METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Apa Yang Terjadi Dengan Istriku


__ADS_3

Kecewa. Satu kata itu yang tersisa di hati seorang pengusaha muda yang kini duduk bersandar di belakang kemudi mobil yang berhenti di tepi jalan sejak semalaman. Bagaimana tidak? seluruh asa yang dia impikan dan menjadi warna yang menghiasi kidung cinta dalam cerita hidupnya, tiba-tiba terkubur bersamaan dengan noda yang mengotori bejana asmara, yang selama ini erat terpatri di dalam hati dan jiwanya.


Luka itu pun semakin menjalar dan mengalir dalam nadi-nadi, seiring dengan darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Bahkan kini benih-benih derita tumbuh subur di dalam hatinya, rasa hancur dan resah pun dengan leluasa menyelimuti jiwa yang terus menggeliat menusuk urat nadi yang sedang tersakiti.


"Ahh," Ryan mendesah kasar.


"Benarkah apa yang telah kulihat semalam?" lirihnya, terdengar nada penuh keraguan.


Ryan meraba hatinya. Hari itu dia benar-benar tersadar bahwa cintanya untuk Rani sedemikian dalam, hingga rasa sakit ketika mengingat apa yang dilihatnya semalam benar-benar menghujam hingga mampu mengoyak angan.


Namun hatinya tiba-tiba bimbang. Antara butuh penjelasan atau mencari ketenangan, antara rindu atau rasa cemburu, kini saling berkecamuk menjadi satu. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk melajukan mobilnya dengan arah memutar.


Bukankah saat Rani salah paham antara dirinya dengan Meysie, Rani juga memberinya kesempatan untuk menjelaskan? Buat apa saling cinta jika tidak saling percaya? Toh selama ini Rani adalah perempuan yang sangat menjaga diri, bahkan tak ada laki-laki lain yang dibiarkan menyentuh tangannya kecuali Ryan dan papanya. Pikiran Ryan semakin berkecamuk.


Ryan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju hotel tempat seluruh keluarganya berada pasca pesta yang diadakan untuk Daniel dan Naja semalam. Sesampai di lobby hotel, Ryan langsung meninggalkan mobilnya begitu saja dan membiarkan petugas valet parking hotel mengambil alih mobil itu dan memarkirkannya di tempat parkir khusus bagi pemilik hotel.


Setengah berlari, Ryan menuju kamar menggunakan lift yang mengantarkannya ke lantai teratas dimana istrinya berada. Namun sesampainya di depan pintu, dahinya mengernyit, karena pintu kamar itu kini sedikit terbuka.


"Kenapa Rani tidak menutupnya dengan rapat?" lirih Ryan.


Dia pun kemudian masuk dan menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamar, namun Rani tak ada di sudut manapun. Bahkan dengan tegang dia bergegas ke kamar mandi, namun nihil. Dia tidak mendapati istrinya di kamar itu. Hanya barang-barang dan ponselnya saja yang Rani tinggalkan di sekitar ranjang.


***

__ADS_1


Flash back


Pagi itu, Rani memutuskan untuk menghubungi Davina, yang kebetulan malam itu ikut bermalam di hotel yang sama bersama dengan Aghata. Dengan mata yang sudah semakin berat, Rani segera berselancar dengan benda pipih miliknya, dan menekan icon bewarna hijau setelah nama sang mama tertera di sana. Namun belum sempat Rani mendengar mama yang berada di balik telphon menjawab panggilannya, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Tubuhnya seolah melayang, hingga akhirnya semua menjadi gelap, kemudian tubuh yang biasanya energik itu tumbang dan ambruk begitu saja di tepi ranjang.


"Hallo? Hallo?" suara Davina di handphone Rani terus terdengar.


"Ran? Rani? Hallo? Sayang?" Davina terus memanggil putrinya dengan benda pipih yang masih setia menempel di telinganya.


Karena tidak ada sahutan, Davina memutuskan untuk menghampiri Rani di kamarnya bersama dengan Aghata. Mereka pun mengetuk pintu berkali-kali, namun tak ada sahutan. Hingga Davina memutuskan untuk menelphon Rani kembali, sementara Aghata menghubungi Ryan. Karena dua-duanya tidak mendapat sahutan, akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi petugas hotel dan membuka pintunya dari luar.


Ketika pintu terbuka, alangkah kagetnya Davina dan Aghata mendapati Rani terkulai lemas di tepi ranjang dengan kondisi tidak sadarkan diri. Mereka pun langsung menghubungi Arya, Lena, juga Daniel dan Naja yang untungnya sudah menyelesaikan urusan mereka, hingga semua menghambur ke kamar Rani dan akhirnya melarikannya ke rumah sakit.


End of flash back


***


"Sial. Kenapa mereka semua tak mengangkat telphonku?" geram Ryan, sambil berlari ke arah lift menuju ke lantai terbawah.


Ryan kemudian menghampiri resepsionis, mencoba bertanya barangkali ada informasi yang diketahuinya, dan ternyata tidak sia-sia.


"Istri Anda jatuh pingsan, Tuan. Sekitar dua jam lalu seluruh keluarga Anda mengantar beliau ke rumah sakit," mendengar kalimat itu, Ryan langsung meminta petugas valet untuk menyiapkan mobilnya.


Ryan tak mau membuang waktu. Begitu mobil sampai di depannya, dia langsung menuju belakang kemudi dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia lupa menanyakan ke rumah sakit mana keluarganya membawa Rani. Dia pun mencoba menghubungi satu per satu keluarganya sekali lagi, namun lagi-lagi tak ada yang mau mengangkat telphonnya lagi.

__ADS_1


“Huh," Ryan frustasi. Kini dia mengutuki dirinya yang terlalu larut dalam kungkungan emosi.


Akhirnya tak ada pilihan lain. Ryan menelphon satu per satu rumah sakit yang berada di kota itu, hingga akhirnya menemukan satu tempat dimana Rani dilarikan.


"Jangan kenapa-kenapa, Sayang. Mas Mohon! Bantu hamba, Ya Allah," doa Ryan sepanjang perjalanan.


Emosi Ryan semakin tidak bisa dikendalikan. Air matanya lolos begitu saja, rasa khawatirnya kini mengalahkan rasa cemburu yang sempat membutakan hatinya. Pikirannya kalut. Kini yang ada di benaknya hanya bagaimana caranya dia bisa secepat mungkin sampai ke rumah sakit dimana istrinya dibawa ke sana. Sahutan bunyi klakson yang terus memperingatkannya karena laju mobilnya yang sudah tidak beretika pun benar-benar tak dihiraukannya.


Butuh waktu lima belas menit buat Ryan untuk sampai di rumah sakit itu. Setelah memarkir mobilnya, dia pun tak lagi mau menunggu. Ryan langsung berlari kencang, menuju IGD dimana kemungkinan besar istrinya masih mendapat perawatan.


Ryan terus menyusuri lorong panjang rumah sakit itu dengan jantung yang berdegub kencang. Hingga samar-samar, matanya menangkap bayangan orang-orang yang sepertinya telah menunggu dia datang.


"Kemana saja kamu, hah?" Arya berteriak. Matanya memerah karena menahan marah.


"Jangan berteriak padaku, Ar. Mana istriku?" sahut Ryan, tak peduli dengan teriakan yang Arya lepaskan.


"Kau akan menyesal seumur hidupmu, karena Rani telah meninggalkanmu!" teriak Arya lagi, kali ini sambil mendaratkan sebuah pukulan di pipi kanan Ryan.


Ryan tak melawan. Dia justru fokus pada kata-kata yang Arya ucapkan.


"Apa maksudmu, Ar? Apa yang terjadi dengan istriku? Katakan!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Bantu dan semangati author dengan memberi rate 5 dong guys. Jangan lupa juga like, vote dan comment positifnya Terima kasih.


__ADS_2