
"Hubby! Hubby! Hubby dimana? Tolong Rani, by!" teriak Rani sambil menangis tersedu-sedu.
"Sayang, Hubby di sini. Buka pintunya, Yang. Hubby nggak bisa masuk, kamu kunci pintunya dari dalam ya? Sayang!" Ryan ikut berteriak, sambil menduga-duga apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Hubby tolongin Rani, By!" hanya kata itu yang terdengar dari luar. Rani terus berteriak memanggil Ryan, sementara Ryan tidak bisa masuk karena pintu sengaja Rani kunci dari dalam.
Dengan tegang, Ryan pun segera berlari ke kamar Pak Mamad hendak mencari kunci cadangan.
Karena teriakan Rani yang begitu kencang, tak berapa lama Aghata, Daniel, Naja dan seluruh pelayan yang bekerja di sana berhamburan keluar menuju kamar tamu dimana Rani terkunci di dalam, dengan suara tangisan yang semakin kencang.
Pak Mamad yang kini memegang kunci cadangan pun berusaha membuka pintu dari luar dengan tangan gemetar.
Dan satu, dua, tiga. Pintu pun terbuka. Ryan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, dan segera berlari begitu matanya berhenti pada satu titik dimana Rani sedang berteriak-teriak di atas ranjang.
"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Ryan dengan begitu tegang. Dia menghampiri istrinya yang terlihat meringis kesakitan.
"Hubby, kaki Rani sakit, By. Kaki Rani tidak bisa digerakin," Rani terus merintih, merasakan kaki kanannya yang sakit luar biasa.
"Yang mana yang sakit, Sayang?" Ryan beranjak dan mencoba memeriksa kaki istrinya.
"Yang kanan, By," rengek Rani.
Ryan mengerutkan dahinya, begitu memeriksa kaki Rani dan tidak terlihat ada luka di sana.
"Kita panggil dokter saja," Ryan segera menatap Daniel yang sudah ikut masuk ke kamar itu. Daniel yang ditatap, segera tahu maksud Ryan hingga dia beranjak dan meraih pesawat telpon yang terletak di samping ranjang.
"Tidak perlu, Sayang. Biar aku lihat dulu kondisi kakinya," cegah Naja kepada suaminya.
"Apa kamu bisa? Lihat istriku sudah sakitan seperti itu?" oceh Ryan frustasi.
Naja tak banyak berbicara. Dia langsung mendekat dan memegang telapak kaki Rani yang sakit itu. Tangan kiri Naja terlihat memegang bagian tumit, kemudian tangan kanannya menggenggam kelima jari kaki Rani dan menariknya ke atas dengan kencang.
__ADS_1
"Aooww, sakit Naja. Pelan-pelan! Hubby, sakit banget, By," Rani berteriak lebih kencang, air matanya pun terus berlinang.
"Naja, apa yang kau lakukan, Sayang?" Daniel mendekati Naja yang masih asyik dengan menekan-nekan kaki Rani.
Semua ikut tegang melihat Rani yang meringis kesakitan. Namun anehnya, semakin Naja menarik kaki Rani berkali-kali, semakin berkurang rasa sakit hingga teriakan itu sama sekali tak terdengar lagi.
"Cukup, Naja! Sakitnya sudah hilang. Terima kasih," pinta Rani lebih tenang.
"Hubby, kaki Rani sudah tidak sakit lagi. Maaf membuat Hubby dan yang lainnya jadi terbangun di tengah malam seperti ini," tutur Rani sambil memeluk pinggang suaminya yang kini telah memangku kepala Rani di pahanya.
"Kau harus belajar dari Naja, Nak. Biasanya perempuan hamil akan sering mengalami kram di bagian kaki seperti yang Rani alami tadi. Semakin lama usia kandungannya, semakin sering pula intensitas kram di kakinya," tutur Aghata sambil mendekati Rani dan mengelus kepalanya.
"Bagaimana kau melakukannya, Naja?" mata Ryan beralih menatap Naja.
"Seperti yang Anda lihat tadi, Tuan. Cukup menekan bagian telapak kakinya ke atas sampai kram di kakinya hilang. Bisa juga dengan memaksa kakinya turun hingga menapak lantai, kemudian berdiri seperti biasa. cara itu juga cukup efektif untuk membuat kram di kakinya hilang, namun jika kesulitan akan lebih cepat dengan cara yang tadi saya gunakan," jelas Naja panjang lebar.
Ryan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sambil memandangi Rani yang sudah terlihat lebih tenang.
Dalam hitungan menit, Ryan pun segera menggendong Rani dan membawanya kembali ke kamar, hingga semua yang berkumpul di kamar tamu itu bubar dan kembali tidur ke kamar mereka masing-masing.
"Maaf telah membuat Hubby khawatir," sahut Rani sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Berjanjilah satu hal kepada Hubby," Ryan menempelkan hidungnya pada hidung Rani dan menggeseknya pelan.
"Apa?" Rani tak mengerti.
"Jangan pernah kunci pintu baik saat kamu di kamar maupun saat di kamar mandi. Kalau terjadi sesuatu padamu seperti tadi, Hubby kesulitan mau nolongin kamu," Ryan bertutur lembut.
"Iya, Hubby. Rani janji," jawab Rani sambil tersenyum penuh arti.
"Ya sudah, istri Hubby yang cantik ini sekarang tidur lagi, biar Hubby pijitin kaki kamu yang sakit tadi. Ok?" Ryan mengecup kening Rani, kemudian menggeser tubuhnya dan mengangkat kaki Rani di atas pahanya. Tangannya sibuk memijit-mijit telapak kaki Rani, hingga istri yang sedang mengandung pewaris tahta keluarga Dewangga itu pun segera terlelap ke alam mimpi.
__ADS_1
Malam itu, Ryan benar-benar menjadi suami siaga untuk Rani sesuai dengan apa yang telah dia janjikan.
"Ini baru permulaan, Ryan. Sembilan bulan kau harus rela meski dia meminta hal di luar logika. Bukankah orang ngidam katanya banyak maunya?" Ryan bergumam sendiri dalam hati.
"Tapi apapun itu, aku akan berikan semua yang kau mau, Sayang. Karena dalam rahimmu ini ada kado terindah untukku yang tiada bandingannya. Terimakasih sudah menjadikanku sebagai suamimu, juga seorang Daddy untuk calon buah hati kita," Ryan menurunkan kaki Rani dari pangkuannya, kemudian masuk dalam selimut yang sama dengan istrinya, hingga ikut bergabung di alam mimpi dimana Rani sedang asyik di sana.
Setelah satu jam tidur dengan memeluk istrinya, Ryan kembali terbangun saat tangan Rani menggoyang-goyangkan pipinya.
"By, bangun, By! Hubby!" suara Rani terdengar tepat di telinga Ryan.
"Kenapa lagi sih ini bumil?" batin Ryan dalam hati.
Setelah mengucek matanya yang baru sempat tidur sebentar, Ryan pun segera duduk dan menyalakan lampu yang kebetulan tepat berada di samping ranjang itu.
"Ada apa, Sayang. Apa kamu butuh sesuatu?" Ryan mencoba untuk menerka.
"Hubby, Rani lapar," rengek Rani dengan manja.
"Lapar? Jam segini? Astaga ..., semoga dia nggak minta yang aneh-aneh," gumam Ryan dalam hati, sambil menoleh ke arah jam dinding yang menunjuk angka 1.
"Baiklah akan Hubby ambilkan ke bawah. Kamu mau makan pakai apa, Sayang?" Ryan terlihat sangat antusias.
"Rani pengen yang asem dan seger, By. Bisakah Hubby cariin rujak bebek untuk Rani?" pinta Rani dengan binar mata penuh harap.
"Beneran rujak, Sayang?" Ryan memastikan. Dia benar-benar tidak ada bayangan, dimana harus mencari rujak bebek pada tengah malam semacam ini .
"Iya, Hubby," jawab Rani polos.
"Kamu benar-benar mau rujak bebek di tengah malam seperti ini?" Ryan memastikan lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Terima kasih