
Tetes demi tetes air embun pagi ini, menemani senyum manis Safira yang terus tersungging di bibirnya. Bayangan bahwa satu langkah lagi dia akan bisa memeluk putri kandungnya, membuat moment hidup yang sempat dia tinggalkan selama dua puluh empat tahun lebih, seolah kembali pada benak dan hatinya.
Kerinduan itu telah dia pendam sekian lama. Bahkan Allah menjadi saksi, betapa rasa rindu itu begitu menyiksa sepanjang hidupnya, apalagi bayangan akan dosa melahirkan seorang anak tanpa suami yang sah, juga jutaan dosa karena harus meninggalkan jabang bayi yang masih merah benar-benar menghantui hidupnya.
Meski biar bagaimanapun, Safira harus tetap melukis pelangi di langit kehidupannya. Beribu gelombang kehidupan pun harus rela dilaluinya dengan sebuah keyakinan, bahwa suatu saat nanti akan ada bahagia dan canda tawa yang terpahat indah dalam sepenggal cerita yang tertoreh dalam satu sisi kehidupannya.
"Bantu aku, Ya Rabb," Safira berdo'a dalam hati.
Setelah memarkir mobilnya di area parkir Dewangga Group, dengan langkah yang begitu pasti dia memasuki area gedung megah dimana si pemilik perusahaan dan suami dari putri kandungnya telah menunggu kedatangannya.
Ya, pagi ini adalah awal yang begitu nyata dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Begitu pagi menyapanya, bukan hanya sejuknya angin yang menyapu wajahnya dengan lembut, tapi sebuah panggilan telepon dari Johan yang memintanya datang untuk menemui anak menantunya, juga suami dari calon menantu yang gagal dinikahi oleh putranya.
"Semoga mereka bisa membantuku menemui Lena dan menjelaskan semuanya," gumam Safira dalam hati.
Begitu resepsionis menyapanya, seorang gadis cantik kemudian mengantarkannya ke arah ruang kerja Ryan dengan sopan dan ramah. Sepanjang perjalanan, pikiran Safira terus mengembara. Sungguh, dia tidak bisa menerka apa yang nanti akan terjadi di dalam sana, seperti daun yang tak tahu kapan dia akan jatuh ke tanah, juga hujan yang tak pernah tahu kapan dia akan turun membasahi bumi yang dipijaknya.
"Bismillah, apapun yang terjadi, aku yakin ini adalah salah satu cara Allah untuk mempertemukanku kembali dengan putri kandungku," batin Safira lagi, begitu dia berada tepat di depan pintu direktur utama.
Tok-tok-tok.
Dengan degup jantung yang berdetak kencang, Safira mengetuk pintu.
"Masuk," suara dari dalam yang tertangkap di telinga Safira, semakin menambah detak jantungnya berpacu dengan cepat.
"Huh," Safira membuang nafasnya dengan kasar.
Ceklek.
__ADS_1
Dengan hati berdebar, akhirnya dia putar juga gagang pintu itu.
Begitu pintu terbuka, terlihat Johan dan Rudi sudah berdiri menyambutnya di depan pintu, sementara Ryan dan Arya masih terduduk di atas sofa panjang dengan posisi bersebelahan.
"Silahkan masuk, Nyonya," ucap Johan dengan ekspresi khasnya yang dingin. Safira menganggukkan kepalanya, kemudian masuk mengikuti langkah Johan, sementara Rudi berjalan di belakangnya.
"Ya Allah, ternyata lebih menakutkan dari pada apa yang kubayangkan," gerutu Safira, masih dalam hatinya.
Begitu Safira mendekat, Ryan dan Arya pun berdiri dan mempersilahkan Safira duduk.
"Silahkan, Tante," Ryan mempersilahkan dengan sopan.
"Silahkan, Ibu," Arya tak kalah sopan, bahkan ucapannya sukses membuat mata Safira berkaca-kaca, mendengar menantunya memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Terima kasih," jawab Safira dengan terbata, kemudian duduk di sebuah sofa panjang yang terletak berseberangan dengan sofa yang ditempati Ryan dan Arya, hingga mereka kini dalam posisi saling berhadapan.
"Jo, Rud. Menyingkirlah dari tempat itu. Kau membuat Tante takut!" titah Ryan, seolah bisa menangkap ketidaknyamanan Safira akan keberadaan mereka.
"Baik, Tuan," sahut Rudi dan Johan secara bersamaan. Akhirnya mereka menyingkir dari tempat mereka semula dan berpindah ke dekat pintu dengan posisi yang sama, bersiap siaga jika terjadi hal-hal yang tak diinginkannya.
"Baiklah, Ibu. Apakah ada yang ingin Ibu sampaikan kepadaku?" Arya mencoba membuka pembicaraan.
"Ahh, bahkan saya yakin kalian sudah mengetahui segalanya sebelum kalian mendengarnya dariku," jawab Safira, dengan air yang mulai menggenang di ujung matanya.
"Tentu saja, Tante. Kami sudah tahu semuanya. Lalu menurut Tante, apa yang membuat kami meminta Tante untuk datang ke tempat ini?" giliran Ryan menimpali, dengan mimik muka yang kurang bersahabat. Ya, Ryan bersikap seperti itu karena berpikir bahwa apapun alasan yang nanti akan di dengarnya, saat itu Ryan benar-benar merasa geram dan membenci perempuan di depannya, yang telah tega meninggalkan putri yang dia lahirkan sendiri dari dalam rahimnya.
"Terlalu berlebihan jika Tante berharap kalian bisa membantu Tante untuk bertemu dengan putri Tante, walaupun Tante yakin jika kalian bermurah hati, tak ada yang sulit bagi kalian untuk melakukan apapun yang Tante inginkan nanti. Tapi Tante benar-benar minta tolong, Nak. Bantulah Tante agar Lena mau mendengar penjelasan Tante. Sekali saja, jika dia tak juga bisa memaafkan Tante, Tante janji tidak akan menampakkan diri di depan kalian lagi," kini Safira sudah terisak.
__ADS_1
"Apa Ibu tahu sesakit apa hati istriku? Tentu saja Ibu tidak tahu bagaimana rasa sakitnya seorang anak yang harus kehilangan masa kecilnya, karena dengan sengaja dibuang oleh orang tuanya. Saya merasakan sendiri apa yang dirasakan istri saya, Ibu. Karena kami sama-sama tidak dinginkan oleh orang tua kami. Ibu ingin tahu seperti apa rasanya? Sakit, Ibu. Sakit sekali. Karena itulah saya tak akan pernah memaksa istri saya untuk bisa memaafkan Anda jika itu memang masih berat untuknya," oceh Arya, geram.
"Tak ada ibu manapun yang rela berpisah dengan anak kandungnya, Nak," sergah Safira.
"Banyak, Ibu. Dan Ibu adalah salah satunya," Arya mulai menampakkan emosinya, seolah Safira yang kini berada di hadapannya adalah ibu kandungnya sendiri yang telah mencampakkannya.
"Itu tidak benar, Nak. Bahkan selama dua puluh empat tahun lebih, beban dosa dan kerinduan ini harus saya tanggung seorang diri," sanggah Safira.
"Lalu kenapa Ibu tidak kembali? Bahkan Lena tetap memilih berada di panti asuhan itu sampai SMA walaupun Mama Davina sudah menanggung hidup dan biaya sekolahnya sejak delapan tahun usianya. Dia baru meninggalkan panti asuhan itu begitu dia masuk perguruan tinggi, Ibu. Dan ibu tahu apa yang dia do'akan setiap hari? Dia berharap Ibu akan menjemputnya lagi. Tapi apa yang Ibu lakukan selama ini, Ibu?" cicit Arya, sukses membuat Safira tergugu.
Ryan yang menyaksikan perdebatan mertua dan anak menantu itupun hanya diam membisu, tidak berniat ingin ikut campur lebih dalam dalam urusan itu. Hingga tiba-tiba, Johan mendekat dan membisiki Arya sesuatu.
"Sudah kepalang basah, kita selesaikan hari ini juga," ucap Arya, yang dijawab dengan anggukan oleh Johan.
"Ada apa?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Istrimu dan istriku tiba-tiba datang," jawab Arya tanpa menoleh ke arah Ryan. Arya hanya menatap Safira dengan tajam.
"Kau yakin Lena akan baik-baik saja?" Ryan memukul bahu Arya.
"Cepat atau lambat, dia tetap harus mendengar penjelasan dari ibunya bukan? Bukankah sama saja, sekarang atau besok?" yakin Arya.
"Saya memberi kesempatan kepada Anda untuk menemui istri saya dan menjelaskan semuanya, karena saya masih menghormati Anda sebagai ibu kandung dari istri saya, Ibu. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali, jadi gunakan kesempatan ini sebaik yang Anda bisa," Arya melembutkan suaranya.
Safira pun mengangguk dengan mantapnya, walaupun kini hatinya bergejolak dengan begitu luar biasa.
BERSAMBUNG
__ADS_1