
Ryan mengucap tasbih ketika membuka matanya. Pagi itu dia puas-puaskan untuk menikmati keindahan yang Allah ciptakan pada keelokan wajah istrinya. Dipandangnya lekat wajah ayu itu, sambil terus memuji keagunganNya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Ryan lirih. Di belainya wajah itu dengan lembut, meski mata gadisnya masih terpejam menikmati alam mimpi yang masih enggan dia tinggalkan.
Pandangan Ryan kemudian beralih pada jam dinding yang menempel begitu gagahnya. Dengan pelan, dia hendak segera beranjak meninggalkan istri tercinta untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu sebelum sholat subuh ditunaikannya, mengingat panggilan Sang Pencipta telah menunjukkan saatnya.
"Mas," panggil Rani lirih. Tangannya berusaha menahan tangan Ryan bahkan sedikit menariknya sehingga suaminya itu pun mengurungkan niatnya. Sesaat, mereka merapatkan tubuh mereka kembali dengan puluhan kecupan yang sukses mendarat di wajah sang istri.
"Mas sholat dulu, Sayang. Habis sholat Mas temenin lagi. Sebentar ya?" Ryan memeluk erat istrinya sebentar, mengecup ujung kepalanya kemudian melepasnya lagi.
"Tungguin. Rani mau mandi sebentar lalu kita sholat berjama'ah," rengek Rani manja. Suaranya yang serak karena baru bangun tidur membuat kesan manja lebih dominan terdengar di telinga suaminya.
"Bukannya setelah kuratase kemarin kamu nifas, Sayang?" Ryan bertanya penuh selidik.
Rani hanya mengangguk, kemudian duduk di tepi ranjang.
"Alhamdulillah dua pekan sudah bersih. Rani sudah bisa sholat lagi," jawab Rani sebelum akhirnya berdiri hendak menuju kamar mandi untuk mandi besar dan mengambil air wudhu.
"Yes!" dengan girang, Ryan menekuk kedua tangannya kemudian diayunkan ke bawah hingga sikunya hampir menyentuh paha.
Melihat kelakuan Ryan, Rani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mencubit pinggang suaminya kemudian langsung kabur ke kamar mandi dengan wajahnya yang sudah merah merona.
Hanya dalam waktu lima belas menit, akhirnya dua anak manusia itu terlihat sudah menunaikan kewajibannya. Seperti biasa, selesai mengucapkan salam ke dua Ryan membalikkan tubuhnya agar Rani bisa mencium punggung tangannya dan Ryan mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
Entah kenapa, pagi itu terasa sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya. Degup jantung mereka terdengar semakin kencang. Tatapan mata Ryan yang teduh, membuat Rani seolah rela menyerahkan apapun yang dimilikinya untuk suaminya.
Tangan Ryan mulai membelai lembut wajah ayu yang sangat dikaguminya itu. Tak berapa lama, Ryan berdiri kemudian membantu istrinya berdiri pula. Sembari menunggu Rani membereskan peralatan sholatnya, Ryan duduk di tepi ranjang sambil menatap seluruh gerak istrinya dengan tatapan tajam.
"Kenapa sebegitunya sih lihatin Raninya?" merasa risih mendapat tatapan memangsa suaminya, Rani jadi salah tingkah.
"Kamu cantik, Sayang," rayu Ryan sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
"Dasar gombal,"
"Beneran, sure "
"Kalau gitu, Mas Ryan hari ini temenin Rani dulu. Ke kantornya agak siang ya? Ya? Ya?" Rani merajuk sambil mendekati Ryan dan langsung duduk di pangkuannya. Bahkan kini kedua tangannya sudah menggelayut manja di leher suaminya.
"Boleh, tapi ada pajaknya," goda Ryan dengan senyum menakutkan.
"Pajak?" Rani bertanya, seolah tidak mengerti dengan apa yang akan diminta suaminya.
Ryan hanya mengangguk dengan tatapan penuh hasrat. Dia berbisik sesuatu di telinga Rani, yang sukses membuat wajah ayu itu memerah menahan malu.
Mereka pun bertatap mata sangat lama. Keduanya gugup, melebihi saat mereka melakukan malam pertama. Mungkin karena ini adalah situasi pertama yang mereka hadapi setelah mereka saling mengungkapkan cinta, sehingga degup jantung yang saling berkejaran pun tak mampu mereka kendalikan. Tak tahan, segera saja mereka memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia. Jari jemari mereka saling berpadu, nyanyian tak beraturan pun lolos begitu saja dari mulut keduanya yang sudah dimabuk cinta di atas peraduannya.
***
Bias cahaya yang masuk melalui jendela kamar menyempurnakan bunyi alarm hp dari atas nakas yang sukses membuat dua tubuh polos itu menggeliat dan mengucek mata mereka yang masih dilanda kantuk karena aktifitas melelahkan yang baru saja mereka lakukan.
Selesai bersiap pun mereka langsung turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Tak seperti biasanya, kini kediaman mereka tampak lebih ramai dari biasanya setelah pasukan yang di bawa Papa Prabu sudah mulai bekerja.
Nani dan Bik Tum masih asyik di dapur. Mbak Indah menikmati pergulatannya dengan segala macam alat bersih-bersihnya, sementara Pak Sam sama sekali tak terlihat karena tugasnya memang di luar area rumah.
Pemandangan yang sedikit mengganggu justru datang dari arah Pak Rudi dan Naja. Mereka berdiri dalam diam di depan pintu bagai seorang pengawal. Pakaian mereka sangat rapi, namun wajah mereka terasa sangat datar. Bahkan ketika Ryan dan Rani beranjak dari meja makan, dengan kompak mereka menghampiri tuan dan nonanya tanpa aba-aba.
Pak Rudi dengan sigap meraih tas dari tangan Ryan dan mempersilahkan tuannya berjalan di depan, hal yang sama juga dilakukan oleh Naja kepada Rani.
"Kalian ini saudara kembar ya? Kompak banget," ledek Rani sambil berjalan ke arah mobilnya. Ryan yang mendengar ocehan istrinya hanya tersenyum simpul sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh kehangatan.
Setelah saling berpamitan, Ryan dan Rani pun naik ke mobil masing-masing menuju tempat kerja masing-masing.
***
__ADS_1
Rani dan Naja membelah jalanan Kota X masih dalam keheningan. Keduanya memilih diam dan larut dengan pikirannya masing-masing.
Naja yang sudah mengetahui banyak tentang Rani karena selama ini memang diminta Papa Prabu untuk selalu membuntutinya, hanya berpikir bagaimana caranya agar dirinya bisa terus menjamin nonanya dari segala bahaya yang kini mengancamnya. Sementara Rani, justru sibuk menerka-nerka maksud papa mertuanya mengirimkan seorang Naja untuk menjadi supir pribadinya.
"Apakah kau sudah berkeluarga, Naja?" tanya Rani memecah keheningan.
"Belum, Nona," jawab Naja singkat.
"Sejak kapan kamu bekerja dengan papa mertuaku?"
"Maaf, Nona. Hanya tuan yang berhak menjawabnya,"
"Tapi sebelum ini sepertinya aku belum pernah melihatmu di perusahaan. Apakah kamu bekerja dengan papa mertuaku di perusahaan lain?" cecar Rani tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"Maaf, Nona. Hanya tuan yang berhak menjawabnya,"
"Baiklah. Sebelum bekerja dengan Papa Prabu, pekerjaanmu apa?"
"Sekali lagi, mohon maaf, Nona. Hanya tuan yang berhak menjawabnya,"
"Ihhh, hentikan. Hentikan. Kamu sungguh tidak asyik, Naja," gerutu Rani sangat kesal.
Naja tak terpengaruh dengan sikap nonanya itu. Dia tetap melajukan mobil yang dibawanya dengan muka datar dan wajah yang sangat tenang.
"Maafkan saya, Nona. Pekerjaan saya memang mengharuskan saya melakukan kerja-kerja secara rahasia dan sembunyi-sembunyi," batin Naja dalam hati.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Bagi jempol dan vote nya dong guys. Jangan lupa kasih rate 5 dan comment positif. Terima kasih
__ADS_1