METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Candu Yang Memabukkan


__ADS_3

Rembulan terus tersenyum malam ini. Satelit bumi itu dengan bangga memancarkan pesona cahayanya, seolah ingin mengundang seluruh penduduk bumi untuk turut menikmati.


Di sebuah ruang di rumah sakit, wanita paruh baya yang hanya tersentuh make up tipis itu tetap terlihat cantik, meski binar matanya terlihat redup karena terlalu banyak menanggung cobaan hidup.


Namun, bisa dipastikan bahwa segurat senyum kini terlukis di bibirnya, saat mengingat bahwa satu masalah dalam keluarganya telah usai. Ya, akhirnya Hengky bersedia membuka hatinya untuk Fisha, menikahinya, bahkan malam ini bersedia masuk ke dalam kamar pengantinnya. Meskipun Nyonya Atmaja tidak sampai berharap akan terjadi sesuatu di dalam sana, minimal menurut pengamatannya, Hengky memperlakukan Fisha dengan sangat baik dan menerimanya sepenuh jiwa.


"Tinggal masalah Meysie dan papanya," batin Nyonya Atmaja dalam hati.


Tak seperti biasanya, malam ini Nyonya Atmaja masih berada di rumah sakit, tepatnya di ruang ICU menunggu putri satu-satunya dengan berjuta harap dia bisa segera terbangun dari komanya.


Ya, malam ini Nyonya Atmaja terpaksa bilang bahwa akan ada yang menemani Meysie, agar Hengky bisa menghabiskan malam pertamanya bersama Fisha.


"Untung saja Hengky percaya. Jika tidak, dia pasti akan melewatkan malam pertamanya," batinnya lagi.


Sepanjang malam, dia terus duduk di samping Meysie. Helaan nafas panjang, beberapa kali terdengar dari mulutnya saat melihat putri sulungnya itu seperti tertidur dengan pulasnya.


Sesekali, Nyonya Atmaja menghujani seluruh wajah Meysie dengan ciuman kerinduannya, tak lupa berjuta do'a dia lantunkan dengan untaian pinta yang terus dia eja kepada Allah Sang Maha Pencipta.


tik-tik-tik.


Bunyi khas dari detektor jantung yang selalu memecah keheningan di ruang itu, menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi Nyonya Atmaja, yang selalu tenang dengan ketukan bunyinya, yang mengisyaratkan bahwa tubuh yang kini bagai seonggok robot itu masih mempunyai detak jantung dan masih ada harapan untuk bisa bangun dari tidurnya yang panjang.

__ADS_1


"Kenapa kau tak bangun juga, Nak? Mama sangat merindukanmu. Kata dokter luka tembak di dadamu sudah sembuh. Kau juga tampak sudah sehat jika Mama lihat, Sayang. Tapi kenapa kau tak juga bangun dari tidurmu?" Nyonya Atmaja mengelus kepala Meysie dengan lembut. Sungguh, meski wajahnya pucat, Meysie masih terlihat sangat cantik walau mengenakan baju rumah sakit.


***


Fisha menutup seluruh tubuhnya hingga di atas kepala, sampai ujung rambutnya pun tak dapat di tangkap oleh mata. Dia betul-betul merasa malu, setelah Hengky benar-benar menjadikan Fisha sebagai istrinya yang sesungguhnya, tepat di malam pertama mereka.


Hengky yang kini telah tumbang di samping Fisha pun akhirnya mengurungkan niat untuk memejamkan matanya. Pandangannya kini justru tertuju pada gadis yang baru saja dia gagahi itu, dan terkekeh dengan begitu lepasnya melihat hal konyol yang istrinya lakukan.


Sedetik kemudian, Hengky beranjak bangun dengan tubuh polosnya, mendekati Fisha yang masih bersembunyi di balik selimut itu.


"Sayang, kenapa kau bersembunyi di balik selimut itu? Susah tau, nafasnya," tanya Hengky sambil berusaha membuka selimut yang menutupi wajah Fisha.


"Mas, jangan!" cegah Fisha saat tangan Hengky sudah di ujung kepala dan hendak menurunkan selimut yang dia kenakan.


"Fisha malu, Mas," sahut Fisha, sambil memegangi ujung selimutnya dengan kuat. Walaupun sesaat tadi Fisha sudah menyerahkan kesucian yang selama ini selalu dia jaga, tapi Fisha belum berani menatap suaminya setelah hal indah yang sama-sama mereka rasa.


"Malu? Ha-ha-ha-ha. Bahkan tadi aku sudah melihat dan mencicipi semuanya, Sayang. Jangan bilang kau sudah lupa dengan apa yang tadi kita lakukan. Atau kau ingin aku mengingatkannya? Jika iya, mari aku ingatkan. Kita lakukan sekali lagi," sahut Hengky sambil membelai kepala Fisha dengan mesranya. Hengky masih berusaha menurunkan selimut itu, bahkan kini tangan Hengky sudah berhasil masuk ke dalam selimut dan bergerak kemana-mana tanpa bisa dikondisikan lagi.


"Mana ada?" timpal Fisha.


"Sekarang, ini semua punyaku. Kau tak boleh menutupinya dari yang punya," Hengky menyeringai nakal.

__ADS_1


"Mas Hengky lepasin," rengek Fisha manja. Kini satu tangannya berusaha meraih tangan kekar Hengky, dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mempertahankan selimut dari tubuhnya.


"Lepasin selimutmu dulu," bisik Hengky tak kalah manja. Bahkan dia sengaja berbicara sangat lirih tepat di telinga Fisha, hingga setiap ucapannya mampu dia tangkap dengan begitu sempurna.


"Nggak mau. Pasti Mas Hengky mau ...," Fisha menggantungkan kalimatnya.


"Mau apa? mau lagi? Kau sudah mulai bisa piktor ya? Hmmm?" goda Hengky sambil terus mengerjai istrinya.


"Iiihhh, apaan?" Fisha kembali merapatkan selimutnya. Sayangnya, tangan Hengky lebih kuat hingga Fisha tak mampu mengimbangi gerakan tangannya. Dan sesaat kemudian, Hengky berhasil menarik selimut yang dikenakan Fisha dengan sempurna, dan melemparkan selimut itu ke lantai begitu saja.


Mata Hengky membelalak. Dia masih saja takjub melihat keindaham tubuh yang kini terpampang nyata di hadapannya. Hanya dalam waktu semalam, Fisha telah berhasil menjadi candu. Ya, candu yang benar-benar memabukkan hati Hengky, bahkan di saat Hengky belum bisa melepaskan pautan hatinya kepada Rani.


"Awalnya aku ragu. Aku kira hati ku sudah mati hingga tak akan pernah ada lagi seseorang yang bisa hidup di dalam hati ini. Mulanya, aku hanya ingin memberikan hak kepadamu dengan melakukan kewajibanku. Tapi setelah bersama dan melihat keindahanmu malam ini, kenyataan membuatku tersadar bahwa semua yang kupikirkan berbanding terbalik dengan reaksi hati saat kau tak lepas dari pandangan. Kini kau hadir dan telah mengisi satu ruang hatiku yang kosong, meski aku tak tahu apakah itu karena perasaan cinta atau iba." Hengky bergumam dalam hati, dengan posisi masih bergerilya mereguk candu yang telah memabukkannya.


Jujur, sebenarnya Hengky masih mencintai Rani, bahkan tidak tahu sampai kapan perasaan cinta itu akan tetap bersemayam di dalam hatinya. Ya, debar di dadanya masih sama. Debar jantung yang tak asing di telinga, dan semuanya tidak akan pernah berubah.


Awalnya, Hengky menerima pernikahannya dengan Fisha karena perasaan iba yang luar biasa. Namun melihat secara keseluruhan tentang Fisha, juga gaya berpakaian dan kecerdasan yang hampir sama dengan sosok Arania Levana, membuat Hengky tidak bisa menautkan pandangannya ke arah lain.


"Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta kepadanya? Apakah aku benar-benar telah melupakan dan melepaskannya dari hatiku?" batin Hengky dalam hati.


Kini, Fisha benar-benar telah mengisi satu ruang kosong dalam hati Hengky. Entah karena perasaan cinta atau hanya sekedar sayang semata, yang jelas Fisha adalah candu yang memabukkan untuknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2