
Sesaat, Ryan terdiam. Dia berpikir keras, bagaimana kabar yang baru saja dia terima itu akan dia sampaikan. Bahkan kini, dia menatap satu per satu orang yang sudah tak sabar menunggu jawaban apa yang akan dia berikan.
"Dengan terpaksa pesta ini harus kita akhiri, karena sekarang juga kita harus pergi," lirih Ryan sambil memasukkan ponsel ke sakunya kembali.
"Memangnya kenapa? Ada apa?" Arya yang langsung bisa memahami bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi pun bertanya sambil menghampiri Ryan yang masih memasang ekspresi misteriusnya.
"Kita harus menemui ibumu sekarang, atau kau akan menyesal seumur hidupmu, Lena," alih-alih menjawab pertanyaan Arya, Ryan justru beranjak menghampiri Lena dan mengatakan hal sangat mengagetkan dengan begitu penuh pinta.
"Tante Safira kritis, sekarang dia di Rumah Sakit. Dia kecelakaan, mobilnya masuk jurang," lanjutnya, tanpa menunggu Lena menimpali ucapannya.
Mendengar ucapan Ryan yang begitu mengagetkannya, Lena justru hanya diam terpaku, tanpa tahu apa yang akan dia lakukan saat itu.
__ADS_1
"Lena, apalagi yang kau pikirkan? Sebenci apapun, dia tetaplah ibumu. Maafkan dia! Bukankah dia sudah menjelaskan kenapa sampai waktu itu dia meninggalkanmu? Ayolah, Lena! Buka hatimu?" Ryan terus saja mengoceh, tak habis pikir dengan kerasnya hati Lena yang sampai saat ini belum bisa memaafkan Tante Safira yang telah meninggalkannya di panti asuhan.
Melihat emosi suaminya yang semakin tak terkendali, Rani bergegas menghampiri Ryan dan mengelus pundaknya dengan penuh rasa sayang. Sementara Lena masih saja terdiam, mencoba mencerna satu per satu kata yang Ryan ucapkan.
"Sayang ...," giliran Arya yang mendekati istrinya, mencoba memecah kerasnya karang di hati Lena yang selama ini tak mampu dia taklukkan.
Lena tak banyak berkata. Hanya saja, tiba-tiba dia menghapus bulir-bulir bening yang menetes di pipinya dengan kasar, dan secara mengagetkan dia menarik tangan Arya, mengajaknya keluar.
"Lena!" Ryan masih saja merasa gemas melihat sikap Lena yang tak mendengar segala hal yang dia ucapkan.
***
__ADS_1
Begitu mobil Arya terparkir sempurna, tanpa menunggu lama Lena langsung berlari sekencang-kencangnya, melewati lorong demi lorong rumah sakit yang seolah tak ada habisnya. Hingga akhirnya, dia memelankan langkahnya dan menuju sebuah ruang yang membuat jantungnya berdegup sepuluh kali lebih kencang.
Langkahnya pun terhenti, menyadari bahwa tubuh wanita paruh baya itu tak mampu dia gapai saat ini. Sambil tergugu, Lena terus menempelkan kedua tangannya pada sebuah kaca, dan dari kaca itulah dia bisa melihat dengan jelas bagaimana perempuan yang sangat dia benci sekaligus dirindukannya itu benar-benar dalam kondisi menyedihkan saat ini.
Di dalam ruang itu, Lena melihat ibu kandung yang telah membuangnya bagai seonggok robot, yang dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran di seluruh tubuhnya. Kabel infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan entah kabel-kabel apa lagi yang terpasang disana.
Di samping tempat Safira terbaring, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Safira yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantung, yang semakin menambah gurat cemas pada wajah Lena, Arya, dan semua yang kini telah berada di sana untuk ikut melihat kondisi Safira.
Hingga tiba-tiba, seorang dokter keluar dan menghampiri mereka.
"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?" untuk pertama kalinya, Lena menyebut Safira sebagai ibunya.
__ADS_1
"Jadi begini, Nona. Ibu Anda ...,"
BERSAMBUNG