METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
I Don't Care What You Say


__ADS_3

Sebuah pengkhianatan akan selalu terbongkar, seperti halnya sebuah kejahatan yang akan selalu terbongkar karena sebuah kebaikan. Seperti hari itu. Setelah Arya, Rudi, Johan, Indra dan Zara bekerja keras untuk membongkar semuanya, akhirnya pengkhianatan itu terbongkar juga.


"Kembali ke dua nama itu. Apakah benar mereka adalah orang dalam perusahaan?" tanya Arya serius, diikuti wajah kelima orang di tempat itu yang mendadak berubah menjadi ikut serius.


"Hanya satu orang yang kami temukan. Satu orang lagi kemungkinan bukan orang dalam," jawab Indra datar.


"Perempuan atau laki-laki?" Rudi menimpali.


"Seorang perempuan yang begitu kalian kenal ternyata adalah pengkhianat perusahaan. Prediksi kami, dia bekerjasama dengan satu orang dari luar, untuk memuluskan semua rencana yang sudah dia jalankan," jelas Indra, membuat ketiga seniornya memandangnya dengan penuh tanda tanya besar.


"Siapa pengkhianat itu?" tanya Johan tak sabar.


"Aku akan mengatakannya kepada kalian sore nanti saat Tuan Ryan dan Tuan Daniel meminta laporan," Indra menjawab dengan datar.


"Ayolah, jangan buat kami mati penasaran," protes Rudi, mendapati Indra yang jual mahal kepadanya.


"Salah sendiri kalian meninggalkan kami bekerja berdua saja. Impaslah. Kami yang bekerja, kami yang tahu lebih dulu pengkhianatnya," Indra tersenyum menang, melihat Rudi menatapnya dengan wajah kesal. Sementara Johan dan Arya, tetap betah dengan wajah datarnya, tak peduli dengan perdebatan yang sedang dilakukan oleh kedua rekannya. Toh pikir mereka, beberapa saat lagi juga mereka semua akan mengetahuinya.


"Hmm, sudahlah, Rud. Lagian kita meeting tiga puluh menit lagi. Kau juga akan tahu siapa pengkhianat itu sebentar lagi," ujar Arya sambil melihat arah jarum jam di tangan kirinya.


Setelah melihat jam itu, tiba-tiba Arya pun mengerutkan dahinya, dan langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Ada apa?" Johan yang melihat perubahan ekspresi Arya langsung bertanya.


"Aku lihat istriku dulu. Dari tadi kelihatannya dia tak keluar kamar," sahut Arya sambil bergegas naik menuju kamarnya.


"Dasar bucin," umpat Rudi sambil mendengus kesal.


"Sirik aja sih kamu. Mending bucin dari pada jadi pria dewasa tak laku seperti kamu, bisanya hanya ngehalu," timpal Johan sambil tersenyum simpul.


"Ha-ha-ha-ha. Rasain tuh. Kena batunya," Indra tertawa terbahak-bahak melihat Rudi tak bisa mengelak dari predikat pria dewasa tak laku yang disematkan Johan kepadanya.


"Huh, sesama bucin wajar kalau saling membela. Kalau Arya dan Johan sih wajar saja karena mereka jadi budak cinta istrinya. Kalau kamu jadi budak cinta siapa, Ndra? Beneran Zara? Emangnya kamu mau, Zara, sama pria tengil macam Indra?" Rudi tak mau kalah. Untuk Indra, dia selalu punya segudang cara untuk mengerjainya.


"Kalau kau tak juga mau menutup mulutmu, akan aku adukan kau pada Tuan Ryan agar mencarikan seorang gadis untukmu. Jadi bucin juga tahu rasa kau," Indra berdecak kesal.


Arya yang masih mendengar rekan-rekannya berdebat dalam hal tak berfaedah itu pun tak menanggapi hal konyol yang mereka perdebatkan. Toh jika dia dikatakan bucin, Arya tak akan menolak dengan julukan yang diberikan kepadanya. Kenapa? Ya karena dia menikmati kebucinannya.


Beralih ke kamar, Arya pun mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang. Tanpa harus menunggu lama, matanya yang tajam langsung bisa menangkap sosok Lena yang masih asyik tertidur di bawah selimutnya sampai sekarang.


"Yang, kok kamu belum bangun sih. Waktu dhuhur sudah habis, sebentar lagi sudah masuk ashar," oceh Arya sambil meraih bahu istrinya dan mengguncangnya.


"Yang, kamu kok tidur terus sih dari pagi? Emangnya nggak sholat?" Arya mengguncang tubuh Lena sekali lagi, dan membalikkan tubuh itu begitu saja.


"Ihh, Kak Tama ganggu aja sih?" protes Lena sambil mengucek-ucek matanya. Suara khas orang yang baru bangun tidur pun terdengar jelas dari ucapannya.


"Waktu dhuhur sudah habis, sebentar lagi sudah masuk ashar, Yang. Kamu kok tidur terus sih dari pagi? Emangnya nggak sholat?" Arya mengulangi pertanyaannya.


"Deeba sudah mandi dan sholat dhuhur, Kak. Habis sholat Deeba tidur lagi," Lena menggeser duduknya dan bersandar di kepala ranjang.


"Kamu sudah makan?" Arya mengusap rambut istrinya.


Yang ditanya hanya menggeleng pelan. Lena memang hanya ingin tidur setelah Arya mengerjainya habis-habisan selepas shubuh tadi.


"Kok belum makan sih? Kamu sakit?" Arya menyentuh kening Lena dengan telapak tangannya, mencoba memeriksa suhu tubuh Lena.


"Enggak. Deeba nggak sakit, Kak. Deeba cuma lemes dan capek aja," elak Lena sambil meraih tangan Arya yang masih menempel di keningnya.


"Gimana nggak lemes kalau nggak makan. Kamu melewatkan sarapan dan makan siangmu, Sayang. Kalau beneran sakit gimana? No. No. No. Aku tak terima alasan apapun, yang jelas kau harus makan sekarang," tegas Arya tak bisa ditawar.


"Deeba itu capek, Kak. Deeba males turunnya," Lena merengek seperti anak kecil.


"Emang capek ngapain sih?" Arya mengerling nakal.


"Tanya aja sama diri Kakak sendiri. Ini semua gara-gara Kak Tama nggak ada puasnya," Lena mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ha-ha-ha-ha. Aku masih bisa lebih lama dari itu, Sayang. Apa malam nanti kau mau mencobanya?" Arya terkekeh melihat wajah istrinya yang sudah ditekuk-tekuk saat membicarakan kenakalannya itu.


"Enak di Kak Tama, remuk di Deeba," Lena kembali manyun.


"Ya sudah, sebagai gantinya, biar aku ambilkan makanan buat kamu ya. Kalau perlu aku suapi, kamu tinggal kunyah aja kalau memang males atau capek. Oke kan?" Arya mengusap pipi Lena dengan sayang.


Lena pun tak lagi punya alasan untuk tidak mau makan. Walau sebenarnya dia merasa tidak enak badan, tapi karena takut jika Arya akan mengkhawatirkannya secara berlebihan, akhirnya dia hanya mampu mengangguk pelan.


"Ya sudah. Tunggu sebentar. Aku tak akan lama," tutur Arya sambil beranjak dan keluar dari kamarnya.


Sambil berlari kecil, Arya menuruni tangga dan segera menuju meja makan untuk mengambil makanan buat istrinya. Ocehan teman-temannya yang masih terdengar berisik di telinga pun tak dia hiraukan, hingga begitu makanan itu sudah lengkap di piringnya, Arya segera naik tanpa berkata apa-apa.


"Kau lihat, seberapa parah kebucinan Arya?" ucap Rudi kepada Johan dan Indra, sementara Zara hanya diam saja tak menanggapi banyolan pria dewasa yang saat ini ada di hadapannya.


Arya yang sebenarnya mendengar ledekan Rudi pun tak bernafsu untuk memberikan komentarnya. Dia terus melangkah masuk, dan menghampiri istrinya yang masih bersandar di kepala ranjang, sedang menunggunya.


"Ayo makan, aku suapin ya," cicit Arya lembut.


"Tapi satu sendok saja," Lena merajuk.


"Mana ada makan cuma satu sendok. Bukannya tadi kamu bilang lemes, capek, males ngambil makanannya. Sekarang mau alasan apa lagi? Aku sudah capek-capek ngambilin makanan buat kamu ini lho. Makan ya, aku suapin," Arya berusaha merayu istrinya agar memakan makanan yang kini sudah berada di tangannya.


"Ya udah, tiga sendok aja ya, Kak," Lena mencoba menawar.


"Makan kok pake tawar menawar seperti lagi jualan aja. Tidak usah dihitung berapa sendok. Makan ya makan aja, sampai perut kamu kenyang, baru udahan. Lagian kamu itu aneh. Dicicipin juga belum, sudah nawar minta sesendoklah, tiga sendoklah," omel Ryan, menghadapi istrinya yang tiba-tiba malas makan.


"Tiga sendok. Ya, ya, ya ...," Lena masih menawar.


"Ya sudah, tujuh belas," tegas Arya.


"Tiga," tawar Lena.


"Tiga belas,"


"Empat sendok boleh ya, Kak,"


"Lima,"


"Sepuluh,"


"Enam sendok. Udahan ya Kak. Enam sendok aja Deeba makan. Ya,"


"No. Sembilan sendok,"


"Kebanyakan, Kak Tama Sayang. Tujuh deh. Deal ya,"


"Ya sudah, tujuh sendok deal. Tidak boleh nawar lagi," akhirnya Arya mengalah.


Satu sendok, dua sendok, hingga suapan ke tujuh pun akhirnya berhasil masuk ke mulut Lena dan mendarat sempurna di perutnya.


"Nah gitu dong. Ini baru istri cantiknya Arya Hutama," seru Arya sambil menyodorkan segelas air putih kepada Lena.


Lena pun meneguh air putih itu tanpa sisa, hingga gelas itu kosong tak ada air lagi di dalamnya. Begitu air dalam gelas itu habis, Lena kembali membaringkan tubuhnya dan merapatkan selimut itu lagi hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga sebatas lehernya.


"Ihhh, Cantik. Habis makan tidak boleh tidur loh," cegah Arya, melihat Lena kembali bermalas di tempat tidurnya.


"Tau ahh, bodo amat. Deeba capek banget," mendengar teguran Arya, Lena justru semakin merapatkan selimutnya.


"Ehh, dibilangin juga. Sakit perut tahu rasa lho," Arya hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Aduh, Kak Tama berisik ahh. Lagian mana ada suami nyumpahin istrinya sakit perut," gerutu Lena sambil terus memejamkan mata.


"Bukan nyumpahin, Wahai Humairah. Tapi mbilangin. Kan Kak Tama mu ini nggak mau kalau istri tercintanya sakit perut. Bangun yuk, sebentar lagi juga ashar loh. Yuk," setelah meletakkan piring dan gelas bekas istrinya, Arya membuka selimutnya dan menarik tangan Lena, hingga wanitanya itu kembali terduduk.


"Tapi temenin," Lena kembali merengek. Bahkan begitu duduk, tangannya langsung melingkar manja di pinggang suaminya.

__ADS_1


"Setelah selesai meeting aku temenin. Sekarang aku meeting dulu ya, tidak enak jika harus terlambat lagi seperti tadi pagi," tutur Arya lembut.


"Huh, nyuruh-nyuruh bangun nggak tanggung jawab. Ya udah sana kalau mau meeting. Deeba tidur lagi aja," Lena kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, bahkan selimutnya pun kembali dia rapatkan untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali kepala.


"Eh, istri sholehahnya Kak Tama tidak boleh malas kayak gini. Ayo ahh. Wake up. Come on baby, wake up!" Arya kembali menghempaskan selimut istrinya dan mendudukkan Lena dengan cara menarik tangannya.


"Kak," rajuk Lena.


"Mmm, kayaknya kalau hawanya pengen di kasur kayak gini, tanda-tanda pengen ngulang yang tadi pagi nih," Arya menyeringai nakal.


"Ehh, tidak, tidak, tidak. Tidak perlu. Deeba akan bangun. Sana kalau Kak Tama mau meeting bersama mereka," mendengar satu kalimat itu, Lena langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri kembali.


"Kamu mau mandi lagi? Bukannya tadi bilang sudah mandi sebelum sholat dhuhur tadi?" Arya mengintip sedikit ke dalam kamar mandi dan memastikan bahwa Lena memang mandi lagi.


"Hmmm, biar nggak ngantuk. Udah ahh sana. Nanti Kak Tama terlambat lagi," usir Lena, sebelum hal-hal tak diinginkan akan terjadi lagi.


"Cium dulu, Yang," kini Arya yang merengek.


"Nggak ada. Udah ah sana!" tolak Lena.


"Dikit aja, Yang. Boleh ya?" Arya mulai menggoda.


"Tuan Arya Hutama yang terhormat, bukankah Anda bilang jika Anda tak ingin kembali terlambat datang dalam meeting Anda bersama teman-teman? Jadi sekarang, silahkan Anda keluar sebelum Anda terlambat datang," Lena mendekati pintu, dan menutupnya perlahan.


Klik.


Setelah pintu tertutup sempurna, terdengar bunyi kunci diputar.


"Kau benar-benar tak ingin aku masuk ke dalam, Sayang?" oceh Arya setengah berteriak.


"No," Lena menyahut dari dalam dengan teriakan serupa.


"Baiklah kalau begitu," Arya membalikkan tubuhnya, kemudian mengambil piring dan gelas bekas makan Lena lalu keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.


Semua mata teman-teman Arya yang masih bertahan di ruang keluarga itu pun kini menatap Arya yang sedang berjalan dengan sebuah piring dan gelas di tangannya.


"Apaan lihat-lihat?" protes Arya sambil menatap tak suka ke arah Rudi, Johan, Indra dan Zara.


"Manja banget istri tercinta Arya Hutama," celoteh Rudi yang diamini semua teman-temannya.


"Biarin aja. Dari pada dia manjanya sama orang lain, mending manja sama suami sendiri," Arya menanggapi ocehan Rudi dengan begitu cueknya. Dia justru terus berjalan dengan santai ke arah dapur, untuk meletakkan gelas dan piring kotor yang sedang di bawanya.


"Apa istrimu sakit?" Johan yang sama-sama sudah beristri, sedikit bisa menangkap sikap yang ditunjukkan Arya.


"Kutanya sih katanya lemes dan capek aja," sahut Arya sambil menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Kamu sih, gempur dia terus. Pasti kamu mengerjainya tanpa ampun semalaman, ditambah lagi tadi pagi," seakan tak pernah kehabisan kata, Rudi selalu punya bahan untuk menggoda sahabatnya.


"Sok tahu. Kayak punya istri aja sih kamu?" timpal Johan, sambil melempar sebuah bantal.


"Bukan begitu. Buktinya, tadi pagi Arya terlambat. Datang-datang dengan rambut basah lagi," kini Rudi terkekeh sendiri.


"Biasanya kami juga main berkali-kali. Tapi Lena asyik-asyik saja dan tak pernah separah ini," sahut Arya membela diri.


Indra dan Zara yang mendengar ucapan tiga pria dewasa di depannya itu pun hanya diam saja dan menjadi pendengar setia. Apalagi Zara, yang di tempat itu menjadi satu-satunya wanita. Rasanya sangat malu mendengar tiga pria itu membicarakan hal sangat pribadi mereka di tempat itu.


"Kenapa kalian hanya terdiam?" jiwa usil Rudi sudah tak sabar mengerjai Indra dan Zara lagi.


"Harus bilang apa jika sudah ada tiga pria dewasa yang membicarakan hal sangat pribadi di depan anak-anak muda yang belum tahu apa-apa," Indra mengangkat bahu dan tangannya, seolah tak peduli dengan topik pembicaraan ketiga seniornya.


"Sok polos, kamu," cibir Rudi, sambil tersenyum tipis ke arah Indra.


"Aku ini masih perjaka tau. Masih polos dengan hal pribadi yang sedang kalian bicarakan itu," ujar Indra spontan.


"Soal perjaka sih, aku juga perjaka. Tapi apa kau tak nyambung sedikitpun jika kami membicarakannya?" Rudi kembali angkat bicara.

__ADS_1


"I don't care what you say,"


BERSAMBUNG


__ADS_2