
“Anda panggil saya apa, Tuan? Nak? Kenapa baru sekarang Anda panggil saya dengan sebutan itu, heh? Kemana saja Anda selama ini sehingga membiarkan saya dan ibu saya harus hidup menderita dalam waktu yang sangat lama. Anda tidak lebih dari seorang suami dan ayah pengecut dan tidak bertanggung jawab,” teriak Daniel penuh emosi. Dia menatap Prabu dengan tatapan membunuh yang mengerikan.
“Semua tidak seperti yang kamu lihat, Nak. Jika kau tak percaya kepadaku, mari kita dengarkan kejujuran dari ibumu,” tutur Prabu datar. Dia berusaha setenang mungkin menghadapi anak muda yang obsesinya melejit jauh melebihi usianya itu.
“Cukup! Aku tidak mau mendengar ocehanmu. Ibuku sudah sangat menderita karena kelakuanmu. Kini giliranku membalas semua sakit yang telah dia rasakan,” Daniel tiba-tiba berdiri dan menarik pelatuk senjata api yang berada di balik celananya ke arah Prabu Dewangga.
“Daniel! Jangan, Nak. Mungkin kau takkan ingat jika Tante pernah merawatmu seperti anak Tante sendiri. Tapi setidaknya rasakanlah kehadiran Tante di hatimu. Tidakkah kau merasakan sentuhan seorang ibu yang pernah membelaimu dulu?” Titania mendekati Daniel dan membelai lembut wajahnya.
Sesaat, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hati Daniel ketika merasakan sentuhan wanita paruh baya itu. Bahkan Daniel sempat larut dan hanyut dalam sensasi luar biasa, sama persis seperti yang dia rasakan saat Aghata membelai lembut wajahnya. Namun tiba-tiba, dia menghempaskan tangan itu begitu saja. Rasa dendamnya yang terlanjur mengakar dalam hatinya, tidak mampu dia hilangkan begitu saja.
“Kau pandai bersandiwara, Tante. Apakah kau belajar dari si tua bangka ini?” teriak Daniel kasar.
Daniel pun sudah tak lagi sabar menghadapi kedua orang tua di hadapannya yang terus membujuknya agar dia menghentikan aksinya, hingga dia menarik pelatuk senjatanya dan siap melepaskan satu peluru ke arah seorang ayah yang dianggapnya tak bertanggung jawab itu.
Satu. Dua. Tiga. Daniel benar-benar menarik pelatuk senjatanya. Didetik yang sama...,
“Jangaaan!!!” Aghata yang baru sampai ke tempat itu dan Titania yang berada di sebelah Daniel berteriak secara bersamaan.
Prabu dan Daniel sama-sama membelalakkan mata ketika melihat dua wanita di hadapannya jatuh tersungkur ke lantai. Titania terlihat memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak hingga pingsan seketika, sementara Aghata jatuh begitu saja setelah menghalangi Prabu dari peluru yang dilepaskan oleh anaknya.
“Titania! Aghata!” seru Prabu
“Mommy!” teriak Daniel, sambil membuang senjata itu begitu saja.
Kini mereka menghambur ke arah dua wanita itu dengan perasaan cemas yang luar biasa. Daniel terus mengisakkan tangisnya melihat darah mengucur deras dari arah punggung ibunya, sementara Prabu, Ryan dan Arya yang datang bersama Aghata segera menghampiri Titania dengan segala rasa cemas yang terlihat dari raut wajah mereka.
__ADS_1
***
Flashback
“Atas perintah Tuan Besar, apapun yang terjadi kalian fokus pada Nyonya Aghata. Bawa dia kemana Daniel membawa Tuan dan Nyonya besar setelah kalian mendapatkan Nyonya Aghata! Daniel pasti akan membawa Tuan dan Nyonya pergi menemuinya, sedangkan aku pasti akan mereka bawa bersama Nyonya Aghata. Setelah apa yang aku lakukan di Jerman, dengan mudah Daniel pasti akan mengenali siapa sesungguhnya diriku,” sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Rudi saat mereka berada dalam perjalanan menuju Bandara.
“Ada pesan dari Naja, Tuan,” lapor Rudi pada Ryan yang saat itu duduk di kursi penumpang di belakang bersama Arya.
“Baiklah. Kita tunggu di luar Bandara. Kau bisa melacak dengan mudah keberadaan Naja bukan?” tanya Ryan datar.
“Alat pelacak kami ada di dalam tubuh kami, Tuan. Dengan mudah Anda bisa tahu keberadaaan Naja,” jawab Rudi disertai dengan senyum tipisnya. Dia sangat yakin ketika Ryan mendengarnya, pasti dia akan tersadar kenapa dari kemarin dia tidak mengecek keberadaan Naja.
“Kau pasti sedang mengejekku bukan?” tutur Ryan tajam. Dia sungguh terlihat sangat kesal.
“Saya tidak berani, Tuan,” Rudi terlihat ketakutan.
“Naja sudah memasang alat pelacak di pakaian dalam Nyonya Besar, Tuan,” kali ini Rudi menjawab dengan datar, takut kalau tuan mudanya itu naik pitam.
Setelah diskusi panjang tentang apa yang akan mereka lakukan, akhirnya mereka berhenti di pinggir jalan yang lokasinya cukup jauh dengan Bandara. Hal ini mereka lakukan untuk menghindari kontak fisik berlebihan seperti yang telah Prabu perintahkan.
Kini mereka fokus pada benda pipih yang sedang dipegang Arya. Dari sana terlihat bahwa Naja dan Prabu bergerak keluar dari Bandara dengan arah yang berbeda. Sesuai instruksi yang telah Prabu berikan, mereka fokus pada pergerakan mobil yang membawa Naja, yang menurut prediksi mereka Aghata ada bersamanya.
Mereka pun terus mengikuti kemana arah mobil yang membawa Naja bergerak. Hingga akhirnya mereka nampak berusaha agar mobil mereka berjalan beriringan. Tiga mobil milik anak buah Daniel dan lima mobil milik anak buah Ryan pun saling melajukan mobilnya dengan kencang. Sesekali, mereka saling menabrakkan mobil mereka satu sama lain hingga ke luar dari jalanan, sesekali mereka berusaha saling menyelip untuk menghentikan satu mobil yang menjadi sasaran. Dan akhirnya, mobil yang ditumpangi Ryan dan Arya berhasil memalang jalan sehingga mau tak mau mobil yang ditumpangi Aghata dan Naja berhenti mendadak dengan sempurna.
Dua orang anak buah Daniel yang bertugas membawa Aghata dan Naja ke apartemen Daniel pun keluar, kemudian mengeluarkan senjata hendak menyerang Ryan dan Arya secara bersamaan. Namun di saat mereka mengarahkan senjata itu kepada mereka, dengan sigap Naja keluar dan menendang senjata itu begitu saja. Arya dan Ryan pun segera membantu Naja melawan mereka satu per satu dengan baku hantam, diikuti seluruh anak buah masing-masing yang kini sudah saling melakukan perhelatan. Hingga tiba-tiba...,
__ADS_1
“Hentikan!” Aghata teriak sekencang-kencangnya, berusaha menghentikan perkelahian yang menurutnya tidak perlu dilakukan itu.
Mendengar teriakan Aghata, Ryan langsung berhenti dan menghampiri sosok wanita yang masih sangat jelas terekam.
“Tante?” Ryan menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya. Aghata pun hanya tersenyum dan membalas pelukan Ryan dengan linangan air mata. Di saat melihat pemandangan itulah seluruh anak buah Daniel juga anak buah Arya saling bertatapan kemudian menghentikan perhelatan sengit yang sedari tadi mereka lakukan.
“Kita tidak punya banyak waktu, Tante. Papa dan Mama dalam bahaya,” ucap Ryan yang kemudian di angguki oleh Aghata.
Tak mau membuang waktu, mereka pun langsung masuk mobil dan menuju ke satu lokasi yang ditunjukkan benda pipih yang masih di pegang Arya.
Hanya dalam waktu lima belas menit, akhirnya mereka sampai ke sebuah bangunan yang mereka duga adalah kediaman Daniel Cullen itu. Awalnya cukup sulit menembus pengamanan berlapis yang super ketat, tapi dengan bantuan Aghata yang dikenal anak buah Daniel sebagai ibu dari tuannya, akhirnya mereka dapat masuk dengan leluasa.
Mereka pun segera berlari menuju ruang utama, namun alangkah terkejutnya ketika mereka melihat Daniel sedang mengarahkan senjatanya ke arah Prabu Dewangga dengan pelatuk sudah siap ditariknya.
Dor....
Satu tembakan dilayangkan, namun Aghata tak mau kehilangan kesempatan. Secepat kilat dia berlari ke arah Prabu dan memeluknya dari depan hingga peluru dari senjata Daniel tepat mengenai punggung Aghata.
Sementara di sisi yang lain, Titania yang melihat Daniel benar-benar menarik pelatuknya dan mendengar suara tembakan itu benar-benar keluar dari senjata yang dilihatnya, tiba-tiba merasa sesak dengan nyeri di bagian dada hingga akhirnya ambruk dan pingsan seketika.
End of flashback
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
*Jangan pelit bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up* setiap hari. hehehe...
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih**.