METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kornea di Pasar Gelap


__ADS_3

Tanpa jiwa-jiwa manusia sadari, waktu cukup kencang berlari. Tak terasa, hari berganti dengan cepat menuju gelap. Jam makan malam pun telah tiba, seperti biasanya, sehabis sholat isya Bik Tum akan mengetuk satu per satu kamar majikannya, memberitahukan bahwa makan malam sudah siap dan mereka semua turun menuju meja makan untuk makan malam bersama seperti biasanya.


Pada sebuah meja makan yang panjang, telah terhidang aneka sajian yang mengunggah selera. Air putih juga jus buah telah tertata dengan apik, disesuaikan dengan jumlah kursi yang tersusun dengan rapi.


Ada dua belas kursi yang mengelilingi meja makan itu, sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal di kediaman keluarga Dewangga. Satu kursi untuk duduk kepala keluarga ditempati oleh Ryan, satu kursi di seberang Ryan duduk ditempati oleh Arsen. Dan lima kursi yang berjajar di samping kiri, begitu juga di samping kanan, ada lima kursi tersisa. Rani yang duduk di deretan sayap kiri, ambil posisi di sebelah Ryan, sementara Mommy Aghata duduk di sayap kanan di dekat Arsen. Sisa empat kursi di masing-masing sayap, di tempati Daniel dan Naja, Arya dan Lena, Johan dan Nina, juga Mama Davina, dan untuk kursi yang terakhir di tempati Rudi.


Malam itu, mereka makan malam dalam formasi komplit. Tidak ada satu orang pun yang absen, dari acara makan malam itu. Mereka memakan semua hidangan yang ada di hadapan mereka dalam mode diam, tidak ada suara apapun selain suara dentingan sendok yang beradu dengan piring tempat mereka makan.


Setelah makan malam selesai, barulah mereka menghabiskan waktu untuk sekedar bercanda dan mengobrol di ruang tamu, atau ruang keluarga tempat mereka biasa menghabiskan waktu.


Kring-kring.


Tiba-tiba melodi ponsel Rudi berdering. Setelah menekan icon hijau, Rudi pun terlihat mendengarkan dengan seksama ucapan orang yang berada di ujung teleponnya. Semua mendadak terdiam dan memperhatikan Rudi yang ekspresinya berubah-ubah ketika menerima panggilan itu.


Begitu Rudi menutup teleponnya, Rudi segera beranjak dan menghampiri Ryan, kemudian membisikinya sesuatu. Ekspresi yang Ryan tunjukkan juga berubah-ubah. Ada binar bahagia di matanya ketika Rudi memberikan sebuah kabar gembira, tapi lama-lama sinar di mata indah itu meredup ketika Rudi terus membisikinya dengan kalimat lain setelahnya.


"Ada apa?" Arya yang sudah penasaran tak tahan untuk bertanya.


"Iya, ada apa?" Arsen menimpali.


"Apa ada masalah?" Daniel yang tidak tahu bagaimana ekspresi Ryan dan Rudi, ikut bertanya begitu Arya dan Arsen bersuara.

__ADS_1


Ryan menatap satu per satu orang yang berada di depannya dengan ragu.


"Huh," Ryan menghela nafas panjang, kemudian berusaha menata kalimat yang hendak dia ceritakan.


"Begini," Ryan membuka kalimatnya, yang kemudian langsung diikuti mode serius semua yang kini telah menunggu apa yang akan dikatakannya.


"Kita mendapatkan tawaran cukup menarik, dan mungkin akan sangat membantu kita jika kita mau mengambil peluang yang mereka tawarkan kepada kita," ucap Ryan sambil membenarkan posisinya. Rudi yang sudah tahu terlebih dahulu dengan apa yang akan majikannya katakan selanjutnya, hanya bisa mendengarkan kalimat apa yang akan Ryan pakai untuk menceritakan tawaran itu kepada keluarganya.


"Kita mendapatkan tawaran donor kornea, tapi ...," Ryan terlihat ragu dengan kalimat terakhirnya.


"Tapi apa, Sayang?" sela Aghata tak sabar. Kata donor kornea benar-benar sudah menarik perhatiannya.


Semua terdiam, mendengar apa yang baru saja Ryan sampaikan. Mereka semua tahu, apa arti dari pasar gelap itu.


Ya, penjualan organ manusia sebenarnya sudah memiliki jaringan internasional yang teratur dan rapi, namun masih samar-samar terdengar oleh awam sebab tergolong ilegal di beberapa negara, termasuk di Indonesia, walaupun permintaan organ ini sebenarnya cukup banyak dan menawarkan kompensasi yang sangat menggiurkan. Bukan hanya menggiurkan bagi si penjual, tapi juga sangat menarik untuk semua pembeli yang sangat membutuhkan.


Dan masyarakat miskin adalah pihak yang sering tergoda menjual salah satu organ tubuhnya terutama ginjalnya di pasar gelap. Bahkan dalam beberapa kasus, pendonor direkrut dan diterbangkan ke negara lain untuk diambil organnya dalam ruang operasi, dengan kompensasi fantastis yang sudah tentu menggoda hati.


Meskipun banyak nyawa yang terselamatkan oleh donor organ, banyak juga orang yang mati saat menunggu ketersediaan organ. Rata-rata, ada pertambahan sekitar 106 orang yang menunggu organ setiap hari dan 18 orang meninggal dunia setiap hari karena tidak mendapatkan donor organ.


"Bukan masalah harganya, karena berapapun kita bisa membayarnya. Namun, ini adalah praktik ilegal. Semua negara di seluruh penjuru dunia tidak melegalkan praktik jual beli organ semacam itu," jelas Ryan kemudian.

__ADS_1


"Kalau kita ambil di Iran bagaimana, By? Bukankah di Iran di legalisasi?" tanya Rani penasaran. Rani dan siapapun yang berada di tempat itu pasti tergoda dengan tawaran yang Ryan katakan itu. Hal ini bukannya tanpa alasan. Sudah dua bulan mereka menunggu donor itu, tapi belum juga ada tanda-tanda bahwa mereka akan mendapatkannya.


"Betul. Iran adalah satu-satunya negara yang memungkinkan organ untuk dibeli dan dijual secara legal. Namun, hal itu membatasi pembatasan perdagangan organ komersial dalam upaya membatasi pariwisata transplantasi. Pasar hanya untuk di dalam negeri. Artinya, kita sebagai orang asing tidak diperbolehkan membeli organ warga Iran. Selain itu, organ hanya dapat ditransplantasikan antara orang-orang dengan kewarganegaraan yang sama," Ryan menjelaskan secara gamblang.


"Jadi gimana Niel? Meski ilegal, mereka tetap akan menjamin keamanan kita secara hukum. Tidak akan ada pihak yang tahu, kalau kita membeli kornea mata dari pasar gelap itu," tawar Ryan kepada Daniel. Kini, semua orang menatap Daniel, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Bagaimana, Tuan? Mereka butuh jawaban kita secepat mungkin, karena jika kita tidak ambil, kornea itu akan ditawarkan kepada orang lain," Rudi yang sudah berjanji akan segera menghubungi pihak pasar ilegal itu ikut nimbrung, mengingat Daniel tak juga mengeluarkan jawabannya.


"Mom?" Daniel memanggil Aghata, meminta pertimbangan.


"Apapun keputusanmu, Mommy akan mendukungnya, Sayang. Mommy yakin dengan apapun yang kau putuskan," jawab Aghata tenang.


"Dad?" kini giliran Arsen yang Daniel butuhkan masukannya.


"Jawaban Daddy seperti jawaban Mommy, Nak. Apapun keputusanmu, Daddy hanya bisa mendo'akan yang terbaik," sahut Arsen tak kalah tenang. Dia benar-benar yakin bahwa putranya itu akan memutuskan dengan pertimbangan yang cukup matang.


"Hmmmm," Daniel menarik nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi secara perlahan. Dia pun meremas tangan istrinya untuk mendapatkan transfer kekuatan.


Kini, semua keputusan ada di tangannya. Akankah Daniel mengambil tawaran itu agar dia bisa segera kembali melihat indahnya dunia?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2