METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bukan Cinta, Tapi Sekedar Hidup Bersama


__ADS_3

"Mas Hengky dimana, Ma?" tanya Fisha kepada Nyonya Atmaja, begitu dia masuk dan melihat mama mertuanya.


"Dia langsung naik dan masuk ke kamarnya, Sayang. Sebenarnya dari mana kalian? Apa kalian tidak pergi bersama?" Nyonya Atmaja menatap menantunya penuh selidik.


"Tidak, Ma. Kami pergi sendiri-sendiri. Apa Mas Hengky menanyakan Fisha?" tanya Fisha lagi dengan debaran hati yang sulit dikendalikannya.


"Tidak, Nak. Tadi suamimu itu langsung naik dan masuk ke dalam kamar. Memangnya ada apa? Apa kalian ada masalah?" Nyonya Atmaja mengerutkan dahinya.


"Enggak, Ma. Nggak ada apa-apa. Tadi Fisha hanya keluar sebentar. Takutnya Mas Hengky nyariin Fisha begitu tahu Fisha tidak ada di dalam kamar," sahut Fisha sekenanya.


"Ya sudah. Segera susul suamimu sana! Dia pasti sudah nyariin kamu sekarang," titah Nyonya Atmaja, yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan oleh Fisha.


Dengan setengah berlari, Fisha menaiki tangga menuju ke kamarnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak? Bahkan dia belum menyiapkan jawaban jika Hengky bertanya, dari mana Fisha pergi.


"Haduh, bagaimana ini? Pasti Mas Hengky akan bertanya kemana aku pergi. Tidak mungkin kan, aku bilang kalau aku membuntutinya dari tadi? Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku tidak memperhitungkan jika Mas Hengky akan sampai terlebih dahulu ke rumah ini?" batin Fisha dalam hati.


Ya, di luar perhitungan Fisha, Hengky memang sampai ke dalam rumah terlebih dahulu, hingga bisa dipastikan dia sedang mencari keberadaan Fisha.


Begitu sampai di depan kamarnya, Fisha pun menarik nafas panjang sebelum akhirnya meraih gagang pintu kamarnya dan menariknya dengan gerakan memutar. Setelah pintu terbuka, langsung saja Fisha bisa melihat Hengky sudah duduk di atas sofa dengan tangan bersedekap, dan menatap ke arah Fisha yang sedang berjalan ke arahnya dengan pandangan yang sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


"Mas Hengky sudah pulang?" tanya Fisha, seolah sebelum itu tak terjadi apa-apa.


"Dari mana saja kau, Sayang? Bukankah aku sudah memintamu untuk menungguku, karena sebelum makan malam aku akan pulang?" sahut Hengky dengan datar.


"Maafin Fisha, Mas. Fisha ada urusan sebentar di luar," Fisha menjawab sekenanya.


"Ada urusan apa kamu di luar sana?" nada bicara Hengky terdengar sangat tidak bersahabat.


"Itu, Mas. Anu. Fisha ...," tak ada satu ide pun yang muncul di benak Fisha, untuk membuat sebuah alasan kepada suaminya.


"Kau mengaku bahwa kau ini adalah istri terbaikku bukan? Apa selama beberapa bulan kita menikah, kau benar-benar belum bisa mengenali suamimu ini, Fisha?" ucap Hengky, belum bisa tertebak arah pembicaraannya mau kemana.


"Maafin Fisha, Mas. Tadi itu .. ," berat sekali bagi Fisha untuk berkata jujur kepada suaminya.


"Tadi itu, kamu membuntuti aku karena kamu curiga kalau aku telah mengkhianati kedua sahabatku itu. Bukankah begitu Fisha? Awalnya aku tak sadar jika kau berada dalam Cafe itu. Tapi saat aku hendak keluar, secara tak sengaja aku melihatmu duduk tepat di samping tempat dudukku dan Felix si penjahat itu," ujar Hengky, dingin.


"Maafin Fisha, Mas. Bukannya Fisha mencurigai Mas Hengky. Tapi ...,"


"Tapi kau tidak percaya kepadaku," sela Hengky sebelum Fisha menyelesaikan kalimatnya.


"Mas ...," Fisha lebih mendekatkan dirinya ke arah suaminya. Bahkan dia memberanikan diri untuk duduk di sebelah suaminya dan berusaha meraih tangannya. Tapi di luar dugaan, Hengky menghempaskan tangan istrinya begitu saja. Rupanya dia benar-benar marah, karena kecewa dengan sikap Fisha yang tidak mempercayainya.


"Aku kecewa kepadamu," Hengky memalingkan mukanya.


"Mas, jangan seperti ini. Fisha mohon! Wajar kan, kalau Fisha menduga-duga? Tadi itu Mas Hengky sungguh tidak bersikap seperti biasanya. Mas Hengky menerima telepon secara sembunyi-sembunyi, sementara Fisha betul-betul tahu dengan siapa Mas Hengky sedang berbicara," Fisha mulai terisak, mendapati perlakuan dingin suaminya. Ya, baru kali ini Fisha mendapati perlakuan Hengky yang tidak hangat kepadanya.


"Kamu tahu kenapa aku bersikap seperti itu, heh? Karena aku tak mau kau ikut terbebani dengan persoalan perusahaan yang sedang kuhadapi. Kau tahu kenapa? Karena aku hanya ingin berbagi kebahagiaan kepadamu, tanpa membuatmu berpikir berat tentang hal yang bukan menjadi tanggung jawabmu tapi tanggung jawabku. Tapi apa yang kudapat? Istri yang kuharap bisa mengerti aku, ternyata justru berpikir yang sangat buruk tentang diriku, bahkan dengan begitu tega menganggap aku serendah itu," Hengky mengeraskan suaranya.


"Maaf," lirih Fisha, tak mampu menjawab semua perkataan suaminya.


"Jika sebuah hubungan tak didasari dengan rasa saling percaya, bukanlah dua hati yang saling cinta, tapi hanya dua orang yang menghabiskan waktu untuk hidup bersama, Fisha. Kamu tahu kenapa? Karena yang namanya cinta itu, seharusnya mengajarkan kita bagaimana bisa saling percaya. Bukan untuk saling curiga," Hengky beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu, hendak pergi meninggalkan istrinya sendiri di kamarnya.


Melihat Hengky yang beranjak keluar, dengan sigap Fisha pun segera berlari dan memeluk Hengky dari arah belakang.


"Jangan pergi, Mas. Jangan tinggalin Fisha. Fisha mohon!" ucap Fisha sambil menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.

__ADS_1


"Aku butuh waktu untuk sendiri, Fisha. Kau pun butuh waktu untuk merenungi hakikat kebersamaan kita selama ini. Awalnya kukira kau sudah mencintaiku seperti aku yang sudah begitu mencintaimu. Tapi kelihatannya aku salah, Fisha. Kau hanya menganggapku sebagai seorang laki-laki yang hanya ingin melampiaskan hasrat kelaki-lakianku kepadamu dan menilai bahwa aku mau menjadi suamimu karena tubuhmu," Hengky tetap berdiri mematung di tempatnya.


"Itu tidak benar, Mas," sanggah Fisha.


"Tunjukkan yang mana perkataanku yang salah Fisha? Kau tak mungkin securiga itu kepadaku jika dalam hatimu tidak berprasangka bahwa aku masih mencintainya. Bukankah itu satu-satunya alasan yang bisa membuatku berkhianat dan menghancurkan Ryan Dewangga? Ayolah Fisha, aku tahu kau memang tidak bisa mempercayai aku. Dan aku tak bisa menjalin hubungan yang seperti itu, Fisha," Hengky berusaha melepaskan tangan Fisha dari pinggangnya.


"Itu semua benar. Dan ternyata Fisha memang salah, Mas. Fisha sudah mendengar semua pembicaraan Mas Hengky di Cafe itu. Dari situlah Fisha yakin bahwa Mas Hengky benar-benar mencintai Fisha. Hukumlah Fisha atas semua kebodohan Fisha yang tak bisa melihat ketulusan cintamu, Mas. Tapi Fisha mohon, jangan tinggalkan Fisha," Fisha semakin mengeratkan pelukannya.


"Sedangkal itukah cintamu kepadaku, Fisha? Hingga kau tak bisa melihat betapa besar cintaku padamu?" Hengky benar-benar kecewa.


Bahkan dengan sekuat tenaga, dia berusaha melepaskan pelukan Fisha pada tubuhnya. Fisha pun tak mau kalah. Semakin Hengky berusaha melepaskan tangannya, Fisha semakin mendekapnya dan mengeratkan pelukannya. Namun sayang sungguh sayang, tenaga Fisha tak sebanding dengan tenaga Hengky, hingga akhirnya tangan Fisha pun bisa terlepas begitu saja.


"Mas!" rengek Fisha.


"Lepaskan, Fisha," Hengky menghempaskan tangan Fisha, dan berjalan hendak pergi meninggalkan istrinya.


Melihat Hengky yang sudah berjalan semakin mendekati pintu, Fisha pun berlari dan menghalangi Hengky pergi dengan bersandar di pintu itu.


"Minggir, Fisha! Aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri," ucap Hengky sambil sedikit menarik tubuh Fisha, kemudian keluar begitu saja.


"Auw, sakit, Mas," keluh Fisha, menyadari bahwa tubuhnya terhempas ke arah meja kecil yang terletak di dekat pintu, kemudian jatuh ke lantai setelah bagian pinggangnya terbentur ujung meja itu. Lebih parah lagi, Fisha jatuh terduduk dengan posisi pantat yang langsung membentur ke lantai, hingga tulang ekornya terasa begitu nyeri dan tak mampu lagi menghalangi Hengky untuk pergi.


Sayangnya, Hengky tak melihat ataupun mendengar rintihan Fisha, hingga dia tetap melenggang, meninggalkan Fisha di kamar itu seorang diri.


"Mas, tolong Fisha!" rintih Fisha sekali lagi.


"Kumohon, jangan pergi, Mas! Mas Hengky!" Fisha terus menangis, menyesali semua kesalahannya hari ini.


Lebih dari tiga puluh menit Fisha tetap terduduk di tempat itu, namun Hengky tak juga kembali. Dengan nafas yang tersengal, juga isakan tangis yang tak juga menghilang, Fisha pun akhirnya pasrah dan hendak berdiri dari tempat dia terjatuh tadi.


Namun tiba-tiba, Fisha merasakan nyeri yang luar biasa di area perut dan pinggangnya. Jangankan berdiri, untuk bergeser dari duduknya saja, kini Fisha benar-benar tak bisa karena sakit yang tak bisa ditahannya.


"Mas Hengky, tolong, Mas!" teriak Fisha, tapi tak ada seorang pun yang mendengarnya.


"Bik, Bibik! Tolong Fisha Bik!" Fisha berusaha memanggil asisten rumah tangganya, tapi si asisten tak juga menyahutnya.


"Mama! Tolongin Fisha, Ma. Perut Fisha sakit," Nyonya Atmaja pun tak menyahutnya.


Ya, tak ada seorang pun yang berusaha menolong Fisha waktu itu, karena semua orang sedang berada di lantai satu. Sementara Hengky, dia justru pergi meninggalkan rumah itu untuk menenangkan diri.


Tinggallah Fisha yang masih merintih seorang diri di tempatnya.


"Ibu ..., hiks .. , hiks ..., hiks. Fisha kangen ibu. Sekarang tak ada lagi yang sayang sama Fisha. Kenapa ibu tega pergi meninggalkan Fisha seorang diri di tempat ini," Fisha terus menangis sejadi-jadinya, sambil meringis memegang perutnya.


"Ibu, Fisha mau sama Ibu saja. Tolong pertemukan aku dengan ibuku lagi, Ya Allah. Kalau perlu ambil nyawaku saat ini juga," oceh Fisha di sela-sela tangisnya.


"Auw, sakit. Sakit sekali," Fisha kembali merintih. Perut dan pinggangnya terasa begitu nyeri, sementara pantatnya tak bisa diangkat dan diajak kompromi karena tulang ekornya yang terbentur lantai dengan begitu kerasnya tadi.


Fisha mengedarkan matanya ke seluruh sudut kamar, mencoba mencari-cari keberadaan ponselnya dimana sekarang.


"Itu dia," lirih Fisha, melihat handphone miliknya ada di atas meja depan sofa. Rupanya sepulang dari Cafe itu, Fisha sempat meletakkannya di sana.


"Aduh, sakit," Fisha terus mengeluh sambil memegangi perutnya. Bahkan dia harus susah payah sambil berjalan ngengsot demi bisa meraih handphone itu dan menghubungi siapa saja yang bisa menolongnya.


Setelah bersusah payah dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya Fisha berhasil juga mendapatkan benda pipih canggih miliknya. Hingga dengan cepat, dia langsung meraihnya dan mencoba menghubungi suaminya.

__ADS_1


Tut-tut-tut.


Hengky berkali-kali merijek panggilannya.


Tut-tut-tut.


Bunyi itu lagi yang Fisha dengar, tapi Fisha tak juga menyerah dengan usahanya.


Hingga setelah lebih dari sepuluh kali Fisha menelepon suaminya, akhirnya Hengky menyerah juga.


"Please, Fisha. Aku butuh waktu untuk sendiri," suara Hengky dari ujung telepon terdengar begitu keras seperti sedang membentak dan mengumpat Fisha.


"Tolong Fisha, Mas. Sakit sakali. Hiks ..., hiks ...," lirih Fisha, sudah merasa tak kuat lagi.


"Fisha! Kamu kenapa? Kamu kenapa, Sayang?" mendengar rintihan Fisha, nada bicara Hengky langsung berubah seketika. Rasa khawatir yang membuncah, kini benar-benar menguasai dirinya.


"Sakit, Mas. Sakit ...," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Fisha.


"Tunggu aku, Sayang. Tahan sebentar, ya. Aku akan pulang," Hengky mulai tegang.


"Fisha nggak tahan lagi, Mas. Fisha nggak tahan lagi. Hiks ...," Fisha langsung memutus teleponnya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di lantai sambil memegangi perutnya.


"Fisha! Kamu kenapa, Sayang? Fisha! Sial!" Hengky yang sejak tadi hanya berputar-putar mengendari mobilnya di sepanjang jalan tanpa arah yang jelas pun langsung melempar ponselnya ke arah kursi penumpang dan langsung mengacak rambutnya dengan kasar.


Untung saja dia tidak pergi jauh, sehingga dalam waktu sepuluh menit, dia sudah sampai rumahnya kembali.


Suara mobil yang mendecit pun segera terdengar, begitu Hengky masuk gerbang dan mobilnya sudah sampai di parkiran. Dengan tergesa-gesa, Hengky segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju ke kamarnya.


"Ada apa, Nak?" Nyonya Atmaja yang sedang sibuk di dapur bersama asisten rumah tangganya berteriak heran melihat gelagat aneh putranya.


Hengky tak menyahut pertanyaan mamanya. Yang ada di benaknya waktu itu hanya Fisha, Fisha, dan Fisha saja.


Dan ternyata yang menjadi kekhawatiran Hengky benar-benar terjadi. Ketika dia masuk, dia mendapati istrinya sudah terkulai lemas di lantai sambil merintih seorang diri.


"Fisha! Kamu kenapa, Sayang?" Hengky berteriak sambil menghambur ke arah istrinya.


"Sakit, Mas. Sakit ...," lirih Fisha, sambil meringis kesakitan.


"Katakan! Yang mana yang terasa sakit?" Hengky mulai ketakutan. Apalagi melihat muka istrinya yang begitu pucat, membuat rasa bersalah dalam dirinya semakin mencuat.


"Auw. Aduh. Fisha nggak kuat, Mas," teriak Fisha sambil memegangi perutnya.


"Kita ke rumah sakit," Hengky langsung mengangkat tubuh Fisha dan membawanya ke luar dari kamarnya.


"Ma! Mama! Tolong panggilkan sopir, Ma!" teriakan Hengky mampu membuat Nyonya Atmaja segera berlari ke arahnya.


"Fisha kenapa, Nak?" Nyonya Atmaja membuka mata.


"Dia sekakitan, Ma," sahut Hengky sambil setengah berlari menuruni tangga. Air matanya sudah berderai, tak tega mendengar rintihan yang keluar dari mulut istrinya.


Nyonya Atmaja pun segera berlari mencari sopir pribadinya, hingga dalam waktu sekejap mobil yang akan membawa Fisha ke rumah sakit sudah siap di depan pintu utama.


"Sabarlah, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Bertahanlah, kumohon," ceracau Hengky sambil menggendong Fisha memasuki mobilnya.


"Maafin Fisha, Mas. Bukannya Fisha tidak percaya pada Mas Hengky. Tapi Fisha ...,"

__ADS_1


"Sssttt. Lupakan, Sayang. Yang penting, sekarang kita ke rumah sakit dulu. Aku tak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu," ucap Hengky dengan air mata yang kian berderai.


BERSAMBUNG


__ADS_2