
"Kau pikir aku bodoh? Apakah menurutmu aku akan percaya begitu saja hanya karena kau mengorbankan kecantikanmu? Yakinkan aku jika kau benar-benar serius dengan ucapanmu!" Prabu tidak bergeming. Dia benar-benar tahu bahwa setiap agen mata-mata pasti memakai alat pelacak yang ditanam di dalam tubuhnya.
Dan benar saja, mendengar perintah Prabu, Naja langsung mengeratkan pisau itu kembali dan menggoreskannya pada bagian atas lengan kirinya. Naja menyayat lengannya sepanjang 4 cm, dan segera saja dikeluarkannya sebuah benda berbentuk persegi panjang ukuran 1 cm x 2 cm yang menyerupai sebuah chip. Itu adalah alat pelacak yang sengaja di tanam di tubuh Naja untuk mendeteksi setiap pergerakannya, sekaligus sebagai tanda kesetiaan setiap anggotanya.
Prabu mengambil chip itu begitu Naja menyodorkan kepadanya. Setelah meliriknya sebentar, Prabu mendekati jendela kemudian membuang chip itu keluar dari lantai 25 gedung Dewangga Group.
"Siapa namamu?" tatapan Prabu mulai melunak. Saat itu dia sudah yakin betul akan janji setia Naja.
"Daisy Olivia,"
"Mulai hari ini namamu Kaylee Naja. Orangku akan mengurus perubahan dokumen kenegaraanmu dan juga kebutuhan keluargamu. Operasi mukamu, karena kau tak akan bisa menjalankan misi yang ku berikan dengan muka mengerikan seperti itu," Prabu beranjak dari sofa dan beralih duduk di kursi kerjanya.
Setelah menjalani operasi pada wajahnya, satu tahun kemudian Naja kembali menemui Prabu Dewangga dengan wajah baru, identitas baru, dan skill yang lebih sempurna sehingga siap menerima semua misi yang akan diberikan oleh majikan barunya. Di saat itulah Prabu Dewangga siap menyerahkan pucuk kepemimpinannya di Dewangga Group kepada putranya, Ryan Dewangga.
End of flashback
***
"Siapa dia?" tanya Ryan menelisik.
"Naja ini yang akan mengantarkan kemanapun menantu Papa pergi, juga mengurus semua kebutuhan Rani. Mulai hari ini dia akan tinggal di rumah ini," Prabu menatap Rani dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Tapi, Pa...," Rani berusaha protes, namun Ryan langsung mengenggam tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Mas setuju dengan Papa. Mulai saat ini memang kamu tidak boleh kemana-mana sendiri," ucap Ryan tidak bisa dibantah lagi.
Rani hanya mendengus kesal.
__ADS_1
"Baiklah. Kini jiwa bebasku benar-benar akan terkekang," gumam Rani dalam hati.
"Baiklah, terserah kalian saja," akhirnya Rani menyerah.
Prabu pun tersenyum puas begitu melihat anak dan menantunya sangat menurut kepadanya.
Sebenarnya semua yang dilakukan Prabu bukan tanpa alasan. Sejak sebelum putranya menikahi Rani, Naja dan timnya sudah mengorek informasi dan mengikuti semua pergerakan Rani. Jadi tidak heran ketika Prabu sangat mengetahui seberapa besar bahayanya sang menantu pasca kasus Era Bank mencuat, juga terkait dengan penyelamatan Nina yang membuat Daniel Cullen kehilangan Charlie's Cafe beserta dengan pundi-pundi potensinya.
Karena hal itulah Prabu memilih untuk mengenalkan Naja sebagai supir sekaligus sekretaris pribadi yang akan menjaga sekaligus melayani segala kebutuhan Rani. Prabu betul-betul yakin bahwa Naja adalah orang yang paling tepat berada di dekat Rani.
Setelah sesi perkenalan selesai, semua yang ada di ruang itu pun menuju kamar masing-masing, yang telah disiapkan Bik Tum sebelumnya. Kini yang masih bertahan di ruang itu hanya Arya, Rani, Ryan serta kedua orang tuanya.
Setelah Ryan dan Rani menjelaskan seputar kesehatan dan keguguran dari janin yang dikandung Rani, Prabu dan Titania pamit pulang, diikuti Arya yang sudah sangat ingin menemui istri yang baru dinikahinya tapi sudah terus dia tinggalkan demi segala macam pekerjaan dan kesibukannya itu.
***
Langit yang sempat memerah pun kini mulai menghitam perlahan. Mengantarkan jiwa rindu sesosok manusia yang sudah tak sabar bertemu dengan belahan hatinya. Untung saja Arya mendapatkan jalan tikus hingga dapat membuat dia menghemat separuh waktunya. Jika tidak, maka akan semakin lama pula Arya dapat bertemu dengan istri cantik yang begitu ingin segera ditemuinya.
Benar saja, secepat kilat Arya berhasil memasuki area parkir apartemen yang terbilang sangat mewah itu. Begitu sampai di depan pintu, Arya terlihat menekan beberapa nomor untuk membuka pasword pintu apartemennya. Begitu pintu terbuka, Arya langsung melangkahkan kakinya masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang.
"Assalamu'alaikum. Deeba! Deeba!" panggil Arya kepada istrinya. Tak ada satu suara pun yang menyahutnya.
Arya mencari ke kamar, ke ruang tamu, dan dapur, namun tak mendapatkan istrinya ada di sana. Berkali-kali Arya mencoba menephonnya, hasilnya nihil. Lena sama sekali tidak mengangkat telphonnya.
Arya mulai cemas, selama beberapa waktu dia terus mondar-mandir sambil sesekali menempelkan benda pipih di telinganya. Hingga tak berapa lama, pintu pun terbuka. Terlihat wajah ayu Lena muncul dari balik pintu dengan menenteng tas belanja di tangan kanan dan kirinya.
"Ya ampun, Sayang. Kamu dari mana saja sih. Kakak bilang jangan keluar sendirian apapun alasannya. Kenapa kamu tak mendengarkan perkataanku heh?" Arya sedikit mengeraskan suaranya.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya keluar sebentar karena isi kulkas sudah habis. Kalau aku tak berbelanja, tidak ada makan malam hari ini. Jadi kumohon, jangan bentak aku seperti itu," lirih Lena. Kini air matanya meleleh begitu saja karena ucapan Arya yang terdengar membentaknya.
"Kakak tidak bermaksud seperti itu. Maaf. Kakak hanya mengkhawatirkanmu," Arya terlihat sangat menyesali ucapannya. Dia berjalan mendekati istrinya kemudian mengecup ujung kepala yang tertutup hijab itu.
Lena tak bergeming. Dia masih kesal dengan perkataan Arya tadi.
"Kakak kangen," bisik Arya tepat di telinga Lena.
Seperti harapan, kalimat lembut itu sukses membuat Lena menyerah. Dia mendorong begitu saja tubuh suaminya hingga hampir terjatuh, kemudian di peluknya erat-erat.
"Aku juga kangen Kak Tama. Banget," Lena mulai menunjukkan kerinduannya.
Mendengar ucapan istrinya yang mulai merajuk itu, Arya pun tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Baiklah. Kakak mau makan apa malam ini?" tanya Lena sambil mrndongakkan wajahnya.
"Kakak ingin memakanmu saja," Arya mengatakannya setengah berbisik sambil mengerlingkan matanya. Tanpa aba-aba, Arya meraih tentengan Lena dan meletakkannya di lantai begitu saja, kemudian menggendong tubuh kecil itu dan membaringkannya di tempat tidur mereka.
Wajah Lena semakin memerah, menahan malu. Namun rasa rindu membuat mereka seakan tak punya lelah mendaki rasa. Dan malam itu, waktu memberi kesempatan kepada mereka untuk terus berkisah, sampai mereka berdua selesai hingga ke puncaknya.
"Ada yang ingin kuceritakan kepadamu," lirih Arya sambil membalikkan tubuhnya dan tidur di samping Lena. Dari ekspresi wajah suaminya yang tiba-tiba serius, sukses membuat istri yang sok ingin tahu itu penasaran.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Jangan lupa tinggalkan vote, like dan rate 5 ya gyus...
__ADS_1