
Penculikan Nina sebenarnya sudah masuk dalam perhitungan Ryan, Daniel Dan Naja juga Johan. Yang di luar perkiraan adalah timing-nya yang terlalu cepat, sehingga persiapan mereka yang kurang matang.
Di malam menjelang pagi itu, di kediaman Johan, Naja tampak masih sibuk dengan layar laptopnya sementara Daniel, Ryan dan Rudi mencoba masuk ke kamar Nina untuk mencari sesuatu.
"Apa kau sempat memasang alat pelacak di tubuh istrimu itu, Jo?" Naja melirik Johan sekilas kemudian kembali fokus ke mainannya.
"Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkannya tanpa memasang alat itu terlebih dahulu. Bukankah hal ini sudah termasuk dalam perhitungan kita?" jawab Johan santai.
"Astaga, kenapa kau tak bilang dari tadi?" Rudi yang mendengar perkataan Johan kepada Naja dari earpeace yang masih terpasang di telinganya berseru, di susul Daniel dan Ryan yang akhirnya turun dan langsung menuju ke arah mobil mereka.
"Ayo cepat! Apa kau mau pengantinmu itu kenapa-kenapa?" melihat Johan yang masih tetap bertahan dengan mode tenangnya, Naja menarik Johan dengan geram.
Mereka berlima pun akhirnya mengendarai mobil mereka mengikuti petunjuk dari pelacak yang masih tertempel di tubuh Nina. Johan berada dibalik kemudi bersama Daniel dan Naja, sementara Ryan bersama Rudi.
Hingga tiba-tiba, Ryan membelalakkan matanya. Rupanya dia mengingat sesuatu.
"Kita melupakan sesuatu," seru Ryan.
Semua yang mendengar suara Ryan dari earpeace yang mereka kenakan pun kompak mengerutkan dahinya.
"Apa?" sahut Daniel.
"Kalian susul Nina. Biar aku dan Rudi kembali ke rumah. Aku khawatir ini adalah jebakan ke dua untuk kita. Seharusnya aku tak meninggalkan istriku di rumah sendiri," suara Ryan mulai terlihat kesal, seiring dengan suara rem yang menderit saat Rudi memutar balik mobilnya.
"Sial. Kenapa kita sama sekali tidak memikirkannya?" geram Daniel.
Rudi pun segera menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, agar mereka bisa melaju dengan kecepatan maksimal. Sementara Johan, memutuskan untuk menghentikan mobilnya dan keluar untuk berpindah ke mobil lain yang dikendarai anak buahnya, agar Daniel dan Naja bisa menyusul Ryan untuk memastikan keselamatan Rani.
"Nina biar menjadi urusan saya,Tuan. Bukankah Anda meminta saya menikahinya agar saya menjaganya? Anda fokus ke Nona Rani saja," begitulah keputusan Johan. Daniel pun kali ini tidak menyalahkan keputusan yang diambilnya itu, karena yang dia khawatirkan saat ini adalah keselamatan Rani.
***
Charles dan Atmaja merencanakan semuanya dengan begitu sempurna. Mereka membuat Arya sibuk dengan Lena dan Johan sibuk dengan Nina agar dapat dengan mudah mengambil Rani dari segala penjagaan ketat yang selama ini diterapkan untuknya.
__ADS_1
Dan ternyata apa yang paling Ryan takutkan benar. Saat Mobil Ryan dan Rudi disusul Daniel dan Naja yang ada di belakangnya memasuki gerbang utama, hal janggal sudah jelas terlihat di depan mata.
Tak seperti biasanya yang terkunci rapat, gerbang itu kini terbuka dengan lebarnya.
"Dimana para pengawal itu?" cicit Ryan geram.
Ryan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah bagian depan, suasana sepi. Bahkan tak terlihat seorang pun yang berjaga di gerbang maupun di pos yang sudah khusus di sediakan.
Di benak Ryan semakin timbul banyak pertanyaan ketika pintu rumah utama pun terbuka lebar. Hingga tanpa menunggu mobil yang dikendalikan Rudi berhenti sempurna, Ryan pun sudah tidak sabar untuk keluar dan melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Setengah berlari, Ryan pun masuk diikuti Daniel, Naja dan Rudi.
"Apa yang terjadi?" tutur mereka secara bersamaan.
Bahkan kini mereka kompak membulatkan mata, menyadari apa yang mereka lihat di depan mata. Para pengawal sudah berhamburan di lantai dengan darah bercucuran. Hampir di seluruh ruang, terdapat beberapa orang yang tumbang. Mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, bahkan sampai di sepanjang tangga.
"Rani! Mommy!" teriak Ryan saking tegangnya.
Dengan secepat kilat Ryan berlari menaiki tangga dan menuju kamar istrinya. Hal yang sama dilakukan Daniel ke arah kamar Aghata, sedangkan Naja menuju dapur melihat kondisi para pelayan wanita.
"Bagaimana?" tanya Daniel begitu mereka bertemu di tangga.
"Rani tidak ada di kamarnya. Bagaimana dengan Mommy?" tanya Ryan menahan marah.
"Mommy juga tidak ada di kamarnya," sahut Daniel tak kalah kesal.
Setelah itu mereka menuruni anak tangga demi anak tangga secara bersamaan, mencoba mencari seseorang yang bisa menceritakan kejadian. Hasilnya nihil. Saat itu seluruh anak buah Daniel dan Ryan sudah tak sadarkan diri karena beberapa luka di tubuh mereka.
"Tuan! Sayang!" suara Naja terdengar dari arah dapur.
Mendengar Naja memanggil, Ryan dan Daniel pun langsung menuju ke tempat dimana sumber suara itu mengalun dengan kencang.
"Mommy? Bik Tum?" teriak Ryan dan Daniel secara bersamaan, melihat Aghata dan Bik Tum telah diikat dengan beberapa pelayan wanita lainnya secara bersamaan.
__ADS_1
"Mom, apa yang terjadi?" Daniel melepas tali yang mengikat Aghata dan memeluknya.
"Mereka ..., mereka ... mereka membawa Rani, Nak. Hiks hiks hiks ...," ucap Aghata parau. Bahkan kini tangan Aghata bergetar, begitu juga dengan hatinya yang bergetar ketika harus mengingat semuanya.
"Mereka siapa, Mom?" sahut Ryan.
"Mommy tidak tahu. Mereka berpakaian serba hitam dengan skibo yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya," Aghata tergugu.
"Mereka masuk dengan paksa melalui pintu gerbang dengan melukai penjaga, kemudian masuk ke dalam rumah melalui pintu utama dan melukai semua pelayan dan pengawal dengan membabi buta. Setelah itu, mereka masuk ke kamar Rani dan membawanya ke luar. Mommy yang dengar ada ribut-ribut pun akhirnya keluar kamar, begitu juga dengan Bik Tum. Kami berusaha menolong Rani, tapi mereka terlalu kuat. Alih-alih bisa menolongnya, kami justru diikat di sini," dengan nafas tersengal, Aghata melanjutkan ceritanya.
"Apa kau memasang alat pelacak pada tubuh istriku, Naja?" Ryan menatap Naja penuh harap.
"Iya, Tuan. Tapi sekarang posisinya benar-benar tidak kelihatan," Naja menundukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa?" tanya Ryan seolah tidak percaya.
"Jejaknya hilang. Kelihatannya mereka menemukan pelacak itu di tubuh Nona dan membuangnya keluar atau merusaknya.
"Sial!" gerutu Ryan sambil mengepalkan tangan.
Tak berapa lama, Ryan pun meminta Arya untuk bergabung di kediaman Dewangga, kemudian memintanya untuk mengurus semua pelayan dan pengawal yang terluka. Kendati Lena belum sembuh sepenuhnya, tapi Arya sengaja diminta kembali untuk mengurus semuanya.
Hingga tiba-tiba, sebuah melodi indah terdengar dari ponsel yang tersimpan manis di saku celana Ryan. Begitu benda pipih itu sudah dia pegang, Ryan mengerutkan dahinya. Sebuah nomor tak dikenal melakukan panggilan.
"Hallo," sapa Ryan setelah memencet icon berwarna hijau.
"Hallo, Tuan Ryan Dewangga," sahut seseorang dari ujung teleponnya.
"Siapa ini?"
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Like, Vote dan Rate 5 ya