METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tatapan Menyedihkan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, namun Ryan dan Rani masih belum juga menyelesaikan urusan mereka sedari tadi.


Meski Rani sudah terlihat cemberut, namun Ryan tidak menghiraukan rengekan istrinya. Dia terus menyibukkan diri dengan mainan baru yang telah halal baginya itu.


"Mas, udahan dong. Udah siang nih. Rani ada jadwal kunjungan. Rani nggak mau bikin teman-teman Rani menunggu," pinta Rani sekali lagi.


Ryan masih tidak bergeming dan tetap menyelesaikan urusannya. Menyadari bahwa usahanya sia-sia karena respon suaminya yang seenaknya, Rani hanya mendengus kesal.


"Izin saja, Sayang," bisik Ryan sambil berpindah tidur di sebelah istrinya.


"Idih, mana bisa begitu, Mas? Aneh-aneh aja sih," Rani berusaha protes, sambil memindahkan tangan suaminya yang masih melingkar di perutnya dan segera beranjak.


Ketika Rani bangun, dia benar-benar lunglai hingga hampir terjatuh. Tubuhnya terasa remuk redam, tulang belulangnya bagai hilang dari tempatnya bersemayam.


Melihat Rani yang sempoyongan, Ryan tergelak namun segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Tuh kan nggak kuat? Kayak gitu sok-sokan mau berangkat kerja," ucap Ryan tersenyum menang. Ekspresi wajahnya sudah sangat sulit di artikan.


Rani yang mendengar ucapan suaminya hanya mendengus kesal sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya, sebelum akhirnya mereka sampai ke kamar mandi untuk saling membersihkan diri mereka.


"Beneran mau berangkat? Kamu kuat nggak, Sayang?" Ryan yang sangat mengerti sifat istrinya akhirnya mengalah.


Rani mengangguk senang, kemudian beranjak dan dengan jalan yang masih gontai segera bersiap-siap.


Rani pun segera bergegas mengenakan baju kerjanya. Kali ini dia mengenakan stelan rok panjang dan jas warna navy, dengan kemeja warna biru muda dan hijab warna senada. Meskipun penampilan Rani tertutup, namun kesan elegan tetap tercermin dari setiap penampilan yang Rani tunjukkan.

__ADS_1


Setelah Rani siap, Ryan yang memilih mengenakan pakaian santainya memutuskan untuk menemani istrinya sarapan di restoran hotel sebelum bergabung dengan teman-temannya di lobby.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di restoran hotel dan mengambil sarapan mereka. Rani terlihat mengambil beberapa makanan yang sudah tersaji untuk suaminya, kemudian Ryan meraihnya dan menyuapkan makanan itu ke mulut Rani dan mulutnya sendiri secara bergantian. Selesai makan, Rani gantian mengangkat segelas jus dan mengarahkan ke mulut Ryan. Setelah Ryan meneguknya hingga setengah gelas, sisanya Rani arahkan gelas itu ke mulutnya dan meneguknya hingga habis. Tak lama kemudian, Ryan segera mengambil tisu dan membersihkan bekas makanan di mulut Rani lalu menggunakan tisu bekas istrinya itu untuk mengelap mulutnya sendiri.


Tanpa mereka sadari, di sudut ruang itu ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan menyedihkan.


***


Hari itu Meysie mewakili ayahnya untuk bertemu dengan klien di Bali. Karena tidak akan menginap, maka dia yang pagi-pagi sudah tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Ray memutuskan untuk bersih-bersih dan sarapan di hotel dimana Hengky menginap.


Saat Meysie dan adiknya asyik sarapan di Restoran hotel, tiba-tiba mata mereka tertuju pada sebuah meja. Di meja itu terlihat sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta sedang memamerkan kemesraan yang pasti akan membuat cemburu setiap mata yang memandangnya.


Tiba-tiba mata Hengky memanas, pandangannya begitu nanar. Tanpa dia sadari, Meysie malah sudah menitikkan kristal bening dari ujung matanya. Kakak beradik itu sama-sama terlihat menyedihkan, melihat kekasih hati mereka terpaut cinta dengan hati yang lain.


Karena Hengky tidak tahan dengan kenyataan yang ada di depannya, dia memutuskan untuk beranjak meninggalkan tempat yang begitu membuat dadanya sesak itu. Tapi ketika Hengky hendak menarik tangan kakaknya, dia melihat ekspresi wajah Meysie lengkap dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Hengky mengarahkan matanya pada fokus pandangan kakaknya, dan tatapan itu ternyata tertuju pada meja Ryan dan Rani, sama seperti meja yang sedari tadi sudah menusuk-nusuk hatinya.


"Jadi gadis yang telah membuatmu jatuh cinta itu Rani? Kenapa kamu tidak pernah cerita?" tanya Meysie terlihat sangat terkejut, sambil menyeka air matanya dengan kasar.


Hengky mengangguk dan terduduk kembali. Dadanya begitu sesak, meratapi nasib mereka yang sama-sama terluka karena orang yang sama.


Hengky tidak bisa membayangkan bagaimana hancur leburnya perasaan Meysie. Setelah pernikahannya gagal karena tunangannya ketahuan selingkuh, ternyata ketika dia pulang ke Indonesia dan ingin mengejar cinta sejatinya, pria yang dia cintai dan dikira masih mencintainya itu justru menikah dan begitu mencintai orang lain.


Menyadari ketidakberuntungan mereka dalam urusan cinta, kakak beradik itupun larut dalam pikirannya masing-masing. Mereka sama-sama menyelami rasa sakit dan kecewa yang harus mereka dapatkan, saat mereka tetap memilih untuk mencintai seseorang yang bahkan telah ada yang memiliki.


Walaupun mereka tahu bahwa saat itu bukanlah akhir dari segalanya, namun baik Meysie maupun Hengky tak yakin bahwa tanpa Ryan dan Rani, mereka bisa bahagia dengan membuka hati untuk pergi ke hati yang lainnya.

__ADS_1


***


Setelah Ryan dan Rani selesai sarapan, Ryan segera menarik tangan Rani hendak beranjak dan menuju lobby.


"Ayo, Sayang. Nanti kamu terlambat," ajak Ryan Lembut.


Rani pun tersenyum penuh arti menyambut ajakan suaminya itu. Namun ketika dia hendak beranjak, tiba-tiba matanya tertuju pada meja Hengky dan Meysie.


"Mas, Mas, tunggu," ucap Rani sambil menarik tangan Ryan balik.


"Ada apa sih, Sayang?" jawab Ryan tidak mengerti. Ryan pun berbalik mengikuti isyarat istrinya.


"Bukankah itu Meysie dan Hengky?" tanya Rani kemudian, sambil menunjuk sebuah meja yang terletak di ujung restoran hotel.


Ryan cuek saja mendengar perkataan istrinya.


"Bukan urusan kita. Ayo ahh!" kata Ryan tidak peduli, sambil menarik tangan istrinya kembali.


"Ehhh tunggu, Mas. Ayo kita hampiri mereka. Kamu tidak penasaran, kenapa Meysie bisa disini?" ucap Rani sambil menarik tangan Ryan, dan berjalan ke arah meja Hengky dan Meysie tanpa menunggu persetujuan suaminya.


Mereka pun segera menghampiri meja Meysie dan Hengky untuk menyapanya. Ryan yang terlihat sangat tidak bersemangat itu pun hanya mengikuti kemauan istrinya tanpa bisa menolak. Sementara Meysie dan Hengky yang menyadari dua orang yang sedari tadi menjadi pusat perhatian mereka kini sedang menghampiri meja dimana mereka duduk, menjadi salah tingkah.


"Kenapa mereka malah kesini?" gumam Meysie dan Hengky dalam hati secara bersamaan, sambil menata hati dan mengontrol diri agar mereka bisa bersikap biasa saja di depan pasangan yang telah membuat mereka patah hati dan jiwa mereka merana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Hi Readers....


jangan lupa tinggalin jejak ya. Ditunggu vote, like, comment dan love nya...


__ADS_2