
Sepanjang perjalanan, Rani hanya terdiam. Mau tak mau, pertemuannya dengan Tante Safira membuat angannya mengembara pada kisah beberapa tahun silam. Ryan pun sangat tahu, bahwa sikap Rani itu bukan karena masih ada cinta di hati Rani. Namun, lebih karena rasa bersalah yang masih terpatri, membuat emosi Rani menjadi tak terkendali.
Bagaimana tidak? Tede adalah orang yang sudah masuk dalam kehidupan Rani sekian lama, bahkan mereka berpisah hanya dalam hitungan jam sebelum acara lamaran keduanya tiba. Yang lebih menyesakkan lagi adalah ketika pada akhirnya Rani tahu, bahwa Tede memilih untuk pergi karena sakit kronis yang dokter voniskan kepadanya, sebelum akhirnya Tede harus meregang nyawa karena penyakit yang dideritanya.
"Sayang, apa kau tak apa-apa? Tolong katakan sesuatu, jangan diam saja seperti itu. Kau benar-benar telah membuat Hubby takut," cecar Ryan sambil menyodorkan sebuah minuman untuk istrinya.
"Rani baik-baik saja, Hubby," sahut Rani sembari menerima botol itu dengan tangannya. Setelah beberapa kali tegukan, Rani memberikan botol itu kembali ke tangan suaminya.
"Sekarang, kita mau kemana? Apa kita jadi makan, Sayang?" tanya Ryan lagi.
"Rani sudah nggak lapar lagi, Hubby. Lain kali saja kita agendakan lagi," Rani menggeleng pelan.
"Katanya tadi pengen makan di luar?" ingat Ryan lagi.
"Rani betul-betul nggak lapar, By," rajuk Rani. Matanya bahkan kini memerah, menahan tangis yang sudah begitu ingin tumpah.
"Kamu nggak lapar, tapi putra kita di dalam perut kamu ini butuh asupan, Sayang. Kita makan dulu ya? Bagaimana kalau kamu yang tentukan menunya? Kita makan apapun yang kamu inginkan. Oke?" mode baik Ryan untuk urusan makanan sedang membaik. Jarang-jarang loh, Ryan memberikan kebebasan pada Rani untuk memilih makanannya sendiri, mengingat makanan yang disukai Rani kebanyakan makanan tak sehat berupa makanan cepat saji, makanan bersaus, atau makanan di pinggiran jalan yang menurut Ryan kurang higienis. Ya, Rani dan Ryan memang sangat bertolak belakang untuk urusan makanan. Makanya, kebiasaan Ryan yang tidak pernah bisa dia tinggalkan adalah mengecek semua makanan yang akan istrinya makan.
"Kita pulang saja yuk, By. Kita makan di rumah saja," Rani tetap memilih melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali.
__ADS_1
"Bener nih? Apapun makanan yang kamu mau loh ini," goda Ryan lagi.
Dalam kondisi normal, Rani akan berteriak girang. Tapi karena waktu itu Rani benar-benar sedang bad mood, jadi tanpa pikir panjang tawaran Ryan itu dengan mudah dia lewatkan.
Hal inilah yang membuat Ryan penuh dengan kekhawatiran. Rani yang biasanya ramai dan penuh dengan keceriaan, hari ini menjadi pendiam dan sulit untuk dikondisikan.
"Baiklah kita pulang. Lagian kamu juga harus banyak-banyak beristirahat," putus Ryan sambil mengusap ujung kepala Rani dengan sayang.
***
Di kediaman keluarga Dewangga, Daniel yang sudah digandeng Naja sedang berjalan-jalan di taman belakang, satu hal yang tidak pernah Daniel lakukan sepanjang hidupnya ketika dunianya belum dipenuhi dengan sebuah kegelapan.
Tapi semenjak Daniel menjadi buta, menikmati udara sejuk serta harumnya bunga-bunga di taman seolah menjadi kebiasaan barunya. Bagaimana tidak? Sudah dua bulan lamanya Daniel merasa menjadi orang yang tidak berguna, yang hanya bisa merepotkan orang lain saja. Satu-satunya aktifitas yang bisa dilakukannya hanyalah menikmati indahnya hidup dengan indra lain selain netranya.
"Sejak kapan kamu jadi melow seperti ini, Sayang?" Naja tak menanggapi ocehan suaminya. Dia tidak ingin ikut dramastis menanggapi musibah yang menimpa suaminya, karena hal itu justru akan semakin membuat Daniel larut dalam kesedihannya.
Kini Naja mengajak suaminya duduk, di kursi besi panjang yang berada tak jauh dari posisi mereka bercengkrama.
"Apa kamu tidak bosan, menghabiskan waktumu hanya untuk merawat suami yang buta seperti aku?" Daniel masih ingin membahas masalah itu. Sebuah kekhawatiran bahwa dirinya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayang, tiba-tiba sangat mengganggu pikiran.
__ADS_1
"Sssttt. Sudah kubilang ratusan kali, kita akan menghadapinya bersama-sama, Sayang," sergah Naja. Dia benar-benar heran kenapa tiba-tiba Daniel menjadi semelow ini menghadapi masalahnya.
"Tapi sampai kapan?" keluh Daniel. Dia terlihat begitu putus asa. Bahkan dia tahu, Ryan dan seluruh anak buahnya sudah bekerja sangat keras hanya demi mendapatkan donor mata untuknya, tapi hasilnya nihil. Daniel sudah menunggu sekian lama, tapi donor itu tak kunjung tiba.
"Selamanya. Semua hal baik suka maupun duka, kita akan menjalani semuanya bersama-sama," sahut Naja meyakinkan. Kini dia menyandarkan kepalanya, pada bahu suaminya yang saat ini tak bisa melihat wajahnya.
"Sayang, kau bisa bicara seperti itu sekarang. Tahu kenapa? Karena ini baru kita lewati selama dua bulan. Bagaimana jika aku tak akan pernah mendapatkan donor mata itu, hingga aku akan buta seumur hidupku?" cecar Daniel semakin sendu. Pikirnya, segala kemungkinan itu pasti ada. Karenanya, dia harus mempersiapkan segala kemungkinannya dari sekarang.
"Hey, sejak kapan suami kesayanganku jadi pesimis seperti ini? Kita akan segera mendapatkan donor mata untukmu, Sayang. Bersabarlah," Naja masih dengan gayanya yang ceria, mencoba menyemangati Daniel yang saat ini sedang berada pada posisi terendahnya.
"Aku tak yakin soal donor mata itu, Sayang. Sampai kapan aku harus menunggu," Daniel mengeluh lagi.
"Kau tak boleh seperti itu, Sayang. Kau harus bersemangat dan berprasangka baik, agar Allah juga segera mendekatkan pendonor itu hingga transplantasimu bisa segera dilakukan. Kau tahu, Allah itu ngasih ke kita sesuai dengan prasangka hambanya. Jadi berprasangka baiklah agar hal-hal baik itu datang dalam hidup kita," oceh Naja panjang lebar kali tinggi.
"Tapi ...," Daniel tak melanjutkan kalimatnya.
"Sssttt, Sayang. Jangan ragukan cinta dan kesetiaanku. Aku mencintaimu, seutuhnya. Bukan karena ketampanan dan kesempurnaan fisikmu, tapi aku mencintai semua yang ada padamu tanpa kecuali. Baik kelebihan maupun kekurangan, semua sudah menjadi bagian dari deru nafasku yang berdenyut dalam setiap denyar nadi yang menghidupi jiwa dan ragaku," Naja terus meyakinkan kepada suaminya bahwa semua akan tetap baik-baik saja.
Tanpa Daniel dan Naja sadari, Ryan dan Rani yang baru saja masuk ke dalam rumah, secara tidak sengaja mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sebenarnya Ryan ingin langsung menghampiri mereka saat dirinya masuk dan melihat Daniel juga Naja sedang berjalan-jalan di taman belakang. Tapi begitu dia mendekat dan mendengar apa saja yang mereka bicarakan, membuat Ryan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tak berguna ini, Niel. Tapi kau harus percaya kepadaku, aku akan segera mendapatkan pendonor itu untukmu," gumam Ryan dalam hati.
BERSAMBUNG