METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Antara Cinta dan Batuk


__ADS_3

*Asaku mengembara


Berharap kau masih mau singgah di dalam jiwa


Salahkah jika aku ingin seperti dulu?


Mengulangi semua kisah yang telah lalu


Saat kau jadi tempat keluh kesahku


Memahat indah senyum di wajahku


Masuk kembali dalam cerita hidup


Dimana hanya ada aku dan kamu


Yang menjadi satu


Meysiela Ayudya*


***


Ryan meremas kertas yang ada di tangannya dengan perasaan marah yang berceceran dalam benak dan hatinya. Mukanya memerah karena geram. Entah kenapa, Ryan menjadi merasa jijik dengan kelakuan Meysie yang semakin lama semakin diumbarnya begitu saja.


"Setelah semua yang terjadi pada istri dan janinku, kau mau berbuat apalagi hah? Kau benar-benar tidak tahu malu hingga melakukan hal serendah ini." Umpatan demi umpatan terus meronta di dalam hati Ryan.


Ryan pun segera berjalan menuju meja kecil yang terletak di samping tempat tidur. Diraihnya gagang telphon yang ada disana, kemudian meminta pelayan untuk mengambil makanan dari Meysie yang sudah terlanjur tersaji di atas meja, setelah suara di ujung benda itu terdengar menyapa.

__ADS_1


Rani yang tidak tahu menahu kenapa Ryan menjadi seemosi itupun segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri makanan itu, kemudian meraih kertas yang sudah tak berbentuk akibat remasan tangan Ryan.


"Tak perlu kau baca, Sayang," cegah Ryan saat Rani hendak membuka kertas itu.


"Kenapa?" Rani bertanya penuh selidik.


"Tidak penting. Mas Ryan sudah minta pelayan untuk menyingkirkan makanan itu dari kamar kita," Ryan kembali meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Jika tidak penting, kenapa Rani tidak boleh melihatnya? Takut Rani tahu siapa pengirimnya? Kalau sudah disembunyikan begitu, jangan-jangan?"


"Sssttt. Itu dari Mey..., maksud Mas dari perempuan itu. Mas nggak mau kamu jadi kepikiran," jelas Ryan, kemudian membukakan pintu untuk pelayan yang kebetulan waktu itu telah datang.


Rani hanya mendengus kesal dan membalikkan badannya. Tak lama, Rani masuk ke dalam selimut dan membungkus tubuhnya begitu saja sehingga yang tampak hanya ujung rambut indahnya.


"Bener kan, nggak baca aja sudah ngambek begini apalagi baca isinya?" ucap Ryan sambil menghampiri Rani, setelah pelayan itu keluar dari kamarnya.


Rani tak bergeming. Dia terus memejamkan matanya, meskipun telinganya mendengar semua yang diucapkan suaminya.


"Sayang, Maaf. Jangan ngambek lagi dong. Kamu kan tahu kalau Mas sayang banget sama kamu. Mas nggak bermaksud buat kamu marah, Sayang. Mas hanya nggak mau kamu kepikiran," rayu Ryan sambil melingkarkan tangannya ke perut Rani.


"Please deh, hilangkan Meysie dari cerita hidup Mas Ryan dan Rani. Bosen tau, Meysie selalu hadir di antara kita berdua," balas Rani sambil melepaskan pelukan suaminya dan menghempaskan tangan kekar itu begitu saja.


"Mas janji, ini terakhir kali ada cerita Meysie dalam hidup kita," tak mau menerima perlakuan istrinya begitu saja, Ryan kembali melingkarkan tangannya ke perut Rani, kali ini lebih erat. Rani yang berusaha melepaskannya sekali lagi pun gagal karena tenaganya tak seberapa. Melihat istrinya yang akhirnya pasrah membiarkan dia mendekapnya, Ryan tersenyum penuh kemenangan dan menghujani kepala istrinya dengan ciuman dari belakang.


"Mas tahu letak kesalahan Mas Ryan dimana?" Rani membalikkan tubuhnya, menatap suaminya lekat.


"Apa?" tanya Ryan polos, memberi ruang kepada istrinya untuk mengatakan apapun kesalahan yang diperbuatnya. Biasanya istri bawelnya itu akan cepat meredakan amarahnya jika dibiarkan bicara sesuka hatinya.

__ADS_1


"Dia terus berjuang karena Mas Ryan memberi harapan. Tahukah bahwa sikap Mas Ryan itu bukan hanya membuat Rani yang tersakiti tapi dirinya juga? Yang tegas dong. Putus semua akses Meysie agar dia tidak punya ruang apalagi harapan!" Rani menghela nafas panjang. Sebenarnya bukan hanya karena cemburu, tapi karena dia gemas melihat suaminya yang terkesan tidak tegas menghadapi kelakuan Meysie.


"Cinta itu bagaikan batuk. Dia sama-sama tidak bisa ditahan dan sulit disembunyikan. Letusan-letusannya bisa lembut, bisa juga menggema begitu besarnya sehingga mampu menggempur limbah waktu yang melegakan rongga dada. Tahukah bahwa cinta dan batuk itu sama-sama ada pemicunya namun tak bisa sembuh begitu saja hanya dengan sekali teguk ketika menelan obatnya?" lanjut Rani serius. Sementara Ryan hanya diam menunggu Rani meneruskan kalimatnya, sambil membelai wajah ayu itu tanpa penolakan dari pemiliknya.


"Cinta dan batuk sama-sama butuh waktu hingga dia akan hilang dengan sendirinya karena lupa. Begitu juga dengan perempuan itu. Dia butuh ruang dan waktu agar cintanya memudar seiring dengan tiadanya kesempatan untuk bertahan. Jadi selama masih ada celah dan kesempatan untuk bertemu dan saling memberi perhatian, selama itu pula dia akan mengejar Mas Ryan dan membuat hal-hal yang untuk Rani menjadi sangat menyakitkan. So, jika memang benar Mas Ryan tidak lagi ada perasaan terhadapnya, jangan biarkan ada kesempatan apapun yang memberi ruang kepadanya untuk terus menyemai perasaan cinta,"


"Mas tidak dengan sengaja membuat kami terus bertemu, Sayang. Ini semua kebetulan. Mas kira ayahnya yang akan hadir di tempat ini. Tapi ternyata Mas salah," sanggah Ryan, tak mau mengakui kesalahannya begitu saja. Lagi pula memang Ryan benar-benar tidak tahu jika Meysie akan hadir untuk menggantikan ayahnya.


"Kerja sama proyek Green Canyon adalah jawabannya,"


"Maksudmu?"


"Ya Mas Ryan membiarkan kalian mengerjakan proyek yang sama, berarti otomatis juga sengaja memberi kesempatan pada Meysie untuk terus memperjuangkan cintanya,"


Ryan melepaskan pelukannya. Dia membalikkan tubuhnya hingga posisi tidurnya telentang. Kedua tangannya diangkat dan ditekuk hingga menyangga kepalanya. Dipandangnya langit-langit kamar, seolah dengan begitu kata-kata istrinya akan mudah dia cerna.


"Proyek ini sangat berarti untuk Papa. Mas hanya melanjutkan kerja Papa saja, karena kerja sama ini dijalin sebelum Mas mengambil alih perusahaan," ucap Ryan datar.


Proyek Green Canyon adalah proyek pembangunan tempat wisata terbesar di Asia. Dengan memanfaatkan sebuah ngarai yang mempunyai lembah curam yang panjang dan berkelok, tempat itu akan disulap menjadi tempat yang sungguh-sungguh elok. Beberapa spot terbaik akan disiapkan, termasuk resort, resto dan wahana bermain. Tempat itu juga akan disulap menjadi pusat bisnis yang lain dari pada yang lain, juga disertai dengan pembangunan mall dan rumah sakit yang terletak tak jauh dari ngarai yang merupakan bagian tak terpisahkan dari proyek besar mereka.


"Menurutmu, apakah Mas harus melepas proyek itu?" Ryan menanyakan itu dengan segala kegalauan dalam hatinya.


"Rani tidak berkata begitu juga sih," jawab Rani sambil beranjak dari tidurnya. Dia menyandarkan tubuhnya di pangkal tempat tidur, dan memandangi wajah suaminya yang sedang menatapnya bingung.


"Lalu?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Tinggalkan jejak dengan menekan jempol, vote, rate 5 dan tanda love ya. Jangan lupa comment positifnya. Terima kasih


__ADS_2