekali? Kenapa, By? Apakah karena Hubby sudah jijik sama Rani hingga sekedar mencium Rani saja Hubby tak mau melakukannya. Apakah sejijik itu hingga Rani ingin mencium punggung tangan Hubby saja, Hubby tak rela membiarkannya? Kenapa, By? Kenapa?" cecar Rani dengan tangis yang semakin menjadi.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa sih, Sayang? Tentu saja semua yang kamu katakan itu tidak benar," Ryan membiarkan istrinya menumpahkan segala kegelisahan yang berputar-putar di dalam hati dan jiwanya.
"Hubby bohong. Rani tahu Hubby benar-benar sudah tidak menginginkan Rani lagi. Apa karena bentuk tubuh Rani tak sedap dipandang lagi karena janin yang sedang Rani kandung ini, By? Wajah Rani pun sekarang sudah tidak secantik dulu lagi karena sekarang terlihat Cubby. Bahkan, Rani tak sesempurna dulu dalam melayani hasrat Hubby selama kehamilan Rani. Tapi apakah semua ini salah Rani? Bukankah Hubby yang sangat menginginkan anak ini, By? Lalu dimana letak kesalahan Rani? Tolong katakan dimana letak kesalahan Rani," Rani semakin berbicara tak terkendali.
"Dengarkan Hubby dulu, Sayang," Ryan melepas pelukannya dan mengapit kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya.
"Tidak mau. Rani benci Hubby. Biarkan Rani rawat anak Rani sendiri jika Hubby tidak menginginkannya lagi," Rani masih mencoba memberontak, meskipun tenaganya tak sekuat tadi.
"Dengarkan kata-kata Hubby," seru Ryan setengah membentak.
"Masih mau menyangkal, By? Bahkan kali ini Hubby tega membentak Rani," cicit Rani parau.
"Maaf, Sayang. Habisnya Hubby bingung, cara apa lagi yang bisa Hubby lakukan untuk mengembalikan kepercayaan kamu kepada Hubby," lirih Ryan.
Rani pun hanya terdiam, mencoba memberi kesempatan kepada suaminya untuk memberi penjelasan.
"Semua yang kau pikirkan itu terlalu jauh, Sayang. Sikap Hubby akhir-akhir ini muncul, murni hanya karena Hubby sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan, mega proyek Green Canyon itu melibatkan tiga perusahaan besar? Perusahaan kita, perusahaan Daniel, juga perusahaan milik keluarga Atmaja. Masalahnya, Daniel sama sekali belum bisa menghandel semuanya. Perusahaan keluarga Atmaja pun hanya tersisa Hengky yang bisa diandalkannya. Al hasil, akhirnya harus Hubby yang melakukan semuanya,"
__ADS_1
BERSAMBUNG