METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cemen


__ADS_3

Tiba-tiba Zara kaget, ketika ada seseorang yang telah berhasil masuk ke dalam apartemennya, dan sudah menunggu kedatangan Zara sembari duduk di sofa dengan santainya.


"Anda? Bagaimana Anda bisa tahu sandi pintu apartemen saya?" gumam Zara sambil membulatkan matanya.


"Ha-ha-ha-ha. Pertanyaan macam apa itu? Agen seperti kamu harusnya tahu bagaimana mudahnya melakukan hal itu bukan? Pantas saja kau gagal melakukan misimu dan bisa dengan mudah kubuat bertekuk lutut di hadapanku," Indra terkekeh, sambil beranjak dari duduknya dan mendekati Zara.


"Kau tak ingat kalau aku berhasil menusukkan pisau itu ke tubuhnya?" sahut Zara dengan kesal.


"Tapi seharusnya kau bisa melepaskan diri dari kejaranku," oceh Indra, sambil menatap Zara sinis.


"Lebih tak mungkin lagi aku menggunakan orang lain dan tak turun tangan sendiri. Kau bisa menangkapku dengan mudah karena kau dibantu anak buahmu. Coba saja kalau kita satu lawan satu. Belum tentu aku kalah darimu," Zara balas menatap Indra dengan tatapan tajam.


"Apa kau lupa, kalau waktu itu aku sudah memawarimu untuk satu lawan satu? Kau justru menolak padahal tinggal dua lapis lagi, aku sudah melepas semua helaian benang kepunyaanmu. Bukannya kau langsung menyerah dan memilih untuk setia kepada tuanku?" oceh Indra, sebelum akhirnya menyeringai nakal.


"Kau?" Zara tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Indra kepadanya. Dari sudut manapun, dia tetaplah kalah dan harus mengaku kalah di hadapan musuh, yang kini justru harus berpatner dengannya itu.


Indra tergelak melihat ekspresi Zara yang kini sudah kalah telak dan tak mampu lagi menjawab ucapannya.


"Sekarang katakan! Apa maumu?" Zara mengalihkan pembicaraan.


"Tak ada. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa dengan mudah melakukan tantanganmu. Dan ternyata, aku tidak hanya sekedar bisa menemukan tempat tinggalmu, tapi juga membuka sandi pintu apartemenmu bukan? Ha-ha-ha-ha," tawa Indra membahana, memenuhi seluruh sudut ruang.


Zara hanya diam. Dia harus mengakui bahwa patner kerjanya itu memang bukan orang yang sembarangan.


"Kau tetap bekerja dari dalam. Sebelum misi kita berhasil, kau harus tetap bertahan, dan jati dirimu sebagai pengikut tuanku jangan sampai ketahuan. Satu lagi. Jangan coba-coba menghubungiku, karena aku yang akan menghubungimu," ucap Indra sambil berjalan ke arah pintu hendak keluar.


Tapi di saat Indra mengintip kondisi luar melalui lubang kaca kecil yang terpasang, Indra berbalik arah dan menatap Zara dengan ekspresi yang sungguh sangat sulit untuk diterjemahkan.


"Felix dan anak buahnya ada di luar. Pasti dia akan mengecek apakah kau bisa lepas setelah kau menusuk tuan Ryan," Indra mencoba berpikir keras, bagaimana dia bisa keluar dan tidak menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Indra, Zara langsung masuk ke dalam kamarnya, dan dalam waktu singkat sudah keluar dengan mengenakan pakaian khas pelayan, persis seperti saat penusukan itu dilakukan.


"Lukai aku dan keluarlah melalui balkon itu!" kata Zara tegas.


"Kau gila?" Indra membulatkan matanya.


"Mereka tak akan percaya begitu saja jika melihat aku bisa lepas dari kalian tanpa ada satu pun luka di tubuhku," tegas Zara, sambil meraih sebuah benda tajam di atas meja.


Zara menyerahkan sebuah pisau kecil kepada Indra dan meminta Indra memberikan beberapa luka di bagian tubuh Zara.


"Cepatlah! Kita sudah tidak punya banyak waktu. Felix dan anak buahnya akan segera masuk karena mereka mengetahui sandi apartemenku," tegas Zara.


"Aku tidak menyakiti seorang wanita," Indra tak kalah tegas.


"Ayo pukul aku beberapa kali dan lukai tanganku dengan pisau ini, atau misi kita akan gagal detik ini juga," Zara mengulangi perintahnya.


"Cepatlah!" titah Zara, sambil menatap ke arah pintu dan pisau itu secara bergantian.


"Pukul wajahku! Buat area bibirku memar!" Zara menatap Indra penuh tuntutan. Indra yang di tatap justru semakin ragu.


"Cemen. Kau tak berani melakukannya?" ejek Zara.


Mendengar kalimat terakhir Zara, Indra pun menghela nafas sejenak, lalu mengepalkan tangannya dan mendaratkan satu tinju ke area dekat bibir Zara. Darah pun mengucur seketika, membuat sudut bibir Zara pecah.


"Lukai tanganku dengan pisau itu!" perintah Zara lagi, membuat Indra berpikir dua kali.


"Huh, dasar lambat," Zara merebut pisau yang kini berada di tangan Indra, lalu menyayat lengan kirinya sendiri dengan pisau itu, hingga darah pun ikut mengalir deras.


Indra membulatkan mata, melihat kenekatan yang dilakukan perempuan muda di depannya. Setelah kondisi Zara nyaris sempurna dengan beberapa luka lebam dan sayatan di bagian tangan dan mukanya, Indra meraih pisau dari tangan Zara dan mengantongi pisau itu di saku celana kanannya.

__ADS_1


Sedetik kemudian, Zara membimbing Indra untuk keluar melalui balkon apartemennya dengan seutas tali dan berpindah ke apartemen lain yang berada tepat di lantai bawah apartemennya. Rupanya Zara memang sengaja membeli dua apartemen yang terletak persis di atas dan bawah, agar dalam kondisi-kondisi darurat dia bisa keluar dari apartemennya melalui apartemen yang lainnya.


Dengan terburu-buru, Zara segera membereskan tali yang digunakan Indra, kemudian langsung mengambil posisi berbaring di ranjang, dengan sebuah kotak obat yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


Dan benar-benar perhitungan waktu yang tepat. Saat Zara sedang mengobati luka di bagian wajah dan lengannya, Felix dan anak buahnya masuk setelah berhasil mengkonfirmasi beberapa angka sandi apartemennya.


"Tuan," Zara pura-pura terkejut menyadari Felix tiba-tiba datang.


"Apa kau baik-baik saja, Zara?" Felix mendekati Zara dan memeriksa beberapa luka di tubuh Zara. Felix sedikit mengerutkan dahinya, melihat luka di lengan Zara yang masih terlihat baru.


Zara yang menyadari ekspresi Felix, segera memutar otak agar pria di depannya itu tidak menaruh curiga.


"Saya tidak apa-apa, Tuan. Mereka sempat menangkap saya dan menyekap saya di sebuah ruangan. Untung ada kesempatan untuk melarikan diri, sebelum mereka menyiksa dan menginterogasi saya lebih dalam lagi. Sayangnya beberapa dari mereka berhasil mengejar dan melukai saya, Tuan. Untung akhirnya saya bisa sampai di sini," Zara berusaha meyakinkan.


Felix yang mendengar penjelasan Zara, tak lagi berkata apa-apa. Dia justru meninggalkan Zara dan duduk di sofa, sambil memerintahkan sesuatu kepada anak buahnya melalui isyarat mata.


Beberapa saat kemudian, anak buah Felix pun memeriksa seluruh ruangan, mencari bukti apapun yang kira-kira mencurigakan. Untung saja pisau itu Indra bawa bersamanya, hingga anak buah Felix tak menemukan bukti apa-apa. Tali yang sempat Indra gunakan pun sudah Zara simpan di tempat yang aman, bahkan pakaian yang sempat Indra berikan untuk Zara gunakan, sengaja Zara lipat dan diletakkan dengan rapi di lemari pakaian.


Melihat anak buahnya tak menemukan bukti apapun di apartemen Zara, Felix pun beranjak dari tempat duduknya dan kembali mendekat ke arah Zara.


"Apa kau butuh seorang dokter, Zara?" tanya Felix.


"Tidak perlu, Tuan. Luka ini tidak berarti apa-apa untuk saya," sahut Zara dengan gayanya yang khas.


"Baiklah, ikuti perkembangan kondisi Ryan, dan terus kasih laporan ke saya!" titah Felix sambil membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Zara.


"Baik, Tuan," Zara menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum lega.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2