
Setelah mengantar Rani ke hotel tempat Ryan memberikan kejutan di hari jadi mereka, sekaligus tempat di mana malam itu kedua majikannya akan menghabiskan waktu bersama, Naja segera melajukan mobilnya kembali membelah jalanan kota X yang padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Sesekali, Naja melirik kaca spion entah ingin memastikan ada apa di belakang sana. Sesekali, dia melirik kanan dan kiri jendela menatap puluhan gedung pencakar langit beserta banyaknya lampu hias yang berjajar di sepanjang jalan dengan bentuk dan rupa yang menampakkan banyak warna. Sesekali pula, dia melirik jam yang melingkar di tangannya, juga jam yang tertera di depan kemudi mobilnya untuk memastikan semalam apa dia akan sampai di rumah keluarga Dewangga.
“Baru jam sembilan malam. Sangat mustahil pada jam segini aku bisa menghindari pertemuan dengan mantan majikanku itu,” gumam Naja lirih.
Entah kenapa, tiba-tiba dia sangat takut jika harus bertemu dengan Daniel, saat dia memasuki kediaman keluarga Dewangga.
Naja terlihat berpikir sejenak. Dalam benaknya hanya terpikirkan satu cara.
“Aku harus pulang lewat tengah malam,” batinnya dalam hati.
Dengan kemantapan hati, akhirnya Naja menepikan mobilnya di parkiran sebuah taman, kemudian memasangkan earphone di telinganya. Setelah musik berputar, segera saja sandaran kursi pengemudi dia rebahkan sambil memejamkan mata dengan alunan musik dari lagu favoritnya. Ya, kebiasaan jelek Naja adalah tidur sambil mendengarkan musik dengan volume tinggi dengan menggunakan earphone. Padahal sejak dia remaja, sang ibu sudah sering mengingatkannya bahwa kebiasaan mendengarkan musik dengan menggunakan personal hearing device seperti earphone bisa membuat telinganya cedera. Namun tetap saja, bukan Naja namanya jika tidak bertindak hanya sesuai dengan kemauannya, hingga berapa kali pun sang ibu memperingatkannya, berkali-kali itu juga Naja selalu mengelak dengan berjuta alasan yang dikemukakannya.
Tepat jam satu dini hari, Naja terbangun dan kembali mengemudikan mobilnya ke rumah keluarga Dewangga. Jalanan yang begitu lengang membuat perjalanan yang biasa dia tempuh dalam waktu empat puluh menit, bisa Naja selesaikan dengan total waktu lima belas menit saja.
"Yes. Sebentar lagi sampai," cicit Naja riang, begitu mobil yang di kendarainya berada sekitar tiga ratus meter dari pintu gerbang utama kediaman keluarga Dewangga.
Dengan pelan, mobil pun semakin mendekati gerbang rumah megah yang lebih mirip seperti hotel itu. Namun bayangan Naja bahwa setelah ini dia akan memanjakan dirinya di kasur empuk kamarnya pun kelihatannya akan tertunda, ketika mobilnya melewati dua buah mobil yang berhenti pada jarak seratus meter dari rumah keluarga Dewangga.
"Siapa ya mereka? Kelihatannya ada yang tidak beres," batin Naja.
Setelah berpikir sebentar, Naja memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dan tetap melajukan mobilnya memasuki gerbang utama kediaman Dewangga. Makanya begitu satpam membuka gerbang itu, Naja pun masuk dan memarkirkan mobilnya di tempat yang telah tersedia.
Seolah tidak tahu menahu soal dua mobil yang seperti sedang mengintai rumah itu, dengan santainya Naja pun memasuki rumah utama dan langsung menuju kamarnya.
__ADS_1
Naja segera meraih sebuah benda pipih yang terletak di saku celana kanannya, kemudian dalam hitungan beberapa detik saja, dia sudah berselancar mencari nomor seseorang.
Begitu menemukan nama Pak Rudi pada layar ponselnya, Naja pun segera menekan icon berwarna hijau kemudian menempelkan benda itu ke telinganya.
Satu detik, lima detik, tujuh detik, tak ada sahutan dari orang di seberang sana. Hanya nada tunggu saja yang terdengar.
"Angkat dong, Pak," seru Naja kesal, sambil mondar-mandir tak beraturan.
Merasa gagal, akhirnya Naja memutuskan untuk menghubungi Arya.
Masih gagal juga, akhirnya Naja memilih untuk membuka rekaman cctv yang kebetulan terhubung langsung ke handphone-nya.
Lama sekali Naja mengamati pergerakan dari dua mobil itu, dan selama itu pula belum ada pergerakan yang terlihat. Ya, kedua mobil itu tetap berada di tempatnya selama beberapa jam lamanya.
"Apa yang akan mereka lakukan?" gumam Naja, sambil membulatkan matanya.
Naja mencoba menghubungi pos satpam untuk keluar dan memeriksa, namun lagi-lagi dia harus kecewa. Entah kenapa semua orang yang coba dia hubungi malam itu tak ada yang menyahutnya sama sekali.
Akhirnya, mau tak mau Naja harus bergerak sendiri. Dia mencoba berpikir keras sambil tetap memantau pergerakan mereka yang terekam CCTV.
"Hmmm, tidak ada cara lain lagi," batinnya.
Dengan berani, Naja menuju lantai atas kemudian meloncat melalui pagar belakang, setelah mematikan aliran listrik yang terpasang di sekeliling pagar tentunya.
Perlu gerakan memutar cukup jauh untuk bisa ke depan rumah sebenarnya, mengingat ukuran rumah keluarga Dewangga bisa dibilang sangat besar. Namun karena tidak ada cara lain, mau tidak mau Naja pun melakukannya, lagi-lagi harus seorang diri.
__ADS_1
Naja pun segera mengambil posisi aman, setelah pergerakan orang-orang misterius itu sudah kelihatan.
"Semua ada enam orang," Naja mencoba memperkirakan dan menimbang-nimbang kekuatan untuk menghadapi musuh yang kini ada di hadapannya.
Setelah mantab bahwa dia bisa menghadapinya, akhirnya Naja berjalan mengendap menuju mobil bagian paling belakang, kemudian mengeluarkan sebuah senjata yang berisi obat bius. Tak lama, Naja memancing orang yang berada dalam mobil tersebut keluar dengan melempar sebuah batu kecil ke arah samping mobil, sehingga menimbulkan bunyi seperti pergerakan seseorang. Dan ternyata berhasil, tiga orang yang berada di dalam mobil tersebut keluar. Di saat itulah Naja menarik pelatuk senjatanya sehingga dalam waktu singkat, tiga orang itu ambruk tanpa suara akibat pengaruh obat bius yang menjalar ke seluruh tubuh mereka.
Setelah tiga orang pertama tumbang, Naja segera menuju mobil di depannya dan masuk kemudian langsung duduk di kursi sebelah pengemudi.
Melihat tiba-tiba ada orang asing duduk di sebelahnya, orang yang berada di belakang kemudi itu dengan reflek meraih senjata dari arah punggungnya. Namun sayang, dengan cepat Naja menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya tepat di depan mata pria itu hingga dia tak sadarkan diri seketika.
"Huh, tinggal dua lagi," ucap Naja sambil mengarahkan pandangannya pada dua orang yang terlihat sedang memasang sesuatu di gerbang utama.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Naja menghampiri dua pria tegap tadi dan kembali menembakkan obat bius hingga mereka langsung tumbang seketika.
"Selesai," dengan riang Naja menjentikkan jarinya sendiri.
Setelah itu, dia kembali berselancar dengan benda pipih miliknya, sebelum akhirnya menghubungi anak buahnya untuk membawa ke enam orang misterius itu dan menginterogasinya.
Namun alangkah kagetnya Naja, ketika terasa ada yang menepuk pundak kanannya secara tiba-tiba. Sontak, Naja membalikkan badan dan....
BERSAMBUNG
❤❤❤
Cukup dengan menekan tanda like dan vote juga comment positif dan rate 5, pembaca setia bisa mendapatkan episode selanjutnya. Jangan lupa. hehehe...
__ADS_1