METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tarian Dosa


__ADS_3

Indahnya takdir Allah, justru bisa hadir dari hal yang sangat menyakitkan. Namun begitu, pasti setiap lingkaran takdir itu selalu indah dalam skenario yang ditasbihkan Allah untuk setiap hambaNya.


Ya, begitulah yang Indra dan Zara alami sekarang. Indra yang sudah dengan penuh kerelaan hati mengorbankan cintanya demi kebahagiaan Zara, akhirnya menemukan kebahagiaannya ketika cinta itu akhirnya kembali dalam pelukannya. .


Begitu juga dengan Zara. Ketika seseorang yang selama ini ditunggunya akhirnya datang untuk kembali pada cintanya, ternyata dia baru tersadar bahwa hatinya sudah berpaud pada sosok Indra.


"Saya tidak tahu sejak kapan cinta itu ada di hati Tuan, seperti saya yang juga tidak tahu kapan cinta itu tumbuh di hati saya. Yang saya tahu, Anda mencintai saya, dan saya pun sama," cicit Zara, sembari membalas tatapan Indra kepadanya.


"Dasar gadis nakal. cepat kembali ke kamarmu. Para perawat itu pasti akan bingung jika ada satu pasien mereka yang kabur entah kemana," Indra mengacak rambut Zara dengan sayang.


"Tidak mau. Saya mau di sini saja bersama Tuan," tolak Zara, kini berani menampakkan nada manjanya kepada pria dingin dan misterius yang selama ini begitu menyebalkan untuknya.


"Kamu itu terluka, Zara. Biar kuantar ke kamarmu, agar mereka memberikan pengobatan maksimal untuk luka-lukamu. Setelah kau benar-benar sembuh, aku akan mengajakmu menemui ibuku," titah Indra tak bisa di tawar.


Apalagi mendengar Indra mengatakan bahwa dia akan memperkenalkannya pada sang ibunda, Zara pun terlihat berbinar dan mengembangkan senyumnya.


"Apa Anda tidak berbohong?" tanya Zara meyakinkan.


"Tentu saja aku tidak berbohong. Tapi kau harus sembuh dulu," Indra masih menunjukkan sikap tak bisa dibantahnya, walau sebenarnya, itu adalah bagian dari bentuk rasa sayang dan perhatiannya kepada Zara.


Mendengar perkataan Indra, Zara pun menurut, hingga ketika salah seorang penjaga yang di telepon Indra akhirnya masuk dan mengajak Zara untuk kembali ke ruang perawatannya, Zara hanya bisa menurut saja.


Namun begitu Zara ke luar dari kamar Indra, tiba-tiba dia membulatkan mata dan mulutnya, menyadari ada hal yang terlupa. Ya, ada sesuatu yang hendak Zara tanyakan pada Indra, untuk lebih memantapkan hatinya sebelum hari pernikahan mereka benar-benar tiba.


"Tunggu!" ucap Zara pada seorang penjaga yang hendak mengantar Zara ke kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa?" penjaga itu mengerutkan dahinya.


"Aku melupakan sesuatu. Ada hal yang ingin kutanyakan lagi padanya," sambil menahan sakit di beberapa area tubuhnya, Zara memutuskan untuk berbalik arah dan kembali ke kamar Indra.


Tapi alangkah kagetnya Zara, ketika dia melihat Indra sedang berjoget sendiri dengan begitu girangnya, padahal satu tangannya masih memegang botol infus, tanda dia belum sembuh betul dari luka-lukanya.


"Yes. Yes. Yes," begitulah suara yang Zara dengar dari mulut Indra, di sela-sela jogetnya.


"Girang banget sih Tuan Narsis. Apa dia sebahagia itu karena kata-kata cinta dariku?" tebak Zara dalam hati.


"Hmmm, hmmm," Zara berdehem, untuk menyadarkan Indra bahwa waktu itu ada orang lain selain dirinya.


Indra pun langsung menghentikan aksinya dan menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya memerah seketika, menyadari bahwa gadis yang menjadi satu-satunya alasan kenapa dia melakukan hal konyol itu kini tepat berada di hadapannya dan sedang menatapnya dengan ekspresi begitu lucu.


"Kenapa kau kembali, Zara? Kau ini masih sakit. Bukankah sudah kubilang bahwa kau harus segera kembali ke kamarmu?" Indra bertindak seolah tidak ada apa-apa dan berusaha menutupi rasa malunya, walau mukanya sudah semerah kepiting rebus.


"Kamu ini ditanya bukannya menjawab juga," kesal Indra, masih berusaha menutupi rasa malunya.


"Awalnya ada yang ingin saya tanyakan kepada Anda, Tuan. Tapi saya lupa apa yang mau saya tanyakan," ucap Zara sambil berbalik badan dan meninggalkan Indra kembali dari kamarnya.


"Ihhh Dasar. Kenapa dia harus balik lagi ke sini sih? Malu, malu, malu," gumam Indra dalam hati.


Indra pun akhirnya senyum-senyum sendiri, sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.


***

__ADS_1


Di balik jeruji besi itu, ingatan Sesil mengembara pada kisah demi kisah usang yang hadir bagai sebuah slide yang berputar-putar. Matanya tiba-tiba menggenang, menyadari waktu yang berlalu tak bisa terulang.


"Andai waktu bisa terulang, aku tak akan pernah memilih untuk masuk dalam kehidupanmu, Felix," gumam Sesil lirih.


Kini rasa sesal di hatinya mampu membakar hangus kekhilafan yang sempat memberangus akal sehatnya. Besi hitam yang berjejer rapat di depannya itu pun, bukan hanya menutup kebebasannya untuk menikmati dunia luar, tapi juga membuat Sesil benar-benar merasa menjadi seorang pendosa. Apalagi sikap Felix yang sama sekali tak mau bertanggung jawab atas dirinya juga anak yang kini sedang dikandungnya, membuat rasa sesal di hatinya kian terasa.


Berada di sel tahanan, Sesil terus larut dalam kesedihan. Felix yang betul-betul tak peduli dengan nasib Sesil selama ditahan itupun semakin membuat keterpurukannya di balik jeruji besi yang kini mengungkung kebebasan hidupnya semakin menjadi.


Ya, dia terus merasa berdosa dengan kebusukannya sendiri, yang bahkan telah berusaha menghancurkan perusahaan orang yang sangat berjasa di dalam hidupnya, demi orang yang kini justru meninggalkannya.


"Masih adakah kata pengampunan?" batin Sesil meronta.


Di tempat itu, pagar besi berdiri menjulang, menutup indahnya cinta dan kebebasan. Hanya rasa rindu yang kini tak tertahan, bersama senyap dalam kesendirian. Kini, hati Sesil seolah beku tak bernyawa. Kali ini dia benar-benar tersadar, bahwa kebebasan mutlak hanyalah milik dari Sang Maha Pencipta.


"Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Bukankah ada masa depan?" Sesil mencoba untuk menyemangati diri.


"Tapi untuk apa aku hidup? Untuk siapa aku hidup? Bukankah sudah tidak ada lagi seseorang yang menjadi alasan untukku bertahan di dunia yang fana ini?" lintasan-lintasan pikiran terus berkecamuk di dalam benaknya.


Ya, semakin Sesil mencoba, semakin terpuruk pula hatinya. Lingkaran sepi dibalik jeruji besi itu, betul-betul mampu merajai hati yang bahkan kini menabur rasa sesal bersamaan dengan diri yang menjadi mudah tergoncang. Kini, hanya tarian dosa yang tertawa di dalam dirinya, membuat hidupnya dirajai oleh nestapa.


Dan sore itu, dadanya terasa penuh sesak. Bulir-bulir bening terus keluar dari ujung matanya. Pikirannya benar-benar kacau, setan pun sudah menguasai pikirannya tanpa bisa dikendalikan lagi.


Hingga saat mata Sesil menangkap ada sebuah kain yang semalam dia kenakan sebagai selimut untuk menghangatkan tubuhnya, angannya sudah mengembara kemana-mana.


Sesil mengambil kain itu, kemudian ....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2