METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kegalauan Daniel


__ADS_3

Kini Daniel sudah berada pada titik jenuh, yang tak mampu dikendalikan hati dan pikirannya. Delapan hari menunggu hasil transplsntasi, membuat semuanya seolah lumpuh dan tak bisa digerakkan. Lemah, malas, gundah, yang tersisa hanya itu. Pikiran-pikiran jelek pun kini berseliweran, ketakutan bahwa transplantasi ternyata gagal tak bisa dihilangkan dari pikiran.


Resah itu terus menguasai hati dan benaknya. Gamang dan bimbang pun seolah tak ada ujungnya. Hilang sudah keyakinan yang selama ini menyemangatinya, menyisakan ruang-ruang hampa yang terus merong-rong gejolak hatinya.


"Ahh," Daniel mendesah kasar. Menanti sore tiba sungguh terasa begitu lama. Bahkan terasa lebih lama dari beberapa bulan yang Daniel lalui tanpa ada warna yang dilihatnya.


"Tenanglah, Sayang. Perbanyak berdo'a," Naja yang bisa menangkap kegelisahan suaminya pun berusaha menenangkannya. Sebenarnya apa yang dikhawatirkan suaminya, dia juga merasakannya. Tapi demi menghalau keresahan Daniel, Naja menutupi semua kegalauannya.


"Jika operasinya gagal bagaimana?" Daniel terus saja menanyakan hal itu kepada istrinya.


"Itu tidak akan terjadi, Sayang. Jadi jangan bahas tentang hal itu lagi," cegah Naja spontan.


"Apa kau lupa, apa yang dokter itu katakan sebelum mengoperasi mataku? Dia bilang, salah satu efek samping tindakan cangkok organ termasuk kornea adalah adanya kemungkinan reaksi penolakan (rejection reaction), karena organ yang dicangkok merupakan organ dari orang lain. Itu artinya, kemungkinan transplantasi ini gagal juga besar," oceh Daniel, masih dengan kegalauan tingkat dewa yang merajai hatinya.


"Meski begitu, dokter itu juga bilang kan, dia sudah mengantisipasi terjadinya reaksi penolakan ini dengan pemberian obat-obatan, sehingga jika reaksi penolakan itu memang ada, bukan berarti juga transplantasi itu gagal. Jadi tenanglah, Sayang. Jangan berpikir yang bukan-bukan," Naja masih terus meyakinkan.


"Tapi jawab dengan benar pertanyaanku, dan berjanjilah tidak akan menjawab dengan hal-hal yang kau katakan hanya untuk menyenangkan hatiku!" kata Daniel pilu.


"Kau tahu aku tak pernah bermain-main dengan perkataanku," sahut Naja tegas. Dia mulai menebak, kemana arah pembicaraan Daniel selanjutnya.


"Jika aku tak bisa melihat lagi seumur hidupku, apa kau akan meninggalkan aku?" sebuah pertanyaan yang pernah keluar dari mulutnya, kini kembali dia lontarkan kepada Naja.


"Beribu kali pun kau tanyakan hal itu, beribu kali itu juga aku akan bilang bahwa aku akan selalu menjadi mata untukmu seumur hidupku. Kau pikir aku cinta padamu hanya karena matamu? Tidak, Sayang. Aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, juga karena lahir dan batinmu. Apa kau meragukan cintaku?" oceh Naja dengan semangat yang membara.


"Kau bisa berkata begitu karena aku baru buta beberapa bulan saja. Bukankah kau masih muda? Jalanmu masih panjang. Sayang sekali jika kau harus menghapuskan kesenanganmu untuk pria buta seperti aku, apalagi harus menghabiskan sisa usiamu denganku," Daniel masih terus larut dalam kegalauan.


"Apa kau lupa jika umurku dua tahun lebih tua darimu, Sayang? Ketika kau menampungku paska aku berhenti menjadi seorang balerina dulu, usiaku dua puluh lima tahun. Dan berapa usiamu? Dua puluh tiga tahun, Sayang. Itu artinya, bisa jadi aku yang akan tutup usia lebih dulu," Naja mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Sayang. Aku tak akan pernah lupa akan semua itu," cicit Daniel datar.

__ADS_1


"Habisnya kamu tanyanya itu terus, Sayang. Aku kan jadi sedih. Dengar ya, seperti apapun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu seumur hidupku. Aku akan menjadi mata untukmu dan menjadikan duniamu penuh warna. Bahkan aku bersedia menjadi kaki dan tangan buatmu yang akan membuatmu merasa memiliki dunia. Tahukah kenapa aku dengan rela melakukan semua itu, Sayang? Karena cinta itu ada di dalam hatiku dan hatimu. Cinta tidak hanya tumbuh di mataku dan matamu, juga lahirku dan lahirmu. Cinta adalah bahasa jiwa yang tak mampu tergantikan oleh jutaan kata di dunia, bahkan kesempurnaan fisik yang menyilaukan mata," celoteh Naja, sambil menggenggam erat tangan suaminya.


Daniel terdiam. Dia mencoba menyelami setiap kata yang Naja ucapkan. Hingga semangat itu hadir perlahan, memudarkan resah dan kegalauan yang menyelimuti hati yang dipenuhi rasa bimbang.


"Kau percaya padaku kan, Sayang?" tanya Naja sambil mengusap kepala suaminya dengan sayang.


"Aku percaya padamu. Terima kasih telah bersedia menjadi separuh dari nyawaku," seulas senyum kini tersungging di bibir Daniel.


Naja pun sedikit lega, melihat senyum itu kembali lagi setelah beberapa lama hilang dari bibir suaminya. Hingga tiba-tiba ..,


Tok-tok-tok.


Terdengar beberapa ketukan pintu di luar sana.


"Masuk," teriak Naja sambil turun dari ranjang pasien tempat suaminya terbaring di sana.


"Kami semua datang," seru Rani sambil mendekati ranjang pesakitan, diikuti semua yang datang.


"Wah, rame ini, Sayang. Banyak sekali yang sudah tak sabar menantimu pulang," celoteh Naja girang. Daniel pun tersenyum senang.


"Jam berapa dokter akan datang?" tanya Aghata sambil mengelus punggung putranya dengan penuh kehangatan.


"Harusnya sepuluh menit lagi, Mom," sahut Naja sambil melirik jam digital yang bertengger manis di tangan kirinya, juga melihat jarum pada jam dinding yang tertempel mesra di atas kepalanya.


"Bagaimana perasaanmu, Nak?" Arsen mendekat dan mengusap kepala putranya.


"Dia sudah galau tingkat dewa, Dad. Yang dia tanyakan bagaimana kalau operasinya gagal terus. Naja sampai bingung bagaimana lagi harus meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja," adu Naja kepada ayah mertuanya.


"Aku hanya takut istri cantikku ini meninggalkan aku, Dad," Daniel menimpali.

__ADS_1


"Hus, kamu tidak boleh berpikiran jelek terhadap istrimu. Perempuan itu lebih setia jika dibanding laki-laki," tutur Aghata lembut.


"Tidak semuanya begitu ah, Mom. Laki-laki juga banyak yang setia. Contohnya aku," Ryan tak terima.


"Aku juga setia lho, Mom. Jangan ragukan kesetiaanku," sahut Arya sambil merangkul pinggang Lena, yang diikuti anggukan oleh Johan.


"Tapi tetap saja lebih setia seorang wanita. Buktinya, Mama tetap bertahan dalam kesendirian meski papanya Rani telah lama pergi. Coba saja jika istri yang pergi, banyak laki-laki yang sudah mulai pilih-pilih siapa wanita yang ingin dia nikahi, bahkan sebelum prosesi pemakaman istrinya selesai, dan para pentakziah pergi," timpal Mama Davina, yang dijawab tawa riuh dari semua yang ada di sana. Semua bisa tertawa lepas tanpa beban, termasuk Daniel yang sedang dilanda keresahan, juga Lena yang terus bersama kegalauan. Ya, waktu itu semua beban pudar, dan hilang bersama sebuah kebersamaan.


Hingga tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar, kali ini tim dokter dan beberapa orang perawat yang datang, membuat seketika ruang itu senyap dalam keheningan.


Semua menyingkir dari ranjang Daniel, memberi kesempatan pada tim dokter yang menangani transplantasi itu untuk melakukan tugasnya.


Ryan dan Rani duduk di sofa dengan terus berpelukan. Arya menyingkir ke dekat jendela sambil memeluk Lena dari belakang, Davina dan Nina memilih duduk di balkon kamar demi menghilangkan rasa tegang. Kini, yang tetap berdiri di samping Daniel hanya Naja, Arsen, dan Aghata, tak lupa Johan yang sedah mengambil sikap siap siaga. Di depan pintu, Rudi pun tetap berjaga tanpa melewatkan moment mendebarkan yang sebentar lagi akan disaksikannya.


"Apakah Anda sudah siap, Tuan Daniel?" dokter itu memastikan.


"Saya tegang, Dokter. Bagaimana kalau operasinya gagal? Apa saya akan buta seumur hidup saya, Dok?" tanya Daniel, kembali pada mode galaunya yang tiba-tiba menyala.


"Tenanglah, Tuan Daniel. Pada beberapa kasus, transplantasi memang tidak berhasil karena ada penolakan organ dari tubuh si pasien. Apalagi jika kornea dari pendonor keruh, bisa jadi pasien tak akan langsung bisa melihat secara normal. Tapi kami sudah mengantisipasinya dengan memberi obat-obatan, Tuan. Apalagi kornea dari Tuan Atmaja masih begitu jernih, sehingga kami benar-benar optimis untuk keberhasilan operasi ini. Memang, kemungkinan fungsi penglihatan Anda tidak bisa langsung pulih seratus persen, karena biasanya membutuhkan waktu," jelas dokter itu panjang lebar.


"Berapa lama waktu pemulihannya, Dok?" tanya Aghata sambil meremas tangan suaminya. Setelah Daniel dan Naja, Aghata adalah orang yang paling galau menanti perban Daniel dibuka.


"Tiap individu berbeda-beda, Nyonya," sahut sang dokter dengan tenangnya.


"Baiklah, Tuan Daniel. Apakah Anda sudah siap?" tanya dokter itu lagi.


"Iya, Dok. Saya sudah siap. Apa kamu benar-benar siap, Sayang?" Daniel justru melempar pertanyaan dokter itu kepada Naja, sambil menggenggam erat tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2