METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Apa Yang Kamu Takutkan?


__ADS_3

Pagi adalah sebait rindu ketika malam berlalu, berganti dengan warna jingga merona sang fajar yang muncul dari ufuk timur. Seperti biasa, bait-bait do'a kini teruntai dari mulut manis sepasang kekasih itu, dengan paragraf-paragraf cinta dalam munajat panjang yang terlantun dengan irama penuh rasa syukur yang mengharu biru.


"Apa Hubby bahagia?" pertanyaan itu yang muncul dari mulut Rani, yang kini masih mengenakan mukena di atas ranjang pasien itu.


Ryan mengerutkan dahinya. Dia langsung melipat sajadah, meletakkannya di atas nakas, kemudian menghampiri Rani dan membantu melepas mukena yang masih membalutnya.


"Pertanyaan macam apa itu, Sayang? Tentu saja Hubby bahagia. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Ryan mengecup kening Rani kemudian menatap calon ibu dari anaknya itu dengan lekat.


Rani membalas tatapan suaminya hingga mata mereka saling beradu, dengan desiran hati yang tak menentu. Dia menelusuri langit-langit di mata Ryan, yang memancarkan betapa bahagia itu benar-benar menggelora di sana.


Sungguh, dilihat dari raut wajahnya, Ryan betul-betul terlihat sangat bahagia. Ya, kabar kehamilan Rani adalah satu-satunya alasan mengapa dia bisa sesemangat itu. Bagaimana tidak? Mereka sudah cukup lama menunggu, setelah Rani pernah keguguran ketika itu.


"Apa yang kau rasakan?" Ryan balik bertanya. Dia benar-benar tahu bahwa jika istrinya sudah bertanya seperti itu, pasti dia sedang tidak baik-baik saja.


Tidak ada jawaban. Ryan terus menatap wajah istrinya meminta penjelasan, tapi justru bibir Rani bergetar. Matanya pun kini menggenang, hingga akhirnya butiran demi butiran kristal bening, berhasil lolos dari ujung matanya, yang sudah tidak lagi mampu menahan bulir-bulir itu di sana.


"Sayang?" lagi-lagi Ryan meminta jawaban. Dia sungguh tidak habis pikir, kenapa gadisnya bisa tiba-tiba berubah menjadi seaneh itu sejak dia mengabarkan berita tentang kehamilannya semalam.


"Entahlah. Rani hanya ...," Rani menghentikan kalimatnya. Tangisnya justru pecah begitu saja.


"Hey, kok malah mewek?" Ryan merengkuh istrinya dan mengelus bahunya dengan lembut. Ryan bukannya tidak tahu bahwa Rani belum sepenuhnya siap menjadi seorang ibu. Secara usia, Rani memang baru berumur 24 tahun, usia emas dimana dia sedang full power dalam menggapai puncak karir yang tentu sangat didambakannya. Namun, bukankah setiap pasangan yang menikah, cepat atau lambat pasti akan mengakhiri fase dimana hanya ada mereka berdua, dan harus siap menerima kehadiran buah dari cinta mereka?


"Kamu takut?" cecar Ryan. Tangannya meraih dagu Rani dan mengangkatnya agar mereka bisa saling bertemu mata. Tak tahan dengan kegalauan istrinya, Ryan pun tak ragu mengecup bibir ranum itu dengan hangat, kemudian melepasnya dan menatap matanya lagi dengan lekat.


Rani hanya mengangguk, kemudian menghambur lagi dan mengeratkan pelukannya. Sejak dia bangun dari tidurnya memang dia terlihat begitu gelisah.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?" Ryan berusaha mengerti. Dielusnya ujung kepala Rani sambil mengecupnya berkali-kali.


"Kalau anak kita lahir nanti, apakah Hubby masih akan mencintai dan memperhatikan Rani? Rani takut Hubby hanya memperhatikannya dan melupakan Rani begitu saja," cicit Rani mengungkapkan keresahan hatinya. Dilihat dari ekspresi mukanya, sungguh terlihat bahwa dia sedang tidak bercanda dengan pertanyaannya.


"Hah? Kamu cemburu sama anakmu sendiri?" Ryan seolah tidak percaya dengan ucapan istrinya.


"Bukannya begitu. Pasti Hubby hanya akan memperhatikannya dan melupakanku," cibik Rani manja.


"Ha-ha-ha. Kamu ini lucu, Sayang. Masa sama anak sendiri cemburu. Tentu saja Hubby akan lebih memperhatikannya. Dia kan lebih butuh Hubby dari pada kamu," Ryan justru menggoda. Menurutnya, pertanyaan Rani sungguh lucu.


"Tuh kan, Hubby," Rani memanyunkan bibirnya, bahkan kini matanya kembali berkaca-kaca.


"Ya tentu. Dia kan darah daging Hubby. Gimana sih kamu?" sahut Ryan lagi. Ryan tergelak, merasa sangat geli dengan Rani yang merasa khawatir kalau cinta dan perhatiannya akan terbagi.


"Hubby, terus Hubby nggak akan perhatiin Rani lagi? Gitu? Hubby pasti akan lebih menyayanginya dari pada aku" ucap Rani bahkan lebih terdengar seperti sebuah teriakan.


"Terus?" tuntut Rani.


"Gimana ya njelasinnya? Duh ...." Ryan terlihat bingung. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hubby kan pengen banget punya anak. Kalau Hubby sudah mendapatkannya pasti Hubby lupa sama aku," seru Rani lagi.


"Kamu itu lucu, Sayang. Kayak anak kecil saja, tau nggak?" Ryan tidak bisa menahan tawanya. Namun, ketika dia tersadar bahwa muka istrinya sudah berubah, dia segera menutup mulutnya dengan tangannya sambil sibuk mengutuki dirinya yang tak peka dengan emosi istrinya yang sedang hamil itu.


"Kenapa Hubby menertawakan Rani. Hubby jahat. Jahat," Rani menangis tersedu-sedu, bahkan seperti anak kecil. Ryan berusaha merengkuhnya lagi, namun Rani terus menghempaskan tangan Ryan begitu saja.

__ADS_1


"Loh kok jadi begini? Apa semua drama ngidam ibu hamil yang Arya ceritakan itu sudah dimulai?" batin Ryan dalam hati.


Ryan menarik nafas panjang kemudian melepaskannya pelan-pelan, berusaha mengumpulkan kekuatan dan kesabaran.


"Ayolah, Ryan. Ayolah. Ini semua baru awal. Masih ada delapan bulan lagi yang akan kamu hadapi bersama ibu hamil yang satu ini," gumam Ryan lagi dalam hati.


"Sayangku. Kamu dan buah hati kita yang kini masih berada dalam kandunganmu ini adalah mutiara paling berharga yang Hubby punya. Sebelum atau setelah dia lahir ke dunia, itu semua tidak akan pernah mengubah apapun. Hubby sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian berdua. Karena itu, jangan pernah meragukan cinta Hubby kepadamu. Karena sampai kapanpun, rasa cinta Hubby kepadamu tidak akan pernah berubah. Kamu mengerti?" tutur Ryan lembut. Dia harus lebih berhati-hati ketika berbicara dengan ibu hamil itu sekarang. Jika tidak, bisa perang dunia ketiga seperti Arya dan Lena kemarin.


"Hubby janji kan?" rajuk Rani. Dia terus bergelayut manja. Tangannya melingkar manis di leher suaminya, sementara kepalanya dia tenggelamkan ke leher jenjang pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah bagi janin yang kini sedang dikandungnya.


"Hubby janji," senyum Ryan mengembang, seiring dengan tangannya yang memeluk tubuh kecil itu dengan semakin kencang. Rani yang mendapat perlakuan lembut dari suaminya itu pun agak sedikit tenang. Minimal setelah melahirkan dia tidak akan dilupakan.


"Tapi ada satu hal lagi yang Rani takutkan," tiba-tiba wajah Rani berubah. Meskipun sudah tidak menangis lagi, namun rasa gelisah yang dia rasakan benar-benar terpancar dari ekspresi wajah Rani saat ini.


"Apa?" Ryan mengerutkan dahinya.


"Rani takut itu, Hubby. Takut anu ...," sahut Rani ragu.


"Iya, takut apa, Sayang?" cecar Ryan sungguh tidak sabar.


"Mmm, Rani takut kalau ...,"


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate 5 dan comment positifnya ya. Terima kasih.


__ADS_2