METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bagai Roda Yang Berputar


__ADS_3

Setelah meninggalkan Meysie begitu saja, entah kenapa justru bayangan Rani yang selalu muncul di benak Ryan. Terlintas jelas dalam kepalanya, saat istri cantiknya itu tersenyum penuh kehangatan. Rambut yang terbalut indah dengan hijab panjang menutup dada, tangan lentik dengan kuku berwarna merah karena pacar arabnya, sikap tegas ketika menjaga martabat dengan kitab yang hampir selalu tergenggam erat di tangannya, juga kecerdasan saat mengelola kata dan kebijakan saat menjatuhkan keputusannya, sungguh berbeda dengan Meysie yang meski kecantikannya mampu menggoyahkan iman semua pria, namun tergambar jelas bahwa kefanaan dunia lebih dominan menjadi prioritas hidupnya.


“Aku jadi merindukan istri sholehahku,” gumam Ryan lirih. Senyumnya tiba-tiba merekah, menampakkan deretan gigi yang rapi di tengah lekukan lesung pipi yang terpahat indah di wajahnya.


Biasan warna jingga kemerahan yang terpancar di batas cakrawala sore itu, semakin memperindah khayalan Ryan tentang sosok istri yang selalu dia rindukan. Sepanjang perjalanan pulang, dibenaknya hanya ada gambaran wajah gadisnya dengan senyum manis yang hampir selalu tersungging di bibirnya. Sungguh, hanya dengan membayangkan wajah istrinya, seluruh beban yang menerpa tiba-tiba seolah hilang seketika.


Perjalanan yang terasa sangat lama pun akhirnya sampai pada ujung penantiannya. Dengan segera, Ryan keluar dari mobil Jeep yang setia menemani perjuangannya. Melihat mobil sang pujaan hati sudah terparkir disana, Ryan memasuki rumah dengan tergesa-gesa.


Ryan memandang sebuah ruang yang ada di lantai atas dengan kedua belah matanya. Saat itu dilihatnya sosok gadis cantik yang sedari tadi menatapnya, namun begitu Ryan ingin menghampirinya langsung berpaling dan memasuki kamarnya. Ryan menajamkan indera penglihatnya. Meski hal yang dilakukan gadis itu tak seperti biasanya, namun sosok yang ada di atas sana benarlah istrinya.


Tak butuh waktu lama, Ryan segera melangkahkan kakinya menuju anak tangga hingga sampai ke atas. Langkahnya terus menyisir marmer rumah itu, kemudian menggerakkan tangannya ke panel pintu hingga sampai ke dalam kamar yang penuh dengan kehangatan. Saat Ryan menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang, dilihatnya gadis itu sedang duduk dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Matanya terus fokus pada novel yang ada di tangannya, sama sekali tidak menghiraukan suara derit pintu yang terbuka.


“Assalamu’alaikum, Cantik,” sapa Ryan begitu masuk ke dalam kamarnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Rani singkat. Tak seperti biasanya yang langsung bergelayut manja saat suaminya pulang, kali ini Rani hanya menjawab salam Ryan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.


Merasakan ada hal yang aneh, akhirnya Ryan mendekati tepi ranjang dan menempelkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Dia mencium bahu Rani begitu saja, dan menikmati aroma tubuh istrinya yang sudah seperti candu baginya. Bau khas tubuh Rani yang selalu berhasil menusuk hingga ke kalbu dan seolah berbisik bagai bait kata yang mendayu-dayu, hingga denyut jantung itu pun semakin berpacu, menggebu, seperti gendang yang bertalu.


Sebagai pria dewasa normal seperti layaknya pria dewasa lainnya di belahan bumi ini, saat itu hasrat Ryan benar-benar butuh disalurkan kepada orang yang sedang dia rindukan. Tapi lagi-lagi respon tak biasa yang Ryan dapatkan. Rani justru menepis tangan kekar yang sedang memeluknya itu, dan segera beranjak meninggalkan Ryan yang kini sudah terpaku dalam diam.

__ADS_1


“Mandi dan ganti baju Mas Ryan dulu sana! Rani tidak suka ada bau wanita lain yang menempel di tubuh suami Rani,” ucap Rani kemudian beranjak dan menuju ke arah balkon kamar mereka. Wajahnya datar, terlihat gurat tak senang yang dia perlihatkan.


“Bagaimana dia bisa sepeka itu? Jangan-jangan...,” Ryan bergumam dan bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Ryan yang merasa sudah ada sinyal genderang perang pun memilih mengikuti perkataan istrinya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama, dia keluar sudah dalam kondisi segar dengan baju santai yang dia kenakan.


Dilihatnya istrinya itu berdiri di ujung balkon memandang ke depan, entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang jelas, Ryan belum pernah melihat Rani segelisah itu.


“Sayang,” bisik Ryan di telinga istrinya. Kini dia menempatkan tubuhnya persis di belakang tubuh istrinya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Tangan itu segera mendarat manis di pinggang dengan dagu dia letakkan di atas kepala istri kecilnya.


“Mungkin apa yang dikatakan Meysie benar, Mas,” tiba-tiba ucap Rani parau.


“Kamu tadi ke perkebunan? Kenapa tidak menyelamatkan Masmu ini dari serangan perempuan itu tadi?” Ryan mencoba memilih kata yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa kejadian siang tadi bersama Meysie benar-benar di luar kendalinya.


“Tawaran yang mana?” Ryan pura-pura tidak mengerti.


“Kata dia Mas Ryan bisa mengambil alih Atmaja Group kapanpun yang Mas mau,” cicit Rani sambil mengerucutkan bibirnya.


“Terus?”

__ADS_1


“Ya Rani tidak tega saja melihat Mas Ryan berpanas-panas di perkebunan. Dari kecil kan Mas tidak pernah hidup susah. Rani bisa merasakan seperti apa beratnya harus memulai semuanya dari awal. Rani tidak bisa egois, jika ini berat buatmu, Mas. Jadi jika Mas Ryan ingin menerima tawaran Mey...,” tiba-tiba kalimat Rani menggantung, saat satu telapak tangan Ryan menutup mulutnya dari belakang.


“Sstttt, jangan diteruskan. Karna Mas tidak tertarik. Jangan hancurkan mimpi indah yang sedang Mas bangun di perkebunan. Sekarang, ini adalah dunia yang Mas pilih,” ucap Ryan sambil terus menyusuri leher istrinya yang jenjang.


“Tapi...,”


“Sstt, kehidupan manusia itu bagai sebuah roda. Perputarannya sudah menjadi hukum alam. Semua gelombang yang tiba-tiba menggulung kehidupan kita dalam waktu sekejap membuat Mas belajar, bahwa kita tidak boleh puas ketika di atas, tak boleh juga berpandangan sempit ketika terjepit. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Ada kesulitan pasti ada kemudahan. Ada kehidupan pasti ada kematian. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan kesuksesan yang pasti akan disertai dengan kata kegagalan. Begitulah roda kehidupan, pasti akan ada titik akhir pada saatnya,” tutur Ryan yang begitu menenangkan.


“Jadi?” kini Rani membalikkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya. Bibirnya menyusuri setiap inci tubuh Ryan begitu saja.


“Apa?” Ryan hanya tersenyum senang melihat kelakuan istri yang kini sudah mulai nakal itu.


“Sudah tidak ada bau perempuan itu lagi,” ucap Rani sambil menaikkan kedua alisnya, menggoda pria dewasa yang kini sudah siap melahapnya.


Dan sedetik kemudian, terjadilah apa yang seharusnya terjadi pada dua orang anak manusia, yang sedang dimabuk asmara.


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Pembaca setia,


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment juga favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih.


__ADS_2