
Perkara hati memang sering sekali menjadi sebuah misteri. Siapa sangka benih-benih cinta di hati Arsen masih tersemai subur menemani sisa usia yang bentar lagi memasuki usia udzur.
Ya, usia Arsen memang tak lagi muda, namun cintanya kepada Aghata tak pernah menua. Rasa itulah yang menjadi teman hidupnya dan menjadi genangan kasih terindah sampai berpuluh-puluh tahun lamanya.
Bagi Arsen, Aghata adalah cahaya terindah di setiap purnama, penawar lelah dan pengobat segala rasa lara. Karena itulah cintanya tak pernah menjadi tua. Cintanya hanya berubah menjadi semakin dewasa, hingga kadar dan kekuatannya semakin lama semakin menguat seiring dengan banyaknya badai yang menerjang dan memisahkan mereka.
Lantas, apakah takdir yang memisahkan mereka menjadi kisah utama? Nyatanya tidak. Justru kisah itu baru dimulai setelah mereka berpisah sekian lama, sampai takdir mempertemukan kembali mereka berdua.
Ya. Kini rambut mereka memang telah memutih. Namun, cinta Arsen tak kan berkarat apalagi sampai memudar meski usia mereka sudah setengah abad. Cinta itu selalu muda dan mampu menjadikan Aghata sebagai cinta yang satu.
"Ahhh," Arsen menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan.
"Jangan pernah menyerah, Dad. Kejar Mommy sampai Mommy bersedia membuka hatinya kembali," ucapan Daniel ketika itu berputar-putar di benaknya kembali.
"Apakah kau akan membuka hatimu kembali untukku, Aghata?" berjuta tanya kini bergejolak dalam hatinya.
Hingga ..., Tok-tok-tok.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk," seru Arsen sambil berpindah dari arah balkon menuju sofa kamar tidurnya.
"Maaf, Tuan Besar. Semua sudah menunggu Tuan Besar untuk makan malam," ucap Bik Tum, sambil setengah membungkukkan badan.
"Baik, Bik. Aku akan segera turun untuk makan malam," Arsen langsung berdiri dan mengikuti kemana arah kaki Bik Tum melangkah dari belakang.
Begitu sampai di meja makan, Arsen duduk pada tempat yang telah disediakan. Agak kikuk memang, mengingat ini adalah makan bersama pertama setelah masalah demi masalah yang tak henti-hentinya menguji hidup mereka. Apalagi kursi yang dikhususkan untuk Arsen adalah kursi kepala keluarga menggantikan tempat Prabu Dewangga sebelumnya, membuat Arsen semakin tak nyaman dibuatnya.
Setelah semua duduk, para istri pun menyiapkan makanan untuk suami mereka masing-masing. Rani mengambilkan makanan untuk Ryan, Lena mengambilkan makanan untuk Arya, Nina menyiapkan makanan untuk Johan, bahkan Naja tidak hanya menyiapkan makanan untuk Daniel, tapi juga menyuapinya dengan sabar. Bagaimana dengan Davina dan Aghata? Davina memilih untuk membantu Mira mengambil makanannya, sedangkan Aghata tak ada pilihan lain selain membantu Arsen mengambil makanannya, karena Daniel sengaja meminta Rani untuk menempatkan ibunya duduk persis di sebelah ayahnya.
Semua yang menyaksikan bagaimana perhatian yang Aghata tunjukkan hanya tersenyum senang, walaupun dari sikap Aghata, belum sepenuhnya menerima Arsen untuk bergabung dan berada di tengah-tengah keluarga besar itu.
__ADS_1
Begitu seluruh makanan sudah ada di piring masing-masing, mereka pun segera makan dalam diam. Hingga ketika semua sudah selesai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga untuk sekedar berbincang.
Ruang keluarga itu cukup besar, terdiri dari beberapa sofa dan meja panjang. Semua mengambil posisi masing-masing, kecuali Aghata yang memilih untuk langsung kembali ke kamarnya. Ya, Aghata memang selalu tidak nyaman jika satu ruang apalagi berdekatan dengan sang mantan tercinta.
"Dad, bagaimana menurut Daddy kalau Daniel meminta kalian untuk menikah saja? Daddy dan Mommy sudah semakin tua, kalian mau seperti ini berapa lama lagi?" oceh Daniel, sambil bersandar di bahu istrinya.
Semua yang mendengar perkataan Daniel, secara kompak mengangguk pelan dan menatap ke arah Arsen seolah menuntut jawaban.
"Daddy sih sekarang pun juga mau. Karena pernikahan dengan Mommymu adalah satu hal yang sudah Daddy tunggu sejak dua puluh empat tahun yang lalu. Tapi masalahnya, Mommymu itu belum mau memaafkanku. Bagaimana mungkin kami bisa menikah?" sahut Arsen kelu.
"Urusan Mommy biar Ryan dan Daniel yang urus, Dad," timpal Ryan. Dia memanggil Arsen seperti panggilan Daniel mengingat orang tua Daniel adalah orang tuanya, begitu juga sebaliknya.
***
Setelah obrolan singkat di ruang keluarga, Ryan memapah Daniel menuju kamar Aghata bersamanya. Setelah mengetuk pintu sebentar, Ryan segera masuk dan mendapati Aghata sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mom," panggil Daniel pelan.
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Ryan khawatir.
"Mommy baik-baik saja, Sayang," Aghata memaksakan senyumnya.
"Apa Mommy merasa tidak nyaman dengan kehadiran Daddy di rumah ini?" Daniel menelisik.
"Mommy tahu, kau begitu bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengannya dan membuatnya berada di sisimu. Cukup melihatmu bahagia, Nak. Bagi Mommy itu sudah lebih dari segalanya," jawab Aghata dengan bahasa diplomatisnya.
"Jika Daniel minta sesuatu, apa Mommy akan mengabulkannya?" pancing Daniel mulai memfokuskan pembicaraan.
"Apa itu, Nak? Apa permintaanmu?" Aghata mengernyitkan dahinya, tak bisa menduga apa yang akan putranya minta.
"Berjanjilah bahwa Mommy akan mengabulkan permintaanku," tekan Daniel dengan ekspresi super seriusnya.
__ADS_1
"Kalau Mommy tidak bisa melakukannya bagaimana?" tanya Aghata bingung.
"Mommy pasti bisa melakukannya. Ini adalah sesuatu hal yang sangat mudah dan bisa Mommy lakukan sekarang juga," Ryan yang mengetahui arah pembicaraan Daniel, hanya mampu menahan senyumnya.
"Baiklah," tanpa pikir panjang Aghata memberikan jawaban.
"Apa yang kau minta, Nak?" Aghata makin penasaran.
"Menikahlah dengan Daddy, Mom. Hanya itu yang Daniel minta dari Mommy," satu kalimat yang sukses membuat muka Aghata berubah menjadi merah padam.
"Kamu boleh minta apapun kecuali yang satu ini, Daniel," Aghata agak mengeraskan suaranya. Dia begitu terkejut, mendengar Daniel meminta itu dari dirinya.
"Aku tidak butuh apapun dan tidak akan meminta apapun kepada Mommy kecuali satu hal ini," kekeh Daniel. Dia paling tahu bagaimana caranya membuat Aghata menuruti semua kemauannya.
"Sayang," Aghata terlihat begitu bimbang.
"Kasihan Daddy, Mom. Dia sudah puluhan tahun menunggumu," lirih Daniel.
"Tapi Mommy tidak bisa," Aghata tak berniat mengubah keputusannya.
"Tapi kenapa?" kejar Daniel. Dia benar-benar sudah bertekat bulat akan menyatukan cinta kedua orang tuanya.
"Usia Mommy tak lagi muda, Daniel. Sekarang ini Mommy hanya ingin hidup tenang bersama kalian, dan anak-anak kalian nanti," Aghata mencoba memahamkan.
"Cinta itu tak pernah lekang dimakan usia, Mom. Karena cinta tidak akan pernah menjadi tua, walau sang pemilik cinta semakin lama semakin dewasa," Daniel pantang menyerah sebelum keinginannya dikabulkan ibunya.
"Tapi, Nak," Aghata menggantungkan kalimatnya, bingung bagaimana caranya memahamkan Daniel dan tidak memaksakan kehendaknya.
BERSAMBUNG
♥️♥️♥️
__ADS_1
Rate 5 dong kak