METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tak ada kebohongan


__ADS_3

Ryan tidak berani berucap apapun sampai wanitanya bisa di ajak bicara. Dia hanya terus mengelus kepala Rani sambil sesekali mengecup bagian yang kini tak tertutup hijab itu.


Sebenarnya ingin sekali Ryan membasuh air mata yang masih terus meleleh dipipinya. Mungkin dengan begitu, luka di hatinya akan kering. Bahkan jika bisa, Ryan ingin menghirup air mata Rani agar segala kesedihan itu hanya menjadi miliknya.


"Hemhmh," Ryan mendengus kasar.


Bahkan masih Ryan bingkai bayangan indah riuh tawa di ranjang itu semalam, meski belum sempat Ryan katakan bahwa cinta itu sudah tumbuh subur di hatinya yang terdalam.


"Apa aku harus katakan sekarang bahwa aku sungguh mencintainya?" batin Ryan dalam hati.


"Tapi jika dia mengira bahwa aku mengatakannya hanya untuk menutup kejadian tadi pagi bagaimana?" Ryan benar-benar bimbang dengan gejolak hatinya.


Awalnya Ryan berpikir akan sangat menyenangkan jika kemarahan itu ada di hati Rani, akibat tersulutnya api cemburu yang sangat sulit dipadamkan. Karena Ryan kira, memadamkan perapian dalam hati Rani akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ternyata salah. Luka itu mungkin terlalu dalam, hingga mengobatinya tak mudah seperti yang dibayangkan.


"Sayang?" setelah beberapa lama akhirnya Ryan memberanikan diri.


Tak ada sahutan dari balik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh Rani. Ryan semakin mendekat, dengan ragu diciumnya harum tubuh itu, yang ternyata telah terlelap dengan nafas teratur meski matanya terlihat sembab.


"Kamu tidur?" gumam Ryan lirih, sambil menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah Rani yang meski terlihat lelah tapi masih tampak ayu alami.


Ryan pun memutuskan untuk mengganti bajunya yang sempat basah terkena air shower, kemudian masuk dalam selimut dan memeluk tubuh polos Rani hingga dia ikut terlelap.


***

__ADS_1


"Sayang, sudah lewat maghrib. Ayo kita sholat sebelum waktunya habis!" bisik Ryan di telinga Rani.


Rani yang mendengar bisikan Ryan terperanjat kaget dan langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Ryan pun melihat tubuh polos itu melenggang di depannya, dan hanya mampu menelan ludah. Andai saja wanitanya sedang tidak marah, entah apa yang sudah terjadi.


Sementara Rani, dia menatap dirinya di cermin dengan mata membelalak. Dia baru tersadar bahwa tubuh itu polos tanpa sehelai benang pun. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang sedari tadi terjadi, dan seketika mukanya menjadi merah.


Setelah membersihkan diri dan berwudhu, Rani mengenakan jubah mandi, keluar dan mengenakan mukenanya kemudian menunggu Ryan untuk sholat berjama'ah tanpa berkata apapun. Ryan yang melihat apa yang dilakukan istrinya itu pun mengerti kemudian bergegas mengambil wudhu.


Tak berapa lama, mereka sholat berjama'ah dengan kondisi hati masing-masing. Bahkan sesekali, isakan itu masih terdengar di sela-sela kekhusyukan mereka. Dan seperti biasa, setelah salam kedua Ryan membalikkan tubuhnya hingga mereka duduk saling berhadapan. Rani mencium punggung tangan suaminya, kemudian langsung beranjak tanpa menunggu Ryan mengecup keningnya seperti biasa.


Ryan yang menyadari hal itu segera meraih tangan Rani, dan sedikit menariknya hingga Rani terduduk di tempat semula. Kini mereka kembali saling berhadapan.


"Rani tidak akan terluka jika Mas Ryan tidak sedekat itu dengan Meysie. Mas Ryan itu pria beristri. Sedekat apapun Mas Ryan dengan Meysie, tidak boleh ada kontak fisik dengan wanita lain," jawab Rani dengan terbata. Kepalanya terus tertunduk, tidak berani menatap suaminya yang sedang memandangnya lekat.


"Apa kamu cemburu? Katakanlah bahwa kamu cemburu!" tanya Ryan penasaran. Jika Rani menangis karena cemburu, itu artinya Rani mencintainya.


"Bukan masalah Rani cemburu atau tidak. Tapi apa pun alasannya, Mas Ryan sudah mengkhianati janji Mas Ryan sama Rani. Mas waktu itu bilang akan menjaga diri dari wanita lain. Buktinya sekarang apa? Orang yang Mas Ryan cintai memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dan ingin kembali pada Mas. Dia sampai menangis mengatakan itu, dan Mas menggenggam mesra tangannya. Istri mana yang rela Mas? Istri mana? Bahkan Rani tidak berani membayangkan, kalimat apa yang Mas Ryan pilih untuk menjawab permintaan Meysie," jawab Rani penuh emosi. Kini buliran air bening itu kembali menetes di pipinya.


"Memang menurut kamu Mas mu ini menjawab apa? Ingin kembali bersamanya, begitu? Mas sudah bilang, Sayang. Semua tidak seperti yang kamu lihat. Mas hanya ingin menguatkannya, tidak lebih. Bahkan rasa cinta itu sudah lama hilang dari hati Mas. Sekarang hanya kamu Wanita yang ada di hati Mas dan akan terus seperti itu," jelas Ryan panjang lebar.


Rani hanya terdiam mendengar penjelasan suaminya. Dia mencoba mencari kejujuran dari tatapan Ryan, dia melihat tidak ada kebohongan disana.

__ADS_1


"Kamu tahu, bahkan begitu pelayan memberi tahu bahwa kamu datang kemudian pergi dengan menitip pesan itu, jantung Mas seperti ingin berhenti. Mas langsung pergi menyusulmu meninggalkan Meysie yang masih tergugu di meja itu. Sayangnya Mas kalah cepat. Kamu sudah pergi tanpa Mas tahu kemana tempat tujuan kalian, sedangkan hp mu pun tak kau pegang," lanjut Ryan sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Rani kembali tertunduk, masih dalam diam. Sungguh, hati kecilnya ingin sekali percaya dengan apa yang Ryan katakan. Namun di sudut ruang hatinya yang lain, terus berpikir bahwa cinta itu bukan untuknya, tapi untuk kekasih pujaan yang dikenalnya di Amerika.


"Sayang?" panggil Ryan sambil mengangkat dagu istri yang ada di depannya.


"Lihatlah mata Mas. Apa kau melihat ada kebohongan disana?" tanya Ryan.


Rani menatap lekat mata itu. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali begitu melihat ada kejujuran disana.


"Apakah kau percaya padaku? Percayalah, Sayang. Dan maafkan aku!" tanya Ryan kembali, kali ini dengan senyum hangatnya.


Rani pun hanya mengangguk. Melihat ekspresi wajah Rani yang sudah berubah, Ryan segera menarik tubuh Rani dan mendekapnya erat. Setelah membantu melepas mukenanya, Ryan tak sia-siakan moment indah yang ada di hadapannya itu. Bukankan setelah berseteru biasanya setiap pasangan akan rindu dan lebih menggebu?


Dia segera menggendong tubuh Rani dan membaringkannya di atas tempat tidur, kemudian menutupnya dengan selimut untuk menghangatkan tubuh kecilnya. Diusapnya kepala istrinya itu dengan penuh kelembutan, sebelum akhirnya dia ikut berbaring untuk melewati malam.


Walaupun saat itu ingin sekali dia ungkapkan rasa cintanya, namun Ryan memilih untuk mencari saat yang tepat. Dia akan membiarkan istrinya itu tahu dengan sendirinya, bahwa cinta Ryan dibuktikan dengan apa yang dilakukan untuk membahagiakannya, bukan sekedar cinta yang terucap dengan kata-kata.


BERSAMBUNG


Hai Readers...


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2