
Fisha menatap jalanan yang sedang dilaluinya dengan tatapan kosong. Sejak mereka pamit pulang setelah menjenguk Rani beberapa saat yang lalu, dia terus saja diam membisu tanpa mengucapkan sesuatu..
Hengky yang kini berada di sampingnya sambil mengemudikan mobil mereka pun, sesekali melihat Fisha dengan penuh tanda tanya. Bahkan karena tak juga mendengar suara wanitanya yang biasa banyak bertanya, Hengky jadi merasa kesal dibuatnya.
"Untung saja sopir kita sudah kita suruh pulang duluan dengan membawa barang-barang kita tadi. Jika tidak, dia pasti akan menunggu kita lama sekali," Hengky mencoba membuka pembicaraan. Dia ingin melihat, apakah ucapannya bisa memancing istrinya untuk membuka suara.
"Hmmm," jawab Fisha asal. Rupanya Fisha sama sekali tak terpancing dengan apapun yang dikatakan suaminya.
"Kok Hmm doang? Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?" cibik Hengky.
"Hmmm," Fisha masih tak bergeming dari pengembaraan di benaknya.
"Sayang, kamu ini kenapa sih?" tanya Hengky sambil mendengus kesal. Ini adalah hal yang akhir-akhir ini paling tidak disukai Hengky. Fisha selalu berubah sikap saat Hengky bertemu Rani, dalam situasi apapun pertemuan itu terjadi.
"Yang?" panggil Hengky. Kini tangan kirinya dia letakkan persis di atas paha Fisha, berharap wanita itu bisa berbicara baik-baik padanya.
"Fisha baik-baik saja, Mas," jawab Fisha tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Fisha, kita kan sudah sering bicara masalah ini. Bahkan tadi kita sudah bersepakat untuk sama-sama mengerti tentang kondisi kita masing-masing, termasuk bagaimana kamu harus menerima bahwa persahabatanku dengan Rani itu tak bisa putus begitu saja. Dan kamu bilang, kamu sudah bisa mengerti kan? Terus kenapa masih seperti ini? Padahal kamu lihat semua yang kulakukan tadi. Tidak ada satu tindakanku pun yang pantas untuk kau curigai," oceh Hengky panjang lebar kali tinggi.
"Hmmm," sahut Fisha sekenanya.
"Tuh kan marah," Hengky mendengus kesal.
"Siapa yang marah?" Fisha mengerutkan dahinya.
"Kamu tuh. Kamu marah kan, sama aku?" ketus Hengky.
"Fisha nggak marah, Mas," Fisha menatap serius ke arah suaminya.
"Nggak marah kok diem aja? Biasanya kamu tuh bawel, tak berhenti bicara," cicit Hengky sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
"Fisha cuma lagi kepikiran sama sikap Kak Rani tadi. Kok bisa ya, dia seperti tidak menginginkan putranya?" Fisha terlihat seperti berpikir keras. Bayangan sikap Rani yang terus menangis dan menolak untuk bertemu dengan putranya sesaat tadi, terus menari-nari.
"Kata Ryan tadi sih, dokter bilang itu wajar untuk ibu yang baru saja melahirkan. Walaupun tidak semua akan mengalami hal yang sama, tapi prosentase ibu pasca melahirkan yang mengalami Baby Blues Syndrome cukup tinggi," jelas Hengky sedikit bernafas lega. Dia kira, istrinya masih merasa cemburu saat dia harus bertemu dengan Arania Levana. Ternyata bukan itu yang membuat dia diam seribu bahasa.
"Tapi kok bisa separah itu ya? Bahkan Fisha dengar, dia sama sekali tak berhenti menangis sejak semalam," Fisha masih tak habis pikir. Katanya cinta ibu kepada anaknya itu tak ada duanya. Tapi kok ada ya, ibu yang seolah tak bisa menerima kehadiran darah dagingnya?
"Mungkin karena trauma yang dia alami sejak sebelum sampai dia melahirkan sangat-sangat dalam, Sayang. Berat sekali untuknya harus mengalami penculikan saat hamil besar. Belum lagi dia harus merasakan sakit yang luar biasa akibat terjatuh, yang membuat dia sempat kehilangan denyut nadi dan nafasnya tepat setelah putranya lahir ke dunia. Mungkin dia bukan hanya trauma, tapi mengalami depresi setelah melalui semuanya," tambah Hengky, yang ditanggapi anggukan kecil dari Fisha.
"Apalagi Rani adalah sosok yang tidak bisa berdiam diri. Awal mereka menikah, sebenarnya Rani masih ingin sendiri. Dia tidak mau jika jiwa bebasnya ada yang membatasi. Apalagi jika harus punya anak, awalnya Rani tidak siap jika harus secepat ini. Tapi melihat suaminya yang begitu menginginkan segera punya pewaris tahta, membuat Rani tak tega untuk mengutarakan ketidaksiapannya. Ditambah lagi ketakutan Rani jika dia akan meninggal saat dia melahirkan, terus menghantui sejak awal kehamilan. Membuat kejadian yang hampir menjadi kenyataan itu membuat syok dalam dirinya semakin besar. Belum lagi ketakutan tak beralasan, jika cinta suaminya jadi terbagi setelah putra mereka berada di tengah-tengah mereka nanti. Semua berefek pada psikis Rani, sehingga harus pelan-pelan dan super hati-hati untuk membuat moodnya kembali baik lagi," jelas Hengky panjang lebar kali tinggi.
"Kenapa ya, sebagian laki-laki terlalu bersemangat, bahkan cenderung memaksa istrinya untuk cepat hamil dan mempunyai keturunan secepat mungkin? Padahal jika anak itu benar-benar lahir, yang paling sibuk kan seorang ibu jika dipikir-pikir," oceh Fisha sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
__ADS_1
"Curhat?" Hengky mencubit pipi Fisha begitu saja.
"Betul kan? Mas Hengky juga gitu. Anak melulu yang diomongin. Bahkan Mas Hengky tak pernah membicarakan kemauan itu sama Fisha terlebih dulu. Main hajar aja setiap hari. Giliran Fisha kedatangan tamu bulanan, kecewanya minta ampun," ujar Fisha sambil mengerucutkan bibirnya.
"Laki-laki cenderung ingin membuktikan keperkasaannya sama semua orang, Fisha. Masak goal sehari bisa sampai tiga kali, skornya nol lagi nol lagi. Nggak tokcer lah namanya," tawa Hengky sambil mengacak-acak hijab yang dikenakan Fisha.
"Ihh, dasar. Awas saja kalau Fisha udah lahiran nanti, Mas Hengky jadi lupain Fisha. Pasti nanti Mas Hengky lebih sayang sama anak kita dari pada Fisha. Dia kan darah daging Mas Hengky. Sementara Fisha kan bukan siapa-siapa seandainya tidak ada ikatan pernikahan diantara kita," tiba-tiba ada nada sedih yang terdengar dari nada bicara Fisha.
Bahkan ketika Hengky kembali menoleh ke arah istrinya, dia melihat air mata Fisha sudah runtuh dan membasahi pipinya begitu saja.
"Mana ada hal kayak begitu, Fisha. Cintaku pada kalian berdua sama besarnya, sama kuatnya. Dan akan terus seperti itu, sampai kapanpun juga," Hengky sampai menepikan mobilnya, dan berhenti demi meyakinkan wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Dia benar-benar takut, jika Fisha akan mengalami hal seperti yang Rani alami, jika secara psikis dia tidak disiapkan sejak dini.
"Hey, jangan berpikir yang bukan-bukan. Tidak akan pernah ada yang berubah baik kemarin, sekarang, maupun esok hari. Ada atau tak ada buah hati diantara kita berdua, cintaku padamu akan tetap sama selamanya," Hengky mengambil tangan Fisha dengan kedua tangannya, lalu mengecupnya dengan mesra.
"Mas Hengky janji?" Fisha mencoba melihat kedalaman mata Hengky yang sedang menatapnya.
"Janji," jawab Hengky mantap, kemudian mengecup kening istrinya dengan begitu dalam.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Kasihan dedeknya. Kalau mamanya sedih, si dedek juga ikutan sedih nanti," Hengky menarik tangan Fisha lagi, kali ini membuat istri tercintanya itu membenamkan diri di dalam dada bidangnya.
Setelah berhasil menenangkan Fisha dengan lintasan-lintasan kekhawatirannya yang tak mendasar itu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah mereka.
***
Namun melihat raut muka Naja tak berubah juga begitu mereka sampai ke kamar mereka, membuat mau tak mau Daniel harus menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya itu karena Daniel tak mau jika Naja kekelahan dan akhirnya sakit dibuatnya.
"Sayang, aku hanya ingin kamu beristirahat, biar setelah ini kamu bisa menjaga adikmu itu lebih maksimal. Jika kamu terlalu memaksakan diri dengan kondisimu yang sudah selemas ini, takutnya bukan hanya Indra yang terkapar di rumah sakit, tapi kamu juga. Jika kamu sakit, siapa yang akan mengurus Indra? Kamu tidak mungkin meminta Zara terus yang mengurusnya kan? Biar bagaimanapun, belum ada ikatan resmi diantara mereka berdua. Jadi sebenarnya belum ada kewajiban apapun buat Zara untuk merawat Indra, meskipun dengan penuh cinta dia akan melakukannya. Yang punya tanggungjawab untuk itu justru kita sebagai kakaknya. Karena itu, kau harus sehat agar bisa menjaganya," Daniel mendekati Naja, yang waktu itu sedang duduk di salah satu sisi tempat tidurnya.
"Aku tahu itu," sahut Naja, sambil melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya.
Mendapat perlakuan manja dari Naja yang sungguh tak biasa, Daniel pun tersenyum penuh makna sambil membelai kepala istrinya.
"Kalau begitu, tidurlah. Aku akan menjagamu," Daniel sedikit membungkuk, dan mencium kepala Naja.
"Tolong biarkan tetap seperti ini dulu," Naja justru semakin mengencangkan tangannya, melingkari pinggang suaminya.
"Hey, kamu ini kenapa? Jangan melow gini ah. Ada kabar gembira untuk kamu," Daniel terkekeh melihat Naja yang tiba-tiba ingin bermanja kepadanya. Biasanya, mereka seperti musuh tapi mesra. Ada saja yang selalu mereka perdebatkan saat mereka sedang bersama.
"Apa?" Naja mendongakkan kepalanya, demi bisa melihat wajah Daniel yang sedang menatapnya.
"Barusan Johan mengirim sebuah pesan. Katanya operasi sudah selesai dan Indra sudah dipindahkan ke ruang perawatan," ucap Daniel menenangkan.
"Syukurlah," sahut Naja, kemudian kembali membenamkan wajahnya di depan perut suaminya. Tangannya pun masih sangat erat melingkar di pinggang Daniel, tanpa berniat untuk segera melepasnya.
__ADS_1
"Terus kapan tidurnya kalau seperti ini?"
"Tolong biarkan tetap seperti ini dulu,"
Daniel hanya tersenyum menanggapi rajukan Naja. Dia kembali membelai lembut kepala Naja sampai beberapa lama, sebelum akhirnya terdengar nafas Naja yang teratur dengan matanya yang terpejam dengan begitu tenangnya.
"Hey, tidur rupanya?" Daniel bermonolog sambil membaringkan Naja ke tempat tidurnya, kemudian meninggalkannya setelah menarik sebuah selimut dan menutupi tubuh Naja sampai sebatas lehernya.
Daniel menutup pintu kamarnya dengan pelan, lalu segera menuju ke ruang kerjanya yang terletak tak jauh dari arah kamar.
Dengan serius, dia segera berselancar dengan ponselnya dan menelpon Johan untuk segera menemuinya.
Dua puluh lima menit berselang, Johan pun datang dan segera menghampiri Daniel yang kini tengah menunggunya di balik meja kerja dan layar laptop yang kini sudah terlihat menyala.
"Anda memanggil saya, Tuan?" Johan sedikit menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di depan sang majikan.
"Kau sudah pastikan dimana posisi Felix sekarang?" tanya Daniel berusaha untuk tetap tenang, walaupun gurat khawatir yang terlihat di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Saya terus memantaunya, namun belum bisa saya pastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati, juga keberadaan dia sekarang, Tuan. Sepertinya memang ada orang besar yang melindunginya, sehingga sangat sulit buat saya untuk melakukan pelacakan," Johan menjawab pertanyaan Daniel dengan hati-hati. Biar bagaimanapun, Johan sangat takut jika jawaban jujurnya akan membuat majikan sekaligus kakak sepupu dari istrinya itu kecewa.
Diamnya Daniel membuat Johan sedikit bergetar. Baginya, lebih baik Daniel marah-marah atau memukulnya sekalian, dari pada dia didiamkan.
"Tolong maafkan saya, Tuan. Hari ini juga akan saya laporkan seluruh informasi tentang keberadaan Felix kepada Anda," Johan sedikit menunduk, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk kembali menatap kedalaman mata tuannya.
"Buktikan janjimu, Jo. Aku merindukan seorang Johan yang selalu siap dengan semua jawaban, bahkan saat satu pertanyaan pun belum sempat aku tanyakan," Daniel menutup laptopnya, dan memandang Johan dengan tatapan tajamnya.
Johan seperti ditampar-tampar dengan begitu kerasnya, mendapatkan sebuah pernyataan menohok dari mulut majikannya. Ya, selama ini memang Johan menjadi orang yang paling tahu apa yang menjadi keinginan majikannya itu. Bahkan sebelum Daniel meminta sesuatu, Johan sudah menyiapkannya terlebih dahulu, seolah dia mengerti bahasa hati Daniel sebelum satu patah katapun keluar dari mulut Daniel sewaktu-waktu.
Tapi itu dulu, saat Johan melayani Daniel yang masih menjadi orang jahat, dimana dia akan melakukan apapun demi mencapai ambisi dan dendamnya. Ya, dia adalah manusia sekeras karang, yang tidak bisa menerima permintaan maaf seseorang, sehingga membuat siapapun yang bekerja untuknya akan berpikir ulang jika harus berbuat kesalahan.
Namun, kematian Prabu Dewangga dan istrinya ternyata mampu mengubah seluruh hidupnya. Daniel yang kejam berubah menjadi sosok yang penyayang, bahkan semua pekerja wanita di Cafe plus-plus yang kini ditutupnya dia beri pekerjaan lain yang halal, tak sedikit pula yang dia beri suntikan modal.
Hal itulah yang justru membuat Johan terlena. Perubahan sikap majikannya ternyata membuat berkurang juga kesigapan dia dalam bekerja.
"Anda benar, Tuan. Dan saya baru tersadar, saya justru terlena dengan kebaikan sikap Anda sekarang," gumam Johan dalam hati.
"Saya bisa memahami kegelisahan Anda, Tuan. Akan saya buktikan bahwa saya adalah Johan yang dulu Anda kenal. Hari ini juga akan saya pastikan keberadaan Felix Adinata, dan tidak akan saya biarkan dia mengusik lagi ketenangan keluarga Anda," tegas Johan, membuat Daniel beranjak dari kursinya.
"Aku percaya kepadamu, Jo. Aku tahu kau masih menjadi Johan yang selalu menjadi andalanku. Berhati-hatilah dengan pekerjaanmu, karena aku tak mau melihat adik sepupuku menangis jika terjadi sesuatu padamu," Daniel menepuk bahu Johan dan meninggalkan ruang itu.
"Terima kasih, Tuan," Johan berdiri dan mengikuti Daniel sampai ke depan kamar.
BERSAMBUNG
__ADS_1