METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Akan Aku Ikuti Lafaznya


__ADS_3

Persiapan pernikahan yang terbilang sangat singkat, tak lantas membuat pesta bersejarah yang diadakan di hotel milik keluarga Dewangga itu tak berkesan bagi siapa saja yang hadir untuk merayakan kebahagiaan Daniel dan Naja. Justru sebaliknya, pesta yang digelar secara mendadak itu menjadi pesta paling berkesan di hati seluruh tamu undangan yang berada di sana, karena ada satu moment tak biasa yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara.


Ya, altar pernikahan indah yang seluruhnya tertutup bunga mawar putih yang romantis dan tampak super mewah itu tidak hanya menjadi saksi sejarah ikrar janji suci pernikahan Daniel dan Naja, namun di luar dugaan ada ikrar maha agung yang Daniel lakukan kepada Sang Maha Pencipta.


"Sebelum kita mulai akad nikah ini, ada satu permintaan saya kepada bapak penghulu," ucap Daniel sebelum mereka memulai acara ijab kabul yang dilaksanakan di tengah-tengah ruangan, disaksikan seluruh tamu undangan.


"Silahkan," penghulu mempersilahkan Daniel untuk melanjutkan ucapannya.


"Saya memang lahir dari seorang muslimah. Dalam kartu identitas saya pun tertulis bahwa saya adalah seorang muslim, bahkan sejak kecil ibu saya telah mengajarkan banyak hal tentang agama yang dianutnya. Namun selama ini, saya tidak meyakini satu agama pun yang ada di dunia ini. Saya adalah seorang atheis," cicit Daniel sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Ratusan orang yang hadir hanya diam sambil menunggu Daniel melanjutkan ucapannya. Begitu juga dengan Naja, Ryan, Rani, Arya dan Lena. Semua menunggu Daniel menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Hanya Aghata yang sangat terkejut dan shock mendengar pengakuan putranya itu. Bahkan bulir-bulir bening kini mengalir deras dari ujung matanya.


"Maafkan aku, Mom. Selama ini aku tak bisa yakin dengan Tuhan yang selalu kau perkenalkan. Hatiku yang dipenuhi oleh bayangan kelam masa lalu dan bara api dendam yang berkobar membuat jiwaku tak pernah percaya adanya Tuhan. Namun setelah apa yang terjadi, membuatku mencari jati diri dan bertanya dalam hati, siapa tuhanku? Hingga sebuah irama indah yang sering kudengar dari kamar Ryan dan Rani juga Mommy beberapa hari ini, seolah berubah menjadi seruan yang damai yang terpatri di dalam hatiku. Sungguh, aku mendengarnya dan hatiku benar-benar terasa sejuk. Karena itu, tuntunlah aku pak penghulu! Hari ini akan aku ikuti lafaznya, karena hari ini aku sudah memantapkan hati dan menemukan apa yang aku cari selama ini," Pinta Daniel penuh harap.


"Alhamdulillah. Baik Pak Daniel. Sebelum saya menuntun Anda, ketahuilah bahwa ada tujuh syarat, diterimanya syahadat seseorang. Pertama, Ilmu yang menangkal kebodohan. Kedua, keyakinan yang menepis keraguan. Ketiga, Penerimaan yang menghapus pembangkangan. Keempat, Ketundukan yang menghilangkan penolakan. Kelima, mengucapkan dengan kejujuran. Yang keenam ikhlas, dan yang ke tujuh ucapkanlah dengan mahabbah, lafazkanlah dengan kecintaan Anda dari dalamnya hati Anda. Apa Anda sanggup memenuhinya?" tanya penghulu itu dengan nada serius.


"Saya siap, Pak. Mohon bimbing saya!," jawab Daniel mantap.


"Baiklah. Ikuti kata-kata saya!" pinta Penghulu itu dengan semangat.


Semua yang hadir, kini menyaksikan dengan hati bergetar.

__ADS_1


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," tuntun sang penghulu.


Entah kenapa, tiba-tiba dada Daniel terasa penuh. Matanya memanas, dan akhirnya kristal bening itu tumpah tanpa bisa dibendung lagi.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu..., hiks hiks hiks," kalimat Daniel terhenti. Air matanya tumpah.


"Wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," Daniel semakin tergugu.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," penghulu itu kembali meminta Daniel untuk melafazkan kalimat itu lagi.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," Daniel mengulang kalimat itu dengan lancar, meski air matanya semakin tumpah, bahkan kini dia sudah tersedu.


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah," terisak, Daniel mengikuti perkataan penghulu. Kini air matanya benar-benar tumpah.


"Alhamdulillah," seru seluruh tamu yang hadir, penuh haru. Tak ada seorang pun yang tak menitikkan air mata. Bahkan kini Aghata sudah tidak bisa menahan diri dan menghambur ke arah putranya sambil menangis sejadi-jadinya. Sesaat, ibu dan anak itupun berpelukan erat, melepas seluruh beban yang sempat membuncah.


"Apakah akad nikah bisa kita mulai sekarang, Tuan?" penghulu itu mengarahkan pandangannya kepada Ryan.


Ryan yang paham dengan maksud penghulu itupun mendekati Aghata dan Daniel yang masih larut dalam haru biru janji suci yang baru saja Daniel ikrarkan. Setelah di rasa semua oke, Ryan pun mengangguk tanda semua sudah bisa dilaksanakan.


Dan dalam sekejab, status mereka sudah berubah, seiring dengan ikrar suci yang Daniel ucapkan, bagai melodi indah yang membuai angan bagi setiap orang.

__ADS_1


Ya. Allah sudah menetapkan kelahiran manusia sebagai takdir yang sudah pasti, yaitu diciptakanNya jenis laki-laki dan perempuan. Maka, moment pernikahan selalu menaburkan untaian do'a indah yang menjadi restu bagi semua cinta dan keinginan.


Namun, bisakah mereka menjalani hidup dan bersatu seperti asa yang dirajut oleh setiap pengantin baru, bersama menerjang gelombang dan saling berdampingan mengarungi bahtera kehidupan hingga sampai ke tujuan?


"Ahh," banyak tanda tanya di hati Naja setelah janji suci itu diucapkan. Bahkan, kini Naja memandang Daniel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa dia sehikmat itu saat mengucapkan ijab kabul tadi? Bukankan dia hanya berniat menghukumku atas semua pengkhianatan yang telah aku lakukan?" gumam Naja dalam hati.


"Apakah kau sedang membayangkan hukuman apa yang akan kuberikan kepadamu malam ini, Sayang?" bisik Daniel tepat di telinga Naja. Rupanya Daniel bisa menebak kegelisahan perempuan yang baru saja dinikahinya itu.


Naja terperanjat, dan segera tersadar dari lamunan yang tiba-tiba buyar. Bahkan kini pori-pori kulit putih mulusnya itupun terlihat membesar karena merinding. Dia bergidik ngeri, melihat Daniel yang menyeringai dengan ekspresi yang sulit dimengerti.


"Akan aku pastikan, malam ini kau akan menerima hukuman yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Aku akan mencabik-cabikmu, hingga kau tak akan pernah berani lagi berkhianat kepadaku." Tegas Daniel, dengan sorot mata tajam yang dengan sukses mampu meruntuhkan segala keberanian yang telah susah payah Naja kumpulkan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakui kesalahannya di hadapan lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.


Naja pun mengalihkan pandangannya tanpa arah agar matanya yang telah memanas tidak menumpahkan laharnya dengan deras, hingga wajah cantik dengan riasan mempesona di hari pernikahannya itu akan luntur karena tetesan air mata.


BERSAMBUNG


❤ ❤ ❤


Jangan lupa bagi jempol, vote, rate 5 dan comment positifnya ya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2