
Memilih menjadi seorang pengusaha, tentu harus dibarengi dengan keberanian menghadapi segala resiko yang memungkinkan terjadi sewaktu-waktu dalam episode perjalanannya. Hal itu sudah tertanam di hati Prabu Dewangga, sehingga kabar kebangkrutan Dewangga Group dengan nilai kerugian sangat fantastis yang disampaikan putranya tak sedikitpun menggoyah mental pengusaha yang sudah tertanam betul dalam dirinya.
Begitu juga dengan Ryan Dewangga. Meskipun tidak sekuat sang papa, tapi menurutnya putus asa bukanlah jalan terbaik untuk dipilihnya. Karena baginya, mental pengusaha adalah mental siap bangkit dari kegagalan, meskipun Ryan belum tahu juga apa yang harus dia lakukan.
"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Ryan saat menggandeng tangan Rani, meninggalkan rumah yang sebenarnya dia desain khusus untuk istri kecilnya itu. Meski Ryan sangat tegar, namun ada sedikit gurat kesedihan ketika harus melepaskan rumah mereka yang penuh kenangan, dan memutuskan pindah ke rumah Mama Davina, tempat dimana Rani telah dibesarkan.
Ya. Seluruh aset Dewangga Group harus mereka jual untuk menutup seluruh kewajiban perusahaan yang masih harus diselesaikan, termasuk kediaman Ryan dan hotel tempat pernikahan mereka dilangsungkan. Mereka hanya menyisakan mobil dan rumah Prabu Dewangga, sehingga atas permintaan Mama Davina Ryan menyetujui untuk tinggal di kediaman istrinya.
"Kita akan menghadapinya sama-sama, Mas. Percayalah, kita akan tetap baik-baik saja!" Rani mengeratkan genggamannya dengan senyum tulusnya. Sebuah energi positif akan selalu dia salurkan untuk seorang pria yang kini telah merajai hati dan seluruh jiwanya.
"Apa Mama Davina akan menyesal mempunyai menantu seperti masmu ini, Sayang?" ucap Ryan dengan nada sangat parau. Matanya tetap menatap ke depan, seolah tak rela meninggalkan kediamannya yang harus ikut menjadi korban ketamakan seseorang.
"Mama tidak akan menyesal mempunyai menantu yang telah mencintai dan memperlakukan anaknya dengan penuh kasih sayang. Yang harus Mas lakukan sekarang hanya satu. Buktikan kepada Mama bahwa Mas punya jiwa pejuang. Bangkit dan berjuanglah untuk memulai semuanya dari awal," jawab Rani, penuh harap. Dia mengangkat genggaman tangannya ke atas hingga tangan mereka menjulang ke depan dada mereka, seolah sebuah kekuatan baru sedang mereka raih bersama.
Ryan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Seperti biasa, Rani selalu bisa menempatkan sebuah masalah hanya sesuai porsinya. Rani bukan tipe perempuan gila harta yang sibuk meratapi kekayaannya ketika semua kemewahan tiba-tiba sirna seketika. Dia juga bukan tipe gadis yang terlalu fokus terhadap sebuah masalah tanpa memikirkan solusinya. Dan disaat-saat seperti itulah Ryan benar-benar merasa beruntung karena telah dijodohkan dengan seorang Arania Levana.
__ADS_1
Akhirnya, setelah semua pembantu menaikkan barang-barang mereka, mereka pun segera masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Rani dan Ryan duduk di kursi penumpang dengan kemudi dikendalikan oleh Pak Rudi, sementara Naja, Nani dan Bik Tum serta suaminya mengikuti dari belakang dengan kemudi dikendalikan oleh Naja. Mereka semua memutuskan tetap mengikuti majikannya, seperti apapun kondisi yang sedang dialami mereka. Sebuah janji setia telah membuat tekad mereka bulat, bahwa mereka akan tetap melayani majikannya baik dalam suka maupun duka.
***
Di kediaman Prabu Dewangga, Mama Titania terus menatap foto Arya yang terpajang di dinding rumahnya. Dadanya begitu sesak, memikirkan jalan hidup yang telah dipilih putra angkatnya, matanya juga terasa begitu panas, namun berusaha agar tidak ada satu butir kristal bening pun yang menetes di pipinya.
"Sudahlah, Ma. Tidak ada yang perlu kita sesali apalagi kita ratapi. Ini jalan yang Arya pilih, dia pasti sudah tahu resikonya seperti apa," ucap Papa Prabu sambil merangkul istrinya dari arah samping. Kini mereka sama-sama menatap foto keluarga yang terletak di ruang keluarga kediaman mereka. Foto mereka dengan formasi lengkap. Mereka berdua, Ryan, Azzura, dan Arya, putra angkat mereka yang telah mereka pungut dari jalanan dan mereka besarkan dengan sepenuh jiwa.
"Apapun yang Arya lakukan, dia tetaplah putra Mama, Pa. Mama tidak bisa melupakan dia begitu saja, apalagi jika harus membencinya. Jadi jangan paksa Mama untuk membencinya, Pa. Karena Mama tidak akan pernah bisa," kini derai air mata mengalir deras dari ujung mata Mama Titania. Kesedihan seorang Mama yang harus menerima kenyataan bahwa seorang putra yang sudah dianggap sebagai darah dagingnya sendiri tiba-tiba berkhianat kepadanya.
Mama Titania mengangguk pelan, menatap suaminya dengan penuh rasa kepercayaan. Ini adalah badai ke dua yang mereka alami, setelah badai pertama yang menggulung rumah tangga mereka puluhan tahun yang lalu, sebuah badai yang ternyata harus menyeret mereka pada gelombang yang terjadi saat ini.
Ya, badai di masa lalu itu terjadi ketika Mama Titania mengetahui bahwa Prabu Dewangga mempunyai istri selain dirinya. Badai besar yang hampir tak mampu mereka selesaikan, tapi semua berakhir dengan penuh ketenangan karena perasaan tulus yang saling mereka berikan. Meskipun, ternyata kehadiran Daniel membuat semuanya kembali bagai roda yang berputar.
***
__ADS_1
Di sebuah rumah mewah di suatu pulau terpencil, Arya mengelus istrinya yang terus menangis di pelukannya. Wajahnya tetap datar, tak ada gurat kebahagiaan maupun ekspresi kepuasan. Dalam hatinya hanya ada satu tujuan, membawa predikat yang kini tersemat pada seorang Arya Hutama atas sebuah pengkhianatan yang dia lakukan.
"Pasti mereka sangat membenci kita sekarang. Lihat! apa yang Kak Tama lakukan?" ucap Lena sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Di benaknya saat ini hanya ada bayangan wajah Rani dan Mama Davina yang sedang menatap dirinya dengan penuh kekecewaan. Bagaimana tidak? Setelah apa yang Lena dapatkan selama ini, tentu kata pengkhianatan akan terdengar sangat menyakitkan.
"Pergilah kepada mereka jika memang Kakak tak berarti apa-apa bagimu!" Arya melepas pelukannya dan beranjak meninggalkan Lena begitu saja. Namun Lena yang menyadari tingkah suaminya, segera mengejar dan memeluknya dari belakang, hingga Arya pun menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap ke arah istrinya.
"Percayalah kepadaku. Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku," tutur Arya lembut, sambil menempelkan keningnya pada kening istrinya. Arya betul-betul sangat tahu bagaimana perasaan Lena saat ini. Namun semua sudah Arya pikirkan baik-baik, dan apapun resikonya dia sudah sangat siap menanggungnya.
Dengan berjuta rasa yang menyeruak dalam dadanya, Lena tak ada pilihan lain selain menuruti apa kata suaminya. Bahkan saat ini semua akses komunikasi mereka sengaja dimatikan, agar tidak seorang pun yang bisa melacak keberadaan mereka.
"Sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Lena dalam hati.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak. Kasih vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5. Jika banyak kekurangan, mohon beri masukan positif untuk saya. Please, jangan kejam-kejam sampai nurunin bintang. Hehehe...