
Arya memandang punggung Lena yang sedang duduk di tepi danau dari kejauhan. Lama, dia terus membiarkan istrinya itu sendiri untuk menenangkan pikiran. Bahkan Arya sempat meninggalkan Lena di tempat itu sendirian, demi tak melewatkan sholat ashar. Dan ketika Arya kembali datang, dia menyaksikan istri cantiknya itu sedang bersujud dengan beralaskan rumput. Lama, Arya membiarkan istrinya larut dalam do'a panjangnya. Hingga akhirnya, senja itu pun datang, membuat Arya tetiba duduk di samping Lena walaupun masih dalam diam.
Lena menoleh sejenak, lalu membuang mukanya ke arah danau yang kini pantulkan sinar jingga kemerahan. Dalam siluet ambang senja itu, Arya terus pandangi wajah Lena. Ya, wajah cantik yang kini begitu terlihat sendu. Tapi walaupun begitu, tetap saja rasa kagum di hati Arya tak pernah sirna, ketika senja bersanding dengan wajah ayu istrinya tercinta.
Arya mengambil tangan Lena dan menggenggamnya erat. Lena pun segera menyandarkan kepalanya, pada bahu yang selalu ada saat dirinya butuh tempat untuk menumpahkan segala sesak di dalam dadanya. Arya tersenyum, kemudian mereka menikmati kemilau danau yang terpancar kemerahan di depan mereka.
Lena memejamkan mata. Hanya Arya yang kini bisa menenangkan hatinya, apalagi ketika Arya mengecup keningnya dengan kelembutan dan penuh kehangatan.
Hingga sinar mentari pun semakin mendekati garis cakrawala. Tak hanya remang, kini gelap pun sudah menyapa.
"Kita pulang sekarang?" bisik Arya.
Lena menggelengkan kepalanya. Dia justru mendekap Arya dan mengeratkan pelukannya.
"Tak akan aku biarkan air mata itu membasahi pipimu lagi," ucap Arya sambil mengelus punggung istrinya dengan mesra.
Lena merenggangkan pelukannya dan menatap lekat kedalaman mata Arya. Seulas senyum pun tersungging di bibirnya, seolah rasa syukur ingin dia ungkapkan atas anugrah terindah dalam hidupnya, berupa suami yang selalu hadir di setiap suka dan dukanya.
Arya membalas senyuman Lena. Lembut bibir mereka pun saling menyentuh, hingga gejolak cinta mereka semakin menyala-nyala.
Hingga malam temaram benar-benar menghapus senja yang menjingga, mereka tak juga beranjak dari tempatnya.
"Di sini gelap, Sayang. Apa kau tak takut dengan gelapnya malam?" Arya kembali berbisik, menyadari bahwa tak ada satu pencahayaan pun yang ada di sekitar danau itu.
__ADS_1
Ya, saat ini mereka ada di tepi danau, tempat favorit mereka sejak mereka masih sama-sama di panti dulu. Sayangnya, danau itu tak terurus hingga tak banyak yang tahu jika ada tempat seindah itu.
"Kita nyalakan api unggun seperti waktu itu," rengek Lena manja. Dia benar-benar ingin melupakan kesedihannya, dengan menghidupkan kenangan-kenangan manis bersama suaminya.
Arya pun mengangguk. Terakhir mereka menyalakan api unggun di tempat itu, sekitar tujuh belas tahun lalu. Arya benar-benar tak menyangka, jika Lena juga masih mengingat saat-saat mereka masih bersama, sebelum akhirnya suratan takdir memisahkan mereka.
"Tunggu di sini sebentar, aku kumpulkan ranting-ranting dulu," ucap Arya sambil mengecup ujung kepala istrinya.
"Ikut. Deeba takut," rajuk Lena.
Arya pun menyalakan senter dari handphone-nya, dan mencari ranting-ranting kering yang ada di sekitar mereka. Setelah terkumpul, Arya mengambil korek api elektrik dari mobilnya, hingga akhirnya api unggun itu pun menyala.
Sesaat, mereka hanya duduk terdiam, memandang kobaran api itu dengan beribu kenangan. Kini, hanya api itu yang menjadi sumber cahaya di antara mereka. Dan gadis yang selalu banyak bertanya, bicara, bergerak, dan selalu ada canda yang ditawarkannya itu pun kini hanya diam tanpa ada satu kata pun yang diejanya. Ya, tak seperti biasanya, Lena lebih banyak merenung dan Arya membiarkannya.
"Sayang, sejak kita kecil dulu, ada banyak cerita yang pernah kita bagi. Ada banyak kejadian yang telah kita lewati. Begitu pun hari ini. Tidakkah kau ingin membagi kesedihanmu padaku?" Arya memandangi wajah istrinya yang kini terkena pantulan api unggun yang ada di hadapannya.
Lena tersenyum ke arah Arya, tapi tetap tak membuka mulutnya untuk membalas perkataan suaminya.
“Jika dia tak mencampakkan aku, mungkin kita tak akan pernah bertemu,” akhirnya Lena membuka suara. Suara parau yang begitu pilu terdengar.
"Semua adalah bagian dari suratan takdir yang Allah gariskan untuk kita," sahut Arya sambil mengusap kepala Lena penuh cinta.
Malam pun kian larut. Udara di sekitar danau semakin dingin. Di langit, bulan dan bintang bersinar. Bahkan kini ranting-ranting yang mereka kumpulkan sudah habis terbakar, hingga api unggun itu hampir mati, tinggal api kecil saja yang tersisa menemani mereka saat ini.
__ADS_1
"Apa kau ingin kita mengumpulkan ranting-ranting itu lagi?" tanya Arya kemudian.
Lena hanya menggeleng.
"Kalau begitu kita pulang sekarang?" Arya memastikan.
Sekali lagi Lena menggelengkan kepalanya, membuat Arya harus menyalakan lampu handphone-nya sekali lagi.
Lena terus terdiam, dia hanya memandang jauh, melebihi tepi danau di seberang sana. Bahkan ketika kabut mulai turun dan menutupi permukaan danau, Lena masih memilih diam seribu bahasa.
Hingga bulan pun mulai condong ke timur. Bintang mulai menghilang dari langit, kabut yang turun juga semakin terasa begitu pekat. Sebentar lagi fajar akan datang, tapi pikiran Lena masih melayang-layang tanpa tahu dimana ujung dan pangkal dari akhir pengembaraan.
"Sayang, ini sudah hampir subuh. Kita pulang ya. Nanti kamu sakit," Arya berdiri, kemudian meraih tangan Lena dan menariknya perlahan.
Lena berdiri dengan pelan, sebelum akhirnya tubuhnya limbung tanpa bisa dikendalikan. Untung dengan sigap Arya menangkapnya, jika tidak, maka tanah basah yang akan menerima tubuhnya dengan suka cita.
Arya membopong tubuh istrinya dengan rasa yang tak lagi mampu dia ucapkan dengan kata-kata. Begitu Lena dia dudukkan di kursi samping pengemudi dengan posisi kursi yang direbahkan ke belakang, Arya menempelkan tangannya ke dahi istrinya.
"Ya Allah, kau demam, Sayang. Tentu saja karena kau berada di tempat sedingin ini hingga pagi datang," gerutu Arya lirih.
"Kak, kita mau kemana," setengah sadar Lena bertanya.
"Kita ke rumah sakit, Sayang. Kamu demam," sahut Arya dengan tegang.
__ADS_1
"Kita pulang saja, Kak. Lena mau tidur di kamar kita," lirih Lena, yang tak mungkin ditolak oleh suaminya.
BERSAMBUNG