
Hari itu mereka membiarkan Daniel dan Arsen larut dalam rasa rindu yang mendalam. Wajar saja, setelah puluhan tahun lamanya, akhirnya mereka bisa bertemu dan saling memaafkan. Walaupun kondisi Daniel sekarang buta, tapi rasa bahagianya saat itu tetap saja belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hal itu tergambar dari ekspresi wajahnya yang menunjukkan raut sangat bahagia.
Tak ingin mengganggu moment itu, Aghata bersama Johan memilih untuk duduk di bangku panjang luar ruangan, sementara Ryan dan Rani memilih untuk mencari udara segar di taman rumah sakit. Hanya Naja saja yang menemani Daniel di dalam, takut jika sewaktu-waktu ada yang Daniel butuhkan.
"Selalu ada hikmah dalam setiap ujian yang datang," gumam Ryan lirih.
Rani yang sedang berjalan di sampingnya, hanya mengangguk, membenarkan.
Kini mereka terlihat berjalan bergandengan menuju taman yang berada di bagian samping rumah sakit. Dari ruang perawatan Arsen, mereka menyusuri lorong-lorong panjang yang menghubungkan satu bangsal ke lain bangsal. Hingga tiba-tiba, langkah Rani terhenti. Tangan Ryan yang masih menggenggamnya pun ketarik ke belakang.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ryan sambil menghentikan langkahnya. Dahinya mengernyit, menandakan banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
"By," ucap Rani sambil mengarahkan matanya ke sebuah titik.
Ryan mengikuti kemana mata Rani tertuju. Di sebuah bangku panjang di depan ruang ICU, terlihat seorang perempuan paruh baya yang sedang duduk seorang diri di sana. Kecantikannya masih begitu terpancar, walau usianya tak lagi muda. Beberapa garis halus di wajahnya pun tak sedikitpun mengganggu pesonanya, walau kini badannya agak kurus akibat beban demi beban dalam menghadapi setiap ujian.
"Tante," Rani menarik tangan Ryan dan menghampiri perempuan itu.
Dia adalah Nyonya Atmaja. Semenjak Meysie koma dan Tuan Atmaja kabur setelah melakukan penculikan kepada Rani dan meninggalnya putra Arya, memang Nyonya Atmaja hampir selalu tinggal di rumah sakit. Apalagi Hengky tetap harus menjalankan perusahaan keluarga Atmaja, membuat perempuan itu hampir tak pernah ada waktu untuk beristirahat di rumah, kecuali jika malam Hengky menggantikannya.
"Nak," sahut Nyonya Atmaja. Di luar dugaan, dia langsung berdiri dan merengkuh Rani dalam pelukannya.
"Apakah Tante sendiri saja?" Rani mencoba memecah suasana haru di antara mereka.
"Hengky sedang di kantor polisi, bersama pengacara papanya," jawab Nyonya Atmaja lirih.
"Maaf, Tante," kata itu yang keluar dari bibir Ryan.
"Bukan salah kalian, Nak. Om kamu itu memang salah. Biarkan dia mempertanggungjawabkan kesalahannya. Tante atas nama keluarga meminta maaf," kini bulir bening mengalir dari ujung mata Nyonya Atmaja.
__ADS_1
Rani memeluk Nyonya Atmaja dengan erat, sekedar memberi kekuatan. Setelah Nyonya Atmaja lebih tenang, Rani melepas pelukannya kembali dan mengajak perempuan paruh baya itu untuk duduk.
"Bagaimana kondisi Meysie, Tante?" tutur Rani.
"Masih sama, Nak," lirih Nyonya Atmaja.
"Apa Rani boleh melihatnya, Tante?" tanya Rani kemudian.
"Tentu saja, Sayang. Ayo!" Nyonya Atmaja bangkit dan dengan semangat empat lima menarik tangan Rani, mengajaknya masuk ke dalam.
"Hubby?" Rani menatap suaminya dengan tatapan penuh pinta, seolah hendak mengajak suaminya itu untuk ikut masuk ke dalam.
Ryan hanya menggeleng pelan. Bukan tidak mau menjenguk sahabat sekaligus orang yang pernah mencintainya itu, tapi karena Meysie adalah sumber permasalahan keluarga mereka akhir-akhir ini. Lagipula, dia benar-benar ingin menjaga perasaan Rani, sehingga lebih memilih untuk menunggu mereka di luar.
Dengan pelan, Rani membuka pintu sebuah ruang. Di dalam ruang itu, Meysie masih terbaring bagai seonggok robot, yang dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran di seluruh tubuhnya. Masih seperti saat pertama kali Rani menjenguknya, Kabel infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan banyak kabel lain yang terpasang di sana.
Di samping tempat Meysie dirawat, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang bergerak naik turun, yang menunjukkan grafik detak jantung Meysie yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantungnya.
"Auww," Rani teriak kesakitan. Ternyata tangan Meysie menggenggam erat tangan Rani, sangat erat.
Nyonya Atmaja yang menyadari hal itu sampai membulatkan matanya, seolah tak percaya. Bahkan ketika dia melihat Rani beberapa kali gagal melepaskan genggaman tangan Meysie, Nyonya Atmaja berusaha membantu melepaskannya, sayangnya gagal.
Merasa butuh bantuan, akhirnya Nyonya Atmaja berlari keluar meminta bantuan Ryan. Ryan yang merasa ada hal tak beres pun segera masuk ke dalam. Dia cukup tercengang melihat dua wanita yang pernah sama-sama singgah di hatinya itu kini sedang dalam posisi seperti itu.
"Dalam kondisi koma pun kau masih mau menyakiti istriku, Mey?" gerutu Ryan dalam hati.
Melihat Rani yang bahkan sudah meringis kesakitan karena tangannya yang begitu kencang Meysie genggam, Ryan pun mendekat dan berusaha membantu melepaskannya. Namun seperti yang dilakukan Rani dan Nyonya Atmaja, apa yang dilakukan Ryan juga gagal. Genggaman tangan Meysie sama sekali tidak merenggang, bahkan ketika dipaksa dilepas pun ternyata tetap tak bisa dilepaskan.
"Mey, tolong lepaskan tangan istriku," ucap Ryan lembut. Ryan yakin bahwa Meysie tetap mendengar suaranya walaupun dia belum sadarkan diri.
__ADS_1
Meysie tak bergeming. Tangannya masih mencengkeram tangan Rani erat.
"Mey, apakah kau masih mencintaiku? Kau tau kan, bagaimana rasanya ketika kita mencintai seseorang? Jika iya, seperti itu juga yang aku rasakan. Aku mencintainya seperti kau mencintaiku. Jadi, restuilah hubungan kami, Mey. Mari kita bersahabat seperti dulu," Ryan terus berbicara, walaupun tak ada respon sedikit pun dari lawan bicaranya.
"Apa kau tahu, Mey. Aku benar-benar merindukanmu. Aku merindukan Meysie yang dulu. Meysie yang selalu ada dalam suka dan dukaku. Tidakkah kau ingin kita sama-sama lagi seperti dulu? Jika kau memang menyayangiku, dukunglah aku dan rumah tanggaku, Mey. Lihatlah, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Tidakkah kau ingin memberiku selamat saat anakku terlahir nanti?" oceh Ryan tanpa peduli apakah Meysie mendengarnya atau tidak.
"Mey, lepaskan tangannya dan bangunlah! Kumohon," kini, tak terasa air mata Ryan menetes. Segala rasa yang ada di hatinya kini menyeruak di dalam dada.
Dan hal tak terduga pun terjadi. Berangsur-angsur Meysie melemahkan cengkeraman tangannya, sesaat setelah satu tetes air mata Ryan menetes membasahi tangan Meysie. Hingga akhirnya begitu tangan Meysie mengendur, Rani segera menarik tangannya dan akhirnya terlepas.
"Alhamdulillah," gumam Rani dan Ryan lirih. Nyonya Atmaja pun tersenyum lega.
"Maafkan Meysie, Nak," Nyonya Atmaja mendekati Rani dan mengelus punggungnya.
"Tidak apa-apa, Tante," sahut Rani masih dengan senyum tulusnya.
"Kalau begitu kami pamit, Tante," ucap Ryan sambil menarik tangan Rani keluar dari ruang itu. Dia sungguh tidak mau ada sesuatu yang terjadi lagi jika mereka berada di sana lebih lama lagi.
Nyonya Atmaja pun sangat mengerti, dan hanya bisa mengangguk pelan.
"Terima kasih telah menyempatkan mengunjungi kami," tuturnya lembut.
"Sama-sama, Tante," sebelum Rani berbicara panjang lebar lagi, Ryan segera menggandeng tangan Rani dan mengajaknya pergi.
Tapi begitu mereka sampai di luar, Hengky dan Fisha datang.
"Mas Hengky! dia?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
♥️♥️♥️
Pembaca bijak selalu meninggalkan jejak. Ditunggu vote, like, rate 5 dan comment-nya ya. Thank you.