
Di lorong panjang rumah sakit itu, dua orang wanita sedang melangitkan do'a-do'anya. Meletakkan kepasrahan pada Sang Maha Pencipta, di antara kursi-kursi kosong yang menjadi saksi bisu tatapan-tatapan sendu di tengah Isak tangis yang terdengar begitu pilu.
Orang yang berlalu-lalang di depannya tanpa permisi pun menambah ketidaknyamanan hati mereka saat itu. Apalagi bau obat yang tercium di sana sini, juga tenaga medis yang berjalan ke sana ke mari dan banyaknya pasien yang keluar masuk berkali-kali, membuat mood Naja benar-benar tak bisa dikondisikan lagi.
Namun sekali lagi, kecintaan terhadap adiknya membuat Naja tak mau beranjak dari tempatnya. Apalagi setelah tim dokter yang menangani Indra mengatakan bahwa Indra harus menjalani operasi pada bagian paru-paru dan kedua kakinya, membuat kekhawatiran kakak yang satu itu semakin menjadi saja. Ya, ada tiga luka cukup serius yang harus dialami Indra pasca insiden itu. Selain paru-parunya yang terluka, paha kanan juga betis kirinya pun dinyatakan patah tulang, sehingga harus dipasang sebuah pen untuk menyambung kembali tulang kakinya hingga bisa kembali sempurna.
"Beristirahat, Kak. Biar aku yang menunggui Indra sampai dia bisa dipindah ke ruang perawatan," lirih Zara, dengan wajahnya yang terlihat begitu lelah. Sekitar matanya juga terlihat hitam melingkar, akibat dia terus terjaga semalaman.
"Kau juga terlihat sangat lelah, Zara. Seharusnya kau juga beristirahat karena setelah ini kau yang akan menemani Indra dalam masa perawatannya. Apalagi kau belum begitu pulih dari luka-lukamu saat insiden di danau itu, tentu kau lebih butuh istirahat dari pada aku," sahut Naja, tak tega melihat kondisi Zara dengan luka di tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya.
Ya, Zara dan Indra sama-sama masih terdaftar sebagai pasien di rumah sakit itu, saat keduanya memutuskan untuk ikut menyelamatkan Rani dari penculikan yang dilakukan oleh Felix Adinata. Mereka pun kabur dari rumah sakit setelah mencabut dengan paksa jarum infus yang masih tertancap kokoh di tangan mereka, dan pergi begitu saja seolah sakit yang terasa akibat luka di sekujur tubuh mereka tiba-tiba hilang seketika.
"Kalian berdua beristirahatlah, biar Johan dan Rudi yang menunggui Indra di sini. Kau bisa menunggu di ruang perawatan Indra, Zara. Pihak rumah sakit sudah menyiapkan ruang untuk Indra dan akan segera memindahkan Indra ke sana begitu operasi selesai. Sambil menunggu, kau bisa membersihkan dirimu dan mengistirahatkan dirimu di ruang itu," titah Daniel tegas. Kondisi Zara yang terlihat begitu kacau, membuat Daniel dan siapapun yang melihatnya akan meminta gadis itu untuk melakukan hal yang sama.
"Tapi, Tuan ...," Zara terlihat ragu. Hatinya sungguh sangat berat untuk meninggalkan Indra, apalagi tim dokter masih melakukan tindakan operasi pada beberapa bagian tubuhnya.
"Tidak ada tapi-tapian, Zara. Dokter sudah menyatakan kondisi Indra akan berangsur-angsur normal setelah tindakan operasi dilakukan kepadanya. Dan kita hanya tinggal menunggu saja. Pergilah ke kamar perawatan itu dan tunggu Indra di sana. Segala keperluanmu sudah disiapkan di ruang itu, kau tinggal memakainya saja," tegas Daniel, yang tak bisa ditolak oleh Zara. Akhirnya dia beranjak dari tempat duduknya, dan segera melenggang setelah berpamitan kepada semua yang masih menunggui Indra.
"Dan kau, tak ada bantahan lagi, Sayang. Kau harus pulang dan beristirahat sekarang," Daniel beralih menatap Naja, dan mengulurkan tangannya.
"Tapi, Sayang. Setidaknya tunggu sampai Indra selesai operasi dan keluar ruangan. Aku sungguh tak apa-apa, Sayang. Toh semalam aku sudah tidur sebentar," rajuk Naja, berusaha meyakinkan suaminya. Berat sungguh berat bagi Naja, jika harus meninggalkan Indra tanpa tahu bagaimana hasil dari operasi yang sedang berlangsung di dalam sana.
"Semalam kau sama sekali tak tidur, Naja. Kau pikir aku tak tahu? Jangan coba-coba membohongiku!" Daniel sudah memandang Naja dengan tatapan tajamnya, sebagai isyarat bahwa Naja tak diperbolehkan untuk menyanggah, ataupun menolaknya.
Ya, setelah mereka mandi bersama dan bermesraan di kamar mandi itu, Naja memang memejamkan matanya. Tapi pikirannya terus mengembara kemana-mana, hingga pagi pun tiba. Semalaman suntuk, dia benar-benar tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan Indra. Daniel pun tahu betul semua itu, walaupun dia tak mau memaksa istrinya untuk tidur dan melupakan masalah adiknya.
"Tapi aku kan sudah terbiasa seperti itu, Sayang. Jangankan hanya semalam, bermalam-malam tak tidur pun tak pernah bisa melemahkan tubuhku," sanggah Naja, masih tak mau bergeming dari tempatnya.
Sebenarnya buat Naja, tidak tidur hingga beberapa malam itu sudah biasa saat dia harus menjalankan misinya. Tapi kali ini Naja benar-benar merasa berbeda. Tubuhnya berasa lemas, tak seperti saat dia harus begadang sebelum-sebelumnya.
"Kau tak tahu sudah sepucat apa dirimu, heh? Menurutlah pada suamimu, atau besok aku tak akan membiarkanmu keluar dari kamarku, apalagi hanya untuk menjenguk adik kesayanganmu itu," ancam Daniel, sambil kembali mengulurkan tangannya, kali ini disambut baik oleh Naja.
"Dari pada besok tak boleh kemana-mana, lebih baik menurut sajalah," gerutu Naja dalam hati.
"Kau sepucat dan selemas itu karena bukan hanya fisikmu yang capek, Sayang. Tapi juga pikiranmu. Tenangkanlah dirimu dan beristirahatlah, karena Indra pasti aman di tangan para dokter itu," ucap Daniel, sambil merangkul Naja dari arah samping. Mereka pun meninggalkan area rumah sakit, dimana kini bukan hanya Indra yang berada di sana untuk dirawat secara intensif, tapi juga Rani dan Fisha yang masih harus memulihkan kesehatannya.
***
Di rumah sakit yang sama di sebuah president suite room tak jauh dari Indra dan Rani berada, Fisha sudah terlihat lebih sehat dari sebelum-sebelumnya. Obat penguat kandungan yang terus dokter berikan untuk mempertahankan kandungannya yang lemah, ternyata cukup ampuh, hingga dokter menyatakan baik ibu maupun janin mereka sudah sehat, tinggal perlu lebih berhati-hati saja.
__ADS_1
Hari itu pun Fisha diperbolehkan untuk pulang ke rumah, setelah beberapa hari terakhir dia merengek namun dokter tak juga mengizinkannya. Hal ini tentu menjadi kabar yang sangat membahagiakan untuk Hengky dan juga Fisha.
Meskipun begitu, Hengky yang seharusnya sangat bahagia karena istri dan calon anaknya semakin membaik, justru terlihat gelisah, dengan beban pikiran yang dia simpan dalam-dalam.
"Mas Hengky kenapa? Apa ada masalah? Berbagilah sama Fisha," seorang istri akan selalu menangkap kegelisahan suaminya, begitu juga dengan Fisha yang begitu mudahnya bisa menangkap bahwa ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati Hengky.
Hengky yang baru saja selesai memberesi barang-barang Fisha hingga siap di bawa pulang pun menghentikan aktifitasnya, dan menghampiri Fisha yang kini tengah duduk bersandar di ranjang pesakitan, yang sudah beberapa hari ini ditidurinya.
"Kau benar-benar tak meragukan cintaku kan, Sayang?" Hengky meraih tangan Fisha dan mengecupnya.
"Kenapa Mas Hengky bertanya seperti itu lagi? Fisha kan sudah minta maaf soal kecemburuan Fisha waktu itu," mata Fisha sudah berkaca-kaca.
"Tuh kan, gitu. Aku kan tanyanya baik-baik. Sudah ah, nggak usah dibahas lagi. Nanti ujung-ujungnya malah kamu jadi nangis lagi," Hengky jadi serba salah.
"Kok Mas Hengky gitu?" bukannya tenang, Fisha justru sudah menangis sekarang.
"Udah, udah, ah. Sini peluk aja. Nggak usah bahas hal-hal yang tak ada faedahnya. Aku nggak mau anak aku di dalam sini ikutan sedih kalau mamanya nangis begini," Hengky tak mau membuat urusan menjadi lebih panjang lagi. Apalagi jika Fisha tahu hal apa yang membuat dia gelisah saat ini, bisa-bisa dia drop dan akhirnya harus di rawat di rumah sakit lagi.
Hengky menghapus air mata di pipi Fisha, hingga mereka pun sudah berpelukan dengan penuh kehangatan.
"I love you," bisik Hengky sambil mengeratkan pelukannya.
"Kalau gitu kita pulang?" Hengky merenggangkan pelukannya dan membelai lembut kepala Fisha.
"Ceritakan dulu, apa yang membebani pikiran Mas Hengky saat ini," Fisha masih penasaran.
"Janji dulu, jangan berprasangka apapun dan jangan menyimpulkan apapun sebelum aku menyelesaikan ucapanku," Hengky memandang lekat ke arah Fisha, dan setelah mendapatkan sebuah anggukan kepala dari istrinya itu, Hengky mulai kembali membuka suara.
"Kau tahu, seperti apapun perasaanku ketika itu, persahabatanku dan Rani benar-benar berjalan dengan tulus. Kau tak pernah merasakan, Fisha, betapa dunia politik itu sangat kejam jika sudah bicara masalah kepentingan. Tak ada teman, tapi tak ada lawan, karena teman bisa berubah menjadi lawan dan begitu juga sebaliknya. Lawan bisa berubah menjadi teman dengan begitu mudahnya. Semuanya bisa berubah dalam sekejab mata, jika itu sudah berkaitan dengan kepentingan-kepentingan para penguasa. Musuh-musuh seorang politisi pun semakin lama bukan semakin berkurang tapi semakin bertebaran, hingga tak ayal nyawa pun harus menjadi korban. Dan kami sudah bersama melewati susah senang menjadi Anggota Dewan itu sekian lama, Fisha. Aku tak mungkin begitu saja melepaskan persahabatanku, meskipun aku sudah memiliki kamu sebagai satu-satunya wanita yang menjadi cinta terakhirku," Hengky berhenti sesaat, dan mencoba menelusik ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita di depannya.
"Dan semalam, aku hampir saja kehilangan dia untuk selama-lamanya. Setelah dia diculik dan harus melahirkan melalui operasi sesar karena kondisi darurat, dia sempat tidak bernafas, dan kehilangan detak jantungnya. Untung saja akhirnya tim dokter bisa menyelamatkannya. Jika tidak, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku karena tidak bisa melihat sahabatku untuk yang terakhir kalinya," lanjut Hengky dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya saat semalam Arya memberitahukan kondisi Rani kepadanya via telepon, Hengky ingin segera menghampiri Ryan dan seluruh keluarganya untuk memberi dukungan. Tapi karena takut jika Fisha kembali salah paham padanya, akhirnya Hengky hanya mampu memendam semuanya.
"Kenapa semalam Mas Hengky tidak ke sana? Bukannya kita berada di rumah sakit yang sama?" Fisha sangat kaget mendengar cerita Hengky, dan justru terheran-heran mengapa Hengky tak langsung menghampiri Rani yang semalam dalam posisi berjuang antara hidup dan mati.
"Karena aku takut kau akan salah paham lagi dengan sikapku. Dan aku tak mau kau terluka seperti beberapa hari yang lalu. Bahkan aku sungguh takut jika kau sampai menyalahpahami perhatianku, kau benar-benar akan pergi dari hidupku seperti yang kau bilang waktu itu," aku Hengky lirih.
"Fisha benar-benar sudah bisa mengerti bagaimana kalian bersahabat dan berjuang bersama dalam melewati suka dan duka, Mas. Pun ketika di hatimu itu pernah ada cinta untuknya, bagi Fisha itu hanya sebuah masa lalu saja. Fisha sudah benar-benar yakin bahwa cinta Mas Hengky hanya untuk Fisha. Karena itu, apapun yang Mas Hengky lakukan, tidak ada yang bisa Fisha berikan selain rasa percaya," Fisha mengangkat tangannya, dan membelai lembut pipi suaminya.
__ADS_1
"Sekarang kita jenguk dia. Apa Mas Hengky mau?" ucap Fisha lembut. Bahkan senyum yang dia tunjukkan untuk suaminya betul-betul teduh, membuat hati Hengky menjadi tenang seketika.
"Apa kau mau menemaniku?" sahut Hengky begitu bahagia.
"Fisha tahu Mas Hengky tak bisa jauh-jauh dari Fisha. Karena itu, Fisha akan ikut kemanapun Mas Hengky akan mengajak Fisha," cicit Fisha sambil mengerlingkan matanya.
"Dasar narsis. Udah pinter ngegombal ya sekarang?" Hengky mencubit hidung Fisha dengan penuh kehangatan.
"Bukannya Mas Hengky yang ngajarin Fisha ya?"
Mereka pun terkekeh bersama.
Hingga setelah Hengky meminta sopir pribadinya untuk memindahkan barang-barang mereka ke dalam mobil, Hengky pun menarik sebuah kursi roda agar Fisha bisa duduk di sana.
"Fisha bisa jalan kaki, Mas. Fisha benar-benar sudah sehat sekarang," tolak Fisha, menyadari apa yang sedang di dorong oleh suaminya.
"Aku nggak mau ambil resiko, Sayang. Aku takut kamu dan calon anak kita kenapa-napa," dalih Hengky, menunjukkan bahwa dia teramat sayang pada istri dan calon anaknya.
"Mas, Fisha sudah sehat. Dokter bilang juga kandungan Fisha sudah kuat, dan kita hanya perlu berhati-hati saja," jawab Fisha sambil turun dari ranjangnya.
"Pakai kursi roda juga bagian dari kehati-hatian, Fisha," Hengky sudah menunjukkan tatapan memaksa.
"Tapi Fisha tidak mau seperti orang yang pesakitan, Mas," Fisha terus merajuk, hingga akhirnya Hengky mengalah. Dia menggandeng tangan istrinya dan berjalan dengan begitu pelan, takut jika terjadi apa-apa lagi dengan kandungan Fisha.
"Tidak perlu jalan sepelan ini juga, Mas. Jalan biasa aja. Asal hati-hati," Fisha terkekeh sendiri menghadapi sang suami yang terlalu over menyuruhnya hati-hati.
"Kamu yakin, Sayang?" Hengky menghentikan langkahnya.
"Iya, iya. Fisha yakin. Ayok ah," Fisha menarik tangan Hengky dan berjalan lebih cepat lagi.
"Hey, kau harus berhati-hati,"
"Mas Hengky berisik. Ayo buruan, jadi jenguk Kak Rani nggak?"
Hengky pun hanya geleng-geleng kepala, namun tetap mengikuti saja langkah istrinya. Hingga ketika akhirnya mereka sampai di depan pintu sebuah president suite room dimana Rani sekarang berada, mereka berhenti sejenak sebelum akhirnya mengetuk dan membuka pintu di depannya.
Ketika mereka akhirnya masuk, di dalam sana sudah ada pemandangan aneh yang langsung tertangkap oleh mata. Hengky dan Fisha pun saling bertatapan, tanpa tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan Rani sebelum mereka berdua tiba.
"Kenapa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG