
Demi kenyamanan istrinya, Hengky meminta pihak rumah sakit untuk menempatkan Fisha dalam ruang rawat inap kelas President Suite Room, dengan fasilitas rawat inap yang lebih nyaman, seperti kamar hotel atau kamar di rumah mereka sendiri.
Dan kini, di sinilah Fisha. Sebuah ruang rawat inap dengan tambahan beberapa fasilitas kenyamanan, berupa ruangan ber-AC, satu Bed elektrik untuk pasien dan satu bed untuk penunggu pasien, satu kamar mandi dengan air panas dan dingin, bedside cabinet, kulkas, kursi tunggu, overbed Table, meja TV, almari pakaian, dispenser, meja, sofabed, smart TV 72 inch, telepon, ruang keluarga, dan satu set meja makan. Ya, kamar pesakitan itu memiliki fasilitas sangat lengkap, sehingga Fisha bisa nyaman selama berada di rumah sakit. Untuk harga, jangan ditanya. Ruang rawat yang Fisha tempati memiliki harga sepuluh kali lipat dari ruang rawat inap kelas VVIP. Fantastik bukan?
Selain tempat yang luar biasa nyaman, Fisha pun mendapatkan pelayanan khusus dari para perawat dan tim dokter. Termasuk untuk obat-obatan yang diberikan, tentunya obat untuk kelas satu, dua, tiga, bahkan kelas VVIP, sangat jauh berbeda dengan apa yang Fisha dapat di President Suite itu. Buktinya, rasa nyeri di perut dan panggul Fisha sudah berkurang lebih dari lima puluh persen jika dibandingkan dengan saat Hengky membawanya ke IGD.
"Ahhh," Fisha menarik nafas kasar. Dengan susah payah, dia berusaha membalikkan tubuhnya dari posisi telentang, ke posisi miring ke kanan agar dia mendapatkan posisi ternyaman.
"Sayang ...," lirih Hengky tiba-tiba, sesaat setelah pintu kamar pesakitan itu terbuka.
"Mas," Fisha yang saat itu sudah miring dengan arah membelakangi pintu, akhirnya membalikkan tubuhnya lagi begitu mendengar suara suaminya.
Dengan langkah cepat, Hengky pun langsung berjalan dan menghampiri Fisha serta memeluknya begitu erat. Bahkan kini, bulir-bulir bening pun sengaja jatuh dengan manis, membuat pipi Hengky yang putih bersih, kini memerah karena tangis yang sudah dia tahan beberapa saat.
"Mas, maafin Fisha. Fisha salah," ucap Fisha tanpa melepaskan pelukan Hengky kepadanya.
"Sssttt. Aku yang minta maaf, Sayang. Seharusnya aku memaklumi kekhawatiranmu, bukan malah marah-marah kepadamu," sahut Hengky lirih, sambil mencium ujung kepala istrinya berkali-kali.
"Sekarang, kamu bilang. Bagian mana yang sakit? Apakah ini sakit?" tanya Hengky sambil mengusap perut Fisha yang masih rata.
"Sakitnya sudah berkurang, Mas," Fisha membalas pertanyaan Hengky dengan senyumnya yang terlihat sangat dipaksakan.
"Kamu jaga ya, Sayang," ucap Hengky dengan wajah yang didekatkan ke arah perut Fisha, kemudian langsung menciumi perut Fisha yang belum berubah bentuk seperti wanita hamil pada umumnya.
__ADS_1
"Maksud Mas Hengky?" Fisha mengerutkan dahinya.
"Kamu jaga ya, Sayang, karena buah cinta kita sudah tumbuh di dalam sini," kini Hengky menempelkan dahinya pada dahi istrinya, sedang tangan kanannya masih tetap berada di area perut istrinya.
"Mas, Fisha ...," cicit Fisha ragu.
"Kamu hamil, Sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah," Hengky mengembangkan senyumnya.
"Fi ..., Fisha ..., ha ..., hamil, Mas?" tanya Fisha seolah tak percaya.
"Terima kasih karena telah memberikan hadiah terindah untukku," sahut Hengky sambil menghujani Fisha dengan ciuman bertubi-tubi.
"Alhamdulillah, apa Mas Hengky bahagia?" ucap Fisha dengan lelehan kristal bening di pipinya.
"Tapi apa, Mas?" Fisha benar-benar tak mengerti, kemana arah pembicaraan suaminya.
Sesaat, Hengky terdiam. Dia hanya menatap wajah Fisha dengan tatapan sayang, cinta, tapi juga ada perasaan sedih dan iba, mengingat apa yang dikatakan oleh dokter itu kepadanya.
"Selain dokter itu bilang kalau kamu hamil, dia juga mendeteksi ada kemunculan kista di indung telur kamu," terang Hengky dengan suara begitu berat.
"Kista, Mas?" wajah Fisha berubah menjadi sendu.
"Iya, Sayang. Kata dokter, kemunculan kista adalah hal yang umum terjadi, bahkan pada ibu hamil. Tapi pada beberapa kasus, kemunculan kista itu tidak disadari dan akan hilang dengan sendirinya," jawab Hengky sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan janin kita, Mas? Fisha nggak mau kehilangan dia," wajah khawatir Fisha tiba-tiba muncul, menambah wajahnya yang masih pucat kian pias.
"Kata dokter, operasi pengangkatan kista ovarium yang tak kunjung mengecil atau hilang bisa dilakukan kira-kira tiga bulan setelah kamu melahirkan, Sayang. Tapi dokter harus observasi dulu untuk menentukan apakah kista ovarium kamu berisiko pada kehamilan ini atau tidak. Kamu tidak usah khawatir, ya. Aku akan melakukan apapun demi kamu dan bayi kita," tutur Hengky lembut.
Pelukan dan kecupan tak henti-hentinya Hengky berikan kepada Fisha. Segala rasa sesal dan perasaan bersalah, masih membuat hati Hengky sakit dan sibuk merutuki dirinya dalam hati.
"Lalu kenapa Mas Hengky sedih begitu?" Fisha menatap suaminya dengan intens.
"Apakah selama ini kamu sudah merasakan sakit saat aku melakukannya?" Hengky melepaskan pelukannya dan membelai kepala Fisha sambil menatapnya sendu.
Fisha tak menjawab. Sesungguhnya, sudah beberapa lama dia memang merasakan sakit di area bawahnya saat pusaka Hengky sibuk dengan atraksinya, tapi Fisha lebih memilih membiarkan Hengky untuk menyelesaikan keinginannya, agar suaminya itu tak kecewa dan mencari kepuasan lain di luar sana.
"Sayang, jadi benar yang dikatakan dokter itu, kalau kamu merasakan sakit saat pusakaku mengunjungimu?" lirih Hengky, dengan segala rasa yang berkecamuk di hatinya.
Fisha tak menjawab. Hanya senyuman tipisnya saja yang mampu mendefinisikan jawaban apa yang sudah dia ucap di dalam hatinya. Dan itu justru semakin membuat Hengky semakin merasa bersalah.
"Kenapa kamu tak bilang kepadaku, Sayang?" tak terasa bulir bening pun menetes begitu saja dari ujung mata Hengky.
"Fisha takut Mas Hengky akan kecewa dan mencari kepuasan di luar sana, jika Fisha mengecewakan Mas Hengky. Dan Fisha tidak sanggup, Mas. Jangankan cuma rasa sakit itu. Apapun akan Fisha lakukan, asal Mas Hengky tetap berada di sisi Fisha," tutur Fisha lembut, sambil menghapus air mata di pipi suaminya.
"Lain kali kalau sakit bilang. Aku benar-benar tak sanggup melihatmu sakit seperti ini. Apalagi jika kau sakit karena aku. Kau boleh menghukumku apa saja, Fisha. Untuk menebus kesalahan dan kebodohanku yang telah marah-marah kepadamu dan membuatmu terjatuh, hingga kau harus merasakan sakit yang berlapis seperti ini," air mata Hengky semakin deras, menyadari bahwa wanita yang beberapa saat yang lalu dia marahi, ternyata adalah sosok wanita sempurna yang tidak hanya cantik bagai bidadari, tapi juga memiliki cinta luar biasa untuk Hengky, hingga tak memikirkan dirinya sendiri.
Dan rasa sesal itu semakin menjadi ketika Hengky menyadari bahwa kini, istrinya yang sedang mengandung anaknya itu tidak hanya merasakan sakit akibat kemunculan kista di indung telurnya, tapi juga sakit karena terjatuh gara-gara ulahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG