METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Produksi Bayi


__ADS_3

Daniel dan Naja tercengang, melihat kamar mereka yang sudah di sulap seperti malam pengantin mereka saat mereka menikah dulu. Ya, Ryan dan yang lainnya memang sengaja membuat malam ini menjadi malam istimewa untuk Daniel dan Naja, karena mereka tahu bahwa selama Daniel buta, dia sama sekali tak mau menyentuh Naja. Semua itu Daniel lakukan bukan karena dia telah kehilangan hasratnya, tapi karena dia benar-benar tak mau jika hal itu dia lakukan hanya untuk memenuhi nafsunya semata, tanpa sebuah kenikmatan yang bisa dia persembahkan untuk istrinya.


"Mereka benar-benar ingin membuat kita seperti pengantin baru, Sayang," bisik Daniel lirih.


Dengan tersipu malu, Naja tak menghiraukan ucapan suaminya itu. Dia justru melangkahkan kakinya semakin ke dalam, menikmati warna-warni bunga mekar yang kini telah memenuhi seisi kamar. Mata Naja pun kemudian beralih ke arah ranjang. Di peraduan mereka, telah dipasang renda-renda bernuansa putih yang dipadu-padankan dengan warna merah jambu, membuat nuansa romantis kian sempurna.


Tiba-tiba rasa canggung menyelimuti hati keduanya. Beberapa bulan tak melakukannya, membuat mereka seperti pasangan pengantin yang berduaan di kamar untuk pertama kali saja.


Daniel pun mengunci pintu, lalu memeluk Naja dari arah belakang untuk menikmati detik demi detik kerinduan yang masih begitu menggebu. Sedetik kemudian, Daniel membalikkan tubuh Naja hingga mereka berdiri saling berhadapan. Daniel pun tak sedikitpun mengalihkan pandangannya, dia terus menatap lekat wajah Naja yang sekian lama tak pernah lagi dilihatnya.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Aku bersyukur, Tuhan masih mengizinkanku untuk bisa melihat lagi wajah bidadariku," ucap Daniel, sambil mengecup lembut kening Naja.


Naja tersenyum malu. Wajahnya pun kini sudah merah bersemu. Daniel yang sudah sekian lama tak melihat ekspresi itu, tetiba gemetar dan dadanya berdegup kencang.


"Bolehkah aku mandi dulu, Sayang? Tubuhku masih bau, apalagi kita baru pulang dari rumah sakit, takut banyak penyakit yang menempel tanpa kita tahu," cicit Naja, sengaja mengulur waktu agar dia bisa mengatur nafasnya yang sudah kian memburu.


Setelah mendapat anggukan dari suaminya, Naja pun berjalan ke kamar mandi diikuti tatapan penuh cinta Daniel kepadanya. Bahkan karna tak melihat Naja cukup lama, tubuh Daniel bereaksi ekstrem saat melihat Naja dengan kecantikan yang begitu nyata. Daniel pun menjadi panas dingin dibuatnya, sama seperti semalam ketika di rumah sakit, dimana dia bisa memeluk Naja, tapi tak bisa melakukan apa-apa.


Lima belas menit kemudian, Naja keluar dengan gaun tidur terbuka kesayangan suaminya. Ya, walaupun malam tak kunjung tiba, tapi siang menjelang sore itu Naja benar-benar tahu apa yang sudah sangat ingin dilakukan suaminya.


Daniel sempat menelan salivanya, tapi dihalaunya segera hasrat itu. Dia buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum tubuh mereka saling beradu lagi.


Tak berapa lama, Daniel keluar hanya dengan sehelai handuk yang menutupi tubuh polosnya. Dengan langkah pasti, dia pun segera menghampiri Naja yang kini sedang menunggunya datang, dalam posisi duduk di tepi ranjang, .


"Kamu sudah siap, Sayang?" Daniel mendekati Naja dan mendekapnya dari belakang.


"Siap untuk?" Naja berpura-pura.


"Mengulang malam pengantin kita. Bukankah sudah lama sekali kita tidak melakukannya?" Daniel membalikkan tubuh Naja dan meraih dagunya. Naja mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, demi menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa semalu ini dengan suamiku sendiri? Padahal biasanya, aku tak pernah punya malu saat sedang menjalankan semua misiku," gumam Naja dalam hati.


Sedetik kemudian, puluhan kecupan mendarat manis di setiap inchi wajah Naja.


"Cintaku ada di sini," ucap Daniel begitu dia mengecup kening Naja.


"Kalau yang ini kesayanganku," kata Daniel lagi, saat kecupan mesra mendarat di mata kanan istrinya itu.


"Yang Ini kekasih hatiku," sebuah kecupan di mata kiri pun meluncur indah.


"Ini manisku, pujaanku, jantung hatiku," kecupan mesra segera menempel di pipi kanan, pipi kiri, dan hidung mancung Naja.


"Dan ini ...," Daniel menghentikan ucapannya, begitu bibirnya berada tepat di depan bibir ranum milik istrinya.


Naja mengerutkan keningnya, menyadari Daniel tak juga melanjutkan aksi nakalnya.


"Dan ini adalah penggoda hatiku," ucap Daniel, kemudian berselancar mengabsen setiap inchi rongga mulut Naja dengan mahirnya.


"Dilepas ya?" Daniel melepas pagutannya, kemudian meraih gaun tidur Naja dan menghempaskannya begitu saja ke lantai di bawahnya, menyisakan kain berenda yang menutupi dua bukit cantiknya, juga segi tiga kecil bertali yang menutupi lembah indah milik istrinya.


Daniel semakin mendekat. Digelarnya begitu saja tubuh istrinya di atas kasur yang sudah penuh dengan taburan mawar merah berbentuk hati, membuat hasrat keduanya tak mampu mereka kendalikan lagi.


Daniel segera melepaskan dua kain berenda yang tersisa dengan hasratnya yang menyala-nyala, dan melemparkannya ke sembarang arah hingga tubuh polos itu tak punya sehelai benang pun yang tersisa.


"Sempurna," ujar Daniel sambil menatap setiap lekuk milik istrinya.


"Sayang, jangan liat aku kayak gitu ahh. Aku malu," cicit Naja sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, hingga bukit indahnya bisa dia tutupi dari suaminya.


"Kamu ini lucu, Sayang. Aku kan sudah sering melihatnya. Bukan hanya lihat malah. Aku sudah sering mencoba dan menikmatinya," oceh Daniel sambil melepas tangan Naja dan meletakkan dua tangan istrinya itu di atas kepalanya sendiri.

__ADS_1


Daniel memegang dua tangan Naja dengan tangan kirinya agar tak berpindah posisi, sementara tangan kanannya aktif melepas handuk yang masih juga menutupi dirinya sejak keluar kamar mandi sesaat tadi. Tak sampai sedetik, handuk itu pun bernasip sama dengan pakaian Naja yang lainnya, dan segera terhempas ke lantai begitu saja.


Daniel mulai merayap dan membuat stempel kepemilikannya di beberapa tempat. Mendapat perlakuan suaminya yang lebih menggelora dari sebelum-sebelumnya, Naja pun mulai mendesah, hingga ceracau tak jelas pun lolos dari mulutnya begitu saja. Setelah puas bermain-main di area favoritnya, baru mereka melakukan atraksi yang sesungguhnya, hingga mereka berdua terkulai tak berdaya, dan tertidur pulas hingga sore tiba.


***


Sore itu mengukir seribu cerita. Dimana gejolak cinta dua anak manusia saling berpadu di bawah langit senja yang membisu.


"Sayang," panggil Daniel begitu Naja mengerjabkan matanya pelan.


Sambil berkedip-kedip beberapa kali, Naja pun mendapati suaminya yang sudah tersenyum ke arahnya, juga tangan yang sedang mengelus kepalanya.


"Kau tak tidur, Sayang?" tanya Naja sambil mengucek kedua matanya.


"Aku sudah on lagi sekarang. Lagi yuk!" ajak Daniel sambil menaikkan kedua alisnya.


"Sudah sore banget, Sayang. Nanti malam saja ya," sahut Naja sambil mencubit hidung Daniel dengan begitu gemasnya.


”Aku maunya sekarang, terus nanti malam lagi," Daniel merengek manja.


”Capek, Sayang," Naja merapatkan selimutnya, hingga yang terlihat hanya bagian kepalanya saja.


"Ayolah, Sayang," rayu Daniel sambil mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Naja.


"Sayang, Iiih," pekik Naja begitu tangan Daniel berhasil masuk dan tak bisa dikendalikan dengan mainan favoritnya.


"Ayolah, ayolah! Kita harus bekerja keras produksi bayi agar perutmu segera isi," Daniel terus merayap masuk, hingga selimut itu terhempas lagi dan permainan kembali terjadi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2